Framed Bab 1
Aku bertengkar hebat dengan suamiku. Lagi-lagi karena kami belum juga memiliki anak.
Kali ini aku benar-benar tidak tahan. Dia main tangan.
Tamparan itu masih teringat jelas ketika aku melangkah keluar rumah.
Bukan hanya soal sakitnya, tetapi kenyataan bahwa dia benar-benar melakukannya.
Aku harus pergi dari rumah ini.
Aku lelah. Tidak ingin berdebat lagi. Tidak ingin menjelaskan apa pun lagi.
Biar saja dia akan mencariku atau tidak. Untuk malam ini, aku tidak peduli.
Aku akan menginap di hotel.
Aku memesan taksi online. Tak lama mobil itu datang. Aku tidak mengecek nomor platnya. Tidak mencocokkan nama pengemudi.
Aku langsung membuka pintu dan masuk.
Sopirnya diam. Musik sendu diputar pelan, seperti suasana hatiku yang sedang tidak baik. Lagu itu berbahasa Inggris, dan ada kata marriage dalam liriknya. Sepertinya lagu itu juga tentang pernikahan.
Aku hanya tidak ingin berada di rumah malam ini.
Sopir menurunkanku di hotel yang kusebutkan. Dia sempat bertanya memastikan tujuanku. Aku sedikit merasa heran, karena alamat sudah tertera jelas di aplikasi. Namun karena sudah sampai, aku tidak memedulikannya.
Aku membayar dengan uang digital dari aplikasi.
“Terima kasih,” kataku sebelum turun dari taksi itu.
Saat turun, aku sempat melihat ke spion. Ada stiker bergambar tengkorak menempel di sudutnya.
Aku mengernyit sekilas, tampak aneh.
Tetapi lagi-lagi aku tidak peduli.
Aku langsung masuk ke dalam hotel, lalu check-in.
Saat akan naik lift, aku tidak sengaja menabrak seorang wanita. Dia berpakaian glamor dengan topi besar dan kacamata hitam.
“Maaf, saya tidak sengaja,” kataku.
“Tidak apa-apa, jangan terburu-buru,” jawabnya.
Nada suaranya tenang, terlalu tenang. Aku sempat menatapnya lebih lama dari seharusnya. Lalu mengangguk masuk ke dalam lift.
Saat pintu hampir tertutup, seseorang menahannya. Pintu kembali terbuka.
Dia seseorang yang kukenal.
Temanku. Lebih tepatnya, mantan pacarku.
Aku membeku melihat wajahnya.
Dia masuk tanpa menyapaku. Kami berdiri dalam diam. Hanya suara mesin lift yang terdengar samar.
Rasanya seperti kembali ke masa lalu yang belum benar-benar selesai.
Lift berhenti di lantai sepuluh, tempat kamarku berada. Dia juga turun di lantai yang sama.
Tiba-tiba dia menyapaku.
“Hai, Siena. Apa kabar?” katanya.
“Kamu masih ingat aku?” lanjutnya lagi.
Pertanyaan itu membuat dadaku terasa sesak. Seolah dua tahun yang lalu tidak pernah benar-benar lewat.
Aku hanya menatapnya. Kenapa harus bertemu dia di sini, di saat seperti ini?
“Aku baik,” jawabku singkat.
“Kamu menginap di sini?” tanyaku balik, menjaga nada suaraku tetap datar.
“Aku ada pekerjaan di sini. Jadi aku menginap,” jawabnya.
“Oh. Kalau begitu, aku duluan,” kataku tegas.
“Kamu menginap di kamar nomor berapa?” tanyanya sambil berjalan mengikutiku.
“Kenapa?” Aku berhenti dan menoleh.
“Aku tidak perlu memberitahumu, kan,” jawabku ketus.
“Apa kamu masih dendam padaku karena kita berpisah?”
Aku menghentikan langkahku sepenuhnya. karena dia membahas masa lalu yang tidak ingin kuingat.
“Kenapa aku harus dendam? Itu sudah masa lalu,” kataku, berjalan kembali.
“Lalu kenapa kamu berada di sini sendirian?” tanyanya lagi.
Aku berhenti kembali. Pertanyaannya mulai terasa mengganggu.
“Kenapa kamu harus tahu? Aku tidak perlu melaporkan apa pun, kan?”
“Aku hanya ingin tahu. Apa kita tidak bisa menjadi teman? Kamu memutuskan semua kontak denganku sejak itu.”
“Apalagi yang bisa kita bicarakan untuk kembali jadi teman? Semua kamu yang memutuskan saat itu. Bahkan kamu tidak mendengarkan saat aku akan bicara.”
“Tapi, saat itu posisiku sangat sulit. Aku benar-benar tidak bisa membiarkanmu terluka.”
“Terluka? Apa maksudmu? Sudahlah, itu masa lalu kita. Aku sedang tidak punya tenaga membahas apa pun denganmu.”
Aku melanjutkan langkah menuju kamarku hingga berhenti di depan nomor 512. Aku menempelkan kartu. Pintu terbuka.
Aku segera masuk dan menutupnya, meninggalkannya di lorong.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara kartu lain ditempelkan di pintu kamar di depanku.
Jadi dia benar-benar menginap di sini, pikirku.
Aku bersandar di balik pintu yang sudah tertutup.
Kenapa aku harus bertemu dia di tempat ini, setelah dua tahun lamanya tanpa kabar?
Dia yang memutuskanku. Padahal kami sudah berjanji akan menikah.
Jika dulu aku tetap bersamanya, mungkin aku tidak akan berada di titik ini.
Mungkin aku tidak akan pernah dipukul oleh pria lain.
Dulu dia sangat menyayangiku. Selalu melindungiku.
Tetapi hari itu, dia mengakhiri semua hubungan kami tanpa memberiku kesempatan bertanya, tanpa memberiku ruang untuk mengatakan apa yang ingin aku sampaikan.
Dia pergi begitu saja. Menghilang. Tidak pernah kudengar kabar apa pun.
Setelah itu, aku seperti wanita yang kehilangan arah.
Butuh waktu lama untuk berdiri kembali dan meyakinkan diri bahwa aku bisa hidup tanpa dia.
Bahwa aku harus melupakan kisah kami.
Dan hari ini, tepat setelah suamiku menamparku untuk pertama kalinya, dia muncul kembali di hidupku.
Seolah tidak terjadi apa-apa. Bahkan bertanya apakah kami bisa kembali menjadi teman.
Saat ini, ingin sekali aku memukulnya. Tetapi tenagaku sudah habis.
Habis karena semua kemarahan pada suamiku dan padanya.
Habis karena lelah menahan semuanya sendirian.
Aku merebahkan tubuhku di atas kasur mengingat kejadian itu.
Pagi tadi, suamiku marah karena aku tidak meminum jamu yang diberikan ibunya.
Padahal aku sudah bilang, jamu itu tidak enak.
Dan aku sudah bosan meminumanya terus selama satu tahun ini demi punya anak. Tetapi aku juga belum bisa punya anak.
Dia marah besar. Keluarganya sangat ingin aku punya anak. Tapi mau bagaimana lagi, aku juga belum diberi oleh Tuhan.
Aku sudah berusaha satu tahun ini menuruti semua keinginan keluarganya.
Minum jamu, periksa ke dokter, disuntik berkali-kali, periksa darah, mencoba bayi tabung. Tapi tidak ada yang berhasil.
Aku benar-benar lelah, tetapi suamiku tidak pernah mencoba mengerti perasaanku. Dia terus menuntutku.
Dan tadi, saat aku tidak lagi sanggup menahan diri dan meluapkan semua kekesalanku, dia menamparku dua kali.
Aku sangat tidak terima. Itu pertama kalinya dia melakukannya.
Ini hal mengerikan yang terjadi di pernikahanku.
Sesuatu yang dulu kupikir tidak akan pernah terjadi padaku.
Aku mengingat kembali mantanku. Andra.
Jika dulu aku tetap bersamanya, mungkin aku tidak akan di sakiti seperti ini.
Tadi dia mengatakan bahwa dia pergi karena tidak bisa membiarkan aku terluka.
Aku masih tidak mengerti maksud ucapannya itu. Saat itu kupikir dia hanya mencari alasan untuk pergi.
Waktu itu kupikir tidak akan ada satu hal pun yang membuatku terluka selama ada dia di sisiku.
Nyatanya, justru setelah dia pergi, hidupku berbelok sejauh ini.
Aku memejamkan mata, mencoba mengusir semua pikiran yang berputar.
Tiba-tiba.
Klik.
Seperti suara kartu kamarku dicabut dari tempatnya.
Ruangan mendadak gelap.
Jantungku langsung berdegup lebih cepat. Aku tersadar dan bangkit dari tempat tidur, meraih tasku.
Tanganku menyusuri permukaan meja, mencari-cari dalam gelap, tetapi tidak menemukannya. Ponselku tidak ada di sana.
Aku berjalan ke arah pintu keluar, mencoba mengingat letaknya dalam bayangan gelap kamar.
Namun saat melewati toilet, tiba-tiba seseorang menarik tanganku dengan kuat.
Aku berteriak.