"Gilaaaa di luar hujannya deres banget." Resti—salah satu teman akrab sekaligus mantan rekan kerja Meta di WT Organizer—begitu saja menghambur, menghampiri Meta di dalam lobby gedung yang akan menjadi saksi perhelatan sebuah konser musik dengan kondisi tubuh yang lumayan kuyup.
"Naik apa sih Res kok basah gitu?" Meta yang malam ini tampak ribet menggenggam FRS di tangan kirinya, gulungan kertas di tangan sebelahnya juga beberapa paper bag—yang entah apa isinya—pada area lengan kecilnya, tanggap mendekati kawannya yang telah rela datang jauh-jauh dari Jakarta sana, demi mendampingi Meta pada event pertama di mana wanita itu akhirnya berhasil mendapat kerpercayaan guna mengemban peran sebagai Production Manager.
"Mobil sih cuman parkiran penuh jadinya parkir di luar terus lupa bawa payung. So, ujungnya lari-lari sambil hujan-hujanan deh," jawab Resti sambil mengibas-ngibaskan rambut panjangnya yang terkena tumpahan air langit, juga sesekali ia pun kembali teringat akan kondisi pelataran di luar gedung yang telah cukup sesak oleh para calon penonton yang tetap bersemangat hadir meski cuaca malam ini tergolong sangat tak kondusif.
"Eh, stage-nya jadinya kok di luar, Me? Hujan gini terus kondisinya gimana dong?" lanjut Resti bertanya bersama nada bicara yang terdengar agak waswas.
"Klien mintanya begitu," respons Meta. "Dan barusan aku udah komunikasi sama bagian Venue Coordinator khususnya Tim Stage-nya sih katanya, nggak ada masalah."
Resti lantas mengangguk paham. "Udah rehearsal?"
"Di stage sih belum. Tapi, kalau emang waktunya mepet ya paling langsung tampil tanpa rehearsal."
Resti yang datang dengan gaya santai lengkap bersama jeans robek-robek andalannya itu pun menghela napas cukup panjang.
"Tumben-tumbenan juga sih nih hujan nggak berhenti-berhenti. Udah dari siang padahal," gerutunya tak seberapa lama, benar-benar merasa tak puas akan cuaca yang berlangsung di hari ketika event pertama yang Meta tangani tersebut hendak diselenggarakan.
Meta sendiri berusaha teramat keras untuk tak terserang gelisah ataupun khawatir berlebihan. Wanita itu bersama Timnya sudah mempersiapkan segalanya sebaik yang mereka sanggup dan semoga saja hasilnya kelak tidak akan berkhianat.
Belum sempat dua sahabat itu kembali terlibat dalam sebabak sesi obrolan. Seberkas suara yang begitu pecah nan bising spontan menyeruak, membobol pertahanan indra pendengaran keduanya dengan telak.
"GAESSSSSS?!" Adalah Wulandari yang selalunya menjadi tersangka utama dari munculnya sebentuk tindak keriuhan.
Tampak tergopoh-gopoh berlari sehingga mantel kuning yang dikenakannya terlihat mengembang macam parasut. Menit berselang, makhluk heboh itu telah sukses menempatkan dirinya tepat di hadapan muka Meta dan Resti—dua kawan baiknya.
"Ya ampun, Lannn! Bilangnya, nggak jadi datang," sambut Meta ceria, segaris senyum kecil samar menghiasi bibirnya.
Meloloskan mantel berwarna mentereng dari tubuh mungilnya, Wulan lalu berkata menggebu, "Eiy, Non! Aa gue jauh-jauh datang dari luar negeri buat ngadain konser masa gue nggak nonton? Yang bener saja. Bisa jadi jodoh yang dilaknat gue kalau sampai setega itu ke doi. Demi Aa, hujan-badai, halilintar-petir doang mah nggak akan bisa menghalangi gue."
Kompak menggeleng-gelengkan kepala geli bersama Meta, Resti ambil bagian guna menanggapi, "Lebay ah lo mah."
"Baru tahu, Jeng kalau orang yang lagi jatuh cinta tuh doyannya lebay?" balas Wulan yang kontan memancing dengusan jua munculnya sebentuk perputaran bola mata bosan dari sisi Meta maupun Resti.
Serta yah, Wulandari Salim usianya boleh hanya terpaut lebih muda satu tahun dari Meta jua dua tahun dari Resti. Namun jujur saja hobinya masih sangatlah bocah. Wulan betul-betul ibarat remaja baru puber. Wanita itu terlampau getol menekuni kegiatan fangirling dan berkhayal. Oleh sebab tingkahnya yang seperti itu, terkadang Wulan beserta seribu satu fantasinya justru sanggup menjelma sebagai hiburan tersendiri bagi Meta ataupun Resti.
"Eh, Me, Jevas apa kabarnya?" Resti yang tiba-tiba memutar topik bahasan serta merta mengejutkan Meta. Terlebih tatkala ia mengangkat seorang Jevas Prambada si pria menyebalkan level dua dalam sejarah hidup Meta sebagai tema utamanya.
Menautkan dua sisi alisnya dengan kentara demi memajang ekspresi kebingungan jua tak suka. Meta kemudian membalas, "Nggak salah nanya kabar Jevas ke aku? Aku, kan bukan istrinya."
"Ooh iya." Resti menampar dahinya sendiri dengan teramat berlebihan sebelum mengimbuhkan, "habis suami lo kadar sambelnya sebelas-dua belas sih sama si Jevas jadinya ketuker, kan."
"Resti ihhhh mencolok banget ngehatersnya," komentar Wulan yang telah hapal di luar kepala bahwa temannya, Aresti Ariana memang benar-benar sinis juga skeptis terhadap segala hal yang mengandung unsur berbau Norega Altriano Prakosatama.
"Belum pernah kejebak dendam sih lo sama si Rega. Dan serius, Me. Gue masih berat loh ngerestuin lo jodohan sama dia. Lo tuh terlalu polos buat Rega," ujar Resti untuk yang ke—mungkin ratusan kalinya—Meta pribadi tak begitu ingat.
Sesungguhnya, alasan di balik kebencian Resti terhadap Rega, Meta sendiri tak betul-betul yakin. Setahunya, sejak ia bekerja di WT Organizer dulu, jika ada Rega singgah maka, secara otomatis emosi Resti bakal langsung bergejolak. Wanita ramah itu akan berubah jadi sensi dengan tiba-tiba. Dan sekali lagi, Meta tidak persis tahu apa gerangan yang menjadi latar belakang mendarah dagingnya permusuhan tersebut.
Oke, mungkin sekali-dua kali Resti dan Rega memang kerap tertangkap mata berselisih pandangan di area WT Organizer, mereka sering adu mulut—berargumen tentang warna cat dinding WT, bentuk meja kerja para karyawan dan persoalan remeh-temeh lainnya. Namun, entahlah. Apa memang akibat perihal tersebut atau justru ada alasan lain yang menjadi akar dari perseteruan keduanya.
"By the way, si Mas Rega udah balik belum Me dari Paris?" Kini giliran Wulan yang terdengar angkat bicara guna bertanya.
Meta lantas mengangguk singkat, menjawab rasa ingin tahu salah satu kawan karibnya itu.
"Kemarin, Jumat malam. Ah, iya ... buat kalian," tutur Meta sambil mengangsurkan dua buah paper bag yang sedari tadi ia bawa-bawa ke hadapan Wulan juga Resti.
Menerima pemberian Meta tersebut, dua wanita itu pun dengan sigap melongokan pandangan demi mengintip apa kira-kira isi dari wadah yang suami sahabatnya tersebut boyong dari kunjungannya ke Prancis sana.
Serempak saling bertukar lirikan, segaris senyum miring otomatis terlukis baik di bibir Wulan atupun Resti.
"Tumben nih oleh-olehnya bener dan layak. Bisanya kalau kecipratan buah tangan si Rega yang dari luar negeri, rasanya gue pengen nangis sambil ngais-ngais tanah," ulas Resti begitu blak-blakan minus dengan nada bercanda.
Akan tetapi, Meta yang telah lumayan hapal mengenai tabiat wanita itu pun memutuskan untuk tak terlalu menanggapi omongan Resti secara serius. Sebab, Resti ya Resti di mana selalu ada saja celah baginya guna meremehkan musuhnya, Norega.
"But, thanks, Me," sambung Resti tak seberapa lama. Dan yah, Aresti Ariana adalah teman yang teramat menghargai Meta. Jadi, seberapa pun kadar kemuakan yang wanita itu kantongi terhadap Norega, arti Meta baginya tetap tak akan tergoyahkan; mereka teman baik.
"Terus, terus Mas Rega ngomong nggak Me kenapa dia pulangnya bisa super duper ngaret gitu?" tanya Wulan yang lagi lagi berinisiatif memperluas perbincangan mereka.
Mengedikan bahunya ringan, Meta kemudian menjawab bersama lafal yang terdengar sangat biasa-biasa saja, "Teman kuliahnya di ESMOD dulu ada yang nikah katanya."
"Dan lo percaya?" sambar Resti terheran-heran.
Kembali Meta mengangkat area pundaknya pelan sebagai simbol respons.
"Ya Allah, Metaaaa teman gue." Resti berseru tak puas, terbukti dengan munculnya beberapa penekanan dalam setiap suku katanya. "Jadi perempuan tuh jangan polos-polos b**o, bisa?"
"Maksudnya?"
Resti mendengus keras.
Sambil mengurut pelipisnya wanita jangkung itu berujar tegas, "Okelah, anggap si Rega itu temannya bener ada yang kawin. Okelah di perjalanan pulang dia di pesawat seharian. Terus sisa hari yang lainnya dia pake buat apa?"
"Rest—"
"Me, yang lo hadapi saat ini bukan Gusta." Resti mengambil jeda sejenak demi mengamati raut wajah Meta yang mulai berubah.
Dan tentu saja sulit bagi Meta untuk tak terpengaruh. Karena, baru saja telinganya dengan teramat jernih kembali mendengar sebaris nama milik pria yang sempat sangat dicintainya.
Membuang karbon dioksida lirih melalui celah mulutnya, Resti melanjutkan, "Kalau itu Gusta meskipun dia dilepas di lautan penuh wanita berbikini atau wanita-wanita super canggih. Jelas, di mata, pikiran juga hatinya hanya ada diri lo seorang. Me, pria yang lagi lo hadapi saat ini adalah Norega. Yang jika dia udah keluar dari rumah, maka barjajar deh tuh barisan para mantan pacar, gebetan dan kecengannya."
"Kok lo tahu banget, Res?" tanggap Wulan penasaran.
"Iyalah! Secara Diandra, kan teman sekampusnya si Rega waktu mereka sama-sama ambil jurusan Fashion Business di ESMOD Jakarta," sahut Resti.
"Wait! Diandra? You mean Diandra Kakak lo? Kok gue baru tahu. Dan seriusan? Seorang Diandra yang kayaknya tipikalnya Mas Rega banget cuman sebatas teman satu kampusnya doang? Kalau dilihat dari cara lo ngehaters Prakosatama sulung itu sih pasti ada cerita yang lebih dari sekadar teman, kan?" Entah Wulan menyadarinya atau tidak bahwa seluruh kalimatnya tersebut mampu didengar pula oleh istri dari pria yang tengah mereka perbincangkan.
Namun, dari pihak Meta sendiri, wanita itu tampak tak banyak bereaksi. Tidak tahu apa yang sedang Meta pikirkan sesungguhnya, tapi dia terlihat sangat tenang.
"Sebodo amat lah sama riwayat hidup mereka. But serius, Me. Lo nggak harus curiga sih tapi, dari pengalaman kita selama ini ngurusin pernikahan orang. Satu hal yang gue catat, kalau waspada juga nggak ada salahnya.
"Karena ketika satu pasangan menikah, itu bukanlah akhir dari titik perjuangan mereka. Gue nggak bilang kalau si Rega itu sebuah kesalahan. Tapi, bersama dia hidup kalian berdua baru saja dimulai. Kalian harus bisa bertahan di perhu yang sama buat satu tahun ini, satu tahun berikutnya, juga untuk seterusnya. Dan untuk mencapai semuanya itu lo harus hati-hati, yah?"
Selama mengenal Resti di hidupnya, yang Meta tahu adalah wanita itu, temannya jauh di lubuk hati terdalamnya memang begitu peduli dan mengasihi Meta. Aresti Ariana selalu mempunyai caranya sendiri untuk membuat persahabatan mereka menjadi berasa nano nano.
Meta kontan tersenyum lebar sambil mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali demi menyanggupi anjuran Resti.
Mendapati atmosfer di sekeliling ketiganya yang lamat-lamat kembali terkontrol. Wulan kemudian berkata, "Ngomongin soal pernikahan. Bukannya dua minggu lagi lo sama Mas Rega anniv yang pertama, kan, Me?"
Meta yang sejauh ini berupaya keras untuk melupakan mengenai satu fakta tersebut pun refleks menghela napasnya super panjang.
Anniversary yah?
"Yang nagih-nagih soal anak pasti bakalan makin banter deh. Lo ada rencana buat ngegoalin program yang kita obrolin di grup chatting tempo hari itu?" tanya Wulan lagi.
Jika Meta tak salah ingat maka, beberapa waktu lalu kepada Resti dan Wulan dia pernah menyinggung mengenai suatu program di mana ia dan Rega paling lambat harus memiliki anak dua tahun dari sekarang. Namun, rencana tersebut belumlah final serta dengan apa yang terjadi satu tahun belakangan, entah mengapa Meta jadi terserang deru takut dan ragu.
Oleh karenanya, Meta membalas lesu, "Nggak tahu ah, Lan. Aku bingung terus rada-rada ... takut juga."
"Nih, Me dengerin." Resti yang untuk ke sekian kalinya on fire, kini mencoba menarik atensi Meta supaya memerhatikannya secara penuh.
"Saran gue, jangan pernah coba-coba lo ngasih Rega 'itu' di saat sekarang ini kondisinya kalian belum saling cinta. Walau iya alasan yang mendorong kalian buat cepat-cepat punya keturunan makin banyak."
"Why, Res?" sela Wulan.
Sementara Meta hanya terdiam seribu bahasa bersama pendengaran yang kian menajam.
"Karena dari apa yang gue lihat pada keadaan Nyokap dan Bokap gue. Memiliki keturunan tanpa cinta di dalamnya itu berat," ujar Resti lirih namun tegas.
Dan Meta pun serta merta terhenyak.
Resti benar. Tanpa cinta, terang memang tak akan pernah ada yang bakal lengkap.
"Udah udah udah ahhh. Stop ngobrolin yang serius-serius macam begini di depan jomblo deh. Nyesek nih gue tiap menitnya," halau Wulan memblokade aktivitas merumpi mereka yang terancam menyeberang ke jalur tema yang terlampau berat.
"Oh iya, Me? Kalau cuacanya gini mulu lalu apa kabar sama konsernya? Gue udah bela-belain pulang cepat dari kantor loh ini. Jangan sampe deh gue gagal denger Aa gue nyanyi merdu dan cuap-cuap mesra di atas panggung sana," cerocos Wulan tanpa memedulikan sekilat apa ia berbicara dan sepusing apa mereka-mereka yang mendengarkannya.
"Eh, kamu ... Minggu kerja, Lan?" ujar Meta merasa heran sebab setahunya Wulan bekerja di perusahaan yang menerapkan jam kerja selama enam hari dalam seminggu.
"Kayak lo nggak tahu Bos s***p gue saja sih, Me. Kalau suara sok anget-anget t*i ayamnya itu udah ngecalling. Mau gue lagi asyik ngiler juga gue mesti berangkatlah buat ngasuh baby rewelnya itu," terang Wulan merasa muak sendiri sebab dianugerahi atasan yang super merungsingkan.
"Yaelah, sebenarnya lo ini Sekretaris apa Babunya si Awi sih? Mau-maunya lo ngasuh-ngasuh buntutnya, istri saja bukan," komentar Resti antara iba jua tak habis pikir.
"Tahulah! Kadang gue suka nyesel sih karena asal-asalan waktu dulu apply kerjaan. Dan di satu titik gue jadi sering bener-bener rindu kerja di WT," ucap Wulan yang memang telah mengambil langkah untuk meninggalkan WT Organizer sedari lima bulan lalu.
"WT alias Royal Event Organizer yang atasannya Pak Jevas masih rindu?" pancing Meta bersama segurat ringisan miris.
"Amit amit jabang bayi! Ogah! Iyuhhh jangan sampe lah gue kejebak nostalgia buat kerja sama lagi bareng dia," respons Wulan heboh—sesuai prediksi Meta.
Serta tanpa mampu ditutup-tutupi ketiganya pun refleks saling bertukar tawa getir. Mengingat seperti apa track record seorang Jevas Prambada—atasan paling pites-able, menurut Wulan—yang pernah mereka bertiga hadapi.
Tawa tiga sahabat itu masih belum reda sewaktu dari arah luar gedung tiba-tiba merebaklah bunyi berdebam yang mengguncang serta disusul oleh suara-suara bising yang cukup memekakan.
Baru saja secara serempak mereka hendak mengecek apa gerangan yang terjadi. Kini giliran FRS yang sedang digenggam Meta mulai mengeluarkan nada kresek-kresek sebelum, akhirnya disusul oleh terjaringnya seberkas suara seseorang.
"Bu Meta?"
Meta yang awalnya terkejut pun kembali dapat menguasai dirinya secara sempurna.
"Iya? Saya?" jawab Meta tanggap.
"Dipanggil Pak Jevas, Bu."
"Oh. Oke, saya ke sana."
Setelahnya, wanita itu pun menatap ke arah dua sahabatnya sambil berpamitan, "Aku tinggal dulu yah?"
"Sippp semoga si Amit amit jabang bayi Jevas itu nggak lagi pengen main macan-rusa ya, Sayangkuuu. Hati-hati dan semoga semua baik-baik saja," ujar Wulan menenangkan seraya menyelipkan sedikit gurauan.
Membalas pesan Wulan menggunkan sebuah anggukan. Meta lalu berbalik badan kilat demi memacu lajunya cepat. Wanita itu berlari sekencang yang ia mampu agar dapat menghampiri Jevas dengan segera di lantai berikutnya.
Tatkala Meta sukses keluar dari lift, pandangan matanya langsung disambut oleh sosok Jevas. Pria seusia Rega. Pemilik sorotan super tajam nan mengintimidasi yang sekarang ini tengah diarahkan secara culas ke sisi Meta.
Menunjukan kode supaya Meta mengikutinya ke sudut ruangan. Keduanya lantas berdiri saling berhadapan.
Melonggarkan kerongkongannya yang serasa tercekat dengan cara menelan air liur. Meta kemudian berucap gugup, "Pak ...?"
Bibir Meta belum seutuhnya tertutup ketika secara mendadak Jevas merebut gulungan kertas dalam genggaman tangannya dengan cukup kasar. Pria itu memandang Meta remeh, sebelum menghamburkan kertas-kertas tersebut ke udara hingga berbondong-bondong jatuh menghujani tubuh Meta secara telak.
Meta sendiri sempat memejamkan kelopak matanya sesaat demi meredam kekagetan jua keciutannya.
Tindakan Jevas mungkin tak pernah menimbulkan sakit fisik tapi, tetap saja perilaku pria itu selalu menggoreskan luka yang tak kasat mata.
"SAYA SUDAH BERKALI-KALI BILANG KE KAMU. CEK LAGI META! LIGHTING-NYA, SOUND SYSTEM-NYA, STAGE-NYA! META CEK LAGIII!"
Enam hari dalam seminggu. Bisa dibilang amarah Jevas merupakan kawan akrab seorang Meta Yunara. Namun, jarang sekali Jevas berteriak nyaring seperti sekarang ini. Suaranya yang begitu berat jadi terdengar sangat menghentak sekaligus juga meruntuhkan hingga tandas nyali Meta untuk membela diri.
"Buat apa semua konsep yang kamu pegang dari kemarin itu, hah?!" teriak pria itu lagi.
"Saya sudah ngomongkan? Pulang-pergi, Jakarta-Sentul tuh nggak efektif. Masih ingat nggak kamu seberapa telatnya kamu kemarin? Tapi malah ngeyel terus, nggak bisa dibilangin.
"Tahu nggak kamu? Seharusnya sedari awal itu saya emang nggak perlu repot-repot percaya sama amatir kayak kamu. Ngerti nggak gimana susahnya saya pitching buat menang tender kemarin? Giliran sekalinya dikasih kesempatan dan tanggung jawab malah langsung berantakan semua." Beberapa kali Jevas menudingkan jarinya ke arah Meta sebagai tindak penegasan bahwa wanita itu ialah sumber dari segala masalah yang kali ini tengah terjadi.
Sementara dalam posisi berdirinya, Meta beberapa kali mengepalkan jari-jarinya erat, berusaha keras guna bersabar untuk menadahi semua gejolak murka yang Jevas semburkan.
"Kamu sebenarnya menganggap saya sebagai Project Manager nggak di sini? Nggak dengar kamu apa yang udah saya bilang dari kemarin-kemarin? Saya suruh kamu buat koordinasi sama Badan Meteorologi, kan? Terus mana hasilnya, Meta?!
"Divisi Produksi di bawah wewenang kamu, kerjanya sampah semua! Sekarang, coba kamu mikir, gimana bisa besi penyangga panggungnya patah? Gimana bisa stage-nya roboh?"
Bertolak pinggang pria yang masih tersulut emosi itu lanjut berujar gahar, "Nggak tahu deh saya kenapa muka kamu bisa tebal banget dan sama sekali nggak kegugah buat resign. Padahal kerjaan kamu selama ini cuma bikin masalah doang di Royal. Sekali lagi saya coba sadarin kamu yah, kamu itu miskin kreatifitas dan inisiatif. Di industri ini, kamu sebatas batu sandungan buat kemajuan orang lain."
Nggak apa-apa, Meta. Tenang, kamu bisa terima apa pun yang dikatakan Jevas. Kamu bisa.
"Terhadap kamu, saya nggak kecewa, Meta." Kembali Jevas bersuara. "Hanya saja, jujur saya menyesal karena nggak membuang kamu lebih awal. Dua tahun kerja di WT tapi, nyatanya kamu belum tahu apa-apa. Entah apa yang sudah Bos lama kamu ajarkan ke kamu sehingga kamu banyak nggak becusnya. Tahu kamu atau justru Bos lama kamu itu yang nggak punya standardisasi sampai-sampai tahan punya karyawan macam kamu."
Sekarang, kepalan tangan yang terbentuk di sisi tubuh Meta terasa makin kuat. Namun, wanita itu tetap menjajal untuk bersabar sedikit lebih lama.
"Hadapilah tuh kekacauan yang telah kamu buat. Untung saja insiden ini terjadi saat konsernya belum dimulai. Coba kalau sudah dan jatuh korban jiwa. Bisa kamu gantikan nyawa-nyawa orang yang sudah terlanjur melayang?" kata Jevas tajam sambil bersiap untuk berbalik pergi.
Namun, baru sekitar satu meter melangkah, pria itu justru kembali menoleh ke arah Meta seraya berujar, "Dan saya harap, Senin besok di atas meja kerja saya. Saya bisa melihat surat pengunduran diri kamu."
Setelahnya, Jevas Prambada—pria yang begitu sulit ditentang, yang terlihat kokoh bagai tembok beton bagi Meta—bergegas pergi dari pandangan mata wanita itu.
Menggigit permukaan bibirnya kuat. Meta tidak boleh lemah. Dia sedang ditunggu oleh setumpuk masalah yang malam ini menghadangnya tanpa ampun. Oleh sebab itu, dia wajib bertahan, tak boleh sedikit pun tumbang.
Baru saja Meta berniat untuk berbalik, menuju ke dalam lift. Sosok Rega yang entah sedari kapan berkeliaran di sekitarnya justru telah terlebih dahulu tampil di depan wajah wanita itu.
Pria dalam balutan jaket kulit hitam tersebut terlihat mulai mendekat seraya bertutur, "Masih belum kenyang kamu dihina-hina sama Jevas? Apa susahnya sih dengar saranku? Keluar saja. Segitu sulitnya ninggalin WT? Apa sih yang kamu cari di situ? Gusta udah nggak di sana, kamu mau nungguin apaan?"
Habis sudah. Toleransi Meta telah benar-benar terkikis. Maka dengan pelupuk mata yang mulai berkaca-kaca, wanita itu membalas, "Kenapa harus bawa-bawa Gusta? Aku yang nggak mampu bekerja dengan baik ya berarti itu salahku sendiri. Kekurangan itu ada di aku. Gusta nggak tahu apa-apa. Kenapa orang-orang selalu ngait-ngaitin keenggak becusanku sama Gusta? Dia udah tenang. Kenapa setiap kesalahanku harus ikut ditimpakan ke Gusta juga?"
Meta yang telah sukses menangis, mendongakan kepalanya. Matanya mencari mata Rega guna menatapnya nanar.
"Dan kamu ... kamu nggak bakal tahu soal aku. Dan kupikir kamu nggak akan pernah mau tahu. Karena kamu emang nggak mengerti. Makanya, jangan anggap diri kamu ngerti," seloroh Meta kecewa.
"META!"
"APA? Mau apalagi kamu? Mau nambahin apalagi kamu? Udah kubilangkan kemarin. Aku butuh konsentrasi, Reg. Aku nggak bisa pulang tapi, kenapa sih kamu tetap maksa dan nggak mau sedikit saja paham?"
"Oh, sekarang kamu nyalahin aku? Giliran ada yang menyalahkan Gusta kamu langsung ngegas dan nggak terima terus apa ini? Seenaknya kamu malah menimpakan kekeliruan ini padaku? Kamu lagi playing vicitim, heh? Padahal di sini, jelas-jelas kamu sendiri loh yang nggak mampu mengemban tanggung jawab. Benarlah kata Jevas, udah tiga tahun kamu kerja serta parahnya ternyata kamu masih belum jadi apa-apa. Meta ... menurutku, mending kamu di rumah saja deh."
Sambaran petir yang tak nyata seolah membidik Meta dengan mutlak. Wanita itu benar-benar tak menyangka jika pria yang berada di hadapannya faktanya sanggup mengudarakan kalimat yang terasa begitu menusuk kalbu.
Menyunggingkan segaris senyuman super miris di sela lelehan bulir air matanya, Meta kemudian berkata gamang, "Kanapa aku nggak nyalahin Gusta? Karena Gusta yang aku kenal, dia nggak akan pernah mungkin ngomong, 'Meta kamu itu nggak becus kerja, menyerah saja, diam saja kamu di rumah.' karena, kalau yang di depan aku bukan kamu tapi Gusta, dia bakal percaya ke aku. Iya aku melakukan kesalahan, tapi kalau itu Gusta dia bakal dukung aku dan dorong aku supaya aku bisa menyelesaikan masalahku. Dan bukannya malah nyaranin aku buat lari juga putus asa."
"Oh begitu. Kamu mau Gusta, hah? Butuh Gusta? Samperinlah sana!" tukas Rega yang mungkin hanya sekadar refleks belaka.
Mengikat emosinya yang terus berlarian. Meta sadar bila meladeni Rega berdebat maka, sudah pasti tak akan ada ujungnya. Mencoba mengambil kesempatan guna mengalah, Meta lantas berujar, "Udahlah. Kamu lihatkan aku bikin banyak masalah dan keberadaan kamu pun sama sekali nggak mengurangi bebanku. Sampai besok aku mungkin bakal sibuk banget dan nggak bisa pulang. Jadi, sekarang kamu ... bisa pulang sendiri ... tanpa aku."
"Masa bodoh!" sahut Rega masih terdengar kesal.
"Terserah mau kamu apalah, Meta. Pusing aku menghadapi kamu. Makan tuh masalah-masalah kamu. Aku pun nggak berharap buat pulang bareng kamu kok."
Selepas mengutarakan kalimat terakhir tersebut, Rega tampak otomatis melangkah dengan terburu demi meninggalkan Meta, mengeluari area gedung. Tanpa sekali pun berupaya untuk menoleh kembali.
Sementara Meta sendiri langsung berjongkok, memunguti kertas-kertas yang tadi sempat Jevas hamburkan.
Sambil sesekali menyeka air matanya yang diam-diam kembali jatuh, wanita itu bergumam lirih, "Kukira kamu ngerti kalau maksud perkataanku bukan seperti yang kamu tangkap. Tapi, sepertinya satu tahun ini emang belum cukup buat aku mengenal kamu. Kamu ... terlalu jauh. Bener-bener terasa terlalu jauh buat bisa aku jangkau, Reg."
Mengelap tangis menggunakan bagian ujung kemejanya. Meta lalu meraih FRS-nya. Masih dengan suara yang mati-matian ia usahakan supaya tak bergetar, Meta bicara kepada staf di seberang sambungan.
"Rey, tolong siapkan semua yang diperlukan untuk mengadakan acara konferensi pers yah?"
"Maksud, Bu Meta?"
"Konser Wiz malam ini resmi dibatalkan."
***