Pagi ini Rain bangun dengan perasaan senang karena semalaman dirinya bertukar pesan dengan Bintang hingga tertidur pulas. Rasa sedih, kesal dan kecewa yang Rain rasakan serta bercampur aduk menjadi satu seketika berubah menjadi sebuah senyum bahagia dan sebuah semangat baru dari Bintang.
"Rain, Pagi ini Papa akan kembali mengurus dispensasi terkait pernikahan kamu dengan Om Kai ke pengadilan agama jadi paling tidak dalam kurun waktu beberapa hari kalian sudah bisa menikah, jadi persiapkan dirimu ya," Seru Papa Angga ketika beliau sedang sarapan bersama Putrinya tersebut. Papa Angga sengaja mengatakan hal ini kepada Rain karena memang agar Gadis itu mempersiapkan dirinya. Selain itu beliau baru saja dapat kabar ini dari orang yang bekerja di pengadilan agama kalau proses pengajuan dispensasi sudah mendapatkan hasil.
Walau terdengar sangat rumit dalam melakukan proses pernikahan untuk Putrinya yang belum genap minimal berusia sembilan belas tahun sesuai ketentuan Undang-undang perkawinan tahun 1974, tapi beliau lakukan semuanya demi Putri satu-satu yang sangat ia sayangi dan juga Papa Mertuanya yang selalu baik kepada dirinya selain itu mungkin sebagai amanah terakhir dari beliau juga.
"Untuk pernikahan kalian berdua, kamu tenang saja hanya ada Papa, Mama, Kakek, Kai dan Orang-Orang yang menjadi saksi pernikahan kalian selain itu tidak ada yang akan tahu kalau kamu sudah menikah demi masa depan kamu," jelas Mama Serly yang baru saja datang dari Dapur dan membawakan sebuah kotak bekal yang sengaja ia siapkan khusus untuk Putrinya.
"Bagus kalau begitu, setidaknya Rain tidak akan merasa malu karena sudah menikah," seru Rain sambil menikmati sarapannya.
"Pagi Mas Angga dan juga Mbak Serly," sapa Kai yang baru saja datang di antara mereka bertiga yang sedang menikmati sarapan.
"Eh Kai, sarapan dulu yuk," ajak Mama Serly sambil menyiapkan piring untuk Adik angkatnya tersebut.
"Iya Mbak, boleh.." ucap Kai sambil duduk di samping sang Kakak.
"Oh ya apakah keadaan Papa baik-baik saja?" tanya Papa Angga yang ingin mengetahui kondisi sang Papa mertua.
"Sejauh ini masih baik-baik saja Mas, semalam juga Papa sudah mulai tertidur lelap tanpa gelisah seperti malam-malam sebelumnya," jawab Kai yang merasa sangat senang karena mungkin dengan keputusan yang di ambil olehnya dapat memperbaiki kondisi sang Papa dan mereka bisa berharap kalau Papa mereka akan sembuh serta kembali pulih. Walau semalaman rasa gelisah itu berpindah ke dalam dirinya ketika tak mendapatkan kabar dari Agatha setelah obrolan mereka.
Setelah Agatha melangkah pergi dari teras Rumahnya, Kak berlari mengejar wanita itu namun ketika langkah mereka sudah saling sejajar, Agatha memintanya untuk menjauhi dirinya. Walau Kai memaksa akan mengantar wanita itu untuk kembali ke Rumah.
Kai semakin putus asa saat melihat Agatha menghentikan sebuah taksi dan benar-benar meninggalkannya pergi. Kaki lelaki itu seketika melemas hingga ia terduduk di tanah sambil menjambak rambutnya dengan kedua tangannya lalu berteriak untuk melampiaskan apa yang di rasakan nya malam itu, lelaki itu juga tak peduli jika dirinya di perhatikan oleh beberapa orang nantinya.
Sebagai lelaki Kai merasa dirinya adalah seorang lelaki pengecut tapi ia pun tak bisa berbuat apa pun. Andai saja Agatha dapat mengerti serta memahaminya sedikit lagi saja, mungkin ia akan mencari cara lain untuk mempertahankan hubungan keduanya.
Semalam sekembalinya Kai ke Rumah sakit, Kai terus-terusan menghubungi Agatha tapi tidak ada jawaban serta balasan dari wanita itu malah beberapa saat kemudian lelaki itu tak bisa menghubungi lagi.
"Oh ya Kai, habis sarapan kami beristirahatlah saja di Rumah sepertinya kamu merasa kelelahan bukan? Soal Rain biar kami yang mengantar sekaligus berangkat ke Rumah sakit," seru Mama Serly ketika Kai sedang menikmati sarapannya.
"Iya Kakakmu benar lagi pula sejak kembali dari Rumah sakit wajahmu tanpa lesu dan tidak bersemangat apakah ada masalah? apa urusanmu kemarin belum selesai?" tanya Papa Angga yang ternyata memperhatikan Adik iparnya tersebut. Rain pun menoleh ke arah Kai sebentar untuk memastikan ucapan sang Papa lalu ia kembali cuek menatap layar ponsel miliknya, Rain sendiri merasa tidak heran karena semalam gadis itu ingat betul apa yang terjadi oleh Omnya dan juga sang wali kelasnya.
"Tidak Mas, mungkin saja memang aku kurang beristirahat," jawab Kai yang memang tidak ingin ada yang tahu kalau dirinya sedang menghadapi sebuah hubungan yang sangat rumit.
"Rain, kamu sudah selesai sarapannya?" tanya Mama Serly ketika melihat Anaknya sudah bangkit dari kursi dan menatap ponsel miliknya. Kai melirik ke arah Rain yang terlihat baik-baik saka tidak seperti kemarin malam saat terakhir ia melihatnya.
"Sudah, Aku akan menunggu kalian di luar," kata Rain sambil berjalan pergi meninggalkan meja makan.
"Oh ya Kai, dalam beberapa hari nanti kalian sudah bisa melangsungkan pernikahan karena dispensasi Rain telah di setujui," kata Papa Angga yang memberitahukan hal tersebut kepada Kai. Kai pun tampak terkejut karena hal tersebut bisa secepat itu, seakan sudah tak ada lagi kesempatan untuknya dan juga Agatha.
"Kamu enggak apa-apa kan Kai? maksudnya dalam beberapa hari ke depan kamu tidak memiliki janji temu dengan yang lain?" tanya Papa Angga ketika melihat Kai diam termenung.
"Tidak ada, Mas," jawab Kai singkat.
"Selain itu setelah menikah, Papa mau kamu yang mengurus perusahaannya di sini dan bisa sekaligus menjaga Papa dan Rain di sini," kata Papa Angga lagi yang membuat Kai kembali terkejut.
"Tapi di bantu Mas atau Mbak Serly kan?" tanya Kai karena memang ia belum berani menjalankan bisnis Papa angkatnya tersebut seorang diri.
"Mungkin akan di bantu oleh Mbak kamu selama beberapa minggu karena Mas masih harus kembali ke Swiss mengurus pekerjaan kami yang sudah menumpuk, "jawab Papa Angga lagi.
"Iya jadi kamu tenang saja ya Kai, aku masih bisa membantu dirimu nanti selama di Kantor," kata Mama Serly yang menepuk bahu Kai.
"Baiklah kalau begitu," jawab Kai tersenyum tipis.
"Ya sudah kami berdua akan berangkat sekarang ke Rumah sakit," pamit Papa Angga sambil bangkit dari tempat duduknya dan di ikuti oleh Mama Serly.
"Iya Mas, Mbak kalian hati-hati ya," pesan Kai sebelum keduanya pergi.
"Iya Terima kasih Kai, kamu juga beristirahatlah dengan nyenyak jangan pikirkan hal lain dulu ya," pesan Mama Serly sambil tersenyum lalu keduanya meninggalkan Kai yang masih berada di meja makan.
"Apakah nantinya akan semakin sulit? atau akan semakin mudah? dan apakah ini memang jalannya aku harus berpisah dengan Agatha yang notabennya masih aku cintai? Bagaimana ini Tuhan?" tanya Kai pada dirinya sendiri yang sekarang malah membuat kepalanya terasa semakin pening sekali.
Kai pun memutuskan untuk menyelesaikan sarapannya lalu kembali ke Kamarnya untuk meminum obat pusing dan beristirahat sebentar sebelum ia berusaha kembali menghubungi Agatha.
Sesampainya di depan gerbang sekolah, Rain keluar dari mobilnya dengan membawa kotak bekal yang di berikan oleh sang Mama.
"Sayang, semangat ya sekolahnya," seru Mama Serly dari dalam mobil 1ewat jendela mobilnya. Rain pun hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan lalu gadis itu menghampiri kedua sahabatnya yang sudah menunggunya.
"Loh kamu di antar oleh Mama kamu, Rain? tumben," tanya Tasya yang sadar dengan kedatangan Rain bersama sang Mama dan bukan Omnya yang bernama Kai. padahal sejak tadi Lula dan Tasya mengharapkan bisa bertemu dengan Om Kai dan mungkin menyapanya.
"Mereka sekalian berangkat ke Rumah sakit, udah yuk masuk," ajak Rain yang ingin segera masuk ke dalam kelas.
"Tunggu, Om Kai mana? apa dia sakit sampai tidak bisa mengantar kamu pagi ini? padahal kita pengen banget loh liat Om Kai," seri Lula yang membuat Rain menatap aneh ke arah kedua sahabatnya tersebut.
"Sebenarnya sahabat kalian itu aku atau Om Kai sih? kenapa kalian lebih peduli sama Om Kai?" tanya Rain yang merasa benar-benar heran mengapa kedua sahabatnya bisa saja terbius dengan pesona sang Om yang sebentar lagi akan menjadi Suaminya.
"Ya kan Om kamu itu ganteng dan keren, Rain," jawab Tasya yang mewakili isi hati Lula.
"Idih apaan sih makin ngaco deh, udah ah aku ke kelas duluan," seri Rain yang memutuskan segera masuk ke dalam kelas meninggal kedua sahabatnya.
"Dasar Rain di tungguin malah pergi duluan," gerutu Lula sambil berlari mengejar Sahabatnya tersebut.
Rain pun mempercepat langkahnya untuk menjahili kedua sahabatnya agar segera mengejarnya. namun langkah kakinya terpaksa terhenti saat tanpa sadar dirinya menabrak Bintang yang berjalan lebih dulu di depannya.
"Ah ma.. Bintang?" gumam Rain lalu keduanya saling menatap satu sama lain hingga memberikan sebuah kesan iri kepada siswa- siswi yang melihat keduanya yang saling menatap satu sama lain.