Perpustakaan (Lampau)

1048 Words
Framed Bab 2 Terlalu gelap. Aku mencoba berpegangan di sekitar dinding, mulai mencari dimana ponselku. Tapi tidak kutemukan. Aku memutuskan untuk berjalan keluar dari kamar ini. Kenapa bisa mati lampu seperti ini, batinku. Tapi ini sepertinya bukan mati lampu biasa. Aku jelas mendengar suara kartu kamar tadi dicabut. Jadi seseorang sengaja mencabutnya, pikirku. Aku berjalan menuju pintu, melewati toilet. Tiba-tiba tanganku ditarik. “Aaagggh!” Aku berteriak. Mulutku langsung ditutup. Aku menoleh panik. Seorang pria berdiri di belakangku. Andra. Dia memberi isyarat dengan jari di depan bibirnya, menyuruhku diam. Lalu menarikku masuk ke dalam toilet dan menutup pintunya perlahan. Tidak lama kemudian terdengar suara keributan di luar. Suara langkah. Beberapa orang berbicara pelan namun tegas. Sepertinya ada yang berkerumun di depan kamarku. Aku yang masih dibekap berusaha melepaskan tangannya, tetapi dia menahanku lebih kuat. Lalu terdengar seseorang mengetuk pintu kamarku. Satu kali. Dua kali. Seseorang juga mencoba menekan bel, tetapi karena listrik mati, tidak ada bunyi apa pun. Beberapa detik kemudian langkah-langkah itu menjauh. Andra perlahan melepaskan tangannya dari mulutku. Dia mengeluarkan ponsel dan menyalakan senter. Cahaya kecil itu membuat ruangan sempit terasa makin sesak. Dan berbisik di dekat telingaku. “Maafkan aku. Aku harus melakukannya. Ini penting.” Aku tidak mengerti apa pun. Refleks aku hendak berteriak lagi, tetapi dia cepat membekapku kembali. “Jangan lakukan itu. Kita bisa tertangkap,” bisiknya. Tertangkap? Kata itu membuat napasku tercekat. Aku menatapnya dalam gelap, lalu berbisik pelan. “Apa maksudmu? Apa yang sedang terjadi?” “Aku akan jelaskan. Tunggu sepuluh menit. Setelah itu kita keluar.” Sepuluh menit terasa lama di ruangan sekecil ini. Aku tidak tahu harus percaya atau tidak. Tetapi ketukan pintu tadi, dan orang-orang yang jelas mencari sesuatu di luar sana, membuatku memilih diam. Ada sesuatu yang tidak beres. Aku punya firasat buruk. Kami berdiri berdekatan dalam cahaya ponsel yang redup. Saat itu aku menyadari sesuatu. Wallpaper ponselnya, ada fotoku. Aku tertegun. Kenapa fotoku masih ada padanya. Aku ingin bertanya, tetapi kutahan. Sekarang bukan waktunya. Aku perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi lebih dulu. Waktu terasa berjalan lambat. Setelah beberapa menit, Andra membuka pintu toilet sedikit dan mengintip ke luar. Lalu dia keluar dari kamar, seolah mengecek keadaan di sekitar lorong itu. Tak lama kemudian lampu kamar menyala kembali. Aku keluar dari toilet. Udara kamar terasa berbeda, seolah baru saja terjadi sesuatu yang tidak terlihat. Aku menarik tangannya dan membawanya ke arah kasur. Aku mendudukanya di tepi kasur, sementara aku duduk di kursi di depannya. “Apa yang terjadi? Apa maksud semua ini? Bagaimana kamu bisa masuk ke sini? Dan siapa yang tadi mengetuk pintu kamarku? Andra, kamu harus menjelaskan semuanya.” Dia hanya memandangku, menatapku tanpa berkata apapun. Tatapan itu. Tatapan yang sama seperti dulu. Tatapan ketika pertama kali kami bertemu di perpustakaan, menjelang ujian akhir SMA. Tatapan itu membuatku terdiam sejenak. Seolah membuka pintu kenangan lama yang selama ini kupaksa tutup. Aku kembali mengingat hari itu. Jam istirahat berbunyi. Aku berlari menuju perpustakaan karena ada buku yang harus kuambil. Itu buku penting. Aku harus menghafalnya agar nilai ujianku bagus. Aku sampai di perpustakaan. Aku berjalan menyusuri lorong tempat buku itu berada. Namun aku melihat seorang siswa sudah mengambil buku itu terlebih dulu. Dia berdiri sambil membacanya dengan tenang. Aku memperhatikan wajahnya. Tanpa sadar, pandanganku turun dari atas ke bawah. Dia tinggi. Rapi. Terlihat berbeda dari siswa lain. Aku tidak mengenalnya. Padahal sudah satu minggu ini aku hampir setiap hari datang ke perpustakaan. Baru hari ini aku melihatnya. Dan rasanya, selama aku sekolah di SMA ini, belum pernah ada siswa seperti dia. Jika ada yang setampan itu, pasti teman-temanku yang lain sudah bergosip heboh di kelas. Aku menarik napas pelan. Buku itu hanya satu. Aku harus membacanya. Kalau tidak, aku akan kesulitan menghadapi ujian besok. Aku melangkah mendekatinya. Aku harus berani. “Permisi,” kataku, suaraku terdengar lebih pelan dari biasanya. Kenapa aku jadi canggung begini? Dia hanya siswa biasa. Bukan kakak kelas. Bukan anak yayasan. Tapi entah kenapa aku merasa segan. Dia menoleh dan menatapku. Tatapannya lurus. Tenang. Tajam. Napasku tercekat sesaat. Ada apa ini? Hanya karena ditatapnya seperti itu, tanganku terasa dingin. Dia menutup buku itu. “Ada apa?” tanyanya. “Aku ingin meminjam buku itu untuk ujian besok. Aku lihat kamu sedang membacanya.” “Buku ini?” “iya.” “Oh. Ya sudah. Ini.” Dia langsung memberikannya tanpa ragu. Aku menerimanya, sedikit terkejut karena semudah itu. Lalu dia berjalan meninggalkanku. “Kamu kelas berapa?” tanyaku cepat sebelum dia benar-benar pergi. Dia berhenti dan menoleh. “Aku baru tiba hari ini. Aku belum tahu akan masuk kelas mana.” Anak baru? Pantas saja aku tidak mengenalnya. Dia keluar dari perpustakaan. Penjaga menegurku karena suaraku tadi agak keras. Aku buru-buru kembali ke kelas sambil membawa buku itu. Saat tiba di kelas, teman-temanku sudah ribut membicarakan siswa baru. Katanya ada anak baru pindahan di akhir semester. Bagaimana bisa? Ujian akhir sudah dekat. Tidak lama jam istirahat selesai, semua murid kembali ke kelas. Wali kelas masuk dan memanggil siswa baru itu. Dan benar. Dia. Siswa yang tadi kutemui di perpustakaan. Dia memperkenalkan diri. Namanya Andra. Suara tepuk tangan terdengar. Beberapa siswi berteriak kecil karena terpukau. Wali kelas menyuruhnya duduk di bangku kosong belakang. Saat berjalan melewati mejaku, dia berhenti. “Kamu di sini? Senang ketemu kamu,” katanya sambil tersenyum tipis. Aku merasa canggung dan hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun. Itu pertama kalinya aku bertemu dengannya. Dan sampai hari ini, aku masih tidak mengerti bagaimana mungkin di akhir semester ada siswa pindahan masuk ke sekolah kami. Anak siapa dia? Kenapa bisa semudah itu pindah ke sini? Aku menghela napas panjang, kembali ke masa sekarang. Andra kini berdiri di hadapanku, bukan lagi siswa baru SMA, tetapi pria yang tiba-tiba muncul kembali dalam hidupku. Dia melangkah mendekat dari sisi kasur ke arah kursi tempat aku duduk. “Seina, aku kembali untuk melindungimu dari suamimu.” Suaranya lebih berat dari dulu. “Dan aku akan menjagamu apapun yang terjadi. Aku tidak akan lagi kehilanganmu.” Dia mendekat, terlalu dekat. Dia tidak menjawab satu pun pertanyaanku. Tidak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Hanya janji. Hanya perlindungan. Kenapa hari ini semuanya terasa datang bersamaan. Masalah dengan suamiku. Mobil tadi. Keributan di hotel. Dan sekarang Andra kembali, mengatakan hal-hal yang belum bisa kupahami. Apa sebenarnya yang terjadi? Dan kenapa aku yang berada di tengah semua ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD