Bab 12

1856 Words
"Rain, kita pulang sekarang yuk?" ajak Papa Angga yang di jawab anggukan oleh Rain ketika Mama Serly dan juga Kai sudah kembali. "Maaf Mas dan Mbak, aku masih ada urusan di luar boleh enggak minta ijin keluar sebentar sekitar dua puluh menit mungkin," ijin Kai sebelum Papa Angga meninggalkan Rumah sakit bersama Rain. "Heem boleh, bagaimana kalau kamu sekalian antar Rain pulang ke rumah? tapi apakah urusanmu searah dengan Rumah?" tanya Papa Angga sebelum menitipkan Putrinya pulang bersama Adik Iparnya. "Soal itu, aku bisa mengantar Rain lebih dahulu pulang ke Rumah lalu menyelesaikan urusanku," jawab Kai yang sama sekali tidak keberatan jika harus mengantar Keponakannya tersebut sebelum menyelesaikan urusannya. "Baiklah kalau begitu kalian hati-hati ya, titip Rain juga," kata Mama Serly sambil melangkah mendekat ke arah Rain untuk memeluk Putrinya namun Rain masih saja menghindari beliau. "Aku pulang," pamit Rain singkat yang memang belum terbiasa dengan sikap hangat yang di berikan oleh kedua orang tuanya walau gadis itu merindukannya. Mama Serly hanya bisa menghela nafas putus asa namun beliau berusaha memakluminya sikap Rain yang masih dingin dengannya. Gadis itu pun keluar dari Kamar rawat Kakek Pratama lebih dulu lalu di susul oleh Kai dari belakang. Kai yang melihat sikap Rain terhadap Kakak angkatnya tersebut merasa tidak membenarkan dengan apa yang di lakukan oleh Rain hanya saja, lelaki itu juga tak dapat menyalahkan Rain. "Sayang, kamu bisa datang saja enggak ke Rumah Papaku? Karena aku akan mengantar Rain pulang terlebih dahulu atau mungkin kita bertemu di sekitar Rumahku saja?" tanya Kai yang merasa tidak punya banyak waktu jika harus mondar-mandir. lelaki itu sendiri merasa tidak enak jika Kakaknya bersama sang Suami harus menunggunya terlalu lama terlebih keduanya sudah berada di Rumah sakit sejak pagi untuk menjaga Kakek Pratama. "Baiklah Sayang, aku akan pergi ke Rumah Papamu saat ini kebetulan lokasi ku pun tidak jauh dari sana," jawab Agatha yang merasa tidak keberatan jika harus menemui sang Kekasih di Rumah calon mertuanya dimana Rain pun tinggal di sana. "Oke, kau begitu kamu hati-hati ya," pesan Kai kepada sang kekasih lalu ia memutuskan panggilan telefon nya dan meletakkan ponselnya di dasbor mobil. "Om jika memang memiliki urusan mendesak, Rain bisa pulang sendiri kok," tawar Rain yang tidak ingin merepotkan sang Om. "Tidak usah Rain, kamu tadi kan dengar sendiri kalau Ibu Agatha tidak keberatan untuk menemui ku di Rumah," seru Kai ketus sambil menyalakan mesin mobil dan mulai mengendarai mobilnya untuk pulang ke Rumah. Rain sendiri merasa kesal saat mendengar jawab ketus yang terlontar dari mulut Kai hingga gadis itu memutuskan akan diam saja sepanjang perjalanan. Beberapa menit kemudian Kai sadar dengan sikapnya barusan kepada Rain. menurutnya mungkin tak mudah untuk Rain menerima keputusan yang Kakek Pratama berikan sama seperti yang ia alami saat ini apa lagi ketika melihat sendiri kondisi beliau. Kai pun merasa sangat bersalah sudah bicara ketus pada Rain saat pikirannya sedang tak karuan. Kai pun melirik Rain yang nampak sedih menatap keluar jendela tapi lelaki itu bingung harus bagaimana meminta maaf kepada Rain. "Rain, kamu ingin membeli makanan untuk makan malam sebelum kita pulang kan?" tanya Kai basa-basi namun pertanyaan lelaki itu terdengar seperti pertanyaan garing untuk Rain. "Enggak usah lagi pula kita akan pulang ke Rumah dan pasti Bibi Ijah sudah masak banyak makanan," jawab Rain tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Kai hingga membuat lelaki itu merasa semakin bersalah. "Yang kau katakan ada benarnya," seru Kai sambil tersenyum hambar. setelah ini lelaki itu merasa bingung harus membahas hal apa dengan Rain sebelum dirinya menyampaikan permintaan maafnya. "Oh ya Rain.." "Lebih baik Om fokus menyetir karena aku ingin tidur sebentar," potong Rain sebelum Kai melanjutkan obrolannya. Lalu gadis itu pun menyempurnakan posisi ya dan menutup matanya seperti apa yang di ucapkan nya barusan. "Oke Baiklah," ucap Kai yang berusaha memahami permintaan Rain walau ia sendiri merasa ada hal yang mengganjal di dalam hatinya. lelaki itu pun kembali fokus untuk menyusuri setiap jalanan yang akan mengantarnya menuju ke Rumahnya. Sesampainya di Rumah Kakek Pratama, Rain dan Kai segera keluar dari mobil, di teras keduanya sempat melihat Agatha yang sudah sampai beberapa menit lalu. Rain menatap malas ke arah Agatha yang tersenyum ke arahnya. "Rain.." sapa Agatha sambil berdiri namun Rain tak merespon apa pun dan melewatinya begitu saja. Agatha pun sudah tahu kalau ia akan mendapatkan perlakukan seperti itu hingga ia tidak berharap mendapat perlakukan spesial walau dirinya adalah kekasih sang Om. "Maafkan sikap Rain barusan ya karena sepertinya ia kelelahan," seru Kai yang berusaha meminta maaf kepada Agatha agar wanita itu tak terlalu mengambil hati sikap sang keponakan. "Tidak apa-apa tapi kamu dan Rain habis dari Rumah sakit?" tanya Agatha basa-basi. "Iya, oh ya kamu sudah minum?"tanya Kai sambil mengajak Agatha untuk kembali duduk. "Keadaan Papa semakin memburuk dan Dokter pun seakan sudah pasrah untuk menangani beliau," seru Kai dengan tatapan sedihnya yang membuat Agatha mengerti serta memahami apa yang Kai rasakan saat ini. wanita itu pun bangkit dari kursinya untuk memeluk Kai yang nampak terlihat sangat hancur. "Kamu yang sabar ya Sayang, semoga saja masih ada peluang lainnya untuk kesembuhan Papa kamu ya," kata Agatha sambil mengusap punggung Kai agar lelaki itu merasa sedikit tenang. Kai pun merasa semakin tambah bersalah saat ini kepada Agatha yang selalu ada untuk dirinya dan selalu menyemangati serta mensuport dirinya. Lelaki itu merasa semakin tidak tega untuk mengatakan sebuah kebenarannya kepada Agatha saat ini namun jika ia harus memendam dan menundanya akan menjadi langkah yang buruk untuk hubungan mereka nantinya. Kai pun mengambil nafas panjang dan membuangnya lalu melepaskan pelukan Agatha dan menatap wanita tersebut hingga membuatnya kebingungan. "Oh ya tadi kamu bilang ingin mengatakan hal yang penting denganku, apa itu?" tanya Agatha yang sangat penasaran. "Aku ingin jujur kalau sebenarnya.." Kai melihat Agatha yang tampak tersenyum manis ke arahnya. "Sebenarnya Papa ingin melihat aku menikah dengan seorang wanita pilihan Papa, Sayang," kata Kai yang membuat raut wajah Agatha seketika berubah drastis menjadi sedih dan juga bingung. "Siapa wanita itu, Kai?" tanya Agatha penasaran. "Aku belum tahu siapa wanita itu," dusta Kai yang tak ingin mengatakan nama Rain karena ia tak ingin Agatha merubah sikapnya atau pun melakukan hal buruk kepada gadis itu jika wanita itu mengetahuinya. "Apa kamu tidak memberitahukan hubungan kita berdua kepada Papa kamu?" tanya Agatha sambil menatap mata Kai karena mungkin saja lelaki itu dapat mengatakannya di hadapan keluarga terutama kepada sang Papa. "Aku ingin mengatakannya hanya saja berkali-kali Papa meminta aku untuk menyetujui serta melakukan pernikahan ini," jawab Kai yang tak bisa berbuat apa pun dengan hubungan mereka berdua, jangankan untuk berjuang ingin mengatakannya pun sulit bagi Kai. "Lali bagaimana denganku? Apa kamu ingin meninggalkan ku begitu saja? apakah kita tak bisa mempertahankan hubungan ini? kamu bilang hubungan kita bukanlah hubungan yang main-main kan?" tanya Agatha dengan tangisnya yang mulai pecah. di dalam pikiran serta hatinya saat ini tentang Kai adalah seorang lelaki penurut yang tak bisa memperjuangkan hubungan mereka. "Aku juga bingung Agatha, aku bingung harus berbuat apa saat ini, bukannya aku tak ingin memperjuangkan hubungan kita tapi kondisi Papaku saat ini sedang dalam keadaan yang cukup parah," jelas Kai yang berharap Agatha mau mengerti tentang dirinya saat ini. "Satu setengah tahun kita menjalani hubungan ini dan mempertaruhkan banyak waktu untuk menjalaninya kepada di saat seperti ini kamu tidak bisa memperjuangkannya?" seru Agatha sambil duduk di lantai karena kedua kakinya terasa sangat lemas. Kai pun berusaha menyentuh sang Kekasih hanya saja Agatha menolak sentuhan itu. "Selama ini aku selalu meminta kamu untuk mengenalkan aku paling tidak dengan Papa mu tapi kau selalu menolaknya hingga sekarang kamu di jodohkan oleh wanita lain, andai kamu memenuhi permintaanku pasti semua tidak akan seperti ini kan?" kata Agatha yang merasa sangat kesal dengan Kai ketika mengingat kembali dirinya yang selalu meminta di kenalkan oleh keluarga Kak beberapa waktu belakang ini. Tapi Kai selalu menolak hal tersebut hingga kini hal yang tak di inginkan pun terjadi. "Maafkan aku Agatha karena selalu menolak permintaanmu waktu itu dengan alasan waktu yang tidak tepat," kata Kai berusaha meminta maaf kepada sang Kekasih. "Semuanya sudah terlambat Kai," seru Agatha sambil bangkit dari tempat duduknya saat ini karena ia ingin meninggalkan Rumah lelaki yang sudah membuatnya berharap lebih banyak namun kini di hancurkan begitu saja. "Kamu mau kemana, Agatha?" tanya Kai panik sambil meraih tangan Agatha saat melihat sikap Kekasihnya tersebut yang ingin meninggalkannya. "Aku ingin pulang," jawab Agatha singkat tanpa mau menatap wajah Kai lagi sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Kai. "Biar aku antar ya?" tawar Kai yang tidak tega melihat Agatha pulang sendirian apa lagi dengan keadaanya yang seperti ini. "Tidak usah, lebih baik mulai malam ini kamu tidak usah menemui aku sebelum aku mengetahui kalau kamu sudah memperjuangkan cinta kita, tapi jika hal itu tidak terjadi lebih baik kita akhiri saja hubungan yang tak jelas ini," kata Agatha yang terdengar seperi ancaman untuk Kai di hubungan keduanya yang sudah berada di ujung tanduk. Agatha pun meninggalkan Rumah Kakek Pratama dengan air mata serta rasa sakit di dalam hatinya. Kai pun semakin bingung haruskah ia melakukan apa yang di katakan Agatha barusan atau tidak. tapi jika tidak hubungan merekalah yang menjadi taruhannya. tapi di sisi lain jika ia melakukan hal tersebut mungkin ia akan kehilangan sang Papa. # # # Sementara itu di sisi lain ada seorang gadis yang memperhatikan pertikaian yang terjadi oleh sepasang kekasih di teras rumah sang Kakek. mereka tak lain adalah Kai dan Agatha, awalnya gadis itu tak ingin mengintip hanya saja rasa penasarannya tentang keduanya membuat dirinya melakukan hal tersebut. Gadis itu pun merasakan emosi sedih bercampur dengan luka, kecewa serta bingung saat melihat keduanya. Andai ia bisa mengatakan hal ini kepada sang Kakek mungkin saja akan membatalkan pernikahan ini bukan? Tapi saat gadis mengingat kembali kondisi sang Kakek, ia berpikir tak ingin ikut campur. Rain pun memutuskan untuk pergi ke Kamarnya untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya lalu makan malam karena perutnya sudah sangat lapar sekali. Kini Rain sedang berada di meja makan sendirian tanpa siapa pun sama seperti kemarin. andai Kakek Pratama tidak di rawat di Rumah sakit mungkin hanya beliaulah yang akan menemani makan malamnya. Rain kembali teringat beberapa hal yang mengejutkan dirinya selama beberapa hari belakangan yang membuatnya ingin menangis dan kepalanya pening. Gadis itu tak tahu apakah keputusannya untuk menikahi Om Kai adalah keputusan terbaik baginya? Tapi di sisi lain sebagai wanita hati Rain pun terketuk ketika melihat wali kelasnya menangis dan marah kepada Kai. Ia sendiri masih ingin dekat dengan Bintang, merasakan bagaimana kuliah di salah satu Universitas ternama agara kedua orang tuanya merasa bangga dan tidak kembali meninggalkan dirinya. "Apakah aku harus membuat sebuah perjanjian dengan Om Kai? perjanjian yang mungkin saja bisa saling menguntungkan untuk banyak pihak," kata Rain kepada dirinya sendiri sambil menikmati makan malamnya. "Tadi dari mana aku akan memulainya? dan bagaimana aku membuatnya?" tanya Rain lagi pada dirinya sambil terus memikirkan sesuatu yang mungkin bisa menjadi jalan keluar terbaik untuk dirinya dan banyak orang yang terkait hal tersebut. Tak lama ia mendapatkan sebuah pesan yang membuat ia tersenyum senang dan juga pikirannya teralih dari masalah yang sedang di hadapinya. ya siapa lagi kalau bukan dari Bintang, lelaki yang memang sudah lama ia sukai. mereka berdua pun hanyut dalam sebuah chat yang membuat jantung Rain terus berdebar-debar serta sebuah senyuman membingkai indah di wajah cantiknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD