[Kamu sudah pulang? Aku tidak bisa menemukanmu setelah acara berakhir tadi.
Victor]
Mia yang semula hendak menghapus nomor tidak dikenal yang tiba-tiba mengiriminya pesan itu mendadak tersenyum saat dia sadar orang yang mengiriminya pesan adalah Victor. Mia menyempatkan diri untuk sedikit mengintip Enzo yang masih saja fokus dengan panggilan teleponnya begitu mereka selesai naik ke mobil tadi, sebelum akhirnya membalas pesan singkat itu dengan rasa bersalah.
[Ya, Kak Enzo selalu menjemputku tiap kali acaraku telah selesai. Maaf aku tidak sempat memberitahukan tentang hal ini sebelumnya. Apa Kak Victor tadi menungguku? Sekarang aku benar-benar merasa bersalah T.T]
Ting
Mia terkejut saat balasan yang dia dapat berikutnya dikirim begitu cepat. Mia tanpa sadar memperlebar senyumnya, saat dia membaca pesan lanjutan dari pria itu.
[Bukan salahmu, waktu kita juga sudah terlanjur habis sebelum kamu bisa menjelaskan hal yang lain. Apa kamu tengah bersama Enzo kini? Kamu tahu, dia tidak akan suka jika kita saling bertukar pesan seperti ini.]
Wajah Mia merengut saat dia diam-diam mengintip Enzo kembali. Dia tidak tahu alasan mengapa sepupunya harus marah jika dia bertukar pesan dengan kenalannya. Victor terlihat seperti pria yang baik di mata Mia. Dia juga tidak enak karena telah menyusahkan pria itu beberapa kali. Bertukar pesan bukan masalah yang besar, karena Enzo sendiri yang mengatakan pada Mia bahwa keduanya memiliki hubungan yang dekat sebelum ini. Mia pikir mungkin kedua pria dewasa itu hanya tengah bertengkar sekarang dan melakukan perang dingin tanpa dia ketahui. Diam-diam Mia tertawa kecil ketika membayangkan kedua orang dewasa di sekitarnya jika bertengkar bersikap layaknya anak kecil. Tangannya dengan cepat mengetik balasan pesan, ketika dia mengirimnya dengan sangat percaya diri.
[Apa kalian tengah bertengkar saat ini? Kalian merupakan teman dekat bukan? Tenang saja Kak Victor, aku akan membantu kalian akur kembali jika kalian tengah bertengkar saat ini^^ Dulu Bibi yang merawatku pernah berpesan. Bahwa daripada bertengkar, akan lebih baik jika kita saling memaafkan dan akur kembali sebelum waktunya terlambat nanti.]
"Kamu sedang apa Mia?"
Mia secara refleks terkejut saat Enzo yang telah menyelesaikan panggilannya tiba-tiba bertanya padanya. Mia terdiam, saat matanya sejenak menatap ponselnya sebelum dia tersenyum kembali pada Enzo.
"Aku..... Melihat berita Kak. Umm....... Apa Kakak tengah ada masalah di pekerjaan? Sejak tadi Kak Enzo terus memasang ekspresi kesal saat menjawab panggilan telepon."
Enzo menghela nafas panjang saat dia sadar tanpa disengaja dia memasang ekspresi kesal saat Mia ada di sampingnya. Enzo dapat melihat Mia sedikit gugup saat menatapnya. Gadis itu sampai sekarang ternyata masih merasa tidak nyaman jika seseorang nampak terganggu di dekatnya. Enzo benar-benar lupa kecurigaannya pada Mia yang terus tersenyum saat menatap ponselnya, ketika dia malah mengelus rambut Mia dengan lembut dan tersenyum kecil untuk menenangkan gadis manis itu.
"Bukan masalah besar. Apa aku menakutimu?"
Mia mendongkak untuk menatap Enzo yang mengusap poni rambutnya dengan wajah khawatir. Dia hanya takut Enzo menangkapnya tengah berkirim pesan dengan Victor tadi, namun sepupunya ini tampaknya telah salah mengartikan rasa gugupnya.
"Tentu saja tidak Kak. Kak Enzo tidak akan pernah menakutiku, sekarang ataupun nanti."
Enzo menghela nafas lega saat Mia tersenyum sambil memeluk tangannya erat. Pria itu mengambil ponsel Mia dari genggamannya, sebelum tangannya yang lain menuntun kepala Mia untuk berbaring di pahanya.
"Kamu pasti lelah bukan? Tidurlah, aku akan membangunkanmu saat kita telah sampai nanti," bisik Enzo lembut. Mia tahu Enzo tidak ingin berkompromi dengannya jika pria itu sudah memintanya untuk tidur. Perlahan Mia memejamkan matanya, deru nafasnya mulai terdengar teratur seiring dengan usapan lembut yang Enzo berikan pada rambut gadis itu.
Begitu Enzo sudah benar-benar memastikan bahwa Mia akhirnya tertidur lelap, baru lah wajah Enzo kembali mendingin karena kesal yang dirasakannya. Usapan lembutnya pada rambut Mia memang tidak berhenti atau berubah, tapi Rose yang tengah mengemudikan mobil dan adiknya Lily yang duduk di bangku depan jelas tahu bahwa bosnya itu tengah benar-benar marah kini.
"Rose."
"Ya Bos?" jawab Rose dengan cepat. Enzo menyenderkan tubuhnya dengan hati-hati, mencoba membuat Mia mendapatkan posisi yang benar-benar nyaman sebelum dia memberi perintah yang lain.
"Kita akan pergi ke Klub The Moon sebelum kembali. Celine baru saja datang dan mencari gara-gara di sana," ujar Enzo memberitahu. Rose yang terus mengemudi segera mengangguk. "Baik Bos," ucapnya sebelum mengambil rute lain untuk berbalik arah. Dia harus melakukannya dengan hati-hati, agar Mia yang tertidur di kursi belakang tidak sampai bangun karena guncangan di dalam kendaraan.
Enzo telah meminta Mia untuk tidur tadi. Itu tandanya, Galen tidak ingin Mia tahu apapun tentang masalah ini.
*****
"Kau tidak bisa melakukan ini padaku! Enzo, dengarkan aku sebentar saja Enzo!"
Crash
"ENZO! KENAPA KAMU TEGA MELAKUKAN INI PADAKU?!"
Mia kembali terbangun saat suara berisik dari dalam sebuah klub malam sampai terdengar ke telinganya. Dengan perlahan, Mia akhirnya mencoba bangun ke posisi duduk. Tangannya dengan lembut mengusak matanya, sebelum dia melihat ke kanan dan kiri untuk mencari tahu dimana dia tengah berada saat ini.
"Bos mampir sebentar untuk urusan pekerjaan Alex. Kamu bisa tidur lagi sambil menunggunya. Apa aku perlu memutar musik untuk membuatmu mengantuk lagi?"
Mia menggeleng saat Lily yang tetap tinggal bersamanya duduk di kursi depan dan mengajaknya bicara saat wanita itu menyadari bahwa Mia telah terbangun dari tidurnya karena keributan yang terjadi di dalam salah satu klub malam milik Enzo. Di tubuh gadis itu terdapat selimut hangat, yang sengaja selalu Enzo bawa ke mana pun khusus untuk gadis itu.
"Aku tidak mengantuk lagi. Aku akan menunggu Kak Enzo kembali saja, Kak Lily," ujar Mia memberitahu. Lily mengangguk mengerti setelah mendengar penuturan gadis itu. Dia terus mengamati Mia dari kaca mobil bagian dalam, saat Mia yang masih setengah mengantuk mencoba untuk mencari keberadaan ponselnya yang sempat diambil oleh sepupunya agar dia bisa beristirahat sebelumnya.
"Jika ponsel yang kamu cari, Bos menyimpannya di kantung mobil karena Bos takut kamu malah menindihnya tanpa sengaja. Apa kamu menemukannya Mia?"
Mia mengangguk saat dia mengikuti intruksi yang diberikan oleh Lily. Mia menyalakan layar ponselnya, ada satu pesan baru dari Victor ternyata.
[Kami memang saling mengenal, namun tidak sedekat itu. Tidak perlu memaksakan diri untuk membuat kita akur Mia. Cukup rahasiakan saja percakapan ini darinya. Dengan sifat keras kepalanya, dia tidak akan mendengarkan bahkan jika kamu mencoba untuk membuat kita akur.]
Mia edikit kecewa saat tahu Victor ternyata memang tengah berselisih dengan Enzo dan menolak tawarannya untuk membantu mereka berbaikan. Sekarang jika Mia ingat-ingat kembali, sepupunya Enzo memang lebih diam saat mereka semua makan malam bersama malam itu. Lily dan Rose yang biasanya ramah juga nampak tidak nyaman, begitupun dengan Leon dari pihak Victor.
Mia tidak tahu apa menyebabkan mereka bertengkar, namun keduanya seharusnya tidak bertengkar terlalu lama. Dengan saling meminta maaf, seharusnya mereka bisa berbaikan kembali. Mia ingin Enzo akur dengan semua orang. Seperti dia, Mia ingin Enzo memiliki banyak teman yang bisa dia percaya.
Saat dia mencoba berpikir, Mia sama sekali tidak sadar bahwa Lily terus saja memerhatikan gerak-gerik gadis itu sejak Mia sudah menemukan ponselnya. Mia memang mengambil resiko dan merahasiakan pertemuan Victor dengan Mia karena dia tidak ingin gadis itu dimarahi ketika Victor yang pertama mendekati Mia. Tapi di situasi langka di mana mereka hanya berdua kini, Lily akhirnya memutuskan untuk tetap membicarakan hal ini pada Mia.
"Bos akan marah besar jika dia tahu kamu berhubungan dengan Victor, Mia. Aku mungkin bisa mengusahakan semua orang untuk tidak memberitahu kedatangan Victor dan Leon pada hari ini. Tapi aku tidak yakin bisa melakukannya untuk kedua kalinya. Sejujurnya Bos sangat tidak menyukai Victor. Kamu hanya akan memancing amarah Bos jika memaksa untuk terus berhubungan dengan pria seperti Victor."
Mia akhirnya mengalihkan pandangannya dari layar ponsel begitu Lily berbicara lembut untuk memperingatinya. Kini ketika dia memiliki orang untuk diajak bicara mengenai hubungan asli Enzo dan Victor, Mia langsung bertanya tanpa ragu-ragu lagi.
"Um, Kak Lily," tegur Mia tiba-tiba. Lily yang semula tengah mengamati pintu masuk klub langsung kembali menoleh. Mia tatapannya langsung menyiratkan pertanyaan 'ada apa?', ketika Mia mainkan jarinya perlahan karena rasa ragu.
Tahu bahwa Mia tampaknya ingin berbicara mengenai Victor, Lily akhirnya membuang nafas panjang. Secara garis besar Lily sebenarnya sudah tahu apa yang akan Mia tanyakan padanya. Dia tidak menunggu Mia sampai bicara, ketika dia memilih untuk menjelaskannya tanpa perlu diminta.
"Victor...... Sebenarnya seorang saingan bisnis Bos, Mia. Kamu tahu, mereka sering berkompetisi mengenai banyak hal sebelumnya. Bos sudah tahu jenis kehidupan apa yang Victor jalani selama ini. Jadi Bos mungkin berpikir, kamu tidak akan cocok bergaul dengan orang sepertinya."
Lily dengan sengaja melewatkan bagian pekerjaan karena selama ini pun, Mia tidak pernah Enzo beritahu mengenai pekerjaan aslinya. Mia hanya tahu bahwa Enzo merupakan seorang pebisnis yang sibuk, dan Enzo juga tampaknya sudah bertekad untuk tidak melibatkan Mia dalam urusan pekerjaan apapun untuk sekarang ataupun nanti.
"Eh? Bukankah itu berarti mereka teman dekat? Lagipula, aku baik-baik saja tidak peduli apa pekerjaan Kak Enzo saat ini. Hal yang sama juga bisa diberlakukan pada Kak Victor bukan? Kak Victor terlihat seperti orang yang baik. Mereka seharusnya segera berbaikan, karena seseorang yang bekerja denganku pernah berkata bahwa saingan itu sebenarnya merupakan teman terdekat kita," ujar Mia dengan polosnya. Lily tidak tahu lagi dia harus senang atau bagaimana setelah mendengar ucapan naif itu. Sebenarnya mereka memang tidak bisa dibilang musuh juga selama ini. Mereka hanya saling mengurusi urusannya masing-masing. Namun karena Mia masuk dalam hubungan mereka kini, tentu saja Enzo otomatis membenci Victor yang telah mengambil perhatian saudaranya.
Semua itu sebenarnya di luar masalah pekerjaan, apalagi persaingan seperti yang Mia sebutkan sebelumnya.
"Mia......"
"Kamu tidak tidur Mia? Apa kamu menungguku?"
Lily merasa terselamatkan saat Enzo akhirnya kembali bersama dengan Rose yang mengekor di belakangnya. Seperti yang Lily duga, Mia tidak lagi berani bertanya apapun ketika Enzo telah sampai sekarang. Mia hanya mengangguk untuk membalas pertanyaan sepupunya, lalu tersenyum kecil saat kepalanya diusap pelan oleh Enzo yang terlihat sedikit lelah setelah mengatasi masalah merepotkan yang terjadi sebelumnya.
"Ayo kita pulang sekarang," ucap Enzo sambil tersenyum. Dia benar-benar sudah lupa bahwa seseorang baru saja terluka di lantai klubnya. Kekacauan yang terjadi sebelumnya seakan-akan tidak pernah terjadi di pikiran Enzo. Semua penatnya menghilang, ketika dia disambut oleh Mia yang menunggunya dengan sebuah senyuman manis.
To be continued