Ending

2280 Words
Happy reading. * Mengusap sayang wajah cantik yang ada didepannya. Bibir yang selalu tersenyum dan bergumam memuji wajah cantik yang tengah tertidur dipangkunya. Dalam hati Jimin selalu mengucapkan kata syukur pada sang pencipta. Mempertemukan mereka dan menyatukan mereka dalam kebahagiaan. Mengalami berbagai masalah dan cobaan keduanya tetap tegar dan berjalan kedepan. Walaupun sempat Jimin akui jika ia hampir putus asa karena orang-orang dalam masa lalunya kembali dan ingin menghancurkan rumah tangganya. Tetap bertahan hingga Aliya mengatakan jika cinta padanya. Semuanya sudah berlalu dan saatnya Jimin menatap masa depan yang cerah bersama Aliya dan calon anaknya. Mengingat keadaan Aliya yang tengah hamil tua bibir Jimin kembali menyunggingkan senyum yang teramat manis. Pandangan Jimin jatuh pada perut Aliya yang sudah membesar. Usianya lebih dari 7 bulan perkiraan dokter adalah 7.5 bulan. Usia Aliya bahkan belum genap 18 tahun tapi sudah akan memiliki anak. Jimin ingat saat Aliya yang lebih memilih diam dirumah, dari pada menghadiri acara kelulusannya. Tentu saja Aliya akan diam dirumah, perutnya sudah terlihat dan Aliya tidak akan gila dengan datang ke acara kelulusan dengan perut membesar. "Eugh" Lenguhan pelan Aliya membuat Jimin sadar dari lamunannya. Mengamati Mata Aliya yang perlahan terbuka. Sepertinya masih sangat berat, terbukti dengan Aliya yang kembali memejamkan matanya. Terkekeh saat mendengar erangan dari bibir sexy Aliya. Apalagi dengan tangan Aliya yang mengusap perut buncitnya dengan lembut. "Dia menendang?" Mata Aliya akhirnya mendongak menatap kearahnya. Mata jernih yang masih terlihat lelah. "Hem. Dia sangat suka menganggu tidurku sama seperti ayahnya" Jimin tertawa mendengar ucapan Aliya yang seperti kesal. Menunduk dan mengecup pipi chubby Aliya dengan gemas. "Itu artinya dia sayang Ibunya" kata Jimin lembut dan membuat Aliya masih saja merengut. Jimin menjauhkan wajahnya dan membuat kepala Aliya kembali kebantal. "Tunggu sebentar. Ini Jam-mu makan siang. Aku kedapur dulu" Jimin turun dari ranjang dan tidak lupa mencuri satu ciuman dari Bibir Aliya. Melihat punggung Jimin yang sudah tidak terlihat lagi Aliya hanya tersenyum simpul dan mengusap sayang perutnya. "Miriplah sedikit dengan ibu. Jangan hanya bawa gen dan wajah ayahmu. Ibu juga mau kau mirip dengan ibu" kata Aliya lembut dan membuat dirinya dihadiahi tendangan kecil dari bayinya. "Kau tidak setuju Hem? Tidak mau mirip dengan ibu" lagi perut Aliya ditendang dan Aliya hanya bisa tertawa. Sepertinya bayi mereka begitu sayang dengan Jimin dari pada dirinya. "Baik-baik ibu tidak akan protes jika kau mirip ayah. Kau bebas memilih" kata Aliya pasrah dan tepat saat itu pintu kamar mereka terbuka dengan Jimin yang masuk kedalam dengan nampan yang sudah terisi penuh dengan makanan. Air liur Aliya bahkan sampai ingin mau menetes. Baunya harum, dan sepertinya makanan itu baru saja dimasak. Perut Aliya jadi keroncong sendiri. "Nah sekarang saatnya makan. Habisan nde? Biar anak kita tidak kelaparan" Aliya tersenyum dan mengangguk antusias. Menatap berbinar pada nampan yang sudah ada dipangkunya. "Hati-hati. Jangan sampai tersedak" * Jimin awalnya tidak setuju saat Aliya membawanya ke penjara untuk menemui Daneil dan Mark, tapi Aliya tetap memaksa hingga akhirnya Jimin pasrah dan mengikuti kemauan Aliya. Keduanya saling berhadapan langsung dan Jimin enggan untuk menatap wajah keduanya. Sedangkan Aliya justru tersenyum lembut pada keduanya. "Bagaimana keadaan kalian? Apa kalian makan dengan baik?" Keduanya lebih memilih bungkam dari pada menjawab pertanyaan Aliya. Tentu saja keduanya sangat malu, terlalu keji dan jahat pada Aliya tapi wanita ini justru masih bersikap sangat baik pada mereka. "Ten akan kembali ke Jepang. Apa Oppa sudah dengar?" Aliya berbicara lembut pada Mark yang masih saja diam. Aliya bisa melihat dengan jelas jika keduanya sangat tidak nyaman berbicara seperti ini. Apalagi Jimin yang lebih memilih membuang mukanya dari pada melihat Aliya berbicara dengan mereka. Sepertinya Aliya harus mengakhiri ini dengan cepat. "Pergilah jauh dari Seoul dan kembalilah saat kalian sudah merasa cukup mendapat hukuman" menolah seketika saat mendengar suara Aliya. Apa maksudnya? Mereka akan dibebaskan? "Apa maksudmu?" Daniel bertanya dengan suara yang bisa dikatakan marah. Mau sebaik apa lagi Aliya padanya? Ia bahkan malu mengakui dirinya pernah mencintai Aliya. Terlalu baik dan sempurna, sedangkan dirinya hanya b******n yang sudah seharusnya mati. "Aku ingin mengakhiri semuanya. Tidak ada dendam atau kebencian. Benar-benar lembaran baru tanpa noda hitam atau cacat. Melupakan masa lalu dan menatap masa depan. Kita akhiri ini dan memulai dari awal. Tata kembali kehidupan kalian dan berubahlah. Kalian bebas" kata Aliya pelan dan membaur Daniel menggeleng tidak percaya. "Setelah apa yang kulakukan selama ini kau masih baik padaku?" Pertanyaan Daniel membuat Aliya tersenyum. "Aku hanya ingin berbuat baik pada laki-laki yang pernah mengisi hatiku dulu dan kakak dari temanku. Hanya itu, tidak lebih lagi pula tidak baik terlalu lama memendam dendam. Pergilah tidak akan ada yang mengejar atau memenjarakan kalian lagi. Dan Mark Oppa susullah Ten. Bagaimanapun dia tetap butuh kakaknya. Dia memang kecewa padamu tapi dia tetap adik yang begitu menyayangi kakaknya" * "Kau puas?" Aliya hanya tersenyum dan memeluk erat Jimin. Aliya tau jika Jimin tidak setuju dengan keputusannya untuk membebaskan Daniel dan Mark. "Kau terlalu baik pada mereka" Aliya hanya diam dan terus mendengarkan Jimin yang masih mengoceh menolak keputusan tadi. Malas meladeni si pendendam. "Sudah?" Tanya Aliya saat Jimin perlahan diam dan membalas pelukannya. "Jika aku terlalu baik pada mereka, itu artinya aku juga terlalu baik padamu" Jimin segera melepaskan pelukan mereka dan menatap Aliya. Mengintimidasi iris cantik Aliya dan mengajaknya beradu dengan iris pekatnya. "Apa maksudmu?" Aliya tersenyum dan menegakkan tubuhnya. Menghadap sempurna kearah Jimin. "Kau lupa siapa yang memulai ini semua? Daniel menyanggupi ucapan siapa? Sadarlah Jim jika kau sama saja dengan mereka. Walaupun ini diakhiri dengan beda kasus. Cara mereka dan caramu berdeda. Kau memilih menebus kesalahanmu dengan menikah dengan ku. Mereka memilih menyelesaikan ini dengan kekerasan. Walaupun kau sudah mencintaiku tapi tetap saja semua berasal darimu" Jimin bungkam mendengar ucapan Aliya. Terdengar sangat menusuk hatinya, jelas itu kebenarannya dan Jimin tidak bisa membantah itu sama sekali. "Aku ingin membuka lembaran baru. Denganmu juga dengan mereka, aku tidak mau peristiwa itu terulang lagi. Dan berakhir berimbas pada anak kita nanti. Dendam yang berkepanjangan akan membawa dampak buruk untuk masa depan. Entah pada kita atau keturunan kita nanti. Mereka bersalah dan kau pun juga. Aku memaafkan mu juga memaafkan mereka. Jadi berhenti membahas ini. Lagi pula mereka sudah berjanji akan pergi jauh dari Seoul. Cobalah menjadi orang pemaaf, itu tidak akan merugikan dirimu" kata Aliya lembut dan berlalu begitu saja meninggalkan Jimin yang mematung ditempatnya. "Kau benar. Akar dari ini semua adalah aku" * Setelah pembicaraannya dengan Aliya, Jimin menjadi lebih diam. Lebih memilih menghindar dari Aliya dan tidak banyak bicara. "Mencoba menghindar Hem?" Tanya Aliya yang menghalangi Jimin yang akan pergi kekantor pagi ini. Sudah lebih dari 3 hati Jimin menghindari dirinya dan Aliya tidak mau ini terus berlanjut. Kediaman Jimin tidak bisa terus diperpanjang. Akan berakibat buruk pada mereka nanti. "Aniya. Aku hanya akan berangkat" kata Jimin yang berjalan kedepan, tapi tas dan kunci mobil yang ada ditangannya lebih dulu dilempar Aliya kepojokan kamar. Mendesis pelan dan menatap tajam Jimin. "Aku mengatakan itu semua bukan untuk menyinggungmu. Aku hanya menunjukkan kebenaran dan kenapa kau harus tersinggung? Bukankah seharusnya kau malu dan sadar. Menyadari jika bukan hanya kau yang benar? Semua orang punya masa lalu dan kenangan buruk. Aku hanya ingin merubah pola pikir mu yang kolot dan terus membenci temanmu sendiri. Lupakan jika kalian pernah berteman?" Teriak Aliya keras dan Jimin hanya bungkam. Nafas Aliya terdengar memburu, menatap tajam Jimin yang lebih memilih membuang muka dari pada menghadapi kemarahannya. "Kebencian mu itu akan berakibat buruk bagi kita kedepan. Aku benar-benar ingin memulai semua dan aku tidak mau dendam terus menghantuiku. Mencoba memaafkan mu yang menjadikan aku barang taruhan juga susah, tapi aku belajar dan lihat aku berhasil sekarang. Sedangkan kau? Kau hanya sibuk membenci mereka dan menganggap dirimu benar? Kau sama salahnya jadi jangan hanya suka mengadili orang. Rubah pola fikirmu dan berhenti bersikap egois. Jika saja aku tidak mencintaimu sudah pasti aku pergi meninggalkan mu, aku terlalu mencintaimu dan memilih menutup mata dan melupakan semua. Jadi kumohon buka matamu dan jangan hanya sibuk dengan kebencian atau pernikahan kita dapat berakhir dengan cepat. Jadi fikirkan itu" cetus Aliya dingin dan terus menatap Jimin yang bungkam. "Terserah padamu sekarang. Aku tidak peduli" desis Aliya dan berlalu begitu saja. Ia muak berbicara dengan orang yang punya fikiran sempit. Termasuk Jimin sendiri. "Aku yang salah lagi?" * "Kau mau kemana?" Tanya Jimin saat melihat Aliya yang mengemasi barang-barangnya. Wajah Aliya masih saja dingin dan Jimin semakin mendekat. "Kau mau pergi?" Aliya hanya diam dan membuat Jimin meraih tas koper Aliya dengan cepat dan membuangnya. "b******k kau~~~emp" baru saja Aliya akan mengumpat, Jimin lebih dulu membungkam bibirnya. Kasar dan cepat, Aliya bahkan sampai susah bernafas dan bergerak. Memukul keras d**a Jimin tapi ciuman mereka semakin panas. Jimin segera menarik nya keatas ranjang dan menindih tubuhnya. "Eugh" Aliya sedikit melenguh karena Jimin yang sudah meremas dadanya. Agak sakit karena dadanya sudah membengkak. Mungkin efek dari kehamilan ini. "Maaf dan jangan pergi" cetus Jimin dan kembali mencium Aliya dengan ganas. Mendengar itu Aliya hanya bisa melihat Jimin yang ada diatasnya. Mendorong perlahan Jimin yang ada diatasnya dan Jimin benar-benar menjauhkan tubuh mereka. "Jangan ulangi lagi" ujar Aliya lembut dan membuat Jimin mengangguk dan tersenyum. Mengusap sayang wajah Aliya dan Jimin menundukkan wajahnya dan kembali mencium lembut bibir Aliya. Kali ini lebih dalam dan lembut. Aliya menyambutnya dengan baik dan tangan Aliya juga sudah mengalungkan lengannya keleher Jimin. "Tidak masalah kan melakukan seks pada ibu hamil tua?" Aliya mendengus mendengar pertanyaan Jimin. Sudah tau tanya? Aliya sudah kepanasan sendiri. Daerah bawah tubuhnya sudah sangat basah. "Lakukan saja Jim. Kenapa kau banyak tanya?" Jimin tersenyum simpul dan menundukkan kepalanya. "Biasanya kau akan menolak jadi aku bertanya dulu" Aliya mendesis pelan dan menarik kepala Jimin dan kembali mencium Jimin. "Eugh" mendesah pelan dan Jimin dengan mudah merobek baju Aliya. Hanya terusan untuk ibu hamil, itu sangat mudah dirobek. Jimin mengalihkan tanganya yang semula menjadi penumpang tubuhnya agar tidak menindih tubuh Aliya sepenuhnya mulai menjelajah. Aliya menggunakan bra warna hitam yang sangat kontras dengan kulitnya. Bergerak kebelakang dan mencari pengaitnya. Membukanya dengan cepat dan membuangnya kesembarangan arah. Jimin semakin bergerak cepat dan juga ciuman mereka semakin tidak terkendali. Merasakan Aliya yang kesusahan bernafas Jimin melepaskan tautannya dan beralih keleher Aliya dengan tangan meremas d**a Aliya yang sudah terbuka. "Eugh Jim" mendesah keras dan membuat Jimin semakin kepanasan. "Sebut namaku terus sayang" lirih Jimin dan semakin bergerak liar. * "Yakh jangan gunakan itu" Aliya menatap polos Jimin yang sedang berteriak padanya. Aliya sedang bermain-main dengan Laptop Jimin yang digunakan bekerja. Rencananya Aliya ingin melihat-lihat beberapa Universitas untuknya nanti. Aliya memang berencana ingin kuliah setelah melahirkan. "Wae?" Jimin mendengus dan meraih laptopnya. "Terakhir kau menggunakan ini semua data Meetingku hilang dan aku tidak mau mengulanginya lagi. Oke Nyonya~~~argjj" Jimin terkejut mendengar teriakan Aliya yang tiba-tiba. "Wae?" Tanya Jimin gagap dan meletakan Laptop nya kemeja. "Sakit Jim" Jimin masih saja diam melihat Aliya yang kesakitan. Tidak menolong atau bertindak apapun. "b******k kau. Aku mau melahirkan Sialan" mendengar umpatan Aliya, Jimin tersentak dan meraih tubuh Aliya dengan cepat. Membawanya keluar dan menuju rumah sakit. "Cepat Bodoh" * Wajah Jimin berantakan karena cakaran Aliya saat prosesi melahirkan tadi. Bahkan pipi Jimin juga memar karena tamparan Aliya. Melihat Aliya yang menjerit kesakitan Jimin seolah tidak merasakan apapun. Teriakan keras Aliya lebih membuat Jimin takut dari pada tangan Aliya yang menganiyaya dirinya. Tapi rasa sakit itu terbayar melihat bayi mungil penuh darah yang keluar dari rahim Aliya. Kecil dengan suara tangisan yang begitu nyaring. "Dia laki-laki Tuan Park" Jimin tidak bisa menahan air matanya setelah mendengar ucapan Dokter Kim Jisoo. "Terima kasih" Jimin mencium lembut Aliya yang masih mengais nafas kerena prosesi melahirkan bayi mereka tadi. Jimin tidak sungkan mencium mesra bibir Aliya didepan umum. Masih ada Dokter dan beberapa Perawat yang ada disana tapi Jimin tetap tidak peduli. Ia hanya ingin menyampaikan ucapan terima kasih untuk Aliya yang sudah melahirkan keturunannya. "Ehem" deheman Dokter Kim Jisoo membuat Aliya mendorong perlahan Jimin. Tentu saja itu teguran. "Mian Dokter. Dia memang seperti itu" kata Aliya tidak enak. Sedangkan Dokter Kim Jisoo hanya tersenyum tipis dan mengangguk. "Maklum untuk pasangan Ayah dan Ibu Muda. Selamat Nyonya Park" Aliya mengangguk dan tersenyum manis. "Bayi anda akan dibersihkan dulu. Mohon tunggu sebentar" setelahnya Dokter Kim Jisoo berlalu dari kamar bersalin Aliya. "Dasar" Jimin hanya tersenyum dan kembali mencium Aliya. Tapi hanya kening. "Terima kasih karena melahirkan Jagoan Kecilku" ujar Jimin tulus dan Aliya hanya tersenyum tipis. "Jagoan kecil kita" kata Aliya membenarkan. * "Wow dia mirip Jimin" kata Taehyung menilai wajah keponakannya. Semuanya datang untuk melihat bayi kecil Park. "Kau benar Tae. Dia sama sekali tidak mirip adikmu" kata Yuri yang menggendong bayi mereka. "Ah Jinja dia benar-benar menggemaskan. Dan siapa namanya Jim?" Jimin tersenyum dan menatap Aliya. "Ji Won. Park Ji Won" kata Jimin sambil tersenyum. "Annyeong Ji Won-ah" teriak Taehyung keras dan Ji Won langsung menangis. Taehyung dapat cubitan dari Yuri dan pukulan dari Jungwoon. Ji Won langsung pindah tangan ke Aliya. "Dasar Alien k*****t" umpat Jimin dan kali ini Jimin dapat pukulan kepala dari Taeyeon dan cubitan dari Aliya. Melihat Jimin dan Taehyung yang teraniaya semua jadi tertawa, bahkan Ji Won yang awalnya menangis jadi diam. Sepertinya Ji Won suka melihat ayahnya teraniaya. "Kau sangat suka melihat Ayah teraniaya oleh Ibu Won-ah" Aliya mendengus mendengar ucapan Jimin. Tapi Jimin hanya tersenyum dan mengecup pipi Aliya dan mengusap pipi chubby Ji Won. "It's All Just For You My Sun" Aliya tersenyum dan mengangguk. "I Know" keduanya masih saja melemparkan senyum manis dengan Ji Won yang menatap keduanya. * Kebahagiaan akan hadir dalam hidup saat kau mau membuka hati dan melapangkan hati untuk semua masalah yang ada. Hanya hati yang tulus yang akan benar-benar mendapatkan kebahagiaan. It's Just For You. End.  Picture Park Ji Won.  Kalo ini yang udah agak Gede
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD