Masa Lalu yang Mengacaukan Khayalan Tentang Masa Depan

1147 Words
Jayme berusaha mencerna apa yang sedang ia hadapi saat ini. Menghadapi drama sahabat antara dirinya dan Clara, terbangun di pagi hari dalam kondisi yang tidak pernah ia bayangkan sama sekali, lalu sekarang mendengar suara pria yang menerima panggilan yang ia tujukan untuk Zanara. Apa yang terjadi dengan hidupnya kali ini? Ia sungguh merasa segalanya penuh beban sejak kehadiran Mark kembali dalam hidup Zanara. Sebelumnya, ia tak pernah merasa segalanya seberat ini. Mungkin ini semua kesalahannya, karena ia sama sekali tak pernah mempertimbangkan apa yang akan terjadi jika Mark nantinya kembali. Bagaimana pun, sebenci apa pun Zanara pada Mark, pria itu adalah ayah kandung Marion, bukan? Dan jika ia menginginkan Marion, maka dibanding Jayme, tentu saja Mark memiliki hak lebih besar. Bahkan terhadap Zanara sekali pun. Tidak boleh! Mark tidak boleh mengambil Marion, tidak juga Zanara. Tidak boleh keduanya. Jayme sudah begitu terbiasa akan kebersamaannya dengan Marion, tawa riang gadis kecil itu, sifat manjanya pada Jayme, dan bagaimana gadis itu menganggap serta memanggil Jayme dengan sebutan papa, semua itu sungguh tak bisa digantikan dengan apa pun. Bahkan meski hanya sikap dingin dan ketus yang diberikan Zanara untuknya, Jayme tak akan mau menukarnya dengan apa pun. Ia menyukai itu semua. Ia terbiasa dan ingin memiliki semua itu untuk dirinya sendiri. "K-kau siapa? Di mana Zanara?" tanya Jayme, dengan suara bergetar. Tak hanya suara, bahkan tangannya kini seolah tak lagi bisa ia kendalikan. Ia hanya bisa berharap dalam hati bahwa semua ini tidak seperti apa yang ada dalam bayangannya. "Aku Mark, suaminya. Apa kau lupa? Kau pasti pria yang waktu itu ada di apartemen istriku, kan? Kau bertanya di mana Zanara? Tentu saja ada bersamaku." Pria di seberang terdengar menjauhkan ponsel dari telinganya. "Sayang, ada yang mencarimu!" Dada Jayme bergemuruh kala mendengar Mark memanggil Zanara-nya dengan panggilan semesra itu. Ia sungguh tak terima. Hatinya masih tak percaya kalau Zanara bersedia kembali pada pria itu. "Hey, apa kau masih di sana? Maafkan aku, sepertinya Zanara sedang sangat sibuk membersihkan diri. Apakah kau punya pesan untuknya?" imbuh Mark. Sayangnya, Jayme tak sanggup lagi mendengar lebih banyak apa yang akan disampaikan oleh pria itu. Batinnya kini berperang, antara percaya sekaligus tidak. Mungkinkah Zanara berubah secepat itu? Bukankah ia sendiri yang mengatakan bahwa dirinya tak akan kembali pada Mark meski mantan suaminya itu mengemis dan menangis darah? Lalu sekarang apa yang terjadi? Tidak! Pertanyaan yang tepat saat ini adalah, apa yang akan Jayme lakukan setelah tahu kenyataan bahwa Zanara telah bersama lagi dengan suaminya? Bagaimana kabar hatinya? Haruskah ia kembali pada dunianya yang lama, agar setimpal dengan apa yang dilakukan Zanara yang memilih pria dari masa lalunya? Jangan tanyakan apa pun untuk saat ini, karena satu hal yang pasti adalah Jayme teramat patah hati sekarang. Ia tak tahu harus ke mana, dan pada siapa ia bisa bertopang. Begitu luar biasa pengaruh Zanara dan Marion terhadap hidupnya selama ini. Jayme tak lagi menjadi pria yang sama dengan dua tahun lalu juga berkat Zanara dan Marion yang hadir dalam kehidupannya tanpa disengaja. Kini, setelah tak ada lagi kemungkinan untuk memiliki mereka, lantas apa yang harus diperbuat oleh pria itu? Jayme menyimpan ponsel yang sejak tadi tak lagi terhubung dengan nomor Zanara. Beberapa menit ia habiskan dengan melamunkan banyak hal tak tentu. Ia mungkin akan tetap di posisinya sekarang jika saja tak mendengar suara klakson yang meraung memecah lamunannya. Tergesa, ia melajukan kembali mobilnya ke sembarang tujuan. Tak tahu ke mana arah akan membawanya, ia hanya tak ingin berada di tempat di mana semua orang mengenalnya. Mungkin akan lebih baik jika ia menuju ke tempat favoritnya. Tempat di mana ia biasa menghabiskan waktu seharian setiap kali ia berusaha menghapus bayangan Clara, dulu, saat mereka masih begitu dekat. Clara. Mengingat nama itu menerbitkan perasaan berkecamuk dalam batin Jayme. Jika saja ia tidak menghabiskan malam di rumah Clara, mungkin ia masih memiliki waktu untuk menjauhkan Zanara dari pria itu. Atau mungkin sebaliknya. Bisa saja ia justru akan menyaksikan pertemuan antara dua insan yang lama terpisah oleh jarak dan sebuah kesalah pahaman. Jayme mendengkus dalam tawa pahit. Menertawai nasibnya yang begitu menyedihkan. Tentu saja, ia kini sangat menyedihkan tanpa Marion dan Zanara di sisinya. Jayme akhirnya menghentikan mobil di sebuah pelataran di mana berjajar beberapa kendaraan lain. Ia keluar dari mobil dan mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulutnya. Menghisap dan menikmati asap bercampur nikotin yang memenuhi paru-parunya, lalu membiarkan mulut dan hidungnya berkepul. Sudah lama ia tak menikmati saat seperti ini. Anggap saja kepergian Zanara membawa hikmah baginya, meski nyeri itu nyatanya masih berkedut, tetapi setidaknya ia jadi punya waktu untuk dirinya sendiri. Tengah menikmati semilir angin pantai yang lembab, terdengar dering ponsel yang ia tinggalkan tergeletak di dasbor. Dengan tergesa ia hempaskan benda di tangannya yang masih menyala, kemudian bergegas menerima panggilan tersebut. Bisa saja itu Zanara, atau mungkin Marion. Jayme memang sudah gila. Hanya dua perempuan itu yang memenuhi rongga kepalanya setiap saat, membuat logikanya tak lagi bisa bermain dengan benar. Namun, tak mengapa baginya. Meski jadi manusia yang bodoh sekali pun, asalkan bisa menghabiskan sisa hidup bersama mereka berdua, Jayme akan menjalaninya dengan senang hati. "Halo, Zanara," sapa Jayme, tak peduli meski terdengar jelas bahwa dirinya sangat mendamba untuk mendengar suara wanita itu. Sayangnya, ia harus menelan kekecewaan kala tahu bahwa yang berbicara di seberang bukanlah Zanara melainkan perempuan lain yang juga ia cintai dengan segenap jiwa raganya. "Jayme, ini ibumu, Nak. Beberapa hari tak pulang membuatmu melupakanku ternyata," jawab wanita paruh baya itu dengan aksen dan logat daerah yang kental. "Siapa Zanara itu? Kekasihmu?" Jayme sudah siap dengan jawaban atas beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh ibunya, tetapi sekali lagi wanita itu memberondongnya dengan pertanyaan lain dan petuah-petuah. "Menikahlah, Jayme. Ibumu ini tak akan selamanya bisa menemanimu, suatu saat pasti akan menyusul ayahmu ke surga. Semoga ia selalu dilindungi di sana." "Ibu ini bicara apa? Ibu akan tetap bersamaku, sampai nanti aku menemukan cinta sejatiku, seperti Ibu dan ayah. Aku janji akan membawanya segera ke hadapan Ibu," sahut pria itu, akhirnya, berhasil mengeluarkan perkataan yang sempat terhalang wejangan sang ibu. "Cari wanita yang bisa melahirkan banyak anak. Ibu ingin sekali rumah ini ramai dan riuh dengan suara anak-anak, Jayme, kau dengar perkataan ibu?" cecar wanita itu. "Ya, Ibu, aku dengar." Jayme kembali kehilangan semangat seketika, tatkala mendengar ocehan ibunya yang memperbincangkan hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan berkeluarga. Bukankah Jayme masih muda? Usianya bahkan baru menginjak 35 tahun, masih sangat jauh jika membicarakan tentang pernikahan. Berbeda lagi andai Zanara belum dimiliki siapa pun, seperti beberapa waktu sebelumnya. Ia bahkan mengkhayalkan dirinya bisa memiliki wanita itu sebagai istrinya. Kini sudah tak mungkin lagi. "Doakan saja putramu ini bisa mendapatkan wanita itu. Selain dia, tak ada yang kuinginkan, jadi jangan pernah berpikir untuk menjodohkanku dengan gadis mana pun, oke?" tegas Jayme yang hanya dijawab dengan helaan napas yang terdengar dari seberang. "Baiklah kalau itu maumu. Hanya saja, sepertinya aku melupakan sesuatu, Nak. Maafkan ibumu yang pikun ini. Ibu menghubungimu karena ingin mengabarkan kalau ibu sekarang sudah berada di depan pintu apartemenmu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD