SEASON 1 JULIA Chapet 12 Menunggu jawaban

1058 Words
SEASON 1 JULIA Chapter 12 Menunggu jawaban Julia terbangun gara gara bunyi alarm hpnya. Ia segera mencari hpnya yang tergeletak tak jauh dari tangannya. Ia lupa tertidur dengan hp masih di tangannya. Julia melihat layar hp yang menunjukan sudah pukul 7 pagi. Setelah mematikan alarm hpnya, ia kembali tertidur. Badannya terasa berat untuk bangun, ia berencana untuk tidur kembali beberapa menit saja. Tapi ketika ia terbangun lagi jam sudah menunjukan pukul 9, segera Julia bangun dan menuju kamar mandi. Setelah membersihkan dirinya, ia bersiap siap untuk menuju butiknya. Ketika ia melewati ruang makan ia melihat mama papa masih di ruang makan menikmati sarapan mereka. Tumben sudah jam 9 lewat tapi mama dan papa belum selesai sarapan. Mama yang melihat Julia menyuruhnya ikut sarapan bersama mereka. Julia membuat secangkir milo dan mengambil roti tawar. Ketika ia sibuk mengolesi rotinya dengan selai, mama menanyakan percakapan semalam dengan Elias. "Semalam ngobrol sampai jam berapa dengan Elias?" "Nga tau mungkin jam setengah sebelas atau jam sebelas kurang" "Kok sebentar amat ngobrolnya, kamu pulang aja sudah jam sepuluh lewat?" "Iya nga ada ngobrol apa apa, Julia udah ngantuk berat semalam, Elias juga tahu Julia lagi cape yah langsung balik" "Kenapa nga ngobrol sebentar kan kasihan Elias udah jauh jauh datang untuk ketemu kamu baru liat bentar belum ngobrol udah balik" Papa yang memdengar perkataan mama langsung menyela, "Orang yang diajak ngobrol udah cape mana bisa diajak komunikasi bisa bisa Julia ketiduran lagi ngobrol, kayak nga tahu Elias kalau ngobrol nga ada cape nya, malah ntar kasihan kalau Julia ketiduran, lah ntar Eliasnya ngobrol sendirian?" "Lagi pula kemaren malam juga udah terlalu malam Julia baliknya, nga enak juga dilihat tetangga bertamu terlalu malam" lanjut papa "Iya ma, Eliasnya juga tahu diri udah terlalu malam nga berani lama lama langsung minta pulang" Julia ikut menimpali Julia sebenarnya sedang terburu buru malah di ajak ngobrol soal semalam, ia terpaksa sarapan dengan orang tuanya. Ia berencana menikmati sarapannya di mobil dalam perjalanan ke kantor, akhirnya malah duduk di meja makan. Julia sudah tahu ke arah mana pembicaraan mereka berlanjut. Ia hanya berharap acara sarapannya bisa dipercepat sehingga ia bisa menghindarinya. Mama yang melihat Julia terburu buru menghabiskan rotinya, mulai mengomeli Julia "Julia, kamu ini apa apaan masa makan seperti dikejar debt kolektor? Apalagi kamu anak perempuan, makannya yang sopan dan pelan pelan, jangan dijejelin semua ke dalam mulut!" "Ng..ng..ini Julia lagi terburu buru ma, lagi banyak kerjaan, bentar lagi ada meeting ama klien, sorry ma" Julia berusaha menjawab mama sambil menelan roti yang ia masukan ke dalam mulutnya dengan terburu buru. Ia kesulitan menjawab dengan mulut yang masih penuh. Hampir saja ia tersedak dengan potongan roti yang besar barusan ia jejali dalam mulutnya. Sebenarnya ia selalu makan dengan santai dan perlahan lahan, tapi Julia berusaha menghindari mamanya. "Liat saja, masa berbicara dengan mulut penuh begitu, bagaimana kalau diliat orang, ntar dianggapnya kamu itu wanita barbar yang nga memiliki etika, berbicara dengan mulut yang penuh makanan, mau ditaruh di mana muka mama, kalau mama ditanya apakah tidak mengajarkan etika kepada anak perempuannya?" mama melanjutkan omelannya "Pelan pelan Julia, nanti kamu tersedak" papa ikut menimpali ucapan mama. Julia segera menelan rotinya dengan bantuan milo yang ada didekat nya. Karena terburu buru ia terbatuk batuk. Nafasnya terasa sedikit sesak akibat kejadian ini. Sambil mengatur nafasnya kembali ia melirik ke arah orang tua nya. Ia melihat mamanya masih melotot kearahnya. Papa hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan Julia. Papa mungkin melihat tingkahnya seperti anak kecil saja. Julia merasa diadili di persidangan saja, dengan malu ia meminta maaf lagi, "Sorry ma, Julia nga pernah seperti ini kok di depan orang lain, Julia selalu menjaga tingkah laku kalau di luar, bener kok ma, Julia baru sekali ini makan kayak begini" "Bagaimana kamu ini, sudah umur segini masih saja kelakukannya seperti anak TK, mestinya kamu sudah mengajarkan etika ke anak anak kamu, ini malah kamu masih begini, mama nga tahu nanti kamu mengurusi anak anak kamu di kemudian hari, suami kamu pasti pusing nantinya" "Istri dan ibu itu adalah contoh untuk anak anaknya, masa kamu mau jadi contoh dengan kelakuan kamu yang kayak anak kecil. Mama kan sudah berkali kali nasihati kamu jaga kelakuan sebagai anak perempuan, mama sampai cape mulutnya, ini semua juga demi masa depan kamu, bukan mama ini cerewet" omelan mama masih berlanjut Julia merasa kepalanya mulai nyut nyutan mendengar omelan mamanya. Ia menyesal pagi ini bertemu dengan mamanya. Pagi pagi ia sudah mendapat sarapan omelan dari mamanya. Sudah hampir 30 tahun, ia masih saja menjadi sasaran omelan mamanya. Kadang ia tidak mengerti kenapa mamanya suka mengomeli dirinya. Julia kadang berpikir seandainya ia berumah tangga apakah mama akan mencari korban lain untuk diomeli. Melihat Julia yang hanya diam mendengarkan omelannya, tanpa memberikan jawaban, mama merasa kesal. "Mama nga tahu lagi bagaimana kamu di kemudian hari kalau berumah tangga, mama berharap suami dan keluarga suami kamu itu sabar menghadapi kelakuan kamu yang kekanak kanakan" Papa yang lagi menikmati kopinya juga merasa kasihan melihat Julia, akhirnya menyelamatkan anak gadisnya itu. "Sudahlah ma, Julia sudah dewasa, dia sudah tahu mana yang baik mana yang buruk, jangan banyak marah marah ma, pagi pagi sudah marah marah ingat darah tinggi mama" papa berusaha menenangkan mama. "Papa ini juga ikut ikutan membela Julia, mama bukan marah marah, cuma memberikan nasihat" mama menapik perkataan papa. "Sudah sudah ini udah siang kita mesti buru buru ke taman, sebentar lagi senam akan dimulai, mama sudah ditunggu mereka, nanti kita ketinggalan lagi, Julia juga lagi terburu buru tadi bilang mau meeting, nanti saja kalau malam kita lanjutkan lagi" papa buru buru menyudahi omelan mama. Hampir tiap pagi mama dan papa mengikuti kegiatan senam lapangan di taman bersama beberapa tetangga di komplek perumahan mereka. Karena jarak ke tempat tersebut tidak terlalu jauh hanya 10 menit berjalan kaki, mama dan papa ikut dalam kegiatan tersebut. Selain untuk menjaga kesehatan, mereka juga bisa berbincang bincang dengan para tetangga yang ikut serta. Lumayan untuk menghabiskan waktu luang sehari sehari pikir mereka. Dengan ngobrol santai dengan mereka waktu tidak terasa cepat berlalu. Mama yang mendengar ucapan papa akhirnya buru buru menyelesaikan sarapannya, dan siap siap berangkat bersama papa. Julia juga segera menyelesaikan sarapannya, ia melirik ke arah papa, papa hanya tersenyum melihat kearah Julia. Julia ikut senyum tanda terima kasihnya ke papa karena sudah diselamatkan dari omelan mama yang tidak ada habis. Setelah orang tuanya berangkat ke taman, Julia masuk kedalam mobilnya. Ia segera menuju kantornya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD