Chapter 6 Steve
Setelah pertemuan itu Elias semakin sering menghubungi Julia, setiap malam masih rutin menelphone dan mengirimkan chat melalui aplikasi Whats App setiap pagi dan siang tidak pernah ketinggalan.
Julia merasa heran bagaimana seseorang bisa berbicara selama satu jam tanpa kehabisan bahan pembicaraan.
Kadang kadang ia merasa cape dan tidak tertarik untuk mendengarkannya.
Belum ada perasaan suka terhadap Elias membuat ia malas untuk terlalu dekat dengan Elias.
Semua anggota keluarga sudah mengetahui hubungan Julia dan Elias.
Gara gara acara perjodohan ini, mereka selalu mencari alasan meledek Julia seperti jaman Siti Nurbaya saja.
Akibat ledekan mereka membuat Julia semakin malas mengangkat telephone dari Elias.
"Cie.. cie..yang baru menerima telephone dari calon suaminya" ledek Natalie
"Calon suami dari Hongkong" Julia menjawab sambil cemberut.
"Kalau bukan calon suami calon pacar dong, ngomong ngomong kuping nga panas tuh telephonan ampe satu jam lebih" tanya Natalie
"Mau bagaimana lagi kalau nga di angkat nanti dia hubungin lewat hp, males banget telephone lewat hp bisa bisa kena radiasi kalau kelamaan" jawab Julia
Natalie nyengir dengar alasan Julia.
"Oh iya, besok malam ada waktu nga, temen aku yang mau aku jodohin sama kamu ngajak ketemuan, dia kayaknya tertarik sama kamu pas aku ceritain soal kamu dan kasih liat foto kamu" tanya Natalie
"Males banget ah, lagi nga mood kenalan ama orang baru, Julia kapok gara gara si Elias" jawab nya
"Ayo lah, coba aja ketemuan kan rame rame sama Theo juga jadi nga canggung, udah lama juga kita nga jalan bareng " ajak Natalie
Malas malasan Julia menjawab ajakan Natalie,
"Liat besok aja Nat, semoga moodnya lagi bagus jadi semangat buat ikut"
"Aduh jangan pake liat liatan lagi, ini mau pastiin janjiannya, soalnya dari kemaren kemaren dia nanyain melulu ampe cape kasih alasan nolaknya" rayu Natalie
"Aku juga nga berani ngasih nomer kamu ke dia takut kamu marah, soalnya aku liat kamu aja selalu bt kalau Elias nyari kamu"
"Bisa bisa tambah nga ada waktu buat kamu sendiri kalau ada lagi calon yang nyari nyari tiap hari, bisa bisa nga tidur gara gara sibuk terima telphone" kata Natalie
"Iya jangan pernah ngasih nomer aku sebelum aku bilang ok, satu aja udah bikin senewen kalau ada satu lagi bisa tambah stress, lama lama bukan dapat jodoh malah masuk rumah sakit jiwa lagi amit amit deh jangan kesampaian" Julia sampai ketakutan memikirkan akibat yang akan terjadi.
"Haha..haha..haha.. lagian bagaimana si mama bisa bisanya ngenalin kamu sama cowo yang nga habis habis ngobrolnya, kayak penyiar radio aja" tawa Natalie
"Boro boro penyiar radio, ini radio rusak modelnya" ngomel Julia
"Haha..haha...haha..kasihan amat anak orang dibilang radio rusak, sadis juga kamu, udah yang penting kamu besok malam ikut aja sekalian cuci mata biar fresh" Natalie memaksa Julia untuk menyetujui ajakannya.
"Ok deh, aku ikut aja, mumpung dapat makan gratis lumayan kan"
"Tenang aja nanti kamu yang pilih mau makan apa, makan banyak juga boleh yang penting kamu heppy"
"Nah itu baru bener"
Natalie yang berhasil mengajak Julia untuk ikut keliatan senang.
Julia hanya bisa berharap besok malam tidak menjadi malam yang buruk.
Semoga cowo yang dikenalin besok lebih baik, doa Julia dalam hati. Ia tidak terlalu berharap banyak karena seseorang yang minta dicomblangin biasanya memiliki kekurangan atau ada masalah dalam diri mereka. Orang yang putus asa dalam mencari pasangan atau susah berkomunikasi dengan lawan jenis.
Jam lima sore keesokannya, Julia sudah stand by di ruang tamu.
Ia hanya mengenakan dress putih lengan pendek bermotif polkadot selutut yang simple dipadu padan dengan sepatu sendal hitam yang sederhana.
Rambut Julia yang panjang berwarna coklat gelap dibiarkan terurai bebas.
Hanya memakai sedikit lipstik berwarna merah muda pucat, wajah Julia terlihat seperti anak sma atau anak kuliahan.
Salah satu point penting wajah Julia tidak terlihat seperti wanita berumur 20an akhir.
Setiap orang yang mengetahui umur Julia selalu iri dengan wajahnya yang selalu terliat seperti pelajar.
Mereka menanyakan rahasia apa yang dipakai Julia dalam merawat wajahnya supaya terlihat selalu muda.
Padahal Julia termasuk orang yang cuek dalam urusan merawat wajahnya, dia tidak neko neko dalam hal ini. Ia hanya rajin cuci muka dengan sabun lalu memakai bedak tabur baby.
Ketika keluar ia paling memakai lipstik atau lip gloss dan bedak muka biasa yang banyak di jual di mal. Semua produk yang di pakai Julia banyak beredar di pasaran.
Tapi mengenai wajah nya yang awet muda malah menjadi masalah buat Julia, dia menilai para pria lebih menyukai tipe wanita cantik berwajah cantik dewasa. Mereka merasa wanita dewasa lebih cocok dijadikan istri dibandingkan wanita muda yang belum matang.
Jam 5.15 Theo, Natalie dan Julia menuju resto tempat pertemuan tidak jauh dari rumah.
Sebenarnya resto ini hanya restaurant biasa dengan jumlah meja paling hanya enam atau tujuh saja. Masing masing meja terdiri dari enam kursi saja.
Tapi tempatnya nyaman dan hampir semua masakannya enak enak.
Mereka sudah beberapa kali makan disini dan cocok dengan lidah mereka.
Karena mereka mencari tempat makan yang dekat untuk menghindari kemacetan di jam jam sibuk para pekerja berlomba lomba kembali ke rumah masing masing.
Mereka memilih resto ini.
Setelah sampai di tujuan ternyata teman Theo dan Natalie belum tiba karena terjebak kemacetan.
Mereka menunggu sambil melihat lihat menu makanan.
Natalie dan Julia berdiskusi mengenai makanan apa yang mau mereka pesan.
Tidak lama kemudian seorang pria muda tinggi dan berwajah lumayan tampan memasuki resto dengan terburu buru.
Pria tersebut mengenakan celana jeans panjang dan kemeja biru muda bermotif kotak kotak kecil abstrak kengan pendek.
Penampilannya menarik dengan tatanan rambut yang rapi dan model anak muda terbaru.
Setelah melihat meja sekitar dan menemukan meja kami, ia segera menuju ke arah kami.
"Theo, Natalie!" panggil pria tersebut
Kami segera melihat ke arah pria tersebut, dia tersenyum sambil segera menempati kursi samping Julia.
"Sorry telat, tadi gue salah masuk jalan, jadi gue muter lagi mana macet pas keluar dari jalan yang salah" pria itu meminta maaf
"Nga apa apa, kita orang juga baru nyampe, Steve"
"Oh iya kenalin nih kakak gue, Julia"
"Julia, ini Steve" Theo mengenalkan kami berdua.
Steve mengulurkan tangannya ke arahku "hallo" sambil tersenyum
"Hai" balas Julia sambil tersenyum juga dan menyambut uluran tangan Steve.