Chapter 8 : Kejadian Memalukan
Kinan menggerutu sepanjang jalan menuju lantai di mana ruang kerjanya berada. Bagaimana tidak, tanpa mengenal waktu, Athan menelpon dirinya pada pukul lima pagi, setelah ia baru saja mengerjakan sholat subuh. Laki-laki itu memintanya untuk membuatkan sarapan karena laki-laki itu beralasan tidak sempat untuk mampir ke rumah untuk sarapan. Kiran hanya bisa mengelus d**a. Ia tidak habis pikir tingkah laku Athan yang kekanak-kanakan. Kiran tau semua permintaan aneh Athan hanyalah modus laki-laki itu untuk mendekatinya. Dengan terpaksa Kiran memasak nasi goreng sosis kesukaan Ken dengan porsi untuk empat orang.
Jangan salahkan Kiran karena ia hanya memiliki kotak bekal dengan motif anak-anak dan juga warna yang feminim. Kontras dengan penampilan Athan yang selalu maskulin. Kiran sengaja memilihkan kotak bekal berwarna pink untuknya, dan kotak bekal motif Thomas untuk Athan. Pelajaran untuk laki-laki itu agar ke depannya tidak semena-mena pada dirinya. Sampai di ruang kerjanya, Kiran di sambut dengan Athan yang sedang duduk di kursi kerjanya. Sepertinya laki-laki itu sengaja menunggu dirinya datang.
"Bapak ngapain duduk di kursi saya?" tanya Kiran tanpa sadar bersikap tidak sopan pada Athan.
"Menunggu sarapan saya. Mana? " todong Athan dengan arogan.
Kiran hanya bisa menghela nafas pelan lalu memberikan paper bag berisikan kotak bekal yang dibawanya tadi. Wajah Athan berubah cerah saat menerima paper bag tersebut. Namun sedetik kemudian wajahnya memerah melihat isinya.
"Kamu pikir saya anak TK ?! Apa maksud kamu memberikan saya kotak bekal dengan motif anak-anak seperti ini?" tanya Athan terdengar kesal. Sementara Kiran tersenyum bahagia dalam hati.
"Bapak tidak meminta secara spesifik pada saya mengenai wadah bekal yang harus saya gunakan. Jadi saya hanya memakai wadah bekal yang ada di rumah saya. Atau bapak mau tukeran dengan milik saya? wadahnya berwarna pink cerah. Walaupun warnanya pink, tapi menurut saya tidak terlalu kekanak-kanakan kok." sahut Kiran pura-pura polos.
"Terima kasih. Lebih baik saya pakai ini. Warna pink bikin mata saya sakit," tolak Athan cepat.
"Oke, pak. Semoga suka dengan sarapannya," ucap Kiran saat Athan masuk ke dalam ruangannya. Sepeninggalan Athan, Kiran lalu meletakkan bekalnya kemudian mulai memeriksa pekerjaan yang kemarin sempat tertunda. Siang nanti ia harus menemani Athan ke Bamboo Resto untuk bertemu klien sekaligus makan siang. Kiran pun mulai menghubungi pihak Bamboo Resto untuk melakukan reservasi untuk enam orang termasuk dirinya. Kemarin ia sudah mengubungi kliennya menu apa saja yang ingin disajikan saat makan siang nanti. Setelah selesai reservasi, Kiran lanjut mengerjakan tugas lain yang masih menumpuk.
From : BosAn
Terima kasih untuk nasi gorengnya. Enak sekali.
Kapan-kapan buatkan saya lagi.
Kiran mendengus membaca pesan Athan. Dasar laki-laki bossy. Tanpa membalas pesan Athan. Kiran melanjutkan pekerjaannya.
***
"Terima kasih atas jamuannya , Pak Nathan. pilihan menunya sangat menggugah selera dan enak," ucap Aziz Direktur Pelaksana dari PT. Adi Jaya yang akan bekerja sama dengan perusahaan mereka.
"Sama-sama, Pak Aziz. Semoga kerja sama kita berjalan dengan lancar, " sahut Athan menjabat uluran tangan Aziz.
" Tentu saja, Pak. Jika ada yang perlu didiskusikan lagi, bapak bisa langsung menghubungi saya. Atau asisten pribadi saya, Ayu."
"Tenang saja, Pak. Saya nanti akan langsung hubungi bapak jika ada hal penting yang harus didiskusikan."
"Kalau begitu kami permisi, Pak Nathan, Bu Kiran. Assalamu'alaikum," pamit Aziz bersama Ayu, asistennya.
"Wa'alaikumsalam," sahut Athan dan Kiran bersamaan.
Sepeninggalan keduanya, Kiran dan Athan juga pergi meninggalkan Resto menuju kantor karena jam tiga sore nanti ada rapat internal yang membahas mengenai proyek besar pembangunan salah satu perumahan elit di daerah Tangerang.
Sepanjang perjalanan menuju kantor Kiran memilih pura-pura tidur. Perutnya terasa sakit sekali. Sepertinya tamu bulanannya akan datang. Kiran tiba-tiba saja terkesiap. Ia lupa membawa pembalut di dalam tasnya. Perempuan itu bergegas mengirim pesan pada Melan dan juga Yerin. Menanyakan keduanya apakah mereka membawa pembalut. Namun jawaban keduanya membuat wajah Kiran yang sudah pucat semakin terlihat seperti kapas.
Athan melirik Kiran yang terlihat pucat dan gelisah dalam duduknya.
"Kamu kenapa? Sakit?" tanya Athan tetap fokus mengendarai mobil.
"Em...Pak, Boleh mampir sebentar ke mini market? Saya mau beli-"
Mau beli Apa, Ran? Nggak mungkin kamu jujur sama Athan mau beli pembalut, kan?
"- obat sakit perut, Pak," lanjutnya cepat.
"Oke. Atau kita langsung ke klinik saja kalau perutmu benar-benar sakit," tawar Athan. Ia tidak tega melihat wajah Kiran yang terlihat pucat.
"Tidak perlu, Pak. Saya minum obat yang biasa saya minum saja," tolak Kiran halus.
"Baiklah. Terserah kamu saja," ucap Athan akhirnya.
Sampai di sebuah minimarket, Kiran pun bergegas membuka sabuk pengamannya karena ia tidak ingin kejadian memalukan terjadi padanya. Terlebih di depan Athan. Namun baru saja Kiran mendorong pintu mobil Athan langsung menghentikannya.
"Berhenti! " perintah Athan saat melihat bercak berwarna gelap di rok coklat milik Kiran. Tanpa perlu bertanya, Athan tau apa yang tengah terjadi. Entah kenapa ia merasa dejavu. Seolah-olah kejadian seperti ini pernah ia alami dulu.
Athan lalu turun dari mobil kemudian memutari mobil menghampiri Kiran yang masih terpaku di tempat. Wajah perempuan itu terlihat semakin pucat.
"Pakai kardigan hitam ini buat menutupi rok mu. Biar aku saja yang ke mini market. Kirimkan merk yang biasa kamu pakai lewat chat," ucap Athan datar lalu meninggalkan Kiran yang menatap kepergian laki-laki itu dengan perasaan bercampur aduk. Ia merasa malu sekaligus sesak. Kiran tidak mengira perlakuan Athan masih semanis dulu. Kejadian ini dulu pernah terjadi saat keduanya masih berpacaran. Athan tanpa merasa malu mau membelikannya pembalut karena ia tidak membawa pembalut darurat seperti saat ini.
Setelah mengikat kardigan hitam tersebut di pinggangnya, Kiran menengok ke kursi penumpang yang tadi ia duduki. Di sana tercetak jelas pulau berdarah yang baru saja ia buat. Rasanya Kiran ingin menghilang saja. Ia sangat malu dan bingung harus melakukan apa. Kenapa tamu bulanannya harus mendadak seperti ini datangnya? Harus kah ia memesan ojek online dan kabur dari sana?
Ddrtt...
Ponsel Kiran bergetar. Ada sebuah panggilan masuk dari Athan.
"Halo?"
"Merknya apa? Bukannya tadi aku bilang kirimkan aku merk yang biasa kamu pakai," ucap Athan tanpa basa basi.
"Maaf, aku akan kirimkan-"
"Untuk apa? Lebih baik katakan sekarang biar lebih cepat," sela Athan.
"Eh merknya, soft. Warnanya merah marun kemasannya," jelas Kiran.
"Oke," sahut Athan lalu menutup panggilan.
Tak berapa lama kemudian Athan keluar dari mini market dengan membawa kantong plastik berwarna putih dengan logo berwarna kuning dan merah.
"Masuk ke dalam mobil!" perintah Athan menyerahkan kantong plastik tersebut.
"Tapi kursinya?"
"Nanti bawa ke cucian mobil saja. "
"Tapi-"
"Sudah tidak ada tapi Kiran. Cepat masuk!" perintah Athan yang langsung Kiran laksanakan.
Athan membawa mobilnya ke tempat ia biasa mencuci mobil. Setelah meninggalkan mobilnya untuk dicuci, Athan membawa ke Butik langganan mamanya yang letaknya memang tidak terlalu jauh dari tempat ia mencuci mobil. Kiran yang sejak tadi mengikutinya pun terlihat bingung.
"Selamat datang, ada yang bisa dibantu, Pak? sapa salah satu pramuniaga di dalam butik.
"Letak toilet dimana , Mbak?" tanya Athan pada pramuniaga tersebut.
"Lurus lalu belok kanan , Pak," jelas pramuniaga. Kiran yang mendengarnya pun langsung pergi ke toilet sesuai arahan.
Setelah Kiran pergi ke toilet, Athan pun melihat-lihat dress yang dipajang.
"Ada dress semi formal mbak? ukuran perempuan tadi. Kalau ada dengan underwearnya juga," tanya Athan.
"Ada, Pak. ke sebelah sini , Pak. Ini koleksi terbaru di butik kami. Navy Wrap Midi Dress Asimetris," jelas pramuniaga tersebut menunjukkan manekin yang mengenakan mini dress berwarna navy. Athan mengangguk setuju dengan pilihan pramuniaga tersebut.
"Tolong berikan dress ini pada sekretaris saya tadi. Dan tolong mbak tanyakan langsung padanya ukuran underwear yang biasa dia pakai. Sekalian tas hitam tersebut berikan padanya," ucap Athan menunjuk pada salah satu sling bag hitam di etalase 'New Arrival'.
Pramuniaga itu mengangguk mengerti. Kemudian Athan pun menuju kasir untuk membayar.
Sementara Kiran yang sedang membersihkan diri terkejut dengan ketukan di luar toilet. Perempuan itu membuka sedikit pintu toilet dan mendapati pramuniaga di depan tadi sedang berdiri tersenyum ramah padanya.
"Maaf bu, saya disuruh Bapak Nathan memberikan dress ini pada ibu. Dan maaf bu, di dalam paper bag itu ada underwear yang saya pilihkan. Jika ukurannya tidak pas, ibu bisa langsung mengatakannya pada saya. Saya akan menunggu di depan pintu toilet," jelas pramuniaga itu panjang lebar.
Kiran terkejut mendengarnya. Ia tidak menyangka Athan akan membelikannya baju ganti beserta dalamannya. Kiran merasa tersentuh dengan perlakuan manis laki-laki itu.
"Terima kasih, mbak. Saya coba dulu," ucap Kiran lalu kembali masuk ke dalam toilet.
Lima belas menit kemudian Kiran keluar dari toilet. Midi dress yang dikenakannya sangat cocok dengan tubuh perempuan itu. Begitu pun juga dengan underwear yang dipilihkan sang pramuniaga tadi.
"Wah... Ibu cantik sekali," puji pramuniaga tersebut saat melihat penampilan Kiran.
"Terima kasih, Mbak. Pilihan mbak juga tadi pas kok," sahut Kiran berterima kasih.
" Sama-sama , Bu. Oh iya, ini Sling Bag punya ibu, tadi bos ibu yang memilihnya," ucap sang pramuniaga menyerahkan sing bag tersebut.
Mata Kiran hampir saja keluar dari tempatnya saat melihat merk tas tersebut. Salah satu tas mahal produksi dari Prancis yang biasa dikenakan para artis. Tentu saja Kiran tidak mau menerimanya. Ia tidak ingin menerima barang mahal dari siapapun karena ia tidak ingin berhutang pada orang lain. Lagipula ia seorang karyawan biasa. Jika ia mengenakan tas mahal tersebut, orang pun tidak akan percaya jika tas tersebut adalah tas asli.
"Maaf mbak, saya mau tanya boleh," bisik Kiran seraya menoleh ke depan, dimana Athan sedang duduk memerhatikan ponselnya.
"Iya, Bu. Silahkan."
"Kira-kira berapa jumlah yang dibayarkan bos saya untuk semua barang yang saya pakai saat ini?" tanya Kiran penasaran.
"Semuanya hampir tiga puluh juta, Bu," sahut pramuniaga itu tersenyum ramah.
"Apa?! Ti-tiga puluh juta?!" seru Kiran terkejut.
"Mini dress ini berapa harganya , Mbak?" tanya Kiran lagi.
"Sepuluh juta, Bu. Underwearnya satu juta. dan Sling Bagnya sembilan belas juta," sahut sang pramuniaga.
Uang dari mana ia untuk mengembalikan semua yang ia kenakan? Walaupun ia tidak menerima tas tersebut, masih ada sisa sebelas juta yang harus ia bayar kembali pada laki-laki tersebut. Ya Allah, kenapa laki-laki itu harus memilihkan barang-barang mahal ini untuknya? Kemana ia harus mencari uang untuk mengganti semuanya?
-TBC-