4. Hei, Kamu Kapan Pulang?

3645 Words
4. Berada di bawah langit dari kota yang katanya paling romantis di dunia. Sembilan hari milik Norega Altriano nyaris habis hanya untuk berpindah dari Grand Palais, Arab World Institute, Pompidou Center jua Palais de Tokyo. Empat museum besar di The City of Lights yang menjadi pusat perhelatan dari acara super akbar bertajuk Paris Fashion Week edisi Spring/Summer tahun ini. Minimnya perwakilan dari VER Fashion yang mendapat undangan pada pagelaran kali ini juga menjadi salah satu faktor pendorong hectic-nya mereka-mereka yang hadir dan terlibat langsung dalam kegiatan fashion week berdurasi sembilan hari tersebut. Rega bersama Desainer-Desainer VER bahkan sempat kalang kabut ketika memasuki sesi memilih model dalam sebuah audisi. Mereka terbilang cukup kesulitan untuk mendapatkan seseorang yang cocok guna merepresentasikan busana haute couture yang desainnya baru dibuat ulang serta baru siap ditampilkan di atas panggung runway beberapa jam saja jaraknya dari jadwal peragaan Tim mereka dilangsungkan pada hari ke delapan. Untunglah keriuhan itu sedikit lagi bakal resmi berlalu. Hari ini, merupakan hari ke sembilan sekaligus juga menjadi hari penutup dari seluruh rangkaian fashion week edisi Spring/Summer dalam lingkup big four di mana pada awal bulan lalu dibuka melalui kota New York. Rega yang sekarang ini duduk di baris ketiga merasa sangat mujur. Pasalnya, dari posisi duduknya pria itu tergolong lumayan dekat dengan jajaran fron-row yang diisi oleh para bintang, supermodel, tamu kehormatan, Fashion Journalists kelas wahid, juga segelintir Desainer kawakan. Dan bicara soal para bintang yang turut hadir dalam PFW, Rega jadi ingat jika tadi ia sempat mengambil foto selfie berdua bersama salah satu rapper wanita asal Amerika yang terkenal akan ciri khas aksen British-nya. Membayangkan bahwa dia akan mengirimkan gambar tersebut kepada Meta yang telah tak dihubunginya selama hampir empat hari penuh saja, membuat sulung dari tiga bersaudara itu kembali memperoleh semangatnya yang sempat terceraiberai. Apa kira-kira reaksi wanita itu ketika tahu jika dirinya berkesempatan berfoto bersama salah satu penyanyi favorit Meta? Di Jakarta sana atau lebih tepatnya di kawasan kediamannya tentu bakal terjadi gegap gempita. Meta Yunara pasti bakal heboh sendiri, iri lalu gigit jari. Betapa menyenangkannya apabila Rega dapat menyaksikan secara langsung ekspresi menggelikan dari istrinya tersebut. Huh! Saking konsentrasinya pria yang kali ini tampil dalam balutan setelan kasual sewarna navy hasil dari rancangan pribadinya tersebut guna menerka-nerka segala perihal soal Meta, tanpa terasa peragaan terakhir yang menampilkan koleksi-koleksi busana bercorak cerah nan mengaggumkan dari label Louis Vuitton pun akhrinya resmi berakhir dengan naiknya Desainer-Desainer yang mewakili brand tersebut ke atas panggung catwalk.  Tepuk tangan riuh maupun standing applause dari beberapa hadirin yang datang begitu saja menggema di setiap sudut lokasi peragaan. Pasca dibuka oleh koleksi Chanel pada hari pertama, setelah menampilkan ratusan exhibitor dari puluhan negara, menyuguhkan fashion show luar biasa dari puluhan brand internasional, dengan melibatkan lebih dari sepuluh ribu buyers maupun retailers baik dari Asia, Eropa juga Amerika. Pagelaran Paris Fashion Week tahun ini terbilang sangat sukses. Banyak koleksi yang tentunya bakal menjadi trend untuk menyambut singgahnya musim baru. Meninggalkan semua kehebohan tersebut, Rega sendiri memutuskan untuk menguap cepat dari tempat itu demi menuju area booth-nya. Memakan waktu hampir sepuluh menit guna menyusuri blok demi blok di Grand Palais, pandangan mata pemuda itu pun serta merta disambut oleh berjejernya booth-booth milik label fashion dari seluruh penjuru dunia. Ada yang memang telah besar nan tenar, ada pula brand yang tampaknya masih merintis. Namun, dengan keikutsertaannya di ajang PFW ini bisa dipastikan bahwa label-label jua para desainernya merupakan orang-orang yang sangat bertalenta. Melewati dua booth milik brand lokal, suara cempreng seorang wanita begitu saja menyambut kedatangan Norega dengan begitu bisingnya. "Pak Bosssss?!" Adalah Abelouisa Natawira—wanita berambut mirip mie yang dalam peragaan kemarin menampilkan rancangan busana cocktail yang begitu chic, kasual tapi juga tetap berjiwa muda serta bercitarasa 'summer' sekali lah istilahnya dengan mengangkat tema panorama negeri sakura. Rega ingat betul seberapa oranyenya gaun yang dibuat Abel. Jua betapa rapi dan mendetailnya hasil guratan lilin malam yang membentuk lembaran-lembaran daun momiji dengan ukuran yang teramat mungil-mungil di permukaan kainnya. Satu hal; Abel sangat suka memadukan unsur-unsur lokalitas serta sering kali menciptakan terobosan. Dan Rega tak mampu mengingkari bahwa dirinya bangga sebab dia pernah menemukan Abel beserta potensinya yang sangat luar biasa itu. "Pak Bosss!" Abel mengulangi sapaan lantangnya bedanya saat ini gadis itu terlihat mulai menggoyangkan kedua jempolnya dengan penuh irama. Rega yang menyaksikan kejadian tersebut pun refleks mengerutkan dahinya heran. Sambil menyalin tingkah Abel—menggoyangkan jempol—secara ogah-ogahan, Rega kemudian bertanya aneh, "Apa maksudnya?" "Sold out, Pak! Produk ready to wear kita khususnya yang desain printing punya Tom ludes semua," jelas Abel menggebu beberapa kali gadis itu juga tampak melirikan mata besarnya ke arah teman satu timnya, Tom yang sekarang masih cukup sibuk meladeni buyer. Tersenyum lega, Rega lantas mengangkat sebelah tangannya ke udara, detik berselang high five tercipta di antara pria itu dengan dua orang perwakilan dari VER lainnya. "Good job, Gaes," ujar Rega. "Eh iya, Pak Rega jadi pulang sore ini?" tanya Wendy—salah satu karyawan Tim Desain VER yang kemarin menyusul ikut terbang ke Paris. Rega mengangguk sekali. "Kalian saya dampingi sampai sini saja nggak apa-apa, kan? Lusa saya ada pertemuan sama klien penting soalnya." Baik Abel dan Wendy pun praktis mengangguk saja. Pasalnya, meskipun mereka keberatan toh keputusan Bos mustahil untuk diganggu gugat. "Ya udah. Sesuai janji saya sama kalian kemarin. Kalian secara khusus saya kasih bonus libur dua hari," tutur Rega sambil menyembunyikan dua telapak tangannya ke dalam saku celana. "Seriusan nih, Pak?" kata Abel meminta kepastian. "Kalau nggak mau ya malah mending sih," ucap Rega acuh tak acuh. "Ehhh? Mauuu banget lah! Asyik asyik, makasih ya, Pak Rega." Abel dan Wendy kompak memajang sebaris senyum secerah matahari terbit di atas bibir mereka. Dasar giliran dikasih libur saja pada kompak ngasih senyum selebar jalan tol, giliran kerjaan pada nggak bener, ditegur dikit langsung deh pada nyinyir di kolom chatting, pikir Rega gemas sendiri. Mengangkat kedua pundak tegapnya ringan, Rega lalu berpesan, "Jagain booth yang benar. Saya duluan, oke?" "Loh, Bapak mau langsung ke bandara?" tanya Wendy merasa sedikit ganjil mengingat waktu terbilang masih cukup siang. "Nggak. Saya mau keliling dulu sebentar. Siapa tahu ada yang bisa saya jadikan buah tangan," jawab Rega seadanya. "Kita-kita jangan lupa dibeliin juga dong, Pak?" tukas Abel. "Boleh saja. Tapi, bulan depan jangan nyariin kalau gaji kalian kepotong sesuai nominal harga belanjaan yang saya kasih ke kalian." "Ihhh tegaaaa!" Abel juga Wendy berseru padu. Melambaikan tangan cuek, Rega lalu mulai melajukan kakinya untuk menjauh, mengeluari kawasan blok booth-nya. Bergerak meraih ponsel hitam di balik saku jasnya, pria itu berniat mengontak istrinya guna memulai sesi obrolan. Namun, belum sempat matanya menemukan kontak Meta, nama Dara justru terlebih dahulu menyela demi tampil pada layar handphone-nya. Dalam hati Rega agak merutuk. Pasalnya batrai ponsel miliknya hampir habis dan jika Dara hendak membicarakan masalah penting itu berarti Rega terancam kembali gagal menghubungi Meta. Berdecak samar, pria itu lalu mengusap layar handphone-nya untuk menerima panggilan internasional dari Asistennya. "Malam eh Siang, Pak Rega?" "Hm. Kenapa Dar tumben kamu menghubungi di luar jam kantor?" tanya Rega to the point. "Anu ... ini soal rekrutmen bagian Tim Desain, Pak." "Terus?" "Kan udah sampai tahapan final. Ada tiga calon karyawan yang rencananya bakal kita ambil. Bapak mau cek langsung sendiri mengenai siapa-siapa saja mereka kayak biasanya?" "Ya udah. Kamu email, kan saja datanya." "Siap. Tapi, Pak mungkin Bapak perlu tahu kalau—" "Halo? Dar? Dara?" Rega menurunkan ponselnya dari sisi telinga dan otomatis pria itu pun langsung mengeluarkan desisan sebal begitu melihat warna hitam pada layar handphone-nya. Sialan! Benda itu mati. Melemparkan ponsel tersebut secara asal ke dalam kantung, Rega kemudian mencoba melupakan kekesalan hatinya dengan mengamati booth demi booth yang ia lalui. Berusaha keras untuk tak tergiur guna membelikan Meta beberapa barang dari Balenciaga, Dior ataupun The Etudes. Rega lantas berhenti tepat di depan sebuah booth yang didominasi oleh warna hitam-putih. Membaca plang yang terpajang. Xaviola. Nama yang sejujurnya terdengar cukup asing bagi telinga Rega. Namun, mengingat kehadirannya dalam ajang PFW jelas brand tersebut bukanlah brand dengan kualitas ecek-ecek. Membimbing tungkai kakinya guna makin dalam merangseki booth, mata gelap Rega intuitif tertuju pada deretan aksesori yang terpajang. Ada sebuah gelang yang lumayan menarik minatnya. Baru saja tangan pria itu hendak menjulur guna mengambil gelang tersebut, dari arah belakang punggungnya tiba-tiba munculah seberkas suara yang sepertinya lumayan familiar bagi diri seorang Norega. "That's a good choice." Berbalik badan cepat. Rega pun merasa seperti baru saja terkena sebuah sambaran kilat. Tanpa sadar, dalam sepersekian detik pria itu bahkan sempat menahan alur napasnya. "Comment allez-vous?" lanjut orang itu bertanya dengan suara halus yang ramah. Akan tetapi, untuk Norega suara itu malah ibarat gesekan melodi-melodi pelolos nyawa. "Norega Altriano Prakosatama?" Sialan, Rega menyumpah keras. Pernah dengar bahwa semakin kita berusaha untuk menghindari sesuatu maka, Tuhan beserta seluruh alam ini akan berkonspirasi guna menuntun kita supaya bertemu dengan objek yang kita hindari tersebut. Dan sekarang ini, Norega baru saja menjadi salah satu korbannya. Memperbarui tabungan oksigennya, Rega kemudian berdehem lirih seraya menjawab kikuk, "Ini ...." Dia mengangkat gelang di tangannya guna sejajar dengan tinggi wajahnya. "Desain yang sangat sophisticated, Gladysa," sambung Rega tak seberapa lama. Tersenyum simpul, wanita yang tampak independen dengan mengenakan atasan bergaya seaside stripes yang dipadukan beserta celana capri tersebut kemudian membalas, "Jelas lebih eye catching dan sophisticated-an baju-baju VER Fashion lah." Meringis kecil, Gladysa masih saja sama. Menurunkan kadar kecanggungan yang terus-menerus menggelendoti. Rega mencoba berbasa-basi, "Ramai?" "Yah, lumayan. Kami udah dapat beberapa buyer dan agaknya dalam waktu dekat ini juga bakal tambah satu buyer lagi." Mengerti morse tersirat yang dilayangkan wanita itu. Rega pun kembali memerhatikan gelang yang digenggamnya seraya berkata, "Ini unisex kan?" "Yaps. Em, sebentar. Sebelum memutuskan buat bawa pulang gelang itu, kamu harus lihat pertunjukannya dulu," ujar Gladysa sambil mengambil sebuah kotak hitam yang tak jauh jaraknya dari posisi mereka berdiri. Kembali ke hadapan Rega dalam tempo belasan detik saja, wanita itu pun meraih tangan kiri Norega secara hati-hati. Sedang di tempatnya memaku diri, Rega justru merasa jika jantungnya nyaris runtuh dari keterkaitannya. Gila, semestinya efek sentuhan Gladys nggak lagi sedahsyat itu, kan, geram Rega tak puas akan reaksi tubuh dan jiwanya. Sukses mengikatkan gelang berwarna hitam guna melingkari pergelangan tangan kiri Rega, Gladysa lalu menuntun lengan pria itu untuk memasuki ruangan dalam kotak hitam. Dan ketika itu Rega pun spontan melebarkan pengelihatannya. Di sana atau lebih pastinya di dalam wadah kotak itu begitu saja timbul segores cahaya putih redup yang berbentuk persis menyerupai desain gelang—melingkar. "Wow. Serbuk-serbuk putih ini kalau makin dilihat jadi semakin mirip sama bintang yah?" gumam Rega beropini. Sementara arah pandang pria itu masih tercurah secara sempurna terhadap pertunjukan parade bintang-gemintang dadakan tersebut. Bibirnya beberapa kali tampak tersenyum kecil akibat terlampau terbuai. "Yes. Starlight. Itu ... namanya," balas Gladys sama lirihnya dengan nada bicara yang Rega udarakan. "Boleh aku ambil yang ini?" ujar Rega setelah berhasil kembali ke alam nyata. "Of course. By the way, long time no see, Reg." Meringis miris, dalam hati Rega bertanya-tanya; apakah memang selama itu? "Hhm, ya—" "Mau ngopi?" Rega menautkan kedua alisnya bingung. "Les Deux Magots. Baristanya udah ganti loh bukan yang kepalanya botak lagi." "Hah?" Rega agak tersentak. Namun, otaknya lebih tanggap sehingga dengan mudah ia sanggup menemukan secercah ingatan yang tadi sempat diungkit Gladys. Melarikan pandangan matanya ke sekeliling booth milik wanita itu, Rega pun bertanya, "Memangnya kamu udah nggak sibuk? Booth kamu bagaimana nasibnya?" "Kebetulan gelang di tangan kamu tuh adalah stock barang desainku yang terakhir. Dan aku punya rekan-rekan yang sangat mampu buat diandalkan di sini." Waktu mungkin berlalu. Tapi, Gladysa tetaplah Gladysa yang apabila punya keinginan maka, wanita itu bakal memperjuangkannya hingga tamat. Rega hapal betul dengan polah Gladys yang satu itu. Mengedikan bahunya santai, Rega berujar, "Oke." Dan keduanya pun lantas keluar dari kompleks Grand Palais yang begitu ramai. *** Mengambil tempat di teras yang dekat dengan area trotoar. Rega dan Gladys duduk saling berseberangan pada salah satu bangku di Les Deux Magots yang tampak masih saja klasik dan stylish. "Mau coba kemampuan bahasa Prancis kamu?" tanya Gladys sewaktu pelayan berseragam hitam-putih menghampiri meja mereka. Rega praktis menggeleng. "Seratus persen itu bukan ide yang bagus, Dys." "Yakin?" Menggaruk pelipisnya yang sama sekali tak gatal Rega kemudian berucap dengan aksen yang sangat kaku, "Café Allongé avec du lait à coté." Dan tanpa sanggup dibendung, mereka berdua pun refleks tertawa geli tatkala mendengar kemampuan berbahasa Prancis Rega yang masih saja payah. "Lama aku nggak pakai, Dys," terang Rega beralasan. "Yang pentingkan Abang-Abangnya ngerti," tanggap Gladys santai. Serta benar saja. Tanpa perlu diulangi oleh Gladys. Pelayan berambut gondrong yang tadi menanyai keduanya pun langsung bergegas menjauh demi mengambilkan pesanan mereka. "Oh ya, biasanya kalau di Paris dari VER aku lihatnya Miko," buka Gladys menyambi, menunggu kopi mereka diantar. "Hhm. Yah. Ini tahun pertama aku terlibat di Paris Fashion Week." "Ahhh, pantesan. Dan ngomong-ngomong ini juga tahun pertamaku buat ikutan PFW loh," tutur Gladys. "Beneran? Bukannya kamu selama ini tinggal di sini?" Gladysa mengangguk. "Seringnya sih aku ikutan pagelaran-pagelaran yang skalanya lebih kecil gitu. Pengen banget bisa gabung di acara sekelas fashion show ala-ala big four dan taraaaaa setelah semua jatuh-bangunku baru sekarang deh kesampeannya." Rega menanggapi cerita Gladys dengan mengeluarkan beberapa buah anggukan. Di satu sisi pria itu sebenarnya ingin tahu apa saja yang telah Gladys lalui hingga bisa sampai di titik ini. Karena selama ini yang Rega pahami dari teman semasa kuliahnya tersebut adalah Gladysa merupakan wanita super berbakat. Dia salah satu mahasiswa yang talentanya paling berkilauan di jurusan Fashion Design dulu. Memutuskan untuk tak kembali ke tanah air pasca lulus dan meraih gelar Master. Banyak waktu Rega habiskan hanya demi sibuk memikirkan mengenai pilihan Gladysa saat itu. Belum sempat, Norega membuka kembali bibirnya untuk mengajak mengobrol Gladys, pelayan gondrong yang tadi menanyai mereka, kini datang kembali dengan membawa nampan berisi dua cangkir kopi yang tampak masih mengepul pekat. "Merci," sambut Gladysa tulus sewaktu menerima kopi bergaya dripnya. Meniup-niup uap halus di sekitaran cangkir, Rega lantas bertanya, "Dys, mengenai gelangnya. Sinarnya bukan karena pengaruh bubuk magnesium, kan?" "Hahaha. Nggak. Ada aku selipin tali yang ada light-nya gitu. Seratnya tipis banget. Aku butuh waktu sekitar semingguan buat bikin satu gelang." Merasa mengerti, Rega melanjutkan aksinya untuk menyesap espresso yang dilarutkan dalam air panas dan susunya. "Em, Reg?" Gladys memanggil. Mendongak demi saling bertatapan bersama mata teduh Gladysa, Rega menantikan kalimat imbuhan yang hendak wanita itu utarakan. "Senang rasanya bisa ngobrol lagi sama kamu. Ingat nggak? Biasanya kita nongkrong di dalam, di dekat jendela?" "Terus, habis itu kita selalu saja lupa dan ngomong pesan café. Lalu, si botak malah nggak mau mengerti serta terus-terusan ngasih kita secangkir espersso yang porsinya cuma cukup buat setegukan saja," sambung Rega bernostalgia. "Aku nggak nyangka kalau peristiwa itu udah terjadi sembilan tahun yang lalu loh."  Gladys melipat lengannya di atas meja. Sedang matanya awas mengawasi Rega. "Kamu ... udah menikah?" Rega kontan tersedak air kopinya sendiri. Pria itu terbatuk beberapa kali sebelum, menggerakan tangannya guna mengusap bagian lehernya yang mendadak membeku. Mengangkat kedua bahunya santai, Rega menjawab jujur, "Sekitar satu tahun lalu." "Ahhh, aku kira kamu mau nungguin aku." "Kamu terlalu lama buat ditunggu, Dys." "Padahal coba kalau kamu bersabar buat menunggu setahun lagi. Mungkin ceritanya bakal lain." "Sesuatu yang berlalu kadang emang udah seharusnya seperti itu. Lagipula aku nggak terlalu suka berharap terhadap perihal yang nggak pasti," kata Rega berupaya mengeluarkan ekspresi yang setenang mungkin. "Gimana itu bisa jadi pasti saat kamu nggak pernah coba buat menanyakan serta membuktikan kebenarannya," tanggap Gladys berani. "Sesuatu yang udah jelas kutahu apa jawabannya, rasa-rasanya nggak perlu untuk kutanyakan lagi, Dys," respons Rega telak. "Kamu selalu begitu, Reg. Padahal belum tentu loh apa yang kamu asumsikan itu sejalan sama kenyataannya." "Apa yang nyata? Kamu mencintaiku?" "Hah?" Bangkit dari duduknya, Rega mengeluarkan lembaran-lembaran Euro dari dompetnya guna ia letakkan di atas meja. "Yang nyata pada saat ini adalah aku udah menikah dan bukan dengan kamu. Kopiku udah habis. Aku duluan," ujar Rega sambil bersiap pergi. Sebelum suara Gladys lagi-lagi menghentikan niatannya. "Ini baru jam 2 siang. Gimana kalau kita ke ESMOD dulu? Kamu udah lama, kan nggak ke Paris? Di kafe dekat ESMOD suka banyak teman-teman kita kumpul loh," tawar Gladys. Melirik sekilas ke arah arlojinya. Tepat dua jam sebelum memasuki waktu keberangkatan pesawatnya. Jika mereka ke ESMOD naik Métro dari stasiun Sévres dan turun di Trinité. Pulang-pergi mungkin butuh waktu sekitar satu jam. Dan jika Rega dapat lebih berhemat waktu maka, kemungkinan dia bakal sanggup memburu jadwal keberangkatan pesawatnya. "Tapi, jangan lama-lama?" nego Rega. "Itu berarti jawabannya 'iya', kan?" *** Ketika sudah bertemu, lalu berkumpul bersama teman-teman lama. Jangankan ingat waktu, seluruh rangkaian bahasan yang dibicarakan pada saat tengah mengobrol rasanya sungguh seru. Dan sebagai salah satu buktinya, gara-gara berkelakar juga bernostalgia bersama teman-teman sekampusnya dulu di ESMOD, yang beberapa hijrah ke Paris dan beberapa lainnya memang orang asli Prancis itu Rega jadi melupakan soal tiket peswatnya. Juga di atas semua itu, Norega pun melalaikan fakta bahwa dia sudah lama menunda-nunda waktu untuk menghubungi Meta. Tanpa pria itu tahu, di ujung belahan dunia lain, yang jaraknya belasan ribu kilometer darinya, Meta mungkin saja tengah dirundung kekhawatiran. Sementara Norega bersama sekitar lima orang kawannya termasuk Gladysa. Sekarang ini telah menghabiskan berjam-jam lamanya di Nuba. Salah satu rooftop bar di daerah Parigi. Mereka asyik saja membicarakan hal-hal penting sampai ke masalah yang berbau sampah. Sukses melewatkan jam take off pesawatnya. Norega baru diantar kembali ke hotel tempatnya menginap oleh Gladys sewaktu pria itu telah berada dalam kondisi setengah sadar akibat menenggak bergelas-gelas wine guna ikut merayakan pesta kawannya yang akan melepaskan masa lajangnya di esok hari. Berbaring secara sembarangan di permukaan kasurnya, melalui pengelihatannya yang mulai buram. Rega dapat menangkap sesosok siluet yang tampak sedang berusaha membantunya untuk membuka sepatu. Tatkala siluet yang bisa dipastikan ialah seorang wanita tersebut bergerak dan berdiri di sisi ranjangnya. Tangannya terulur hendak beralih demi membantu Rega membuka jasnya. Belum sempat kejadian, lengan Rega justru berpacu lebih sigap untuk memeluk pinggang wanita itu serta menariknya agar duduk di atas busa kasur. Dengan sorot mata yang remang, Norega menggeser letak duduknya. Pria itu menghapus sekat yang menyela di antara tubuh mereka. Memiringkan kepalanya, Rega sedikit demi sedikit mengeksekusi segala jarak. Begitu bibirnya tepat berada di depan bibir milik wanita itu dan nyaris saja menempel. Rega malah berkata penuh penekanan, "Walau aku setengah sadar, aku tahu kamu orang lain." Mengambil jeda sesaat dengan posisi yang masih saja sama. Rega melanjutkan, "Wangi bibir kamu beda. Wangi bibir kamu ... nggak seperti wangi bibir Meta yang biasanya aku cium." "So, berhenti sampai di sini! Mencopot sepatuku atau bahkan bajuku walau niatmu baik. Itu sama sekali bukan tugas kamu, oke?" Selesai mengutarakan ujaran tersebut Rega pun segera menarik diri. Melemparkan tubuhnya sendiri dengan kasar ke atas ranjang. Tangannya bergerak guna meraih guling dan tak butuh waktu lama pria itu lantas mendekap bantal tersebut di dadanya dengan erat. "Meta," gumam Rega pelan sambil tertawa lirih. Di sisi lain, Gladysa yang sedari tadi memerhatikan segala tingah laku Norega tersebut pun tak ayal langsung mengulas segaris senyum sederhana. Berjongkok tepat di samping ranjang, wanita itu menyejajarkan tinggi tubuhnya dengan Rega. "Reg?" panggil Gladys sambil menatap wajah Rega secara intens. Rega yang belum juga jatuh tertidur pun menyahut meski dengan suara yang timbul-tenggelam karena terkikis oleh kesadaran. "Hhm?" "Aku lega. Lega banget. Karena sekarang, aku bisa lihat kamu, dengar suara kamu secara nyata kayak delapan tahun lalu waktu kita masih akrab berteman. Di sini, di depanku kamu kelihatan jauh lebih baik dari terkahir kita ketemu dan aku bahagia. Bahagia kalau kamu juga bahagia." *** Melihat layar ponselnya yang sunyi-senyap untuk kesekian puluh kalinya. Meta merasa jika dia sudah tidak kuat lagi untuk menahan gerombolan kegelisahan yang memberondong guna menyerangnya dalam beberapa hari belakangan ini. Dan pada akhirnya tangannya pun beraksi tanpa komando guna men-dial nomor seseorang. "Zio?" sapa Meta memulai sesi panggilan. "Hm, Me? Ada apa?" Nada kalem adik tunggal Rega menyahut, memenuhi indra pendengaran Meta sekaligus juga membuat wanita itu bimbang. Haruskah dia memberitahukan kepada Zio mengenai masalah yang tengah dihadapinnya? "Anu ... nggak apa-apa kok." "Ada apa?" Menghela napas pelan, Meta sadar bahwa tak seharusnya dia menghubungi seorang Ezio Nauerlino Prakosatama jika niatnya ingin menyembunyikan sesuatu dari pemuda itu. Karena bungsu keluarga Prakosatama tersebut jelas tipikal orang yang sulit untuk dikelabuhi. "Rega hubungin kamu nggak, Zi?" tanya Meta pada akhirnya. "Dia nggak ngehubungin kamu?" "Yah? Itu ...." "Berapa lama dia udah nggak ngehubungin?" Meta terdiam sejenak, sebelum mengeluarkan seutas tawa super sumbang. "Nggak kok, Zi—" "Berapa lama, Me?" "Nggak. Aku saja kok kayaknya yang terlalu lebay. Dia pasti lagi sibuk dan mungkin acaranya masih belum selesai di sana." "Meta ... cukup kasih tahu aku yang sejujurnya." Menggigit bibirnya pelan, Meta lalu mencicit, "E ... enam harian ini." "Oke. Nanti coba aku kontak Abel sama Tom. Kalau aku tahu Rega di mana. Aku bakal hubungin balik kamu." "Iya. Makasih, Zi." "Jangan lupa makan. Nggak usah terlalu dipikirkan soal ini. Bentar lagi Rega pasti pulang. Udah malam, tidur tepat waktu, hm? "Iya." Dan mereka pun mengakhiri sambungan telepon tersebut. Meta sendiri langsung kembali memberikan tatapan kosong pada layar smartphone-nya yang masih saja sunyi. Mencari kontak Rega, wanita itu lantas bergumam, "Seenggaknya kalau mau pulang telat kamu bilang dong. Ini udah dua hari lewat dari sembilan hari yang kamu janjiin. Apa segitu mahalnya sambungan internasional? Kamu, kan bisa pake wifi terus balas chat aku. Apa susahnya sih nulis 'Aku baik-baik saja' supaya aku nggak segini cemasnya? "Mau kamu di sana sebulan juga nggak apa-apa asal aku tahu kalau kamu sehat, kamu nggak kecopetan, pesawat kamu nggak jatuh, atau terlibat hal-hal bahaya lainnya. Cukup dengan aku tahu bahwa di sana kamu lagi kerja dan nggak kekurangan apa pun. Kamu nggak perlulah nanyain kondisiku kalau kamu emang lagi sebegitu sibuknya. Nggak sampe satu menit, aku cuma mau dengar kalau kamu baik-baik saja. Cuma itu, Reg." "Tapi kenapa sih kamu selalunya nggak mau ngerti gimana susahnya di posisiku ini?" Dan malam itu Meta kembali tertidur di ruang tengah setelah menunggu sampai lelah kalau-kalau bel rumahnya berbunyi dan membawa serta sosok Rega di balik pintunya. Namun, sayangnya hari itu kembali berlalu dan Rega belum juga pulang. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD