Bab 18

1054 Words
Pagi ini saat Rain membuka kedua bola matanya, gadis itu sudah di sambut oleh sang Mama dan juga seorang penata rias yang akan meriasnya pagi ini. walau pernikahan ini di lakukan secara tertutup tapi Kakek Pratama mau kalau pernikahan tersebut tetap berjalan normal seperti biasanya. namun yang kali ini yang sedikit berbeda adalah sebelum semua orang yang terkait dengan Pernikahan tersebut tak di ijinkan membawa ponsel atau pun kamera, pokoknya hal yang dapat merekam gambar atau video sengaja di tiadakan agar tidak meninggalkan sebuah jejak nantinya. hal tersebut sengaja Papa Angga lakukan karena memang ia tak mau Putrinya menjadi bahan pembicaraan oleh orang lain. Mama Serly sengaja memilihkan seorang penata rias yang sangat handal untuk merias wajah Putri cantiknya, selain itu Mama Serly pulalah yang memilih langsung gaun pernikahan untuk Rain dengan mengikuti mode yang sedang trend saat ini. "Oke selesai Rain, bagaimana kamu menyukai hasil riasan ku?" tanya Mbak Mita yang sejak tadi mahir memainkan seluruh peralatan makeup miliknya tanpa ragu di wajah Rain yang memang sudah terlihat cantik. Rain pun menoleh ke arah cermin untuk memastikan kalau setidaknya wajahnya cantik sesuai perkataan Mama Serly yang tak henti memuji Mbak Mita. "Ini aku, Mbak?" tanya Rain yang tak percaya dengan wajahnya yang saat ini sudah di penuh dengan riasan indah. "Ya itu memang dirimu Rain, jika hari ini ada pemilihan Putri tercantik di Dunia pasti kamulah pemenangnya," puji Mbak Mita sambil tersenyum ke arah pantulan cermin yang memperlihatkan pantulan dirinya dan juga Rain. Gadis itu pun tersenyum dengan wajahnya yang semakin merona. "Terima kasih, Mbak Mita," seru Rain setelah mengambil nafas dan membuang nafas panjang. Gadis itu tak tahu harus merasa senang atau bersedih ketika pernikahan tersebut terasa semakin dekat dalam kurun waktu yang mungkin tersisa beberapa menit lagi. andai hari ini ia menikah dengan lelaki yang paling ia cintai bahkan setelah meraih semua mimpi-mimpinya mungkin ia akan merasa bahagia hingga menangis terharu. "Kami yang semangat ya Rain, Mbak dengar kamu terpaksa menikah karena memang ingin membahagiakan Pak Pratama kan?" kata Mbak Mita yang berusaha menyemangati Rain ketika gadi itu kembali melamun. sebelumnya beliau mengetahui hal tersebut dari Mama Serly yang menceritakan dengan singkat kisah Rain kepadanya. "Loh Mbak tahu dari mana? Mama?" tanya Rain yang tersadar dari lamunannya. "Iya Rain, Mama kamu saat cerita juga nangis loh, dia bingung harus bagaimana mengusahakan kalian untuk tidak menikah tapi kondisi Kakek kamu juga mengkhawatirkan hingga dia bilang tidak bisa berbuat apa-apa," jawab Mbak Mita yang menjelaskan semuanya yang terjadi kepada Rain. Rain yang mendengarnya tak percaya jika sang Mama masih saja mengkhawatirkan dirinya. "Pokoknya apa pun yang terjadi semangat ya Rain, kamu tenang saja kami semua juga akan berusaha menutup mulut agar kamu bisa melanjutkan hidupmu dengan tenang," kata Mbak Mita sambil tersenyum tepat di pantulan cermin di hadapan Rain. "Mita, bagaimana apakah kau sudah selesai merias Anakku?" tanya Mama Serly yang baru saja membuka pintu kamar Rain dan berjalan masuk. ia begitu terkejut melihat wajah Rain yang sudah penuh riasan dan juga terlihat sangat cantik. "Wah kamu cantik sekali, Sayang," puji Mama Serly namun Rain hanya tersenyum menjawabnya. "Apakah acaranya sudah akan di mulai?" tanya Mbak Mita. "Ya karena Penghulu sudah menunggu dari tadi," jawab Mama Serly yang masih memandang Rain tak percaya. sebagai seorang Ibu, hati Mama Serly terasa sangat sesak karena memang ia harus melepaskan Anaknya yang harus menikah dengan Adik angkatnya. beliau tahu betul kalau Anaknya saat ini mungkin sangat ingin menangis tapi Beliau tidak tega jika memang harus melihatnya menangis hanya saja Mama Serly sengaja menyiapkan segala keperluan Rain dengan baik agar bisa menghilangkan sedikit kesedihannya. "Ya sudah kalau begitu, kita temani Rain untuk keluar dari kamarnya," ajak Mbak Mita yang membuyarkan lamunan Mama Serly dengan kedua bola matanya yang berkaca-kaca. "Ayo.." "Rain, kamu sudah siap kan?" tanya Mama Serly yang di jawab anggukan oleh Rain setelah kembali mengambil nafas panjang lalu membuangnya. "Rain apa pun yang terjadi hari ini tetap tersenyum ya agar Kakek merasa senang, Kamu juga bisa genggam tangan Mama kalau kamu merasa takut," kata Mama Serly sambil mengulurkan tangannya tepat di hadapan Rain. gadis itu pun meraihnya dan menggenggam erat tangan sang Mama hingga beliau tersenyum karena merasa senang mendapat sedikit kepercayaan dari Rain. Singkat cerita kini mereka semua sudah berkumpul di ruang tengah yang sudah di sulap menjadi sebuah tempat berlangsungnya akad nikah Rain dan Kai. Kai sendiri terlihat terpesona dengan kecantikan Rain yang sungguh berbeda dari biasanya. lelaki itu bisa dengan mudah membandingkannya dengan Agatha kalau Rain benar-benar cantik hari ini. Kini di meja tersebut sudaha ada Rain bersama Kai dan di hadapannya sudah ada seorang Penghulu berusia hampir sama dengan Kakek Pratama yang duduk bersebelahan dengan Papa Angga. di sisi lain ada Kakek Pratama dan Mama Serly yang tampak duduk bersebelahan bersama Mbak Mita dan beberapa orang lainya yang termasuk Orang- Orang yang utus khusus dari pengadilan. Saat ini dengan satu tarikan nafas Kai mulai mengucapkan ijab kabul sambil bersalaman dengan tangan Pak Penghulu. perasaan gugup yang sempat lelaki itu rasakan sejak tadi pun sudah berubah menjadi lega ketika para saksi sudah mengesahkan pengucapan ijab kabulnya karena Kai sempat berpikir dan tak bisa membayangkan bagaimana kalau nantinya ia salah mengucapkan nama Agatha di sana dan bukan nama Rain hingga tiga kali pengulangan. Apa yang ia harus jelaskan kepada Keluarganya. Di sisi lain pun Rain juga sudah bernafas lega kalau semuanya berjalan lancar walau awalnya ia sempat berharap akan ada gangguan saat Kai membacakan kalimat ijab kabul. "Selamat ya Rain dan juga Kai, akhirnya kalian berdua sudah resmi menjadi sepasang Suami- Istri untuk memenuhi permintaan lelaki tua yang umurnya tidak akan lama lagi," kata Kakek Pratama yang berusaha memberikan ucapan selamat kepada keduanya. "Pa, jangan bicara seperti itu ya, aku dan Rain ikhlas menjalani pernikahan ini karena Papa juga kok, iya kan Rain?" Kai melirik ke arah Rain yang sudah tampak lapar saat melihat orang-orang mulai menikmati makanannya saat ini. "Sepertinya Rain sudah lapar karena memang belum sarapan jadi bagaimana kalau sekarang kita pun makan bersama," ajak Papa Angga yang menyadari kalau memang mereka semua pun merasakan hal yang sama seperti Rain. "Tapi tunggu bagaimana kalau sebaiknya kita mengambil foto sebentar untuk kenang-kenangan dan sebagai bingkai rumah kita nanti," ajak Kakek Pratama yang ternyata sudah mengundang seorang Fotografer tanpa di ketahui oleh Anak serta Cucunya seperti tujuan mereka. mau tak mau pun mereka semua memenuhi permintaan Kakek Pratama hingga beliau bisa tersenyum bahagia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD