Bab 14

2013 Words
"Raina.." teriak Lula dan Tasya yang mendekati Rain sambil menepuk bahunya hingga keduanya pun tersadar dan tertawa bersama. "Rain, mending kita masuk yuk soalnya satu sekolah lagi lihatin kalian," bisik Tasya di telinga Rain sambil tersenyum ke arah Bintang. "Oh ya Bintang, aku harus ke kelas sekarang karena sebentar lagi bel masuk, sekali lagi aku minta maaf ya," pamit Rain yang sadar kalau kini mereka sedang menjadi bahan perhatian di antara banyak siswa & siswi sekolah ini. "Ah baiklah silahkan Rain lagi pula tidak apa- apa kok," kata Bintang yang mempersilahkan Rain untuk pergi. ketiga wanita itu pun langsung meninggalkan dirinya menuju tangga untuk menunju kelas mereka yang berada di lantai paling atas gedung ini. "Rain, enak banget sih kamu pagi- pagi udah nabrak Bintang coba kalau aku yang nabrak Rehan pasti makin semangat hariku," lirih Lula yang berharap hal yang terjadi dengan Rain terjadi juga pada dirinya hanya saja sosok tersebut bukanlah Bintang melainkan Rehan. "Ya udah nanti kalau ada Rehan, kita berdua bakal dorong badan kamu biar jatuh di pelukan Rehan deh hahaha," canda Rain sambil memberikan kode ke arah Tasya yang juga tersenyum dan memberikan kode balik ke arah Rain. "Apaan sih pagi- pagi masih aja menghayal deh," tambah Tasya yang membuat Lula memanyunkan bibirnya setelah mendengar ucapan Tasya barusan. "Oh ya Rain kamu belum jawab pertanyaan kami loh yang menanyakan sejak kapan kamu dan Bintang jadi makin akrab? apa sejak dompet kamu di kembalikan oleh Bintang waktu itu?" tanya Tasya penasaran ketika melihat Rain yang mulai akrab dan terlalu sering bertemu di Sekolah. "Ah masa sih? mungkin kebetulan saja kali ya," jawab Rain yang sambil bersikap biasa saja namun ia tak bisa berhenti tersenyum seakan apa yang di katakan olehnya berbeda sekali dengan sikapnya. "Tapi kenapa kamu terlihat sangat bahagia sekali Rain, apa habis ketiban duren ya?" tanya Lula ketika mereka sedang duduk di kursi masing- masing. "Lebih dari Duren kalau kamu tahu pasti kamu bakalan merasa iri deh, La," goda Rain yang sengaja membuat kedua sahabatnya penasaran. karena memang sejak kejadian sore itu setelah selesai menonton pertandingan sepak bola, Rain mendapatkan banyak hal yang tidak bisa ia ceritakan kepada kedua sahabatnya mengenai kedekatannya dengan Bintang dan juga pernikahan tertutupnya bersama Om Kai. "Dasar Rain lebih suka buat orang penasaran deh," gerutu Tasya sambil mengeluarkan buku untuk mata pelajaran pertama yang akan di mulai sebentar lagi. "Oke, aku akan kasih tahu kalau sebenarnya beberapa hari yang lalu setelah menonton pertandingan sepak bola, aku pulang di antar oleh Bintang dan sempat makan bareng," kata Rain yang mencoba menceritakannya semua yang terjadi antara mereka berdua. Dan benar saja hal itu membuat kedua sahabatnya terkejut dan tak percaya. "Serius Rain?" tanya Lula yang tak percaya dan di jawab anggukan oleh gadis itu. "Ih beruntung banget sih kamu," seru Lula yang merasa iri ingin berada di posisi Rain. "Nanti mungkin ada waktunya kok kamu sama Rehan begitu, aku bantuin deh tapi kalau udah deket sama Bintang ya," kata Rain yang tidak ingin Lula berkecil hati. "Benar ya Rain?" tanya Lula kembali menyakinkan apa yang Rain janjikan barusan. "Iya bener kok," seru Rain sambil menunjukkan jari kelingkingnya di hadapan Lula sebagai tanda perjanjian mereka. "Asyik, akhirnya dari sekian banyak wanita di Sekolah aku ada peluang buat dekat sama Rehan," kata Lula dengan binar wajah bahagia setelah mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Rain. "Lula.. Lula.. kenapa sih masih mengharapkan Rehan yang jelas- jelas terkenal sebagai Playboy cap botol itu?" seru Tasya yang memang tak menyukai sikap lelaki tampan yang satu itu apa lagi sudah banyak korban wanita yang hanya di manfaatkan oleh lelaki itu. "Ya namanya juga udah jatuh hati La, kayak kamu mulai suka sama Om Kai," balas Lula yang kini membuat Rain memutar bola matanya ke arah Tasya yang sudah bersemu merah merona. "Beneran kamu mulai suka sama Om Kai, La?" tanya Rain sambil menatap ke arah Tasya. "Enggak kok, sih Lula asal ngomong aja itu, udahlah sekarang kita fokus belajar tuh bu Agatha baru saja datang," seru Tasya yang mengalihkan obrolan mereka selain itu memang Agatha baru saja masuk ke dalam kelas. Rain bisa melihat jelas kalau wajah wanita itu terlihat tampak lesu dan tak bersemangat hingga terlihat dengan jelas sebuah lingkaran hitam di bawah matanya. Gadis itu tahu kalau wali kelasnya tersebut tidak dalam kondisi yang baik-baik saja namun ia sendiri juga merasakan hal yang sama. pikiran Rain sendiri selalu bertanya-tanya apakah hal ini adalah keputusan yang baik? Rain juga semakin merasa yakin tak yakin dengan pernikahannya dengan Om Kai yang terbilang sangatlah terlalu cepat. "Walau kata Mama pernikahan ini di adakan secara tertutup tapi bagaimana kalau nanti ada yang tahu dan menyebarkannya lalu satu sekolah tahu? apa lagi aku belum lulus saat mereka tahu aku sudah menikah," gumam Rain dari dalam hatinya. banyak sekali hal yang di jadikan bahan pertimbangan jika nanti pernikahannya terbongkar. memang selain di kenal sebagai Siswi berprestasi Rain juga di kenal sebagai seorang Trouble maker hanya saja ia tak ingin menambah penilaian buruk tentang dirinya lagi. Entahlah Rain sendiri merasa sangat pusing apa lagi saat ini dia baru saja sedang memulai kedekatannya dengan Bintang yang selama ini sudah ia suka sejak lama. Rain selalu berandai- andai kalau sang Kakek bisa selalu baik- baik saja atau mungkin Omnya tersebut bukanlah anak angkat dari sang Kakek. # # # Kini Kai memutuskan untuk datang satu jam lebih awal ke Sekolah Rain karena memang ia ingin bertemu dengan Agatha yang sangat sulit sekali ia hubungi. Kai sengaja menunggu di depan gerbang Sekolah Rain dan berharap bisa menemui wanita itu sebelum Rain dan siswa- siswi lainnya keluar dari Sekolah. Empat puluh menit sudah Kai menunggu dan berusaha menghubungi Agatha namun tidak terlihat sosok wanita tersebut. Kai merasa sangat putus asa namun jika sore ini ia tak bisa bertemu dengan kekasihnya, lelaki itu memutuskan akan menemuinya di Rumah wanita itu. "Itu Agatha," seru Kai saat melihat wanita yang sudah ia tunggu keluar melewati gerbang sekolah dan sedang menunggu sebuah kendaraan. Kai pun dengan cepat keluar dari mobilnya lalu berlari menghampiri wanita itu sebelum kembali menghindarinya. "Agatha.." kata Kai sambil meraih tangan wanita cantik itu. "Lepas Kai, tidak enak jika di lihat murid-murid ku," pinta Agatha sambil melepaskan paksa tangan lelaki itu. Kai mengabaikannya dan terlihat cemas melihat kondisi Kekasihnya yang terlihat sangat pucat sekali. "Kami kenapa, Tha? Kamu sakit ya?" tanya Kai sambil berusaha memegang wajah Agatha yang semakin melemas. sebenarnya sejak pagi tadi Agatha sudah merasa tidak enak badan karena sejak kemarin malam hingga saat ini ia kehilangan nafsu makannya. Agatha sendiri tak bisa ijin dadakan hari ini karena memang dirinya masih memikirkan pendidikan murid-muridnya tersebut. namun karena jam mengajar wanita itu sudah selesai dan juga kepalanya yang semakin pusing, Agatha memutuskan untuk pamit pulang lebih awal hingga saat ini ia bertemu dengan Kai. Pusing di kepala Agatha semakin tak menentu, tubuhnya pun merasa sangat lemah sekali hingga wanita itu pun menutup matanya dan terjatuh di pelukan Kai. lelaki itu pun membopong tubuh Agatha masuk ke dalam mobilnya dan membawanya ke Rumah sakit atau klinik terdekat. Saking panik dan merasa khawatir tentang kondisi Agatha, lelaki itu sampai melupakan Rain yang sebentar lagi akan segera pulang sekolah. Sekitar lima belas menit kemudian, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah sakit dan Kai langsung meminta Suster serta Dokter untuk memeriksa keadaan Agatha yang sedang pingsan. Selama di periksa hingga akhirnya wanita itu harus di infus, Kai sama sekali tak beranjak pergi dan juga terus berdoa agar keadaan Agatha baik-baik saja. "Kai, aku ada di mana?" tanya Agatha yang sudah membuka kedua matanya dan merasa asing dengan tempat tersebut. Kai yang sedari tadi sedang duduk di sebelah tempat tidur Agatha pun menoleh dengan cepat. "Kami sudah Sayang? sekarang kita ada di Rumah sakit karena kamu sempat pingsan dan kekurangan cairan hingga harus di infus," jelas Kai kepada Agatha sambil menggenggam tangan wanita itu dan membelai wajahnya. "Aku mau pulang Kai," lirih Agatha lemas sambil berusaha bangkit dari tempat tidurnya saat ini. namun Kai menahannya karena kondisi Agatha yang masih belum stabil lagi pula Suster dan Dokter juga menitip pesan kalau wanita itu boleh pulang jika air infusnya habis. "Kai, aku mau pulang sekarang tolong jangan tahan aku di sini," pinta Agatha dengan air matanya yang mulai turun membasahi wajahnya. "Tunggu sebentar lagi ya Sayang karena kata Dokter kamu bisa pulang kalau air infusnya habis," kata Kai yang berusaha menenangkan Agatha sambil menghapus air matanya menggunakan ibu jarinya. "Kenapa kamu masih peduli dengan aku padahal kamu sendiri sebentar lagi akan menjadi milik wanita lain," ucap lirih Agatha dengan tangisnya yang kembali pecah hingga suasana berubah mengharu biru. "Aku peduli karena memang aku masih sangat mencintai kamu, Tha," kata Kai yang berusaha mengungkapkan isi di hatinya. "Kalau memang kamu mencintai aku, kenapa kamu lebih memilih menikah wanita pilihan Papa kamu? apa kamu tidak percaya dengan semua rasa cintaku padamu? jika kamu minta aku untuk menikah denganmu saat ini pun aku mau Kai," kata Agatha lagi yang membuat lelaki itu semakin bingung harus berbuat apa kecuali membuat sebuah janji palsu sampai keadaan kekasihnya membaik. "Oke aku tidak akan menikah dengan siapa pun kecuali denganmu, aku juga akan berusaha bicara dengan Papa lagi nanti," kata Kai yang sengaja membuat janji itu agar Agatha kembali tenang dan juga bisa kembali pulih. "Benarkah itu Kai?" tanya Agatha yang di jawab anggukan oleh lelaki itu. Agatha pun bangkit dari tempat tidurnya lalu memeluk Kai. Kai pun juga membalas pelukan Agatha, lelaki itu merasa sangat senang sekali kalau dengan caranya ini dapat membuat wanitanya tersenyum bahagia "Aku sayang sekali sama kamu jadi jangan pernah tinggalkan aku ya," ucap lirih Agatha yang masih memeluk tubuh Kai. belum sempat Kai membalas ucapan dari wanita itu, Ponselnya sudah kembali berdering hingga mereka melepaskan pelukan mereka. Kai pun meraih ponsel miliknya yang berada di kantung sakunya dan melihat nama Rain tertera di sana hingga membuatnya teringat akan Rain. "Astaga, aku melupakan Rain," pekik Kai yang langsung menjawab panggilan dari Rain. "Halo Om Kai, ada di mana sih? Aku udah nunggu sampai tiga puluh menit tahu kalau memang enggak bisa jemput bilang dong," gerutu Rain yang merasa kesal karena memang sudah terlalu lama ia menunggu kehadiran sang Om. "Maafkan Om ya karena tadi sedang ada urusan di rumah sakit jadi telat menghubungimu untuk pulang sendiri," jelas Kai yang membuat Rain merasa panik ketika mendengar kata "Rumah Sakit". "Apa Kakek kembali drop lagi, Om?" tanya Rain yang terdengar sangat khawatir. "Bukan Kakek tapi Agatha yang tiba-tiba saja pingsan tadi," jelas Kai cepat agar gadis itu tak merasa khawatir. "Ohh.." "Ya sudah kami pulang sendiri ya dan jangan lupa langsung pulang ke Rumah jangan mampir ke mana- mana," pesan Kai yang terdengar seperti orang tua Rain yang sedang memberi amanah kepadanya. padahal kedua orang tuanya tak pernah melakukan hal itu. "Kai.." panggil Agatha namun lelaki itu memberi kode untuk tetap diam karena memang ia masih berbicara dengan sang keponakan. "Ya Om Bawel," kata Rain lalu buru-buru memutuskan panggilan telefon nya yang membuat Kai hampir naik pitam. "Halo, Rain.." panggil Kai namun ia sudah terlambat dan kini memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantung sakunya. "Ada apa? apakah Rain marah denganmu? kalau memang begitu lebih baik sekarang kau jemput dia dan antar ia pulang ke rumah," seru Agatha yang merasa tidak enak jika Kai harus bertengkar dengan Rain. "Tidak usah lagi pula gadis itu sudah besar sekarang," jawab Kai. "Tapi.." "Sekarang itu yang lebih penting adalah kamu," kata Kai sambil meraih wajah Agatha dan tersenyum manis ke arahnya. tak lama Suster masuk untuk mengecek air infus Agatha yang memang akan habis hingga Kai menjauhkan tangannya dari wajah Agatha. "Baiklah Bu Agatha sekarang sudah boleh pulang karena selang infusnya sudah saya cabut tapi jangan lupa ya untuk minum obat serta beberapa vitamin yang di berikan Dokter tadi," pesan sang Suster sebelum mereka meninggalkan Rumah sakit "Baik, Suster." Agatha mengangguk dan Suster pun meninggalkan mereka berdua. Agatha pun bersiap untuk segera pulang karena memang wanita itu merasa sudah tidak betah di sana. "Ayo aku bantu kamu berjalan sampai mobil," tawar Kai yang membuat Agatha tersenyum. "Aku sudah baik-baik saja Kai jadi lebih baik jika aku menggandeng tangan kamu saja ya," tawar Agatha balik yang di jawab anggukan dan juga senyuman oleh Kai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD