Bab 7

2036 Words
Pukul tujuh lewat lima belas menit seorang lelaki yang sudah berpakaian rapi tengah menunggu kedatangan seorang gadis yang tak lain adalah keponakannya dan mungkin saja akan menjadi Istrinya kelak. Berkali-kali lelaki itu berusaha menghubungi Rain namun sepertinya ponselnya di matikan dengan sengaja. "Bagaimana aku akan pergi ke Rumah sakit untuk menjaga Papa kalau anak itu belum pulang,." Gumam lelaki itu karena merasa sangat khawatir dengan keberadaan sang Papa yang saat ini sedang berada di Rumah sakit sendirian. Tak lama ponsel miliknya berdering namun panggilan tersebut bukan dari seseorang yang sedang ia tunggu. tapi setidaknya panggilan itu berasal dari sang kekasih yang dapat membuat dirinya bahagia. "Halo Sayang," sapa manja Agatha yang berada jauh di sana. "Halo Sayang, ada apa kamu menghubungiku?" "Tidak ada apa-apa hanya saja aku merindukan dirimu dan ingin bertemu denganmu sekarang, apakah kau sibuk?" Jawab Agatha yang sebenarnya juga di inginkan oleh Kai hanya saja saat ini fokusnya sedang tertuju kepada sang Papa. "Maafkan aku Sayang, hanya saja saat ini aku akan pergi ke Rumah sakit setelah menunggu Rain pulang ke Rumah tapi aku janji besok pagi akan menemui mu di Sekolah," jawab Kai yang membuat Agatha tidak merasa heran atau pun khawatir dengan keberadaan Rain yang sampai saat ini belum berada di Rumah karena kekasihnya selalu menceritakan tentang kondisi Rain saat di luar sekolah kepadanya. "Tapi bagaimana kalau aku ikut kamu menjenguk Papa kamu ya? sekalian kamu kenalkan aku kepada Papa kamu," pinta Agatha manja karena selama ini Kai belum pernah sama sekali mengenalkan kekasihnya tersebut di hadapan siapa pun termasuk sang Papa. "Maafkan aku Agatha, bukannya aku tidak ingin mengenalkan kamu kepada Papa hanya saja saat ini waktunya belum tepat dan kondisi Papa masih belum stabil, aku harap kamu mau mengerti tentang hal ini ya," jelas Kai yang berharap kekasihnya tersebut mau kembali memberi pengertian tentang hubungan mereka. Agatha dan Kai sudah berpacaran sekitar satu setengah tahun, selama itu mereka sepakat untuk menyembunyikan status hubungan mereka tanpa siapa pun yang mengetahuinya. mereka melakukan hal tersebut karena saat itu Kai sedang dalam pengawasan Kakek Pratama untuk fokus menyelesaikan kuliahnya di luar negeri. Selain itu Agatha yang berstatus seorang guru terutama wali kelas dari Rain tak ingin di cap sebagai guru yang tidak adil dalam mendidik siswa-siswinya ketika hubungannya di ketahui. namun sekitar lima bulan yang lalu Rain mengetahui hubungan keduanya karena secara tidak sengaja gadis itu melihat keduanya tanpa mesra di hotel tempat Kai menginap tapi gadis itu tak ingin mencampuri urusan keduanya apa lagi memberitahukannya kepada Kakek dan juga kedua orang tuanya. namun selama itu Agatha selalu merasakan pil pahit ketika menjalani hubungan tersebut seperti pacaran jarak jauh, sampai sempat di bilang kalau dirinya hanya berhalusinasi telah mempunyai pacar, dan masih banyak lainnya termasuk tidak di kenalkan kepada Keluarga Kai. "Baiklah, kali ini aku sangat mengerti lagi pula sebentar lagi Rain juga akan lulus dan setelah itu kamu pasti akan mengenalkan aku kepada seluruh anggota Keluargamu lalu kita menikah kan?" tanya Agatha yang kembali mengingatkan rencana masa depan mereka kepada Kai. Sedangkan Kai di sana tampak sibuk sedang memperhatikan Rain yang baru saja pulang dengan pemuda lain dan tampak bahagia sekali. "Maaf Sayang, aku harus mengurus Rain dahulu, mungkin nanti aku akan menghubungi kamu lagi." Kai menutup panggilan telefon tersebut tanpa menunggu respon dari Agatha. lelaki itu sedang bersiap menyambut Rain dari balik pintu. kali ini Rain sudah membohonginya berkali-kali dengan mengatakan akan mengerjakan tugas kelompok di Rumah temannya tapi gadis itu malah menghilang entah kemana. hal itu Kai ketahui saat dirinya menghubungi langsung ke rumah Lula dan juga Tasya untuk memastikan kembali. "Karena apa, Om?" tanya Rain ketika mereka memulai perdebatan tersebut. "Lupakan saja, sekarang mana tugas yang kamu kerjakan hari ini?" tanya Kai yang membuat Rain kini merasa gugup hingga keringat dinginnya mulai bercucuran. Gadis itu tampak merasa kebingungan harus memberikan tugas yang mana sebagai alasannya berbohong hari ini. "Mana Rain, cepat berikan padaku." Kai menyodorkan tangannya di hadapan Rain, lelaki itu berharap kalau gadis tersebut mengakui kebohongannya. "Tugas itu tertinggal di Rumah.." "Kamu ini sudah terbiasa berbohong ya, Rain?" potong Kai yang gemas sekali dengan Rain yang akan memberikan alasan palsu kepadanya. "Maksud, Om?" tanya Rain bingung. "Hari kamu berbohong dengan meminta izin mengerjakan tugas sekolah tapi di kalian sedang di tempat lain kan?" ucap Kai dengan tatapan sinis yang membuat nyali Rain ciut karena memang ia sadar sudah melakukan kesalahan. "Oke, aku mengakui kalau aku sudah berbohong hari ini tapi itu karena jika aku berusaha jujur mengatakan ingin pergi menonton pertandingan bola pasti Om tidak akan mengizinkan," kata Rain yang berusaha untuk sejujur mungkin di hadapan Kai. "Bagus Rain, kami lebih memilih menonton pertandingan bola daripada menemani Kakek yang sedang berad di Rumah sakit," Perkataan Kai barusan seperti menusuk relung hati Rain yang baru teringat dengan kondisi sang Kakek. "Sekarang lebih baik kamu masuk ke kamarmu lalu makan malam dan juga kerjakan tugas sekolahmu setelah itu renungkan semua kesalahan yang sudah kau perbuat," perintah Kai ketika ia tahu kalau Rain mulai menyadari kesalahannya. "Tapi Om, Rain ingin bertemu dengan Kakek dan juga besok Rain libur sekolah jadi boleh ya Rain ikut Om ke Rumah sakit," rengek Rain dengan penuh harap. "Tidak boleh, lebih baik kau ikuti apa yang sudah aku perintahkan barusan, anggap saja itu sebagai hukuman untukmu," kata Kai tegas yang membuat Rain merasa kesal karena lelaki itu sudah mulai sok berkuasa di Rumah. Rain pun menatap sinis ke arah Kai lalu meninggalkan lelaki itu. "Bi.. Bibi.." panggil Kai dengan nada sedikit berteriak hingga Bibi Ijah berlari ke arahnya. "Ya Mas Kai, ada yang bisa Bibi bantu?" tanya beliau sambil sedikit menunduk. "Saya akan berangkat ke Rumah sakit sekarang dan Rain sudah berada di kamarnya jadi tolong pastikan ia makan malam dan juga tidak pergi kemana-mana ya," pesan Kai sebelum dirinya pergi yang di jawab anggukan oleh sang Bibi. setelah mendapat respon dari Bibi Ijah, Kai pun berjalan keluar rumahnya untuk segera pergi ke Rumah sakit. jujur saja berdebat dengan Rain adalah hal yang melelahkan karena banyak tenaga yang terkuras pantas saja Papa angkatnya tersebut memilih untuk menuruti Rain ketimbang memarahinya. * * * Rain yang berada di dalam kamarnya merasa sangat kesal dengan sikap sang Om yang sangat menyebalkan dan juga otoriter. Gadis itu sadar telah melupakan Kakeknya yang sedang di rawat di Rumah sakit saat ini hanya saja bukan seperti ini seharusnya dirinya di hukum. "Non Raina.." panggil sang Bibi sambil mengetuk pintu kamar Rain yang membuatnya bangkit dari tempat tidur lalu bangkit membuka pintu kamarnya. "Ada apa, Bi?" tanya Rain dengan tatapan wajah lesu. "Non Raina mau makan sekarang atau nanti?" tanya Bibi Ijah. "Tidak usah Bi, Rain sudah makan di luar tadi kalau boleh Rain minta di buatkan Coklat hangat saja ya setelah itu Bibi Ijah bisa beristirahat," kata Raina yang ingin menenangkan suasana hatinya dengan segelas Coklat hangat karena malam ini ia akan segera tidur setelah mengerjakan tugas sekolahnya. Ya malam ini Rain memutuskan untuk menuruti hukuman yang di berikan oleh Om Kai karena ia sudah tidak ingin berdebat lagi nantinya. "Baik Non, akan Bibi buatkan sebentar ya," kata Bibi Ijah sambil melangkah pergi. "Bibi, tunggu.." panggil Rain yang ingin memastikan. "Ada apa, Non?" tanya beliau yang sudah berbalik dan mendekati Raina lagi. "Om Kai sudah pergi?" tanya Rain. "Sudah Non tapi kalau boleh Bibi tahu, Non Raina tidaka akan pergi kemana-mana kan?" tanya sang Bibi yang tiba-tiba saja merasa khawatir ketika Raina menayangkan hal tersebut kepadanya. "Tidak kok, Bibi Ijah tenang saja ya karena hari ini setelah mandi aku hanya akan mengerjakan tugas lalu tidur tapi kalau Bibi tidak percaya bisa cek saja nanti ke Kamar," jawab Raina yang membuat Bibi Ijah merasa lega saat mendengarnya. "Ah tidak, Bibi percaya kok sama Non Raina," jawab beliau yang merasa sungkan setelah mendengarkan jawaban dari Raina. "Ya sudah kalau begitu Raina masuk ke dalam untuk segera mandi nanti jika Bibi sudah membuatkan Coklat hanya untukku letakkan saja di meja ya," pamit Rain sambil memberikan pesan untuk sang Bibi. "Oh ya Non, besok kata Mas Kai, Papa dan Mama Non Raina akan pulang ke Rumah," kata sang Bibi sebelum gadis itu menutup pintu kamarnya. "Oh ya? tapi mungkin kepulangan mereka kali ini hanya untuk menemui Kakek yang sedang sakit bukan untuk menemui Raina, Bi," jawab Gadis itu yang terdengar lesu dan putus asa. "Bibi tidak tahu alasan yang sebenarnya Non tapi Non Raina jangan sedih ya mungkin saja Tuan dan Nyonya akan menemui Non Raina juga," kata sang Bibi yang mengerti serta memahami kesedihan yang Raina rasakan karena memang beliau sudah mengetahui banyak hal tentang Keluarga ini. "Ah tenang saja Bi, Raina tidak akan merasa sedih jika mereka tidak mengingat diriku sekali pun karena Rain memiliki Bibi Ijah di sini." Raina memeluk Bibi Ijah yang juga di balas hangat oleh beliau. bagi gadis itu orang tua sesungguhnya untuk dirinya adalah Bibi Ijah dan juga Kakek Pratama karena keduanya lah yang selalu ada untuk dirinya. Sejak kedua orang tuanya sibuk bekerja di luar negeri, keduanya seakan melupakan bahkan tidak lagi peduli dengan Raina hingga gadis itu pun memutuskan untuk bersikap tidak peduli kepada keduanya. walau terkadang ia merasa sangat iri dengan teman-temanya yang masih di perhatikan oleh kedua Orang tuanya. * * * Tepat pukul delapan Raina sudah bangun dari tidurnya dan memutuskan untuk sarapan. namun baru saja keluar dari kamarnya, ia sudah melihat sang Mama sedang sibuk di depan meja makan tak seperti biasanya jika kembali ke Rumah ini. "Raina, kamu sudah bangun Sayang?" sapa sang Mama ketika melihat Putrinya sudah keluar dari kamarnya dan sedang berjalan mendekat ke arah meja makan. Gadis itu tak merespon sama sekali pertanyaan sang Mama. "Mau sarapan apa Nak? roti atau nasi goreng?" tanya beliau lagi yang berusaha memberikan perhatian kepada Anaknya. "Apa saja yang penting bisa membuatku kenyang," jawab Raina dengan sikap dinginnya. "Baiklah Mama ambilkan ya," seru beliau lagi kali ini sambil tersenyum. Beliau seakan memaklumi sikap dingin yang Rain tunjukkan kepadanya karena memang beliau juga tak bisa menuntut hal apa pun. "Ini Sayang, jangan lupa di habiskan ya." Beliau pun meletakkan sepiring nasi goreng di hadapan Raina. "Oh ya Rain, sehabis sarapan Kakek meminta kita untuk segera ke Rumah sakit," seru beliau lagi yang berusaha menyampaikan pesan sang Papa kepada Anaknya. "Ya.." sesingkat itu jawaban yang Raina bisa berikan. sebenarnya Rain ingin sekali langsung pergi dari meja makan tersebut hanya saja kondisi perutnya saat ini sangatlah penting untuk di isi. "Rain, maafkan Papa dan Mama ya," seru beliau sambil berusaha meraih tangan kiri sang Anak tapi Rain menariknya menjauh seakan tak ingin di sentuh. jujur saja hal itu membuat hati beliau terasa sakit dan sesak namun apa yang harus ia perbuat saat ini? "Mama tahu kamu sangat marah dengan Mama dan Papa tapi kami di sana bekerja un..." ucapan beliau terhenti saat Rain meletakkan sendok di atas piring dan bangkit dari kursinya saat ini. "Rain, kamu mau ke mana?" tanya beliau yang panik melihat perubahan sikap Putrinya yang tenang menjadi dingin. "Seharusnya Mama bisa biarkan aku sarapan dengan tenang tanpa harus mengatakan hal apa pun yang membuat diriku semakin malas untuk sarapan," jelas Raina yang tak ingin mendengar hal apa pun walau itu sebatas kata permintaan maaf dari beliau. sejak tadi Gadis itu berusaha sebisa mungkin menahan rasa marahnya agar tidak menyakiti perasaan sang Mama jika mulutnya sudah terbuka untuk menyampaikan apa yang di rasakan olehnya selama ini. "Oke Mama minta maaf ya Sayang tapi Mama mohon lanjutkan sarapan mu ya," pinta beliau dengan nada suara memohon kepada Raina. "Mama akan pergi jika memang kamu mau melanjutkan sarapan mu ya, Nak." beliau memilih bangkit dari tempat duduknya agar Putrinya bisa melanjutkan sarapannya. selain itu beliau ingin segera masuk ke dalam kamarnya untuk menumpahkan perasaan sedihnya yang sedang ia tahan saat ini. Raina menjatuhkan dirinya di atas kursi dengan air mata yang mengalir saat melihat beliau pergi demi dirinya. gadis itu merasa sangat bersalah serta menyesal telah bersikap demikian terhadap sang Mama. "Maafin Rain ya Ma, bukan maksud Rain bersikap seperti itu hanya saja..." Raina kembali meneteskan air matanya ketika semua hal yang begitu terasa sakit ketika sang Mama dan Papanya yang tak pernah peduli dengan dirinya. ya rasa marah, kesal, kecewa yang ia rasakan tak mampu mengendalikan sikapnya ketika berada tepat di hadapan kedua orang tuanya. ia sadar apa pun yang dirinya lakukan kepada kedua orang tuanya tidaklah baik walau dengan alasan apa pun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD