Kini Raina sudah berada di Rumah sakit bersama dengan Mama, Papa dan jugaKai yang memang sejak kemarin malam belum pulang. kini Rain sedang duduk di sebelah sang Kakek sambil bercerita kepada beliau tentang aktivitasnya kemarin di sekolah.
Sikap Rain sendiri tidak berubah ketika berhadapan dengan sang Mama dan juga Papa walau memang dirinya sempat menyesal. seperti sudah terdapat alarm di dalam dirinya ketika dekat dengan kedua Orang tuanya.
"Kai, Angga dan Serly sini mendekat lah, Ada yang ingin Papa bicarakan dengan kalian semua," seru Kakek Pratama yang membuat ketiga berjalan mendekat ke arah beliau.
"Kalau begitu Rain, keluar sebentar ya jika Kakek ingin berbicara dengan mereka," pamit Rain sambil bangkit dari tempat duduknya karena memang biasanya ketika sedang ada obrolan penting diantara mereka semua ia di suruh pergi.
"Tetaplah di sini Rain karena Kakek juga ingin berbicara dengan dirimu," tahan Kakek Pratama sambil menarik tangan sang cucu hingga Rain kembali duduk.
"Ada apa, Pa?" tanya Mama Serly.
"Jadi Papa ingin sekali melihat Kai menikah dengan Rain," seru Kakek Pratama yang membuat seisi ruangan di sana terkejut saat mendengarnya kecuali Kai yang mendengar kabar itu lebih dahulu. seharusnya ini menjadi kabar baik serta bahagia hanya saja hal ini justru menjadi kabar yang tidak menyenangkan.
"Rain?" Seru Raina, Papa Angga dan Mama Serly tak percaya ketika mendengar nama Rain.
"Tunggu yang di maksud bukan Rain kan? Pasti Kakek salah karena Om Kai.." Rain menatap wajah Kai yang juga sedang kebingungan harus berbuat apa. Rain ragu ingin memberitahukan berita tentang Om-nya tersebut yang sudah memiliki kekasih atau tidak kepada sang Kakek karena memang Agatha sudah memintanya.
"Karena Om Kai kenapa, Rain?" tanya Kakek Pratama.
"Mungkin yang di maksud Rain adalah, Kai ini kan Om-nya Pa jadi kami semua bingung karena ini sama saja dengan pernikahan sedarah bukan?" jelas Papa Angga yang juga tak habis pikir dengan permintaan Papa mertuanya tersebut.
"Kai itu bukan Anak kandung Papa, Angga," seru Kakek Pratama yang membuat mereka semua kembali terkejut.
"Kenapa Kakek melakukan ini kepada Rain? padahal selama ini Kakek tahu betul kalau Rain hanya percaya dengan Kakek yang akan selalu melindungi Rain," seru Rain yang merasa kecewa mendengar keputusan sang Kakek yang tak masuk akal baginya.
"Justru Kakek percaya sekali dengan Om Kai kalau ia dapat menjaga serta melindungi dirimu lebih dari Kakek." seru Kakek Pratama.
"Tetap saja apa yang sudah Kakek lakukan ini jahat, Rain benci sekali dengan Kakek!" sergah Rain dengan air matanya yang tertahan lalu bangkit dari kursinya setelah itu berlari keluar dari kamar rawat sang Kakek.
"Raina.." panggil sang Kakek yang merasa bersalah sekali setelah melihat respon dari sang Cucu. Tapi beliau benar-benar tidak bermaksud merebut kebebasan serta kebahagiaan sang Cucu melainkan hati kecilnya merasa sangat yakin kalau Kai mampu menjaga serta memahami Rain nantinya.
"Kai, tolong kejar Raina." perintah Kakek Pratama yang langsung di turuti oleh Kai untuk mengejar Raina.
"Papa, kenapa Papa membuat keputusan seperti ini?" tanya Mama Serly yang tidak percaya bahwa sang Papa membuat keputusan seperti itu kepada Anaknya
"Ma, tahan emosimu," seru Papa Angga.
"Aku membuat keputusan seperti ini bukan tanpa alasan melainkan ini semua juga karena kalian yang selama ini sudah melupakan serta tidak lagi peduli dengannya lagi," kata Kakek Pratama yang terdengar seperti sebuah teguran untuk Mama Serly dan juga Papa Angga, hati keduanya seakan terasa sesak apa lagi ketika mengingat sikap dingin dari Raina tadi pagi.
"Tapi Papa tahu kan kalau selama ini kami berdua bekerja di sana untuk keperluan Raina," seru Papa Angga yang membela diri di hadapan sang Papa mertua.
"Papa memang tahu kalau kalian di sana bekerja untuk Rain tapi kalian terlalu sibuk hingga kalian tidak lagi memberikan perhatian serta meluangkan waktu untuk Raina bahkan ketika Anak kalian sakit sekali pun," kata Kakek Pratama yang lagi-lagi tak dapat keduanya pungkiri hingga tidak lagi terdengar sebuah pembela.
"Kalian tahu, selama ini Rain merasa sangat kesepian setiap kali teman-temannya membicarakan soal Keluarga mereka yang merayakan liburan bersama tapi apa yang Rain dapat lakukan ketika meminta sedikit waktu dengan kalian saja, kalian malah menolak." Imbuh Kakek Pratama ketika kembali mengingat bagaimana Rain menangis di pangkuannya saat mendengar cerita teman-teman.
"Tapi mengapa harus dengan Kai, Pa? lagi pula Raina masih berusia enam belas tahun dan di Indonesia melakukan pernikahan di umur tersebut tidaklah di perbolehkan oleh negara," seru Mama Serly dengan kembali mengingatkan kepada sang Papa jika batas usia untuk menikah di Indonesia itu minimal dua puluh tahun menurut undang-undang yang sudah berubah dari umur enam belas tahun menjadi sembilan belas tahun.
"Pertama karena Kai adalah orang yang baik, jujur dan kita sudah cukup lama mengenalnya, selain itu Papa yakin hanya Kai yang dapat merubah sikap Rain yang saat ini sudah berubah menjadi Anak yang sudah di atur, dan soal batas usia Rain menikah semua masih bisa di lakukan asal kita bisa membuat alasan kuat untuk tetap menjalankan pernikahan tersebut dan hal itu menjadi urusan kalian berdua," jawab Kakek Pratama yang memang sudah beliau pikirkan baik-baik.
"Tapi Pa, apa tidak sebaiknya kita menikahkan mereka nanti setelah Rain cukup umur untuk menikah seperti tiga tahun lagi mungkin karena akan sangat merepotkan mengurus pernikahan yang bertentangan dengan undang-undang," bujuk Papa Angga yang tidak ingin melakukan hal yang merepotkan tersebut.
"Apa kau dapat menjamin umurku bisa bertahan selama satu tahun bahkan tiga tahun lagi?" tanya Kakek Pratama yang membuat Papa Angga tidak bisa berkelit lagi.
"Oke kalau memang keputusan Papa sudah bulat tapi Serly mau Papa juga menyetujui persyaratan yang Serly buat sebelum pernikahan itu terjadi," kata Mama Serly yang sudah memikirkan sesuatu demi kebaikan Anaknya walau ini kali ini adalah sebuah keputusan terakhir.
"Baiklah katakan apa syaratnya, Serly" seru Kakek Pratama yang ingin mendengar persyaratan Putrinya tersebut.
"Aku ingin pernikahan ini di lakukan secara tertutup maksudku hanya aku, Papa, Suamiku, Kai dan juga Raina yang mengetahuinya karena Raina masih bersekolah saat ini setidaknya berikan privasi untuknya," kata Mama Serly yang di jawab anggukan oleh Kakek Pratama dan juga di setujui oleh Papa Angga ketika Mama Serly menatap mata keduanya secara bergantian.
"Lalu setelah mereka menikah Rain dan Kai harus tidur secara terpisah paling tidak untuk berjaga-jaga sampai Raina berumur sembilan belas tahun karena jika kita membiarkan keduanya dalam satu kamar setelah menikah akan sama saja menjerumuskan Raina," kata Mama Serly yang memberikan persyaratan terakhirnya dan lagi-lagi kali ini persyaratan tersebut di setujui oleh keduanya.
"Ya aku setuju dengan semua persyaratan mu jadi setelah ini kau juga harus mau membujuk Raina dan memberikan pengertian kepadanya, Serly," kata Kakek Pratama.
"Dan untuk Kau, Angga urus semua yang berkaitan dengan pernikahan Kai dan juga Raina sebaik mungkin karena mungkin aku tak akan punya waktu yang lama untuk menyaksikan Kai dan Raina menikah nantinya," perintah Kakek Pratama kepada menantunya tersebut.
"Aku akan melakukan sebaik mungkin asal saat ini Papa kembali fokus dengan kesehatan Papa ya," kata Papa Angga yang tidak ingin terjadi sesuatu kepada Kakek Pratama ketika beliau selalu mengatakan bahwa dirinya yang tidak bisa hidup lama.
Tak lama Suster datang ke Kamar rawat Kakek Pratama untuk memberikan makan siang dan juga obat-obat yang masih harus beliau konsumsi. Mama Serly membantu menyuapkan makanan untuk Kakek Pratama sementara Papa Angga pergi sebentar untuk menyelesaikan pekerjaannya dan mencari tahu bagaimana cara mengurus berkas- berkas untuk pernikahan Putrinya tersebut karena mungkin tak akan mudah.
# # #
"Kenapa Kakek begitu tega melakukan hal itu kepadaku?" tanya Raina sambil terus berlari keluar dari area Rumah sakit sambil menangis. beberapa kali gadis itu menyeka air matanya yang hentinya menetes membasahi pipinya. ia pun tak memperdulikan orang-orang di sekitarnya yang memperhatikan dirinya.
Hati gadis itu sangat sakit hingga menembus relung hatinya yang begitu dalam. Entah kenapa rasanya hari ini diri seperti di dera bertubi-tubi dengan perasaan sakit dari orang-orang di sekitarnya.
"Raina, tunggu.." seru Kai sambil meraih tangan gadis itu ketika mereka sudah berada di area parkir Rumah sakit. gadis itu menoleh ke arah Kai dengan matanya yang sudah sembab dan tatapan tajam.
"Lepaskan tanganku, Om Kai," kata Rain sambil berusaha melepaskan tangannya dari lelaki yang ingin di nikahkan olehnya.
"Oke, tapi jangan pergi dulu karena Kakek sangat mengkhawatirkan dirimu saat ini," seru Kain yang berusaha mengatakannya setenang mungkin agar gadis itu kembali emosi.
"Apa Om sudah tahu hal ini sebelumnya?" tanya Raina ketika gadis itu sudah menenangkan dirinya di depan umum.
"Aku akan menjawab pertanyaan mu tapi tidak di sini karena memang akan sangat riskan jika di dengar oleh orang lain yang mungkin kita kenal, kalau kau tak keberatan ayo ikuti aku," kata Kai yang tidak ingin membicarakan hal ini di tempat umum. selain itu ia ingin Rain tidak salah paham dengan dirinya yang sudah bersikap biasa saja tadi.
"Oke,," jawan Rain singkat lalu gadis itu mengikuti Kai untuk masuk ke dalam mobilnya. sebelumnya ia sempat menelfon sang Papa dan memberitahukan beliau kalau ia akan pulang sebentar ke Rumah bersama Rain.
Kini Kai dan Rain sudah berada di Rumah Kakek Pratama, sebelum Kai memulai obrolan di antara keduanya, lelaki itu meminta Bibi membuatkannya segelas Coklat hangat untuk Rain agar gadis itu bisa merasa sangat tenang. sedangkan untuk dirinya sendiri, ia meminta segelas kopi hitam pahit agar dirinya tetap terjaga.
setelah minuman mereka datang, Kai meminta sang Bibi untuk pergi membeli sesuatu di minimarket yang ada di persimpangan jalan. Kai sengaja melakukan hal itu agar keduanya bisa berbicara lebih leluasa dan juga untuk menjaga privasi mereka walau nanti pada akhirnya beliau akan tahu juga.
"Jadi apakah kit bisa mulai obrolan ini?" jawab Raina yang sudah tidak sabar ingin membicarakan hal tersebut.
"Pertama apa yang ingin kau ketahui?" tanya Kai.
"Aku ingin tahu apakah Om Kai sudah tahu lama soal permintaan Kakek tentang pernikahan itu? karena tadi aku lihat Om Kai tampak santai saja," seru Rain yang seperti dugaannya akan mengatakan hal tersebut pada dirinya. tapi Andai gadis itu tahu di dalam hati Kai malah tidak tampak santai, sejak kemari hati dan pikirannya terus saja saling beradu.
"Aku baru mengetahui hal ini sejak Papa masuk ke Rumah sakit dan jujur saja responku sama seperti kalian hingga detik ini aku sendiri merasa sudah setengah gila," jelas Kai.
"Lalu kenapa Om tidak menolak saja dan bilang kalau kau sudah memiliki kekasih yang sudah satu visi dan misi untuk menjalani masa depan kalian?" Tanya Rain lagi.
"Tidak semudah itu Rain, aku sendiri tidak tahu masih punya hal untuk menolak atau tidak karena selama ini beliau sudah merawat dan membesarkan ku dengan baik, Selain itu aku sendiri tak bisa memberitahukan soal Agatha kepada Papa karena aku sendiri belum memberitahukan hal ini kepada Agatha," jelas Kai yang membuat Rain bingung mengapa sosok Kai sangatlah penurut sekali hingga terlihat sangat lemah baginya dalam mengambil keputusan sepenting ini.
"Jadi dengan kata lain Om Kai setuju dengan pernikahan ini?" tanya Rain yang di jawab Kai dengan mengangkat kedua tangannya.
"Apa itu artinya?" tanya Rain yang ingin mendapatkan kejelasan di dalam jawaban yang di berikan Kai.
"Ya menurut kamu maksud jawaban aku apa?" tanya Kai balik yang membuat Rain merasa kesal dengan apa yang di lakukan oleh laki-laki itu karena memang terkesan terlalu menggantung tidak ada kejelasan.
"Tapi kalau misalnya ya, ini misalnya loh kita di paksa menikah dengan alasan kesehatan Papa apa kamu mau?" Kai memberikan pertanyaan yang sama kepada Rain. Dan Rain pun menjawab dengan cara yang sama dengan Kai tadi hingga ia yang kini merasa kesal.
"Kami tuh pandai ya meniru orang lain," gerutu Kai yang membuat Rain tertawa puas karena bisa membuat Om-nya kesal.
"Sekarang Om merasakan apa yang Rain rasakan tadi?" tanya Rain dengan nada meledek hingga membuat Kai kembali kesal namun kali ini ia bersikap setenang mungkin agar tidak kalah lagi dengan Rain.
"Tapi bagaimana kalau kita buat perjanjian saja?" ajak Kai.
"Perjanjian apa, Om?" tanya Raina penasaran.
"Jadi jika memang benar-benar kita di paksa menikah dengan alasan kesehatan Papa, mungkin sebaiknya kita setuju saja tapi jika keadaan Papa sudah membaik barulah kita bercerai," seru Kai yang membuat bola mata Rain membulat dengan sempurna. gadis itu tak percaya jika Kai bisa berpikir seperri itu.
"Sorry-Sorry ya Om, daripada menerima pernikahan ini lebih baik aku kabur saja lagi pula jika lelaki di dunia ini hanya kamu, aku lebih memilih menikah dengan kambing saja," kata Rain sambil bangkit dari tempat duduknya lalu meninggalkan Kai sendiri.
"Apa kambing? seenaknya aja tuh bocah kalau bicara kalau memang dia nikah sama kambing aku kasih hadiah rumput setruk!" gerutu Kai yang merasa kesal mendengar ucapan Raina barusan.
"Tapi kenapa aku bisa berpikir seperti itu ya? tapi sudahlah dia mungkin memang memiliki cara sendiri untuk menghindari pernikahan itu," kata Kai yang tidak percaya dirinya bisa berpikir seperti itu.