Jayme mengerjap. Sorot cahaya matahari menyeruak masuk lewat celah tirai dan mengenai maniknya yang masih terpejam, perlahan terbuka seiring kembalinya kesadaran pria itu. Namun, menemukan dirinya tak berada di kamarnya sendiri membuatnya beringsut.
Terlebih saat wajahnya menoleh pada sosok yang lelap tertidur di sampingnya tanpa busana dan hanya berbalut selimut. Ia buru-buru melihat ke arah dirinya sendiri dan tersadar.
"s**t!" umpatnya, sembari bergegas bangkit dan memakai pakaian sekenanya, lalu mencari keberadaan kunci mobilnya.
Drama yang terjadi kemarin jelas membuatnya mendadak pikun.
Ia bahkan tak ingat kalau akhirnya dirinya justru mengambil kesempatan yang ditawarkan oleh Clara untuk menginap. Runtuh sudah pertahanannya selama ini. Hancur dan sia-sia sudah perjuangannya untuk berhenti dari kebiasaan buruk itu. Setelah dua tahun lamanya berhasil mengekang iblis dalam dirinya, kini semua itu menguap lagi di permukaan hanya karena kegoyahan jiwanya.
Sebelumnya Jayme tak pernah selemah ini, meski Clara selalu mengiming-imingi dirinya dengan menyambut kedatangannya hanya dengan berbalut lingerie atau G-string sekali pun, Jayme tetap pada pendirian.
Ada apa denganmu hari ini, Jayme?
Jayme mencari ponselnya yang tak ia temukan di mana pun, membuatnya tak sempat melarikan diri dari tempat itu sebelum Clara terbangun.
Terlambat bagi Jayme, itu jelas. Karena kini gadis yang telah menghabiskan malam bersama Jayme itu kini sudah berdiri di belakang punggung pria itu, hanya berbungkus selimut putih yang dibebat menutupi kulit mulusnya.
"Apa yang kau cari?" tanya gadis itu, sembari mengikuti gerak-gerik Jayme dengan ekor matanya. "Mengapa kau tampak tergesa, kau mau ke mana?"
"Aku harus kembali ke rumah sakit, hari ini ada janji dengan pasien," jawab Jayme tanpa mengalihkan konsentrasinya dari apa yang tengah ia lakukan saat ini. "Apa kau melihat ponselku?"
Clara tak menjawab pertanyaan Jayme, melainkan justru balik bertanya. "Bukankah kau tak ada pasien hari ini? Ini hari liburmu, kan?"
Perkataan Clara sukses membuat Jayme membeku.
"Dari mana kau tahu itu?" tanya Jayme, tanpa menoleh pada gadis yang masih berdiri di tempat yang sama.
"Kau sendiri yang mengatakannya malam tadi. Kau juga bilang kalau kau akan menghabiskan waktu denganku hari ini."
Sial! Benar juga. Jayme mengingat itu samar-samar, dan memang semalam ia mengatakan itu pada Clara. Anehnya, ia tak tahu apa yang membuat dirinya bersikap di luar kendali, bahkan tak benar-benar mengingat detail kejadian setelahnya, hingga pagi ini.
"M-mungkin aku melupakan itu. Tapi memang, hari ini aku ada janji, dan aku tak bisa jika tidak datang."
Clara memutar maniknya, menatap pria itu dengan tatapan dingin. "Aku tahu ke mana kau akan pergi."
Sejak dulu dirinya dan Jayme bukanlah sahabat yang selalu mesra atau saling memberi, seperti apa yang dipikirkan orang lain. Persahabatan mereka adalah hubungan rumit yang saling menguntungkan.
Clara mulai jarang keluar malam dan pergi ke kelab, pun dengan Jayme yang tak lagi pernah terbangun di pagi hari dengan wanita berbeda di atas ranjangnya. Jika bukan Clara yang ada di atas ranjangnya, maka sebaliknya, ia di ranjang Clara.
"Kalau begitu jangan halangi aku," sahut pria itu, tak kalah dingin.
"Aku tidak akan menghalangi, aku hanya ingin kau berpikir realistis, J. Apa yang bisa kau dapatkan dari wanita itu? Ia bahkan tak tahu bagaimana caranya bersikap baik padamu. Apakah karena putrinya? Aku juga bisa memberimu yang seperti itu andai kau izinkan—"
Jayme menoleh pada Clara, tak yakin dengan apa yang diucapkan gadis itu. Namun, ia tak ingin langsung bereaksi.
"Jay ... tak inginkah kau memberi kesempatan untuk kita? Aku dan kau. Apakah kau ingat sudah berapa lama kita bersahabat, dan selalu seperti ini? Kau selalu datang pada wanita berbeda, untuk mencari apa? Padahal aku selalu ada di sini. Aku bisa berikan segala yang kau cari."
Jayme sempat mematung sejenak.
Clara benar. Jayme bahkan dulu pernah memiliki pikiran yang sama dengan gadis itu, membayangkan andai ia dan Clara memutuskan untuk bersama, bukankah akan cukup? Karena Jayme saat itu memiliki perasaan terhadap Clara, yang bahkan tidak ia sadari sekian lama. Pun dengan Clara.
Jayme berusaha mencari wanita yang mampu memenuhi ekspektasi dan memuaskan delusinya mengenai tipe wanita idaman—yang persis seperti kata Clara bahwa Jayme tak pernah benar-benar memiliki tipe seperti apa yang ia katakan. Pada akhirnya ia berhenti mencari dan nyaris mengatakan perasaannya terhadap Clara. Namun sayang, gadis itu sepertinya tak memiliki frekuensi yang sama dengan Jayme.
Clara justru menikmati kehidupannya yang bebas bersama banyak pria. Bahkan seingat Jayme, Clara dulu menertawakan dan mengejek saat Jayme mengungkapkan perasaan terhadap gadis itu. Ditambah lagi dengan kehadiran Zanara yang seketika berhasil menawan hati Jayme.
"Kembalikan ponselku Clara." Jayme mengulurkan tangan pada gadis yang kini tengah mematung menanti jawaban atas ucapannya beberapa menit lalu.
"A-apa? Mengapa kau meminta padaku?"
Jayme bangkit dan langsung berhadapan dengan gadis itu. Ia tak tahu sudah pukul berapa sekarang, yang pasti ia harus bergegas menuju ke tempat Zanara seperti biasa. Jayme biasanya selalu menemani Marion bermain setiap ia libur bekerja. Dan kini ... semua bisa saja berantakan akibat sikap teledornya.
"Cla, jangan menguji kesabaranku. Bawa kemari ponselku, aku tahu kau yang menyembunyikannya."
"Kau sudah sembarangan menuduh, J! Lagi pula, apa tujuanku melakukan itu?" elak Clara yang tak bisa menutupi kebohongannya lebih lama.
Clara mungkin tak tahu, atau mungkin lupa bahwa ia tak pernah bisa membohongi Jayme.
"You tell me, Clara. Kau tahu jelas apa alasanmu melakukan itu," balas Jayme, sukses mengintimidasi gadis di hadapannya. "Sekarang, berikan ponselku!"
Gadis itu tak bisa lagi berkutik. Ia mengakui kekalahannya terhadap Jayme karena sikap Jayme yang berubah dominan, sekaligus kekalahan dari Zanara—wanita yang belum lama dikenal Jayme. Clara berbalik, meninggalkan Jayme dan tak lama kemudian kembali dengan benda pipih yang sejak tadi dicari oleh pria itu.
"J ... aku tak bermaksud—"
"Thanks, Cla, untuk malam tadi. Aku mungkin tak akan mengulangnya kembali, tapi sungguh, aku sangat berterima kasih padamu."
Jayme tak menunggu respon Clara yang sudah membuka rahangnya hendak bersuara. Namun, dengan segera ia mengatupkannya kembali dan pasrah saja membiarkan Jayme pergi dengan tergesa.
Sementara Jayme, menekan nomor di layar ponsel dan menunggu Zanara menerima panggilan darinya.
Ia tahu, mungkin Marion menantikannya sejak tadi, tetapi sungguh ini merupakan kejadian di luar kuasanya.
Benarkah? Bukankah Jayme mempunyai pilihan untuk menolak saat Clara mengeluarkan jurus maut yang biasa ia lakukan sejak dua tahun ini? Lantas mengapa ia begitu saja menuruti keinginan Clara dan membiarkan iblis dalam dirinya menang?
"Halo," sapa sebuah suara di seberang, yang sontak membuat Jayme mengerutkan kening. Bukan Zanara, melainkan orang lain yang menerima panggilan darinya.