Bab 9

1001 Words
"Raina, setelah ini Mama dan Papa ingin bicara dengan kamu boleh?" tanya Mama Serly ketika Rain sedang makan malam bersama dengan kedua Orang tuanya. Rain sudah tahu tentang topik apa yang akan di bahas nanti. "Enggak bisa, setelah ini Rain sibuk ingin mengerjakan tugas," jawab tanpa sedikit pun menatap kedua Orang tua dan tetap fokus menikmati makanannya. Mama Serly memberikan kode kepada Papa Angga agar tidak meneruskan obrolan mereka untuk saat ini. setidaknya Mama Serly tidak ingin kejadian tadi siang terulang kembali hingga membuat Rain marah. Papa Angga pun mengangguk tanda setuju dengan permintaan Mama Serly. sekitar beberapa menit kemudian Raina sudah bangkit dari tempat duduknya dan ingin beranjak dari tempatnya saat ini. "Rain.." panggil lirih Mama Serly sambil memegang tangan Rain hingga gadis itu menoleh malas ke arah beliau. "Rain sibuk Ma, banyak tugas sekolah yang harus di kerjakan dan di kumpulkan besok," dusta Rain yang berusaha menghindari obrolan ini. "Ayo Nak, kita bicara sebentar saja ya," bujuk Papa Angga hingga Rain pun akhirnya menyerah untuk berbicara dengan mereka. "Oke," seru Rain sambil membuang nafas lalu berjalan lebih dulu ke Ruang tengah di ikuti oleh kedua Orang tuanya. Mama Serly dan Papa Angga merasa sangat senang kalau Rain sudah ingin mereka ajak bicara. "Pa, pokoknya ingat kita harus sabar menghadapi Raina ya," bisik Mama Serly saat berjalan di belakang Rain. "Pasti Mama dan Papa ingin membicarakan tentang pernikahan Rain dan juga Om Kai kan? atau mau membujuk Rain untuk menerima pernikahan ini?" Tebak Raina sambil menyilang kan kedua tangannya di depan d**a dengan raut wajah cemberut. "Apa yang kamu katakan itu benar sekali Rain kami akan membicarakan pernikahan kamu dengan Om Kai tapi jauh di lubuk hati kami sebenarnya kami tidak setuju dengan adanya pernikahan kalian tapi kamu tahu kan kondisi Kakek saat ini sedang tidak sangat baik," Jelas Papa Angga dengan raut wajah khawatir. "Lalu?" tanya Rain dengan sebuah penekanan dan juga tatapan matanya yang sinis. "Jadi Mama dan Papa, ingin sekali kamu menerima pernikahan ini Nak dengan alasan kesehatan Kakek saja," pinta Mama Serly memohon kepada Rain dengan penuh harap. "Mama dan Papa sadar enggak sih? kalian sudah membuang aku begitu saja lalu sekarang dengan seenaknya meminta aku menikah dengan Om Kai? apa menurut kalian aku ini bukan manusia yang tidak punya perasaan?" tanya Rain yang mengungkapkan perasaan kesalnya kepada kedua orang tuanya. "Soal kesibukan Mama dan Papa selama di luar negri jujur Papa minta maaf sekali Nak, kami tak bermaksud membuang atau pun tidak peduli dengan kamu hanya saja kami pun mencari uang juga demi kebutuhan kamu," jelas Papa Angga yang tidak ingin Rain terus berpikir kalau ia dan Istrinya tidak pernah mempedulikan sang Anak. "Kebutuhan Rain saat ini sampai nanti bukan hanya soal uang Pa, lagi pula selama ini Rain tak sekali pun menyentuh uang yang selalu Papa kirimkan ke rekening Rain karena Rain hanya menggunakan uang dari Kakek," jelas Rain agar orang tua mengetahui apa yang selama ini tidak mereka ketahui. "Rain hanya butuh waktu dan kasih sayang Mama dan Papa yang tidak pernah kalian berikan sampai detik ini," kata Rain yang membuat Papa dan Mamanya kembali terdiam. "Sudahlah Mama dan Papa tidak akan pernah mengerti atau pun mengabulkan permintaan Rain kali ini karena di mata Mama dan Papa hanyalah pekerjaan saja, dan satu lagi kalau Rain tidak akan pernah mau menikah dengan Om Kai," kata Rain sambil bangkit dari tempat duduknya dan ingin meninggalkan kedua orang tuanya. "Rain tunggu.." seru Papa Angga untuk menahan langkah kaki Rain. Gadis itu pun terdiam tanpa membalikkan tubuhnya. "Rain jika memang kamu ingin kembali peduli bahkan Mama berhenti bekerja, Mama akan melakukannya tapi dengan syarat kamu harus menikah dengan Kai paling tidak sampai kondisi Kakek membaik saja, Nak," seru Mama Serly sambil memberikan sebuah persyaratan yang sebenarnya beliau masih ragu lakukan. Tapi hanya dengan cara ini yang mungkin dapat beliau lakukan untuk membujuk Raina. Menurut Raina ini adalah kesempatan baik karena sang Mama bisa berhenti dari pekerjaannya dan berada di rumah menghabiskan banyak waktu dengan dirinya. Tapi gadis itu masih bingung haruskah ia menyetujui perjanjian tersebut. "Apakah kamu menyetujui persyaratan yang Mama berikan Rain?" tanya Papa Angga ketika beliau sudah menoleh ke arah sang Istri untuk memastikan kembali perkataan yang baru saja di lontarkan. "Rain tidak bisa menjawabnya sekarang tapi Rain akan memikirkannya nanti," jawab Rain yang terdengar menggantung. "Tapi kita tak punya banyak waktu, Rain," tambah sang Papa namun Mama Serly menepuk bahu beliau hingga menoleh ke arahnya. "Baik Mama tunggu sampai besok siang ya, Nak," kata Mama sedikit berteriak ketika Rain sudah berjalan menuju kamarnya. "Mama kenapa biarkan Rain? bagaimana kalau besok jawaban Rain adalah tidak? Dan apakah Mama yakin untuk berhenti bekerja?" tanya Papa Angga yang tak percaya sang Istri membiarkan Rain pergi meninggalkan mereka tanpa jawaban yang pasti. Selain itu beliau juga tidak percaya jika Istrinya akan berhenti bekerja hanya untuk membujuk Anak mereka. "Aku hanya membiarkan Rain untuk memikirkan kembali persyaratan yang Mama berikan Pa, lagi pula suka atau tidak kita akan memaksa Rain menikah dengan Kai kalau memang kita tak punya pilihan lainnya, lagi pula Mama memberikan persyaratan itu untuk memancing Rain dan Mama akan memikirkannya kembali nanti setelah keduanya menikah," jelas Mama Serly yang membuat Papa Angga menggelengkan kepalanya di hadapan sang Istri. "Ya terserah Mama deh, asalkan Rain mau menikah dengan Kai karena Papa tak tega melihat Papa dalam keadaan yang seperti itu apa lagi bicara beliau sudah sering menyebutkan tentang umurnya yang tak selalu panjang," kata Papa Angga yang sudah tak tahan mendengar sang Mertua yang selalu mengatakan kalau umurnya tidak akan lama lagi dan ingin segera melihat Rain menikah. "Iya Pa, Mama juga tidak tega tapi semoga saja Rain mau memikirkannya kembali ya," kata Mama Serly yang penuh dengan sebuah pengharapan. "Tapi Adikmu sendiri bagaimana?Apakah ia sendiri sudah setuju dengan pernikahan ini?" tanya Papa Angga yang teringat dengan Kai karena beliau belum mendengar keputusan yang di ambil oleh Adik Iparnya. "Soal itu, aku belum berbicara lagi dengannya mungkin nanti sepulangnya Kai dari Rumah sakit aku akan bicara dengannya," jawab Mama Serly yang di jawab anggukan oleh Papa Angga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD