“Saya tidak bisa menerima semua ini, Pak?” ucap Kiran yang baru saja datang dan langsung masuk ke dalam ruangan Athan dengan membawa Paper bag berisi semua barang yang Athan berikan kemarin saat tragedi memalukan itu terjadi.
Dahi Athan mengernyit melihat paper bag tersebut.”Kalau kamu tidak suka buang saja. Toh buat saya juga tidak bisa saya gunakan,” sahut Athan santai masih fokus pada Laptop di hadapannya.
Kiran memutar bola matanya. Jengah dengan sifat cuek Athan. Mana mungkin ia akan membuang barang senilai tiga puluh juta begitu saja? Ia adalah seorang perempuan yang sangat menghargai uang.
“Pak, ini adalah barang mahal. Mana mungkin saya membuangnya begitu saja,” ucap Kiran terdengar kesal.
“Lalu kenapa tidak kamu pakai saja? Toh sudah saya berikan sama kamu ,” sahut Athan masih terdengar santai.
“Tapi ini terlalu mahal,Pak. Kemarin seharusnya bapak belikan dress yang murah saja untuk saya jadi saya bisa men-”
“Jadi begini cara kamu membalas semua kebaikan yang sudah saya lakukan?” tanya Athan menatap Kiran datar. Laki-laki itu sedikit tersinggung dengan ucapan Kiran. Bukankah seharusnya perempuan di hadapannya ini mengucapkan terima kasih padanya, alih-alih mengembalikan semua barang yang telah dibelinya? Baru kali ini Athan bertemu dengan perempuan seperti Kiran yang menolak dibelikan barang-barang mahal.
Kiran terkesiap mendengar ucapan Athan. Ia tidak bermaksud membuat laki-laki itu tersinggung. Hanya saja Kiran tidak ingin barang mahal ini akan menjadi alasan laki-laki itu untuk semakin dekat dengannya.
“Bukan seperti itu, Pak. Maaf saya tidak bermaksud kurang ajar sama bapak,” sahut Kiran lirih.
“Pilihannya hanya dua Kiran. Terima atau buang. Itu saja. Dan jika kamu menghargai saya, seharusnya kamu dengan senang hati memakai barang tersebut,” ucap Athan lalu kembali fokus pada laptopnya.
Sementara Kiran menggerutu dalam hati. Pilihan dari mana jika laki-laki itu sudah berkata seperti itu? Secara tidak langsung Athan menyuruhnya untuk menerima barang tersebut dan memakainya. Dengan terpaksa Kiran pun akhirnya menerima barang tersebut daripada dress dan yang lainnya menjadi penghuni tong sampah di ruangan ini.
“Baik, Pak. Terima kasih untuk barangnya dan bantuan bapak kemarin,” ucap Kiran akhirnya. Malas berdebat lebih panjang lagi dengan Athan. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya daripada meladeni ego Athan yang setinggi langit. Bukankah Kiran sudah sangat mengenal ego laki-laki dihadapannya sejak dulu?
“Sama-sama. Kamu tidak perlu sungkan. Oh iya, kamu bisa buat sandwich?” tanya Athan mengubah topik pembicaraan. Laki-laki itu tidak ingin berdebat lagi mengenai hal tadi.
Mulai lagi deh, batin Kiran.
Kiran mengangguk pelan.”Bisa , Pak,”
“Panini?”
Deg!
Kiran menatap Athan dengan jantung berdebar kencang. Panini? Kenapa laki-laki itu ingin memakan Panini? Bukankah Panini adalah makanan wajib bagi keduanya dulu jika sedang piknik ?
“Bisa Pak asal semua bahan tersedia,” sahut Kiran lirih. Menatap dalam Athan yang masih fokus pada layar laptop.
Athan lalu bangkit dari duduknya berjalan menuju kulkas mini yang ada di belakang meja kerjanya. Laki-laki itu mengeluarkan kantong plastik putih dari kulkas tersebut. Setiap gerakan yang dilakukan laki-laki itu tidak luput dari tatapan Kiran.
“Saya tidak sempat sarapan. Tolong buatkan Panini untuk saya. Ini bahan-bahan yang diperlukan,” ucap Athan menyerahkan kantong plastik tersebut.
“Baik, Pak,” sahut Kiran menerima kantong plastik itu dan bergegas menuju pantry lantai dua puluh yang biasa ia gunakan untuk membuatkan kopi untuk Athan.
***
“Hari ini kita mau kemana, Sayang?” tanya seorang laki-laki yang kemudian memeluk seorang perempuan yang sedang asyik menonton Televisi.
“Kemana? Kamu sudah gajian?” Si perempuan balik bertanya.
“Belum. Tapi karena aku libur kerja hari ini, gimana kalau kita piknik saja? Kamu kemarin mengeluh karena aku sibuk kerja, Kan?”
“Tapi piknik kemana? “
“Taman di perumahan milik Om James itu bagus. Ada danau buatannya juga. Kamu pasti suka,Ran,” sahut Si laki-laki.
“Boleh. Aku juga suka dengan bunga mawarnya. Di sana banyak banget jenis mawar yang ditanam.”
“So, kita mau buat apa untuk bekal di sana?” Tanya Si laki-laki.
“Kamu maunya apa, Kak?”
“Kemarin teman kerjaku bawa Sandwich Panini. Kamu bisa buat itu? Rasanya enak banget, Ran.”
Perempuan itu menggeleng pelan.”Tapi aku bisa coba cari resepnya di web. Tapi kalau rasanya nggak seperti yang kamu makan kemarin, gimana, Kak?”
Laki-laki itu tersenyum. Tangannya mengelus rambut kekasihnya penuh rasa sayang.”Aku meminta kamu yang memasak. Jadi resikonya pun aku yang tanggung. Tapi aku percaya kamu bisa kok. Semua makanan di tangan kamu akan selalu menjadi enak kalau kamu yang memasak,” puji laki-laki itu terdengar tulus tanpa kebohongan di dalamnya.
Perempuan itu tersenyum lalu mulai mencari di internet resep Panini yang mudah dan lezat melalui ponselnya. Tidak butuh waktu lama ia pun menemukan resep Panini sederhana di salah satu blog memasak. Setelah mengcapture resep dan cara memasaknya. Perempuan itu pun mulai mengajak sang kekasih menuju swalayan terdekat untuk membeli semua bahan-bahan yang diperlukan. Karena mereka berdua tidak menemukan sourdough bread, Kiran pun memutuskan menggantinya dengan roti tawar biasa yang akan ia panggang terlebih dahulu.
Setelah semua bahan yang diperlukan lengkap, keduanya pun kembali ke rumah untuk memasaknya. Butuh waktu lima puluh menit bagi Kiran untuk membuat Panini. Maklum saja, ini pertama kali baginya membuat makanan khas Italia tersebut. Kiran lebih suka membuat makanan Indonesia karena bahan-bahannya yang mudah diperoleh. Yah walaupun terkadang ia suka bereksperimen dengan beberapa masakan dari luar negeri. Itu pun semua permintaan dari Athan yang memang sejak kecil sudah makan makanan dari berbagai negara.
“Gimana, Ka?” tanya Kiran dengan wajah penasaran. Bahkan laki-laki itu belum menggigit roti tersebut dan Kiran sudah menanyakan rasanya. Sungguh menggemaskan sekali kekasihnya ini jika sedang gugup.
Wajah Athan tersenyum setelah merasakan Panini yang dibuat Kiran. Membuat perempuan itu lega dan senang setelah melihat reaksi laki-laki di hadapannya. Sepertinya masakannya berhasil.
“Kamu nggak ada rencana buka restoran, Sayang? Masakan kamu selalu buat aku ketagihan saking enaknya,” tanya Athan di sela-sela ia mengunyah makanan.
Kiran langsung menepuk pelan pundak Athan karena salah tingkah. Menurutnya Athan terlalu berlebihan menilai masakannya. Ia masih harus belajar lebih banyak lagi mengenai teknik memasak. Rencananya ia pun ingin mengambil kursus memasak untuk mengasah kembali ketrampilan memasaknya.
“Kamu nggak usah lebai gitu nilai masakan aku. Harusnya kamu kasih masukan supaya aku lebih semangat lagi untuk request-an kamu selanjutnya,” sahut Kiran menahan senyum malunya. Ah ia masih tidak terbiasa dipuji oleh kekasihnya.
“Aku kan bicara jujur. Lagi pula kenyataanya memang enak, Sayang. Jadi ya pasti kubilang enak. Aku kan bukan Chef, jadi hanya ada dua kata dariku. Enak atau enggak. Kamu harusnya ikut kelas masak sama mama. Mama pasti senang ketemu dengan kamu,” sahut laki-laki itu.
Mendengar kata ‘mama’, wajah Kiran berubah murung. Ia belum sanggup untuk bertemu dengan ibu dari kekasihnya itu. Baik mental maupun fisik. Walaupun terlihat ramah dari foto yang diperlihatkan oleh Athan padanya, tetapi Kiran masih belum berani untuk bertemu. Ia takut akan ada penolakan karena status yang dimilikinya tidak sepadan dengan Athan. Ia hanya perempuan yatim piatu yang bahkan sampai saat ini belum pernah tau siapa kedua orang tuanya yang sebenarnya. Kiran tidak ingin menyalahkan kenapa ia harus ditinggal di panti asuhan. Saat ia dibuang pun umurnya belum genap seminggu.
Ia sudah melakukan berbagai cara untuk menemukan siapa kedua orang tuanya. Tapi sampai saat ini Kiran belum menemukan petunjuk. Bahkan Athan pun sering kali membantu dirinya mencari kedua orang tuanya.
“Lain kali saja ketemu mama kamu. Aku belum siap, Kak,” sahut Kiran seraya membereskan bekas memasaknya tadi.
“Kamu jangan khawatir. Mama orangnya baik, kok. Dan mama akan menjadi partner masak yang baik nantinya,” ucap Athan masih dengan mengunyah Panininya.
“Aku tau. Karena itu, aku harus siap lahir batin supaya nanti nggak canggung saat ketemu mama kamu. Pengalaman aku dekat dengan perempuan dewasa sangat minim, Kak. Aku takut nanti malah membuat Mama kamu ilfeel sama aku.”
Athan menghela nafas pelan. Ia tau dengan apa yang Kiran rasakan. Tumbuh di panti asuhan membuat perempuan itu merasa insecure. Bahkan dalam hubungan keduanya, Athan harus terus menahan egonya demi membuat Kiran agar tetap bersamanya. Ia selalu mengalah agar Kiran merasa nyaman dengannya. Semua itu ia lakukan karena ia benar-benar mencintai perempuan mungil itu.
“Sini!” perintah Athan menyuruh kekasihnya untuk mendekat. Kiran pun menurut dan berjalan mendekati Athan.
Kyaaa
Tiba-tiba saja Athan mengangkat tubuhnya lalu mendudukkannya di meja dapur sehingga pandangan keduanya bertemu. Athan tersenyum hangat menatap Kiran.
“Aku sudah bilang beribu-ribu kali sama kamu. Kamu harus jadi perempuan percaya diri. Buang semua rasa insecure kamu itu. Jangan pernah bersembunyi karena keadaan kamu. Itu hanya akan membuat kamu menutup diri dari dunia luar. Ingat, sekarang kamu punya aku, kamu bisa berbagi sama aku kalau menurut kamu beban yang kamu rasakan berat. Walaupun belum tentu aku bisa memberikan solusi, seenggaknya aku bisa jadi pendengar yang baik buat kamu,” ucap Athan mengelus rambut Kiran penuh rasa sayang.
Kiran mengangguk pelan. Tangan mungilnya kemudian menarik tubuh Athan ke dalam dekapannya. Tubuh ini adalah tempat ternyaman baginya. Hanya dengan memeluk kekasihnya, Kiran merasa lebih damai. Ia merasa terlindungi. Bagaimana ia tidak jatuh hati pada laki-laki yang selalu memperlakukannya dengan lembut seperti ini? Bisakah ia terus memeluk tubuh ini untuk selamanya?
“Ran! Kiran!” panggil sebuah suara yang membuat Kiran tersentak dari lamunannya. Perempuan itu langsung berbalik dan hampir saja ia menabrak Athan yang tepat berdiri di sampingnya.
“Astagfirullah!” ucapnya terkejut melihat Athan yang sudah berdiri di sampingnya. Sejak kapan laki-laki ini berada di pantry?
“Kamu sakit ? “ tanya Athan terdengar khawatir.
Kiran langsung menggeleng cepat. Bisa-bisanya ia melamunkan kejadian yang sudah sangat lama berlalu. Gara-gara Panini ia kembali merasakan sesak yang sudah lama ia pendam. Dan rasanya berkali-laki lipat sakitnya.
“Kamu sedang melamunkan apa ? Kalau saya tidak masuk ke sini, mungkin kamu sudah membakar gedung ini,” ucap Athan membuat Kiran terbelalak. Bagaimana bisa ia seceroboh ini? Apa jadinya jika hal yang diucapkan Athan terjadi? Membayangkan dirinya mendekam dipenjara membuat tubuh Kiran menggigil seketika. Ia tidak sanggup jika harus berpisah jauh dari anaknya.
Dasar ceroboh kamu, Ran!!
“Maaf, pak. Saya salah,” ucap Kiran melirik teflon hangus yang ada di atas kompor tepat di hadapannya. Bahkan ia baru saja ingin menumis bumbu utamanya dan sudah melamunkan kejadian masa lalu? Sebegitu besarnya kah pengaruh Athan baginya? Sampai-sampai semua hal yang disukai laki-laki itu selalu membuat Kiran mengingat masa lalunya. Mirisnya kini laki-laki itu tidak mengingat dirinya sama sekali. Sungguh ironi.
“Biarkan OB saja yang membereskannya. Kamu kembali saja ke meja kerjamu!” perintah Athan datar.
“Tapi, Pak, saya belum selesai mem- “
“ Saat kamu selesai memasak, saat itu juga gedung kantor ini habis terbakar, Ran. Lupakan Panininya. Kamu kembali bekerja saja. Seharusnya saya tidak menyuruh kamu tadi,” ucap Athan dingin.
Mendengar ucapan Athan baru saja membuat d**a Kiran berdenyut nyeri. Sepertinya laki-laki itu marah padanya. Ia nyaris saja membuat gedung perkantoran ini hangus terbakar. Pasti Athan akan mengalami kerugian besar jika hal itu terjadi. Dan semua itu terjadi karena kelalaiannya.
-TBC-