Semalaman Rain berpikir untuk menerima tawaran sang Mama atau tidak, selain itu Rain kembali teringat dengan tawaran sang Om yang mungkin saja bisa ia ambil. tawaran untuk menikah sampai keadaan Kakek benar-benar pulih.
Pagi ini seperti biasa Kai yang baru saja sampai di Rumah dan langsung mengantar Rain pergi ke Sekolah. Lelaki itu sengaja mengantar Rain sekaligus ingin bertemu Agatha-sang kekasih. Sampai saat ini lelaki itu merasa bingung harus memberitahukan hal tersebut kepada Agatha atau tidak? Namun semalam saat Kai ingin memberitahukan soal hubungannya dengan Agatha, lagi-lagi sang Papa kembali memohon kepadanya untuk tetap menjalani pernikahan tersebut dengan Rain.
"Om Kai.." panggil Rain saat mereka sudah setengah jalan menuju Sekolah. Kai pun menoleh ke arah Rain namun tetap fokus mengemudi.
"Ada apa?" tanya Kai singkat yang membuat gadis itu semakin ragu untuk menanyakan tawaran yang kemarin di ajukan oleh sang Om.
"Eeemm.."
"Jangan buat aku penasaran Rain, katakan apa yang kau ingin katakan sebelum kita sampai di sekolah nanti, " seru Kai.
"Itu soal tawaran kemarin yang om bilang kita akan menikah sampai Kakek kembali sehat, apakah masih berlaku?" tanya Rain sambil menundukkan kepalanya yang membuat Kai melirik sejenak dan tertawa kecil tanpa bersuara.
"Kenapa kau menanyakannya? bukannya kemarin kau sendiri yang menolaknya dan lebih memilih kambing untuk menjadi pasangan hidupmu?" Ledek Kai dengan nada suara setenang mungkin agar tak menyinggung gadis itu.
"Ya kemarin kan aku bilang seperti itu hanya untuk jika Kakek menikahkan aku dengan kambing," jawab Rain asal yang tak ingin harga dirinya di remehkan oleh Kai.
"Baiklah aku akan bilang ke Papa kalau kau lebih setuju menikah dengan kambing dari pada aku," goda Kai lagi yang membuat Rain kesal saat mendengarnya.
"Ihh kenapa Om Kai menyebalkan sekali sih? sudahlah lupakan ucapan ku tadi," sergah Rain yang membuat Kain tertawa puas sementara Rain hanya dapat memanyunkan bibirnya saja.
"Oke, maafkan aku Rain tapi apa yang membuat pikiranmu berubah hingga menanyakan kembali soal tawaran itu?" tanya Kai yang penasaran dengan pemikiran gadis labil tersebut yang bisa berubah dalam waktu semalam saja.
"Kali ini Om Kai ingin bicara serius atau hanya bercanda saja? Atau hanya ingin meledekku saja?" tanya Rain dengan tatapan sinis dan bibir manisnya yang masih saja manyun.
"Kali ini aku ingin bicara serius, Rain," jawa Kai dengan tatapan seriusnya yang membuat gadis itu yakin.
"Jadi aku berubah pikiran karena kemarin Mama menawarkan sebuah syarat kalau aku sampai menikah dengan Om Kai, Mama akan memutuskan untuk berhenti bekerja dan menghabiskan banyak waktu denganku selain itu Papa juga mungkin akan kembali peduli kepadaku," Jelas Rain dengan raut wajah yang menunjukkan sedikit rasa bahagia ketika mengatakannya.
"Tapi bukannya hal itu bagus untukmu ya? Karena memang dari kamu pun menginginkannya?" tanya Kai.
"Ya aku memang sangat menginginkan hal itu tapi bukankah jika menikah dengan Om Kau nanti, aku jadi tidak bisa memiliki Pacar? atau pun meraih mimpiku bahkan kuliah," Jelas Rain yang khawatir dengan statusnya nanti jika memang harus menikah dengan sang Om. Kai mengerti apa yang di khawatirkan oleh gadis itu karena memang hal itu pula yang sedang ia khawatirkan saat ini.
"Soal itu kamu tenang saja, lagi pula kata Papa kita akan menikah diam-diam hingga tidak ada yang tahu selain itu soal Pacar, Mimpi serta Kuliahmu semua masih bisa kau raih Rain," Jelas Kai yang membuat Rain bisa sedikit lega dan mengembangkan senyumannya saat mendengarnya.
"Benarkah itu Om Kai?" tanya Rain yang masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Kai hanya menjawab pertanyaan Rain dengan menganggukkan kepalanya. Rain pun berjoget ria karena merasa senang.
"Lalu soal hubungan Om dan Ibu Agatha, apakah Om masih akan merahasiakannya juga?" tanya Rain ketika mengingat sang om yang belum juga memberitahukan hal tersebut kepada Kekasih Omnya tersebut yang juga wali kelasnya tersebut.
"Aku masih bingung harus memberitahunya atau tidak, hanya saja kau juga harus tutup mulutmu dan jangan bicarakan hal itu dengan Agatha sampai aku mengatakannya," pesan Kai kepada Rain agar gadis itu masih bisa menutup mulutnya rapat-rapat serta tidak mengatakan hal apa pun kepada kekasihnya.
"Siap Bos," seru Rain sambil mengangkat tangannya dan menempelkan ke kepalanya sebagai tanda hormatnya kepada Kai. untung saja suasana hati Rain sedang sangat bahagia hingga ia dapat melakukan hal tersebut.
"Kalau begitu, sekarang turunlah," suruh Kai ketika mereka sudah berada di depan gerbang sekolah Rain. gadis itu pun menurutinya dengan langsung turun dari mobil. seperti biasa setelah menurunkan Rain, Kai memajukan sedikit mobilnya untuk menunggu Agatha. namun saat Kai ingin memberitahu Agatha kalau ia sudah sampai, wanita itu lebih dulu mengetuk kaca jendela mobilnya hingga Kai membuka pintu mobilnya.
"Sayang, aku hanya sebentar menemui mu ya karena ini hari senin, aku harus berada di sekolah sebelum bel masuk," seru Agatha sebelumnya agar Kai tidak kecewa.
"Iya tidak apa-apa, aku juga harus kembali ke Rumah karena ingin beristirahat sebentar sebelum sore nanti kembali ke Rumah sakit," jelas Kai kepada sang Kekasih.
"Ya ampun, kamu pasti merasa sangat lelah ya setelah berjaga semalam," kata Agatha sambil membelai puncak kepala Kai.
"Sebenarnya lelah hanya saja aku melakukan hal ini karena sangat menyayangi Papa walau ia bukan Papa kandungku," seru Kai sambil menyandarkan tubuhnya di jok mobilnya.
"Kai, maaf sekali seperti aku sudah harus kembali ke sekolah karena sepuluh menit lagi bel akan berbunyi, pokoknya setelah ini kamu pulang ke Rumah, makan ya," pesan Agatha sebelum ia pergi meninggalkan Kai.
"Iya enggak apa-apa kok, terima kasih ya," kata Kai sambil menggenggam tangan Agatha. wanita itu pun tersenyum lalu mengecup pipi Kai.
"Aku pergi sekarang ya, Daa.." pamit Agatha yang di jawab anggukan oleh Kai.
"Semangat ngajarnya ya, Sayang," kata Kai dengan sedikit berteriak untuk menyemangati Kekasihnya sebelum ia menutup pintu.
Agatha hanya tersenyum dan melambaikan tangan di ke arah Kai. Kai pun segera menyalakan mesin mobilnya lalu mengendarai mobilnya tersebut untuk kembali ke Rumah.
Sementara itu Rain baru saja masuk ke dalam kelas untuk meletakkan tasnya sebelum ia kembali keluar untuk melanjutkan aktivitas pertamanya di Sekolah dengan upacara.
"Rain, ini enggak salah kamu jam segini tumben udah di Sekolah," kata Tasya yang tak percaya dengan keberadaan sahabatnya yang baru saja tiba di kelas mereka.
"Tau nih biasanya molor sampai upacara selesai baru datang," tambah Lula.
"Seperti biasa aku di antar sama Om Kai makanya jam segini udah sampai Sekolah," jawab Rain yang membuat Lula dan Tasya berbinar saat mendengar nama Kai di sebut oleh Rain karena pasalnya kedua sahabat Rain sangat mengidolakan sosok Kai sejak awal bertemu.
"Apa Om Kai?" seri Tasya dan Lula secara bersamaan dengan nada sedikit meninggi hingga teman-teman sekelas mereka menatap ke arah ketiganya.
"Berisik deh kalian berdua, udah ah aku duluan ke lapangan dari pada semakin di bikin malu," seru Rain yang merasa kesal karena kedua sahabatnya tersebut hampir membuat dirinya malu.
"Rain tunggu kita, dong," seru Tasya dan Lula sambil berlari mengikuti Rain yang sedang menuruni anak tangga untuk segera menuju lapangan.