Wanita itu menggunakan pakaian yang sangat seksi. Sehingga lekuk tubuhnya terekspose sempurna.
Tanpa berkata-kata, Amber langsung memeluk Nick dan mendorongnya masuk ke kamar.
"Darl! Apa masksud dari semua ini?" tanya Amber menggunakan bahasa asing.
"Wait! Kenapa kamu bisa ada di sini, Amber?" Nick balik bertanya.
"Apakah itu penting? Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaanku saat mengetahui kekasih yang sangat aku cintai akan menikah dengan wanita lain, hem?" tanya Amber, kesal.
"Kamu salah paham, Sayang. Aku memang akan menikahi wanita itu. Tapi hatiku hanya untuk kamu," jelas Nick. Ia tidak ingin kekasihnya itu marah.
"Hei! Kamu pikir aku akan percaya? It's not make sense, Darl. Kalau memang kamu mencintai aku. Harusnya aku yang kamu nikahi!" Amber pun marah.
"Tapi kondisinya tidak semudah itu. Aku menikahinya hanya karena ingin mengendalikannya. Dia telah mengetahui rahasia besarku. Jadi tidak mungkin aku melepaskannya begitu saja," ucap Nick.
Amber tersenyum sinis sambil memejamkan matanya. "Darl, kamu pikir aku ini bodoh? Aku sudah sangat hafal bagaimana kekasihku. Jika ada orang yang mengancam kenyamanan kamu, kamu pasti akan membunuhnya. Kenapa harus sampai dinikahi segala?"
Amber semakin kesal karena menurutnya alasan Nick tidak masuk akal.
"Sayang, ini Indonesia. Tidak semudah itu melenyapkan orang lain. Apalagi orang tuaku ada di sini. Bagaimana jika mereka tahu? Aku tidak ingin mereka kecewa padaku," jelas Nick.
"Tapi aku tidak rela kamu menikah dengan wanita lain, Darl," keluh Amber.
"Kamu jangan khawatir! Aku berjanji tidak akan menyentuhnya. Sebab di hatiku hanya ada kamu. Lagi pula dia bukan tipe aku. Dia adalah wanita sok suci yang menggunakan penutup kepala. Sudah pasti tubuhnya tidak mungkin seseksi kamu," ucap Nick sambil memeluk Amber.
"Apa aku bisa memegang ucapanmu?" tanya Amber sambil mengerlingkan matanya.
"Tentu. Kita masih bisa tetap berhubungan tanpa perlu khawatir. Dia hanya tawanan aku," jawab Nick.
"Baiklah kalau begitu. Tapi awas, ya! Jangan sampai kamu menyentuhnya!" ancam Amber.
"Iya. Tenang saja! Di hatiku hanya ada kamu," sahut Nick. Kemudian ia mengecup bibir Amber.
Saat mereka sedang bermesraah di kamar, tiba-tiba bel pintu kamar itu kembali berbunyi.
Nick pun terperanjat. Ia tidak ingin ada orang lain tahu bahawa Amber sedang berada di kamarnya.
"Sayang, kamu harus segera sembunyi!" ucap Nick. Ia panik dan langsung menarik Amber agar bersembunyi di lemari.
"Tapi ini sangat sempit dan gelap. Aku takut," keluh Amber.
"Sebentar saja. Aku janji orang itu akan segera aku usir. Oke?" pinta Nick.
"Baiklah." Akhirnya Amber terpaksa bersembunyi di dalam lemari.
Nick pun langsung membuka pintunya. "Ck! Ah, kamu. Ada apa?" tanyanya. Ternyata orang yang menekan bel adalah Joe.
"Pernikahan akan segera dimulai. Bos harus segera datang ke ballroom," ucap Joe. Ia disuruh Rose untuk menjemput Nick.
Huuh!
"Oke, aku akan ke sana. Di dalam ada Amber. Tolong kamu amankan dia!" pinta Nick. Ia tidak ingin Amber mengacaukan rencananya.
Joe tersekiap. "Siap, Bos," jawabnya. 'Haduh, kenapa wanita itu bisa ada di sini?' batin Joe.
Meski ia tahu bahwa Nick mencintai Amber. Namun Joe kurang menyukai hubungan mereka.
Bagaimana pun menurutnya Ima jauh lebih baik dari Amber. Sebab Amber selalu menyita waktu Nick. Bahkan tak jarang bisnis mereka tertunda karena Amber selalu ingin ditemani oleh bosnya itu.
Joe akan lebih senang jika Nick memiliki istri penurut seperti Ima dari pada pembangkang seperti Amber.
Padahal kemarin ia sempat keberatan saat Nick memutuskan akan menikahi Ima. Namun kini ia berubah pikiran saat melihat Amber nekat datang ke Indonesia.
Nick berlari kecil menuju aula tempat keluarganya berkumpul sebelum masuk ke ballroom.
"Kamu itu dari mana aja sih, Nick?" tegur Rose.
"Maaf, Mih. Aku tadi sakit perut," sahut Nick.
"Biasa itu, Mih. Kalau mau nikah kan emang suka nervous," timpal Haris.
"Ya sudah, ayo kita masuk!" ajak Rose.
Mereka semua pun berbaris dan memasuki pintu utama ballroom. Disambut oleh keluarga Ima yang menunggu di dalam.
Semua rangkaian prosesi sebelum akad nikah sudah mereka lalui. Hingga kini akhirnya Nick telah duduk di depan penghulu. Sedangkan Ima masih menunggu di salah satu sudut dengan dihalangi oleh sebuah partisi.
Sebelum memulai akad nikah. Sesuai dengan permintaan Ima, Nick membaca hafalan surat Ar-Rahman yang sudah ia hafalkan selama sebulan terakhir.
Meski bacaannya belum sempurna, tetapi Ima senang karena hal itu telah membuktikan keseriusan Nick.
Sedangkan Amber yang melintas di depan ballroom merasa risih. "Dia sedang apa?" tanyanya, kesal. Apalagi wajah Nick terlihat jelas di layar lebar yang ada di depan ballroom.
Joe yang tidak menyukai Amber pun sengaja memanasinya. "Itu hafalan ayat suci. Bos menghafalnya atas permintaan calon istrinya," ucap Joe sambil tersenyum licik.
Sontak saja wajah Amber mengerung. Ia tak menyangka ternyata Nick sampai seperti itu. "Katanya hanya pernikahan palsu. Tapi kenapa dia sampai menghafal seperti itu?" tanya Amber, kesal.
"Hati manusia tidak ada yang tahu," sahut Joe. Ia menggenggam erat tangan Amber agar wanita itu tidak merusak acara pernikahan Nick dengan Ima.
'Lebih baik mendengar ceramah dari pada ocehan tidak jelas dari wanita sinting ini,' batin Joe.
Amber memicingkan matanya ke arah Joe. Ia kesal karena sejak tadi Joe terus mengomporinya.
"Apa Anda masih ingin melihat pernikahannya? Mungkin itu akan lebih baik. Dengan begitu Anda bisa tahu apakah Bos tulus atau terpaksa," ucap Joe.
Hati Amber terasa panas. Ia ingin marah. Namun apa yang Joe katakan memang benar. "Oke. Aku akan melihatnya," sahut Amber.
Akhirnya mereka melihat Nick melakukan ijab kabul melalui layar lebar itu.
Sangat terlihat dengan jelas bagaimana kegugupan Nick. "Kamu bisa lihat sendiri, dia sangat gugup. Artinya dia memang tidak nyaman," gumam Amber sambil tersenyum.
"Tapi justru rasa cinta yang begitu besar pun membuat pengantin gugup karena bahagia," skak Joe.
Amber langsung memelototi Joe. Ia emosi setiap kali mendengar jawaban pria itu.
Apalagi ketika Nick mengucapkan kalimat kabul. Suaranya terdengar bergetar bahkan wajahnya merah padam.
"Sepertinya Bos memang tulus. Ingin mengendalikan Nona Ima, mungkin hanya alasan saja," gumam Joe, pelan.
"Joe!" bentak Amber. Ia tidak sanggup melihatnya lagi. Sehingga Amber pun langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Sementara itu, Ima menitikan air matanya. Ia sangat bahagia karena kini telah menjadi seorang istri dari pria yang tulus mencintainya.
Saat namanya dipanggil untuk mendekat ke arah Nick. Lutut Ima terasa lemas karena terlalu gugup. Ia pun berjalan ke arah Nick dengan dituntun oleh dua orang brides maid yang sejak tadi menemaninya.
Nick tersenyum saat melihat Ima. Ia pun berdiri menyambut istrinya itu.
Akting Nick terlihat begitu natural. Sebab ia ingin menampilkan yang terbaik di hadapan orang tuanya.
Saat diminta bersalaman, Nick tanpa ragu mengulurkan tangannya. Sebab bukan hal aneh baginya bersentuhan dengan yang bukan mahrom.
Lain halnya dengan Ima. Selama ini ia selalu menjaga jarak dengan lawan jenis. Sehingga ia sangat gugup kala harus menyentuh tangan Nick.
Hal itu pun membuat Nick bingung. Sebab menurutnya Ima sangat berlebihan. 'Memangnya dia pikir aku ini kuman?' batin Nick, kesal. Namun ia berusaha tetap tersenyum.
"Harap maklum ya, Nick. Ima belum pernah bersentuhan dengan lelaki mana pun. Sehingga ia gugup saat harus menyentuh suaminya sendiri untuk pertama kali," ucap Umar.
Nick terkesiap. Ia tidak menyangka ternyata Ima sampai seperti itu. 'Apa ada orang yang tidak bersentuhan dengan lawan jenis? Mengapa bisa?' batinnya.
Ia tidak sadar telah menatap Ima karena terlalu penasaran. Hingga akhirnya Ima berhasil menyentuh tangan Nick dan mengecupnya dengan khidmat.
Nick dapat merasakan tangan Ima yang lembut itu dingin, berkeringat dan gemetar. Hal itu pun membuat Nick percaya bahwa ini merupakan sentuhan pertama bagi Ima.
Setelah itu, Nick diminta menyentuh kepala Ima. Lalu ia dituntun untuk membacakan sebuah doa oleh Umar.
Ima memejamkan matanya. Hatinya bergetar kala mendengar bacaan doa keluar dari mulu Nick. Ia merasa pria itu sudah benar-benar menjadi suaminya.
Selanjutnya, kini Nick diminta mengecup kening Ima untuk melengkapi prosesi pernikahan mereka.
Nick pun menyentuh kedua lengan Ima. Kemudian mendekatkan bibirnya ke kening Ima.
Hal itu membuat hati Ima bertalun-talun. Terasa seperti hampir meledak. Apalagi ketika ia menghirup aroma harum dari tubuh Nick. Rasanya Ima dibuat mabuk kepayang oleh pria tampan itu.
Saat bibir lembut Nick menyentuh keningnya. Kening Ima langsung meremang. Sebab Nick merupakan orang pertama yang telah mengecupnya seperti itu.
Nick pun dapat merasakan kegugupan istrinya. Sehingga ia semakin penasaran dengan wanita itu. Sebab, menurut Nick Ima sangat unik. Berbeda dengan wanita yang pernah ia temui. Jangankan disentuh, dicium pun tidak sungkan.
'Come on, Nick! Jangan sampai kamu terbawa suasana,' batin Nick. Berusaha menyadarkan dirinya.
Sampai saat ini Nick berusaha menyakinkan dirinya bahwa pernikahan itu hanya demi mengendalikan Ima. Bukan karena cinta.
Selesai prosesi akad nikah, Nick dan Ima diminta berfoto untuk mengabadikan momen mereka.
"Sekarang posenya pengantin pria memeluk pengantin wanita dari belakang, ya! Terus saling bertatapan dengan bibir yang hampir bersentuhan!" ucap photografer.