Bab 17

1020 Words
Hanya dengan menangis Rain dapat melampiaskan semua macam rasa yang membuat hatinya sesak ketika tidak ada lagi orang yang mampu ia bagi cerita tentang isi hatinya. Hanya dengan menangis Rain dapat merasa lega saat semua gemuruh di hatinya terlepas sedikit demi sedikit. Kini gadis itu menghapus sisa air matanya yang sempat mengalir deras membasahi pipinya seperti sebuah aliran sungai. setelah itu ia segera beranjak bangkit untuk keluar dari kelasnya karena sejak tadi Kai terus-terusan menghubungi dirinya. sebenarnya Rain juga ingin menghindar dari lelaki itu hanya saja saat ini ia tidak bisa karena tidak ada alasan lain untuk menghindarinya. "Lama banget sih, kamu itu buang air atau tidur di Toilet?" gerutu Kai karena sekitar lima belas menit lebih lelaki itu berdiri di luar mobilnya untuk menunggu kedatangan Rain. Rain yang saat itu tak ingin berdebat memutuskan untuk diam tanpa melirik sedikit pun ke arah Kai lalu masuk ke dalam mobilnya. "Aneh.." gumam Kai yang terkejut melihat sikap Rain yang berubah dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam. Biasanya gadis itu akan menjawab pertanyaan dengan nada tinggi serta memaki dirinya namun sore ini terlihat berbeda sekali, gadis itu berubah menjadi lebih pendiam dan juga terlihat lebih murung. "Om, mau pulang atau bengong, Om? buruan deh naik ke mobil," seru Rain dengan wajah cemberut yang membuat Kai tersadar dari lamunannya lalu ia segera masuk ke dalam mobil. "Baru saja aku menilai kalau gadis itu telah berubah menjadi pendiam serta pemurung tapi dalam hitungan detik ia sudah berubah menjadi dirinya sendiri," batin Kai yang merasa kalau apa yang telah Rain lakukan terlihat sangat labil yang menurut Kai adalah hal yang wajar apa lagi untuk Remaja seusianya saat ini. Selama perjalanan pulang, Kai sesekali melirik Rain yang tengah memandang ke arah keluar jendela yang kini menunjukkan ekspresi sedih. Kai juga dapat melihat dengan jelas kalau Rain sedang mengalami sebuah tekanan. "Apakah mungkin kau tertekan dengan pernikahan itu?" batin Kai yang merasa tidak tega saat melihat kondisi Rain saat ini. menurut Kai tak mudah untuk gadis itu menerima pernikahan mereka berdua tapi lelaki itu pun sadar kalau dirinya pun tak bisa berbuat apa pun dengan hal tersebut. sama seperti Rain yang mungkin masih ingin menikmati masa mudanya dengan kuliah atau mungkin bekerja, Kai pun ingin sekali menikah dengan Agatha serta membangun keluarga kecil dengan wanita yang paling ia cintai. Kini Kai merasa bingung haruskah ia menghibur Rain atau tidak karena toh dirinya saja saat ini sedang dalam keadaan yang sama. Tapi mungkin juga Rain yang jauh merasa lebih tertekan. Ah sudahlah kepalanya Kai malah semakin pusing. "Om Kai kita bisa berhenti sebentar?" tanya Rain yang memecah keheningan di antara mereka ketika sebentar lagi keduanya sampai di Rumah Kakek Pratama. "Tapi sebentar lagi kita akan sampai di Rumah," jawab Kai. "Aku hanya ingin mengobrol berdua dengan Om Kai karena aku tak ingin Kakek Pratama sampai mendengarnya nanti," kata Rain lagi yang mengingatkan kalau saat ini Kakek Pratama ada di Rumah dan mereka tak bisa membicarakan sebuah rahasia yang memang tak boleh di ketahui oleh Beliau juga. "Baiklah, kau ingin kita berbicara di mana? di mobil atau ingin mencari cafe yang ada di dekat sini saja?" tanya Kai lagi agar mereka dapat mengobrol lebih leluasa nantinya. "Kita menepi di depan sebentar saja," kata Rain sambil menunjuk sebuah jalanan yang agak sepi di depan mereka. Kai pun menurutinya lalu menghentikan mobilnya di sana. "Jadi kau ingin bicara soal apa, Rain?" tanya Kai ketika sudah menepikan mobil mereka dan fokus mengobrol dengan gadis itu. "Aku ingin kita berdua membuat sebuah perjanjian, Om," kata Rain yang membuat Kai kebingungan saat mendengarnya. "Perjanjian?" "Ya perjanjian kalau kita akan menikah selama dua ah tidak setahun saja setelah itu kita bercerai," jelas Rain yang sudah ia pikirkan matang-matang. selain itu Rain juga ingin kalai Kai tidak pernah mencampuri semua urusannya nanti. "Setahun? kenapa tidak sampai Papa sehat saja? apa jangan-jangan kau menyukai diriku hingga ingin bertahan lama untuk menikah denganku?" tanya Kai lagi yang membuat Rain ingin muntah saat mendengarnya. "Astaga," pekik Rain. "Aku sudah memiliki Bintang lagi pula aku tidak ingin Kakek merasa curiga kalau kita menikah tapi cepat bercerai juga, setidaknya nanti kita punya alasan yang tepat untuk bercerai kecuali kamu mempersilahkan diri untuk di cap sebagai tukang selingkuh biar Kakek cepat menyetujuinya," tambah Rain yang terdengar gila untuknya di kalimat terakhirnya. "Sebentar aku ini selalu di anggap lelaki baik-baik oleh Papa jadi aku tidak ingin ada penilaian buruk seperti itu," kata Kai yang tidak terima dengan ide Rain yang ingin memberikan cap tukang selingkuh. "Oh ya selain itu aku tidak ingin Om mencampuri segala urusanku setelah menikah termasuk hubunganku dengan Bintang kalau kami sampai jadian, Aku pun juga tidak akan mencampuri hubunganmu dengan wanita itu apa lagi memberitahukan pernikahan kita," jelas Rain yang membuat Kai kali ini setuju dan lelaki itu pun seperti mendapatkan jalan untuk mempermudah urusannya terkait amanah yang di berikan sang Papa untuk merubah Rain. "Oke aku setuju apa ada lagi?" tanya Kai. "Sama satu lagi aku tidak ingin kau ikut campur dengan semua urusanku nantinya," jawab Rain. "Oke aku tidak akan ikut campur tapi bagaimana kalau aku meminta kau menuruti semua perintahku selama menikah bisa kan?" tanya Kai balik yang membuat Rain menatap dirinya. "Perintah? maksud Om menjadi pembantu, Om begitu?" tanya Rain bingung yang membuat lelaki itu tertawa. "Kalau menurutmu seperti itu, boleh juga lagi pula kau bisa banyak hal bukan untuk beberapa pekerjaan rumah?" tanya Kai balik yang membuat Rain tidak mengerti karena apa yang barusan Kai katakan bukan semua jawaban baginya. Tapi jika hanya pekerjaan rumah saja perintahnya gadis itu setuju saja. "Terserah apa pun perintahnya nanti asal Om tidak bicara tentang pernikahan kita dengan siapa pun terutama wanita itu, Aku setuju," kata Rain yang setuju tanpa memastikan lebih dulu apa yang di maksudkan oleh Kai karena bagi Rain saat ini adalah ia ingin menjalin hubungan yang tenang dengan lelaki itu. "Baiklah kalau begitu kita sama-sama setuju ya jadi aku atau pun kami tidak boleh mengingkarinya," kata Kai sambil tersenyum senang di dalam hatinya. Rain tidak tahu saja jika perjanjian ini akan menjadi bumerang untuknya karena gadis itu tak berpikir panjang atau pun mengetahui dengan jelas maksud Kai. Oh Rain yang malang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD