5. A Kiss to Remember

2430 Words
Meta menekan tombol power pada remote demi mematikan televisi yang tengah menayangkan saluran berita sewaktu matanya berhasil menangkap penampakan jam di dinding. Pukul 23.59. Itu berarti cuma tersisa satu menit lagi dan hari akan kembali berganti. Menghela napas panjang, wanita dalam balutan piyama motif sapi itu pun lantas melirikan mata bulatnya tepat ke arah daun pintu yang terlihat masih saja sepi. Sepertinya, penantian Meta akan kepulangan Rega pada hari ini pun harus lagi lagi ditelannya mentah-mentah. Tiga hari nyaris terlewati dari sembilan hari yang ketika itu Rega katakan tapi, agaknya pria itu masih terlampau betah untuk tinggal di Paris sana. Entah apa yang sedang seorang Norega kerjakan. Padahal menurut informasi yang Meta dengar dari Zio siang tadi, karyawan-karyawan VER yang ikut terbang guna menghadiri pagelaran Paris Fashion Week sudah mulai ngantor kembali. Lantas, jika pada faktanya acara pekan mode di Prancis tersebut telah usai, kemana kira-kira Norega Altriano itu pergi? Tanpa mengabari dengan ponsel yang juga tak bisa dihubungi. Meskipun kalau bertemu mereka kerap bertengkar serta saling salah-menyalahkan. Namun pada saat ini, dalam posisi sebagai istri dari Rega. Wajarkan jika Meta didera cemas yang setiap harinya kian menjadi-jadi? Ratusan kalimat bertema 'bagaimana jika' terus hilir-mudik, berputar-putar bagai kaset film kusut. Membelenggu serta menciptakan kegelisahan yang terasa tak begitu pasti di mana ujungnya. Mencoba mengeyahkan segala pemikiran buruknya. Wanita itu pun memijakkan sebelah kakinya pada alas lantai yang dingin. Pelan-pelan Meta membangkitkan tubuh lelahnya dari dudukan sofa. Aktivitas tunggu-menunggu untuk hari ini sebaiknya memang Meta sudahi saja. Sebab, mau dinanti seberapa lama pun sepertinya Rega juga tak bakal pulang hari ini. Untuk apa menunggu kalau yang ditunggu saja nggak jelas kemana rimbanya. Mending juga tidur. Nggak makan hati! Dasar Macan Tutul menyebalkan, awas dia kalau pulang nanti! Meta bersama kedongkolannya segera bergegas memacu langkah demi menapaki undakan tangga menuju kamarnya di lantai dua. Telapak kakinya tengah menyentuh anak tangga ke lima ketika suara bel tiba-tiba hadir, menggedor indra pendengaran milik wanita berusia 26 tahun tersebut dengan begitu ganasnya. Berbalik badan kilat, tanpa mau repot guna berpikir dua kali. Meta pun langsung berlari kencang sekali, meninggalkan keinginannya untuk pergi tidur serta malah menyongsong daun pintu lengkap disertai pula oleh sejuta pengharapan tentunya. Dalam lajunya yang terkesan tergesa-gesa, ia tetap mencoba untuk berspekulasi. Apabila yang berada di balik pintu itu adalah benar Norega maka, tanpa ragu Meta akan mengeluarkan sepaket tendangan maha dahsyat guna memberikan ucapan selamat datang kepada suaminya tersebut. Kalau perlu Meta bakal menendang tulang kering Rega hingga retak. Betul. Norega si makhluk paling menyebalkan jua minim perasaan itu sudah sepantasnya diberi ganjaran. Enak saja dia telah menjelma sebagai faktor utama suramnya hari-hari Meta. Macan Tutul itu tak boleh lolos begitu saja! Namun, jika ternyata yang datang dan menekan bel itu adalah Abang-Abang ojek online yang dipesan Bunda Ane untuk mengantarkan camilan tengah malam seperti hari kemarin. Itu berarti mau tak mau Meta mesti kembali menelan bulat-bulat kegeraman yang bercokol di dasar hatinya tersebut. Ish! Mengesalkan banget! Dengan memajang ekspresi muka tertekuk, Meta pun membuka slot pada pintu. Memutar bagian knopnya secara perlahan, lubang yang menganga pun semakin lebar detik per detiknya. Dan di sana, tepat di hadapan wajah Meta. Bersama beberapa meter jarak yang menyekat. Norega tampak sedang berdiri tegap di sisi sebuah koper yang kelihatannya jauh lebih besar dari koper yang pria itu boyong sewaktu berangkat dulu. Memerhatikan sosok Rega dari ujung kaki hingga ke ujung kepala barang sejenak. Jujur, sedikit-banyak sejumput kelegaan pun timbul, menyisipi diri wanita itu. Dan yah, Meta masih ingat akan niatnya. Maka, dengan mengambil satu langkah mundur—niat hati sih hendak berancang-ancang supaya terjangan yang ia layangkan kepada Rega nanti dapat menjungkirkan suaminya tersebut secara telak—akan tetapi, belum sempat balas dendam itu terealisasi, sebelah lengan Meta malah lebih dulu ditarik secara kilat oleh Rega agar merapat dengan posisi tubuh pria itu. Mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya banter. Meta serta merta diterjang kekikukan luar biasa akibat langkanya jarak yang membentang guna menghalangi dirinya dan Rega. Bahkan tatkala mulut Meta hampir terbuka untuk mengeluarkan sebaris protesan. Bibirnya justru kembali kalah sigap serta otomatis dibuat membeku sebab secara mendadak langsung ditempel begitu saja oleh bibir Rega. Satu detik. Meta tidak menghitungnya, tentu saja! Namun, sepertinya ciuman itu memang terjadi selama satu detik lamanya. Terdiam cengo, Meta buru-buru menelan salivanya dengan gugup. Wanita itu bingung. Sungguh-sungguh tidak mengerti tentang apa yang tengah terjadi sekaligus juga jadi salah tingkah sendiri. Dan tambah tak paham sewaktu Rega melirih tepat di hadapan mulut Meta yang bergetar samar, "Ini ... baru wangi yang aku kenal." "Y-yah?" Sayangnya bukan jawaban atas kebingungannya yang Meta peroleh. Justru pergerakan Rega yang terlihat kembali merundukan kepala lah yang tampil dalam matanya. Pria itu menangkup dagu Meta menggunakan kedua tangannya. Serta dengan teramat pelan, lagi dan lagi polah Rega menimbulkan serentetan efek kejutan bagi diri seorang Meta Yunara. Meraih belahan bibir bagian bawah milik wanita itu. Kali ini, Rega tak hanya menyapunya. Pria itu dengan teramat intens mulai memberikan lumatan di sana, lebih dalam dan panjang. Juga yang lebih gilanya lagi adalah kegiatan pribadi tersebut mereka lakukan tepat di depan pintu. Bayangkan jika ada tetangga usil yang tanpa sengaja menyaksikan, keduanya jelas bakal habis jadi santapan empuk dalam arena pergunjingan. Lalu, kembali ke ciuman yang sedang Rega dan Meta lakukan. Seandainya ada orang yang bilang bahwa bibir Meta merupakan bibir pertama yang suaminya itu cium. Seratus persen Meta meyakini bila hal tersebut adalah info hoax. Tentu saja. Dengan predikat good kisser yang Rega sandang mustahil bila pengalaman yang dimilikinya itu tak setinggi pegunungan Himalaya. Memikirkan mengenai bibir-bibir wanita mana saja yang terdapat dalam catatan riwayat pengalaman seorang Norega Altriano Prakosatama membuat Meta yang sudah muak jadi bertambah sebal saja. Oleh sebab itu, dalam satuan detik tertentu. Bersama keberanian yang dipompa habis-habisan, Meta pun memutuskan untuk mengomando gigi-giginya guna menggigit lidah Rega dengan keras. Sehingga kontan tautan di antara bibir mereka berdua pun refleks terlepas. Ya, gagal menendang, menggigit pun jadi. Sambil mengerang menahan sakit, Rega memicing culas seraya menudingkan protesan tajam, "Nggak bisa gigit mesra apa? Kenapa malah digigit kayak gitu?" "Mesra kepala kamu!" desis Meta kesal. "Dan lagi kalau nggak digituin, kamu pasti bakal keterusan dan nggak mau berhenti," jawab Meta galak sambil menggerakan telapak tangannya guna menegelap kawasan permukaan bibirnya sendiri secara kasar. "Itu, ngapain pake dilap-lap begitu? Bisanya kalau habis dicium bibirku, bekasnya kamu tempel di tisu lalu, besoknya kamu peluk-peluk dan hirup-hirup lagi deh jejak wanginya," ujar Rega. "Nggak! Aku nggak pernah berlaku kayak gitu. Jangan fitnah yah kamu!" bela Meta tak terima akan tuduhan yang Rega arahkan terhadapnya. Mengangkat pundaknya acuh tak acuh, Rega bergumam, "Pernah juga terserah. Nggak ada yang melarang ini kok." Mendengus nyaring, Meta kemudian teringat akan fakta bahwa pria yang sedang berdiri di depan mukanya sekarang ialah pria yang telah membuatnya uring-uringan belakangan ini. Maka, dengan mengangkat dagunya tinggi. Wanita itu pun berseru, "Terus kamu! Kok, enak banget yah jadi kamu. Udah ingkar janji, pulang super terlambat, hilang kontak lalu, begitu datang seenaknya saja main cium-cium bibir orang sembarangan." "Bibir orang mana? Aku cium bibir kamu kok dan kamu istriku. So, ya sah-sah saja lah. Jangan lebay!" tukas Rega masih bersama nada masa bodoh yang kental. "Tapi, Reg—" "Udahlah! Nggak usah dibahas lagi. Ayo masuk," halau Rega yang untuk ke sekian kalinya menuai kemenangan sembari berjalan mendahului Meta untuk merangseki area kediamannya. Melaju melintasi dapur, pria yang tampak lebih suka menggeret kopernya dibanding tangan istrinya itu pun otomatis berhenti ketika bola mata kelamnya sukses menemukan pemandangan yang menarik minatnya untuk mengoceh. "Itu mie instan ke berapa sejak aku pergi?" tanya Rega sambil menunjuk bekas cup mie di atas meja makan melalui dagunya. Merasa tertangkap basah, Meta yang sedari tadi membuntuti langkah Rega pun spontan mengeluarkan sebentuk deheman pelan demi meredakan kecanggungan. "Anu ... baru yang pertama kok. Aku makan itu tadi sore," jawab Meta berusaha setenang mungkin. Walau jawabannya tak sepenuhnya jujur tapi, mie tersebut benar-benar mie pertama yang dikonsumsinya pada hari ini. Menipiskan bibir Rega lantas tak mau memperpanjang bahasan soal mie tersebut. Meski dalam diri Norega, pemuda itu tahu betul Meta baru saja mengelabuhinya. Come on! Mereka sudah hidup bersama nyaris satu tahun lamanya, mustahilkan kalau urusan bohong dan jujurnya Meta saja, Rega sampai tak tahu. "Udah makan malam belum kamu?" tanya Rega beralih topik pembicaraan. "Itu ...." "Aku nggak lagi lapar?" serobot Rega sengaja menirukan gaya bicara Meta yang kadang sepelan suara daun yang gugur. "Tahu nggak? Alasanmu itu klise. Dengar! Lapar nggak lapar, namanya makan minimalnya harus tiga kali sehari. Buat apa aku kerja siang-malam, pake bela-belain ke luar negeri setiap bulannya supaya usahaku semakin maju. Kalau istriku saja sampai nggak bisa makan. Lagipula, kamu juga nggak bisa kupanggil Gentong Air lagi kalau kamu udah nggak gendut," ceramah Rega. "Aku nggak gendut!" kontra Meta cepat bersama nada yang kaya akan nuansa penekanan dalam setiap frasanya. Pastilah wanita itu geram. Sekarang, makhluk hawa mana di belahan bumi ini yang tak tersinggung jika dikatai gendut? Dulu, saat mereka belum menikah, mungkin Meta terkesan cuek saja tatkala Rega mengoloknya seperti itu. Namun, sekarang satu tahun sudah hampir terlewati dan berat badan Meta pun selalu ideal kok. Tetapi, Norega seolah tak sudi melebarkan mata kecilnya itu supaya mau melihat secara jelas. "Oh yah?" pancing Rega sambil meninggalkan kopernya dan berjalan memasuki dapur. Berdecak, Meta lantas menggerutu, "Tahu ah! Tahu ah!" "Kamu mau ngapain ke situ?" ujar Meta heran sewaktu menjaring sosok Rega telah menghuni area dapur yang instingtif menarik gerak Meta untuk melaju, mendekat ke arah suaminya tersebut berada. Rega sendiri memilih untuk mengabaikan pertanyaan Meta serta mulai terlihat sibuk mengecek isi kulkas. "Kamu belum buang sampah berapa hari? Numpuk banget tuh tong sampah," ucap Rega ketika telah berhasil menggasak beberapa bahan makanan dari dalam kulkas untuk lanjut ia potong-potong. Menggigit pelan bibirnya. Jujur saja, Meta baru tak membuang sampah seharian ini. Sedang alasan di balik meluapnya isi tong sampah yang Rega komentari ialah karena tadi sore Meta menuangkan seluruh makanan basi yang telah susah-payah dimasaknya kemarin. Wanita itu berpikir, jika Rega pulang tentulah suaminya tersebut bakal lapar. Jadilah, dua hari ini Meta masak banyak. Namun, tahu sendirilah bagaimana kenyataannya. Makanya, nasib makanan-makanan tersebut cuma berakhir di dalam tempat sampah. Huh! "Yah, beberapa hari ini lah," bohong Meta seraya mengusap area tengkuknya lirih. Pasca sesi bertukar obrolan tersebut tersudahi. Mereka cukup lama saling membisu. Rega sendiri terus berkonsentrasi mengerjakan kegiatannya; memotong daun bawang dan mengocok telur. Meta yang merasa tak enak sebab membiarkan Rega melakukan pekerjaan dapur tersebut pun menjajal kesempatan guna menginterupsi, "Kamu ... emang nggak capek? Nggak jet lag? Biar aku saja sini yang masak?" "Capeklah namanya 20 jam di dalam pesawat. Tapi, tentu bakalan lebih capek lagi kalau aku mesti ngurus kamu yang jatuh sakit gara-gara sore cuma makan mie instan dan malamnya malah nggak makan." Meta refleks memutar bola matanya bosan. Memangnya tubuhnya selemah yang Rega kira apa yang hanya karena telat makan sehari langsung tumbang. Lagipula Meta, kan tak punya riwayat menderita maag seperti suaminya itu. Huh! "Ya, ya, iyalah. Jadi, sini biar aku yang masak, oke?" tawar Meta menjajal sekali lagi. "Nggak perlu. Kamu duduk saja. Lagian masakanku pun lebih layak makan, kan daripada masakanmu?" Norega featuring kecongkakannya kembali beraksi. Meniup poninya yang telah melewati batas alis, Meta pun mengalah. Wanita itu menuruti titahan Rega dengan duduk manis di salah satu kursi pada meja makan yang masih satu ruangan dengan dapur. Memerhatikan punggung Rega yang bergerak ke sana-kemari, Meta pun gemas untuk menelurkan sebentuk todongan, "Tumben kamu baik. Kamu ... habis buat kesalahan yah?" Berhenti menggoreng sejenak, Rega tak langsung menjawab. Beberapa detik berlalu dalam hening sebelum suara beratnya mengudara dengan sombong, "Kapan memang aku pernah salah? Udahlah. Dibaikin tuh dinikmatin bukannya malah kebanyakan protes dan ceriwis." Mematikan kompor. Rega lantas menghampiri Meta sekaligus juga mengangsurkan sepiring omelette campur sosis yang tampak menggoda ke hadapan istrinya tersebut. "Makan," suruh Rega terdengar mutlak. "Kamu?" tanya Meta. "Aku udah." Mengangguk mengerti. Meta lalu mulai bersantap dengan anteng. Sementara Rega yang duduk tepat di seberang kursi wanita itu pun tampak mengamati dalam diam. Menelan kunyahan pertamanya, Meta mencoba berbincang, "Kok, kamu n-nggak pulang bareng karyawan-karyawan VER yang lain? Bukannya PFW juga udah selesai dari tiga hari lalu?" Melipat lengan di depan d**a, Rega lantas menumpukan punggung tegapnya ke sandaran kursi. "Kamu dapat info dari informan mana?" tukas pria itu. "Yah?" "Aku jadi groomsman dadakan. Temanku waktu kuliah di ESMOD ada yang menikah. Awalnya, aku nggak mau datang. Tapi, karena dibujuk sama salah satu temanku yang lainnya. Akhirnya, aku memutuskan buat hadir. Dan kayaknya, aku udah ngirim foto acara pernikahan Anthony ke kamu deh," terang Rega panjang kali lebar. Mencebikan bibirnya, Meta merespons, "Foto apaan? Handphone kamu saja mati suri." Merasa ada kejanggalan dalam jawaban yang Meta udarakan. Rega pun bergegas mencari ponselnya di kantung jas. Dan sewaktu mendapati layarnya yang hitam, pria itu pun otomatis mendesis malas. "Sepertinya sebelum fotonya delivered, ponselku udah keburu mati," opini Rega. "Yah. Anggap saja begitu," kata Meta cuek. "Walau pada kenyataannya kamu di sana bukan karena teman kamu ada yang nikah tapi, malah kencan sama bule pun kalau penjelasan yang kamu kasih ke aku kayak gitu. Ya, aku sih bakal percaya-percaya saja." Menyipitkan pandangannya, Rega berdesis, "Kencan sama bule? Selingkuh maksud kamu?" "Aku, kan nggak lihat. Jadi, ya siapa yang tahu?" Meta mengedikan bahunya ringan. Bangkit dari duduknya dengan sebal, Rega kemudian berujar, "Nanti kalau ponselku udah nyala, kukasih lihat fotonya sama kamu. Dan buat apa juga aku selingkuh? Buang-buang duit saja punya banyak wanita. Punya satu yang kayak kamu juga udah suka bikin ribet." Mengerucutkan bibirnya, Meta lalu kembali mendumel, kali ini dalam hati, Ish! Dasar Macan Tutul emang nggak bakal bertransformasi jadi kuda poni. Norega sama sekali tak diberkati dengan kemurahan hati. Huh! "Oohh iya. Rega!" Meta berseru ketika sudut matanya berhasil menangkap sosok Rega yang sudah mulai menaiki tangga. "Apaan?" Norega menyahut sekenanya. "Sabtu-Minggu besok aku ada kerjaan ngurus konser musik di Sentul. Aku nginep di hotel dekat venue acara saja yah?" ujar Meta berupaya meminta izin. "Sentul doang? Weekend, kan? Aku yang bakal antar kamu pulang-pergi. Nggak ada acara pake nginep-nginep di hotel segala. Kamu tetap tidur di rumah. Oke?" "Tapi, Reg itu—" "Ingat! Istri nurut suami," ucap Rega. "Regaaaaa!" Dan bukannya menghiraukan keberatan dari sisi Meta, pria itu justru hilang ditelan pintu. Sedang di posisi duduknya, Meta tak kuasa untuk menunduk lesu sambil menghela napasnya lelah. Sebelum, pada akhirnya suara berat Rega tiba-tiba datang kembali. "Meta?" Mendongak ke arah sumber merambatnya bunyi di lantai atas. Di sana, Rega tampak tengah berdiri bersama ekspresi lempeng yang tak biasa. "Aku lega." Meta kontan mengerutkan area dahinya bingung. "Karena punya kamu sebagai rumahku buat pulang." Dan selesai. Pria itu kembali hilang di balik pintu kamar mereka. Namun, yang barusan Rega deklarasikan itu ... maksudnya apa? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD