Ima langsung menunduk kala pandangannya pertemu dengan tatapan Nick. Sebagai wanita normal, hatinya bertalun-talun kala ditatap dengan senyuman yang menawan oleh pria tampan seperti Nick.
"Jujur saya tertarik saat kamu menyampaikan dakwah di atas panggung kemarin. Usia saya pun sudah tidak muda lagi dan saya sadar kamu bukan wanita biasa. Sehingga saya memutuskan untuk melamarmu," ucap Nick.
Ia sengaja mengucapkan kalimat manis agar Ima percaya dan mau menerimanya.
"Bagaimana, Ima?" tanya Umar.
Ima merapatkan kedua bibirnya. Ia bingung hendak menjawab apa. Satu sisi ia ingin menerima Nick. Namun di sisi lain rasanya ini seperti mimpi karena Nick terlalu sempurna baginya.
Pria tampan kaya dan rupawan. Wanita mana yang mampu menolaknya. Sayangnya Ima belum tahu rahasia besar mengenai pria itu. Seandainya ia tahu, mungkin Ima sudah menolaknya mentah-mentah.
'Sepertinya dia belum membocorkan rahasiaku pada siapa pun,' batin Nick. Ia yang terlalu ketakutan itu tidak berpikir dengan jernih. Seandainya ia sadar, mana mungkin Ima mau menerimanya jika ia mengetahui rahasia pria itu.
"Saya harap Ustadzah Ima mau menjadi menantu saya. Saya akan sangat bahagia jika kalian bisa menikah," ucap Rose. Ia pun masih sulit percaya bahwa anaknya mendadak ingin menikahi Ima.
Saat ini ia merasa Nick merupakan anak paling berbakti di dunia. Sebab mau menuruti keinginannya. Padahal ia baru berbasa-basi pada Nick. Belum sempat bicara serius mengenai keinginannya itu.
"Bismillah, insyaaAllah saya bersedia," ucap Ima, malu-malu.
"Alhamdulillah," mereka semua pun bahagia mendengarnya. Termasuk Nick. Dengan begitu ia bisa lebih mudah mengendalikan Ima.
'Sebentar lagi kamu akan hidup di bawah kendaliku,' batin Nick sambil tersenyum licik dan menunduk.
Nick sangat yakin bisa mengendalikan Ima dengan mudah.
"Tapi aku ada satu syarat," ucap Ima.
Nick yang tadi sedang tersenyum sambil menunduk pun langsung menoleh ke arah Ima. 'Apa yang dia inginkan? Apakah dia akan memerasku?' batin Nick.
"Apa itu?" tanya Rose sambil tersenyum.
"Aku ingin ada hafalan surat Ar-Rahman sebagai bukti keseriusan Anda," ucap Ima. Ia yakin Nick belum menghafal surat tersebut.
Seketika wajah Nick langsung kaku. Ia menelan saliva karena sudah jelas dirinya tidak hafal. Jangankan menghafal, bahkan suratnya yang mana pun ia tidak tahu.
Rose pun tidak kalah gugup. Ia tahu betul seperti apa anaknya itu. "Apa tidak ada yang lain?" tanya Rose. Ia merasa itu terlalu sulit bagi Nick.
"Maaf, Bu. Bukan bermaksud mempersulit. Saya hanya ingin bukti dari keseriusan anak Ibu. Sebab, bagaimana pun rasanya sulit dipercaya jika ada orang yang baru mengenal tiba-tiba melamar seperti ini," jawab Ima terus terang.
Nick tercekat. Ia tak menyangak Ima akan sangat berani seperti itu. 'Jika bukan karena rahasiaku. Sudah pasti aku akan mundur. Memangnya dia pikir dia siapa? Berani sekali menantangku seperti itu?' batin Nick dengan perasaan yang sangat dongkol.
"Bagaimana, Nick? Apa kamu bisa menyanggupinya?" tanya Rose.
"Ima, kamu jangan mempersulit orang yang sudah berniat baik padamu," bisik Umar.
"Itu tidak sulit jika memang dia bersungguh-sungguh, Pak De," sahut Ima.
Umar hanya bisa menghela napas. Sebab apa yang Ima katakan memang benar. Tidak mungkin ia melepaskan keponakan kesayangannya begitu saja.
Nick yang merasa harga dirinya dipertaruhkan pun langsung menyanggupinya. "Oke, saya sanggup. Sebelum menikah nanti, saya akan membacakannya," jawab Nick.
Jika mundur, sama saja ia menjatuhkan harga dirinya. Sehingga ia nekat untuk tetap maju meski belum tahu bagaimana hasilnya nanti.
Ima menyunggingkan sedikit senyuman. Ia senang karena Nick mau menyanggupinya.
'Wah, parah juga nih si Bos. Gimana cara menghafalnya? Surat Ar Rahman kan panjang,' batin Joe.
Ia merasa Nick sangat konyol. Padahal mereka bisa saja mencari cara lain agar Ima tidak membocorkan rahasia Nick.
Setelah mendapatkan kesepakatan, mereka pun berpamitan. Pernikahan mereka akan dilaksanakan sekitar satu bulan lagi. Sehingga Nick masih memiliki waktu untuk menghafalnya.
"Alhamdulillah ... akhirnya kamu melepas masa lajangmu, Ima," ucap Umar sambil mengusap punggung Ima.
Saat ini keluarga Nick sudah meninggalkan kediaman Umar.
Ima tersenyum. "Belum tentu, Pak De. Satu bulan itu bukan waktu yang singkat. Masih banyak kemungkinan terjadi," sahutnya. Ia tidak ingin terlalu berharap. Sebab semuanya terlalu cepat bagi Ima.
"Tapi kemungkinan besar akan terjadi. Kita berdoa saja semoga semuanya lancar," ucap Umar.
"Aamiin," sahut Ima dan Maryam.
Saat mobil mewah milik keluarga Nick keluar dari gerbang rumah Umar, Adam yang sedang mengendarai motor bersama rekannya itu melihat mereka.
"Ada tamu siapa, ya?" gumam Adam. Ia bahkan dapat melihat wajah Nick yang kebetulan belum menutup kaca jendela mobilnya.
"Oh, itu tadi katanya sih mau ngelamar Ustadzah Ima," sahut rekan Adam yang sedang dibonceng.
Deg!
"Serius?" tanya Adam pada rekannya itu. Jantungnya seolah hampir lepas karena tidak menyangka ada orang yang tiba-tiba melamar Ima.
"Iya. Tadi aku denger dari ART-nya Ustadz Umar yang lagi beli snack di warung," jawab rekan Adam.
Rasanya hati Adam terasa begitu sesak. 'Apa aku terlalu lamban? Lalu aku harus bagaimana? Bolehkan menikungnya saat ia sudah dilamar? Tapi melihat dari keluarga pria itu, rasanya aku sudah kalah sebelum berperang,' batin Adam.
"Dam!" panggil rekan Adam. Ia heran karena Adam melamun.
"Euh, iya," sahut Adam, salah tingkah. Saat ini ia sedang lemas karena pujaan hatinya sudah dilamar pria lain.
Sementara itu, Nick yang sedang ada di jalan pun ditegur oleh asistennya.
"Bos, apa aku tidak salah dengar? Mengapa Anda menyanggupinya? Surat Ar-Rahman itu panjang, Bos," tegur Joe.
"Lalu kamu berharap aku mundur? Mau taruh di mana harga diriku?" Nick kesal karena ia sedang pusing malah ditegur oleh Joe.
"Iya, tapi apa Bos bisa menghafal sebanyak 78 ayat?" tanya Joe.
Sontak Nick langsung menoleh ke arah asisten yang sedang menyetir itu. "TUJUH PULUH DELAPAN AYAT?" pekiknya. Rasanya jantung Nick hampir melompat. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya akan mampu menghafal surat sebanyak itu.
"Iya. Makanya aku kaget waktu Bos menyanggupinya. Maaf, rasanya itu sangat mustahil. Apalagi hanya dalam waktu satu bulan. Ya, kecuali Bos tidak ada pekerjaan lain," ujar Joe.
Nick memejamkan matanya karena kesal. Ia pun menjambak rambutnya sendiri. "Argh! Sialan. Kalau bukan karena dia mendengar rahasia kita, aku tidak akan sudi menikahinya," pekik Nick, kesal.
Meski begitu, Nick tetap berusaha untuk menghafal demi harga dirinya. Ia tidak mau dianggap sebagai pecundang karena tidak bisa memenuhi permintaan calon istrinya itu.
Akhirnya setiap hari Nick pun berusaha menghafal surat tersebut. Bahkan tak jarang ia ditertawakan anak buahnya karena ketahuan sedang menghafal.
Sebab, jangankan membaca Al-Qur'an. Sahalat wajib saja Nick tidak pernah melakukannya. Sehingga ia terlihat aneh ketika tiba-tiba menghafal seperti itu.
"Bos, maaf ya. Tapi, biasanya nih kalau udah jadi suami itu sama aja jadi imam. Nanti gimana kalau Bos diminta memimpin shalat?" tanya Joe.
"Heh! Kamu pikir aku ini mau nikah beneran? Kamu kan tahu tujuanku menikah. Jika dia sudah aku ikat. Maka aku tidak perlu lagi repot-repot berakting. Paham!" bentak Nick.
"Ooh, kirain mau drama seumur hidup," ledek Joe.
"Sepertinya kamu sudah bosan hidup, Joe!" ancam Nick. Ia sangat kesal karena Joe terus meledeknya.
Satu bulan telah berlalu. Kini tiba saatnya hari pernikahan mereka.
"Gimana, Nick? Kamu sudah siap?" tanya Rose.
"Siap, Mih!" sahut Nick. Sebenarnya ia gugup karena harus membaca hafalan di depan banyak orang.
Sementara itu, Ima sudah didandani dengan begitu cantik. Saat ini ia ada di sebuah hotel karena pernikahan mereka akan dilangsungkan secara mewah. Hal itu atas permintaan keluarga Nick.
Awalnya Nick menolak. Namun orang tuanya memaksa. Akhirnya mau tidak mau ia menuruti keinginan orang tuanya itu.
Ketika orang tua Nick meninggalkan anaknya yang ada di kamar itu, tiba-tiba bel pintu kamar Nick berbunyi.
"Siapa lagi, sih?" gumam Nick. Ia yang sudah berpakaian rapih pun berjalan ke arah pintu dan membukanya.
Ceklek!
"Amber?"