Angel and Evil

1293 Words
"Kau sudah mengenalku, kan? Bukankah kau tahu aku seperti apa?" balas Jayme atas pernyataan dan kalimat yang dilontarkan oleh Clara dengan tujuan untuk mengintimidasinya. "Kau sudah sangat mengenalku, kau bahkan tahu seperti apa tipe wanita idamanku." "No, Jayme. Tipemu itu hanya omong kosong. Kau tak pernah punya tipe pasti. Wanita itu hanya harus bisa memuaskanmu di ranjang saja. Itu tipemu!" tuding gadis itu, yang membuat Jayme menggeleng tak percaya tanpa ingin membalas. Hanya saja entah apa yang baru saja dimakan gadis itu hingga bersikap sangat impulsif. Jayme bangkit dan mendekat pada gadis yang ia anggap seperti adiknya sendiri, ia kemudian memandangi wajah Clara serta pupil matanya yang tampak berbeda dari biasanya. Clara berusaha menghindari tatapan Jayme dengan melempar pandangan ke arah lain. "Apa yang baru saja kau makan, Cla?" tanya Jayme, sembari memerhatikan sahabatnya yang masih berusaha menghindari kontak mata dengannya. Jayme yang mulai tak sabar, akhirnya meraih pipi Clara, membuat gadis itu tak mampu memberontak lagi, memeriksa pupil mata dan mengendus aroma yang menguar dari mulut Clara. "Katakan padaku, apa yang kau konsumsi?" tegasnya lagi. Clara tak memberikan jawaban atas apa yang ditanyakan oleh Jayme. Dengan kesabaran yang nyaris lepas dari hatinya, Jayme berjalan menuju ke laci yang ada di ruangan itu, membuka dan memeriksanya satu per satu. "Jayme, apa yang kau lakukan? Hentikan itu!" Clara berusaha menghalang-halangi apa yang kini tengah dilakukan oleh Jayme. Selama ini ia tak percaya jika Clara akan melakukan hal yang di luar batas. Bukankah gadis itu juga seorang calon dokter? Mengapa ia justru melakukan hal-hal yang ia sadar betul bahwa itu berbahaya? Tidak, tidak! Itu baru dugaan. Bisa saja itu hanya ketakutan Jayme. Atau mungkin saja pria itu bereaksi berlebihan hanya karena kekhawatirannya akan kondisi Clara. Terlebih gadis itu baru saja patah hati lagi karena pria yang ia cintai sejak lama justru menjalin hubungan dengan sahabatnya. Ya, tentu saja. Ini pasti hanya ketakutan tanpa alasan. Karena apa? Apakah karena Jayme masih memiliki perasaan terhadap gadis itu? Tentu saja tidak. Clara hanya seorang adik bagi Jayme. Setidaknya saat ini demikianlah yang ia rasakan. Meski dulu mereka berdua merupakan partner ranjang yang tak terpisahkan. Bagi Jayme, bercinta dengan gadis itu merupakan momen terbaik, dan tak ada yang bisa mengalahkan bagaimana gadis itu memuaskannya. Namun, itu dulu. Kini semua sudah berubah, tentu saja. Ada Zanara yang telah berhasil memenuhi hati dan pikiran Jayme setelah sekian lama berkelana sebagai seorang pemain wanita. Sekian lama Jayme mencari benda yang ia curigai disimpan Clara di rumahnya. Namun, ia tak menemukan apa pun. Jayme menepis tangan Clara yang berusaha mencegahnya mencari bukti bahwa kecurigaannya memang beralasan. Ia lalu beringsut masuk ke kamar Clara dan kembali membongkar apa pun yang bisa dijadikan tempat untuk menyembunyikan barang-barang berbahaya itu. "Jayme, hentikan semua ini! Kau tak akan menemukan apa pun di sini, aku bukan seorang pecandu, b******k!" Clara menarik Jayme dan melayangkan pukulan bertubi pada lengan Jayme. "Kau sudah mengacaukan segalanya, kau juga menudingku sembarangan. Keluar dari sini!" Clara tak mampu lagi menahan amarahnya melihat sikap Jayme yang mengobrak-abrik rumahnya tanpa alasan. "Aku hanya mencoba melindungimu, Cla, agar kau tidak terbawa arus! Kenapa kau justru bersikap seperti ini?" "Jangan katakan semua itu seolah aku membutuhkan perlindunganmu! Jangan bicara seolah kau benar-benar peduli padaku. Kau hanya peduli pada dirimu sendiri, J!" Jayme menggeleng, menyangkal tuduhan Clara terhadapnya. "Itu tidak benar. Aku peduli padamu, Clara, itu kenyataannya." Jayme berusaha meraih jemari Clara, tetapi dengan cepat ditepis oleh gadis itu. "Omong kosong! Sekarang kutanya padamu, apa tujuanmu datang kemari, huh? Jawab aku, Dokter Jayme Demir!" Jayme jelas tak mampu berkata-kata demi menjawab pertanyaan yang mungkin saja merupakan jebakan baginya. Haruskah ia katakan bahwa ia membutuhkan teman bercerita yang bersedia mendengarkan keluh-kesahnya seolah itu merupakan kewajiban bagi Clara? Atau haruskah ia katakan bahwa kedatangannya adalah untuk menemui Clara? Untuk apa? Demi apa? "Aku ...." Clara menanti jawaban Jayme, dengan tangan berkacak di pinggangnya. "Ayo Jayme, katakan apa alasanmu. Mari kita dengarkan apakah kau masih pandai merayu wanita." Jayme hanya bersusah payah menelan salivanya. Memang benar, ia merasa terintimidasi. Namun, bukan lantaran sikap Clara. Ia tak pernah takut dengan sikap gadis itu terhadapnya. Ia hanya takut kehilangan satu-satunya sahabat—seseorang yang ia anggap sahabat selama ini. "Ha! Lihatlah, kau tidak bisa berkata apa-apa, kan?" ejek Clara, yang kemudian memutar tubuh dan meninggalkan Jayme yang tepekur di kamar gadis itu. Tubuh Jayme merosot ke lantai, ia merasa kepalanya begitu penuh, dan tak tahu bagaimana cara mengeluarkan segala tekanan di dalamnya. Tak hanya perkara Zanara, Mark, melainkan juga Clara. Pria itu meremas rambutnya yang sudah berantakan sejak tadi, mengusap wajah yang ditumbuhi bulu halus yang mulai memanjang. Entah sudah berapa lama ia tak memerhatikan penampilannya sendiri. Hidupnya seolah terisi penuh dengan Zanara dan Marion. Ia lupa, bahwa satu-satunya yang seharusnya mendapat perhatian paling besar adalah dirinya sendiri. Telah selesai dengan perang batin dan kecamuk yang ia redam, Jayme bangkit demi menyusul Clara yang tengah duduk di ruang tamu saat dirinya tiba di sana. "Cla ... i'm sorry." Jayme berusaha menenangkan Clara yang sesungguhnya sudah tenang sejak tadi. Namun, tampak di mata Jayme bahwa gadis itu masih bergumul dengan emosi dan perasaan kesal yang menderanya beberapa menit lalu. "Kau benar. Apa yang kau tuduhkan padaku, semua benar. Aku ... mungkin aku hanya lelah dengan semua ini." Jayme tampak kacau, Clara bisa melihat itu. Jelas sudah, tak ada yang bisa memahami Jayme selain Clara. Hanya dirinya saja. Bahkan wanita yang begitu dipuja oleh Jayme, nyatanya hanya memberi rasa lelah yang mendalam bagi pria itu. Clara bangkit dari tempatnya. Memandangi Jayme dengan tatapan intens yang tak terdefinisi jika itu dibaca oleh orang yang tak mengenal Clara. Sementara Jayme, pria itu jelas mengenal Clara luar dalam. Clara mendekat perlahan, memastikan bahwa Jayme tak akan mengambil langkah mundur dan menghindar ketika dirinya berusaha memangkas jarak antara mereka. "J ... tinggallah sebentar, kau butuh tempat untuk sekedar merelaksasi pikiran dan hatimu. Benar, kan? Kau menampung semua kesakitan dan luka pasien, juga lukamu sendiri yang entah pada siapa bisa kau keluhkan. Dengan berada di sini barang sebentar, kau ... maksudku kita, mungkin akan punya waktu untuk saling berbagi. Seperti dulu," ucap Clara sembari mengusap d**a pria itu. Jayme tahu ke mana arah pembicaraan Clara. Ia menggeleng perlahan demi menolak ajakan Clara sekaligus pergolakan dalam batinnya yang tak mampu ia bendung. Bisa jadi Clara benar, mungkin saja ia membutuhkan ini. Ia butuh sekali saja melepaskan segalanya. Melepaskan tumpukan hormon yang seharusnya beregenerasi, yang sayangnya tak pernah ia bebaskan demi menjaga hati dan segalanya tetap pantas untuk Zanara. Kini, perselisihan tak lagi antara dirinya dan Clara, melainkan antara otak dan hatinya yang mulai tak lagi sinkron. Jika ia menurutkan hawa nafsunya, apakah ia masih pantas untuk Zanara yang bersih dan baik hati itu? Jika ia tak menghentikan kebiasaannya saat ini juga, apakah ia akan bisa mempertahankan diri dan hatinya ketika godaan datang lagi? Terlebih ia telah berusaha selama ini. Dua tahun bukan waktu yang sebentar, dan itu bukan tanpa perjuangan. Apakah Jayme akan merusak perjuangannya sendiri hanya karena bujukan gadis seperti Clara—yang ia akui tak pernah gagal setiap kali menggodanya? Bagaimana jika ia justru akan kesulitan menghentikan semua ini—termasuk hubungannya dengan Clara—jika ia tak berhenti sekarang juga? "Please ...," mohon gadis itu sembari menarik lengan Jayme untuk menuju ke kamarnya. Sementara Jayme—masih dengan kecamuk serta bisikan dan pertarungan antara iblis di pundak kirinya dan malaikat di pundak kanannya, mengayun langkah mengekor Clara yang berjalan lebih dulu tanpa melepaskan tautan jemarinya pada jemari Jayme. Jika ia gagal mempertahankan perjuangannya selama ini, bisakah jika ia timpakan kesalahan pada iblis yang berhasil merayunya? Dan itu berarti pujian untuk malaikat—bukan untuk dirinya—jika ia berhasil bertahan dengan usahanya demi memantaskan diri dengan Zanara. Apakah ini berarti Jayme menyerah? Apakah ia lelah mengejar wanita itu dan berarti sudah merelakan Zanara untuk kembali dimiliki oleh Mark?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD