Framed Bab 3
Aku mendorong tubuh Andra agar menjauh dariku.
“Jawab pertanyaanku. Apa sebenarnya yang terjadi saat ini?” suaraku bergetar, tetapi tetap kutahan agar tidak terdengar lemah.
“Aku baru saja sampai di hotel ini, bertemu denganmu, lalu semua ini terjadi. Apa maksudnya?”
Aku menarik napas cepat.
“Bagaimana kamu bisa masuk ke sini? Dan apa tadi itu?”
“Kenapa ada yang mengetuk pintu kamarku? Siapa mereka?”
“Kenapa kamu mematikan lampu saat itu?”
Aku menghujaninya dengan pertanyaan. Kepalaku terasa penuh oleh kejadian yang datang bertubi-tubi.
“Seina, dengarkan aku,” katanya tegas.
“Aku tidak bisa menjawab semua pertanyaanmu sekarang. Mereka bisa kembali lagi.”
“Mereka?” Aku menatapnya tajam. “Siapa mereka? Kenapa mengincarku?”
“Mereka orang suruhan Mr. G.”
“Mr. G? Siapa dia? Aku tidak mengenalnya. Apa yang mau mereka lakukan padaku?”
“Mr. G yang membuatmu dalam bahaya.”
Ia menatapku lurus . “Aku kembali ke hidupmu karena dia mengincarmu. Kali ini aku akan memastikan kamu baik-baik saja.”
Aku melangkah mendekatinya.
“Tolong jelaskan apa semua ini,” bentaku, suaraku mulai meninggi.
“Aku akan jelaskan. Tapi kita harus pergi dari sini.”
“Tidak.” Aku menggeleng. “Aku tidak akan pergi. Aku tidak punya urusan apa pun.”
“Kalau kamu tidak mau pergi, kenapa tadi kamu diam saat kita bersembunyi di toilet? Kamu merasa takut, kan?”
Pertanyaannya membuatku terdiam.
Aku memang takut. Dan itu yang paling membuatku kesal.
“Itu karena kamu yang menyuruhku diam,” balasku cepat.
Andra mendekat lagi. Kali ini jaraknya terlalu dekat.
“Sekarang aku juga memintamu pergi dari sini. Bawa semua barangmu. Ikut aku.”
“Tapi kenapa?” Aku menahan suaraku agar tidak berteriak lagi. “Aku butuh alasan.”
“Aku akan menjelaskan di jalan.”
Kami saling menatap. Aku tidak ingin mengikutinya. Tetapi kejadian tadi – ketukan pintu, lampu yang mati. Suara orang-orang di luar – semuanya masih terngiang.
“Baiklah,” kataku akhirnya, meski hatiku masih ragu.
“Tapi jawab ini dulu. Bagaimana kamu bisa masuk ke kamarku? Aku jelas mendengar kamu menempelkan kartu di kamar depan.”
Andra mundur selangkah dan tersenyum tipis.
“Jadi kamu mendengarkan di mana kamarku?” katanya ringan. “Kamu belum berubah, ya, Siena. Masih imut seperti dulu.”
Aku membeku.
Bukan karena pujiannya. Tapi karena dia masih berbicara seperti tidak ada yang sedang mengancam kami.
“Cepat katakan saja,” potongku tegas.
“Aku mengganjal pintumu dengan stopper yang biasa di pakai housekeeping.”
Aku terperangah mendengar ucapannya.
“Tapi aku yakin pintu itu sudah tertutup.”
“Nyatanya aku bisa masuk.”
Dia menatap pintu sejenak, lalu kembali padaku.
“Mereka mengincarku. Mereka sudah tahu nomor kamarku. Karena itu aku harus ke kamarmu. Memastikan kamu aman... dan aku juga harus bersembunyi.”
Aku mundur beberapa langkah ke arah pintu. Mataku tertuju pada gagang pintu itu.
Bagaimana aku bisa mempercayainya begitu saja?
“Ayolah, Siena. Waktu kita sangat sempit. Aku akan memberitahumu caranya nanti saat, setelah ini selesai.”
“Aku benar-benar tidak mengerti, Andra. Apa yang terjadi sekarang?”
Tanpa menjawab, dia meraih tasku. Tangannya menggenggam tanganku dan menarikku keluar dari kamar 512.
Aku hanya diam mengikutinya.
Saat menunggu lift, Andra terus menatap angka di atas pintu lift. Lift itu berhenti di beberapa lantai, bergerak lambat.
Ketika angka menunjukkan lantai 12 dan tidak bergerak lagi, wajahnya berubah serius.
“Ada apa? Kenapa lift itu tidak bergerak dari lantai 12?” tanyaku pelan.
“Mereka memindahkannya.”
“Apa maksudmu? Apa yang dipindahkan?”
“Kita harus turun lewat tangga darurat.”
“Tapi ini lantai 10, Andra. Turun sampai bawah dengan tangga pasti melelahkan.”
“Di lantai 8 ada lift khusus dari gedung sebelah. Gedung baru yang terhubung ke kolam renang. Kita turun ke lobi lewat sana.”
Aku tetap mengikutinya, meski hatiku dipenuhi rasa curiga.
Beberapa menit kemudian kami sudah berada di lift gedung sebelah.
“Lepaskan tanganku,” kataku kesal.
“Maaf kalau aku terlalu kencang memegangnya.”
“Aku tidak ingin pergi denganmu. Kita bertemu saja di kafe lain. Berikan nomor teleponmu.”
Aku menyodorkan ponselku.
Dia hanya menatapku.
“Kamu masih tidak percaya padaku?”
Aku terdiam.
“Bagaimana aku bisa percaya,” jawabku akhirnya, “kalau dulu kamu meninggalkanku begitu saja?”
Kenangan itu muncul begitu saja.
Dulu dia meminta padaku untuk percaya padanya. Bahwa putusnya hubungan kami hanya sementara. Bahwa setelah acara kelulusan sekolah, dia akan kembali dan kami bisa menjalani hubungan yang lebih serius.
“Aku akan kembali saat hari kelulusan sekolah nanti. Percaya padaku, Siena.”
“Tapi kamu mau pergi ke mana, Andra? Dan kenapa?” tanyaku waktu itu.
“Aku harus menyelesaikan semuanya. Mereka sudah mengetahui keberadaanku. Aku tidak ingin mereka tahu tentangmu. Aku harus memastikan mereka tidak melukaimu.”
“Siapa yang akan melukaiku?”
“Tidak ada, Siena. Aku akan melindungimu. Jadi percaya padaku. Aku akan kembali.”
“Baiklah... aku akan menunggumu.”
Saat itu Andra memberiku sebuah cincin. Cincin perak dengan ukiran huruf A.
Aku menerimanya dengan perasaan penuh bahagia.
“Aku sangat menyayangimu, Siena.”
“Aku juga.”
Kata-kata terakhirnya saat itu benar-benar melekat di pikiranku. Aku terus menunggunya, tetapi dia tidak pernah kembali.
Dan sekarang, tidak ada alasan bagiku untuk percaya padanya.
“Aku sudah memesan taksi online, jadi aku akan naik itu.”
“Cepat tuliskankan nomor ponselmu.”
Andra mengambil ponselku dan menuliskan nomor teleponnya.
Lift berhenti di lobi. Aku melangkah keluar lebih dulu. Andra berpisah dariku di depan lift, berjalan ke arah toilet, sementara aku terus menuju pintu keluar.
Lobi hotel ramai. Tamu berlalu-lalang, suara koper ditarik terdengar bersahutan.
Aku sempat menoleh ke kanan.
Wanita glamor yang kutabrak tadi pagi masih duduk di kursi dekat lobi. Kupikir dia sudah pergi. Tapi dia masih disana, duduk tenang seolah menunggu sesuatu.
Aku keluar dari hotel.
Sebuah mobil berhenti tepat di depanku.
Kupikir itu taksi online yang kupesan. Aku membuka pintu dan masuk tanpa banyak berpikir.
Mobil melaju meninggalkan hotel.
Lagi-lagi sopir itu bertanya tujuanku. Padahal alamat sudah tertera jelas di aplikasi.
Apa sekarang sopir taksi online memang perlu memastikan ulang pada penumpang?
Aku menyebutkan alamatnya.
Mobil kembali melaju.
Kaca mobil sangat gelap. Sulit melihat ke luar, dan dari luar pun pasti sulit melihat ke dalam. Ada sekat antara kursi penumpang dan sopir.
Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Namun dari suaranya, sopir itu pria muda.
Mobil itu harum. Wangi lavender bercampur citrus. Aromanya terasa familiar, meski aku tidak yakin pernah menciumnya sebelumnya.
Aku menyandarkan kepala ke kursi.
Saat hendak masuk tol, lalu lintas di depan tampak padat. Mobil-mobil berhenti tidak seperti biasanya.
“Ada apa ya, Pak, di depan?” tanyaku.
“Sepertinya ada razia polisi, Bu.”
“Razia tengah hari begini? Ada kasus apa?”
“Katanya ada laporan mobil yang membawa mayat.”
Mayat?
Aku langsung duduk lebih tegak.
“Mayat? Ngeri sekali. Apa ada pembunuhan?”
“Sepertinya iya. Makanya semua mobil di periksa sebelum masuk tol.”
Mobil yang kutumpangi bergerak lebih lambat dari yang lain.
Lalu tiba-tiba –
“Duuukk!”
Ada yang menabrak mobil ini dari belakang.
Benturan keras dari belakang membuat tubuhku terdorong ke depan. Kepalaku membentur sandaran kursi sopir.
Mobil berhenti mendadak.
Sopir langsung membuka pintu dan keluar. Tanpa berkata apa-apa, dia berlari menjauh.
Aku membeku.
Kenapa dia kabur?
Suara teriakan mulai terdengar. Polisi dari depan berlari ke arah mobil ini.
Jantungku berdegup tidak teratur.
Ada apa ini?
Belum sempat kupahami, tiba-tiba pintu sampingku terbuka.