Happy Reading.
*
"jadi kau menikah dengan laki-laki itu?" Baru saja Aliya akan masuk kedalam sekolah Ten lebih dulu menghadangnya dan bertanya tentang Jimin yang mengantarkan dirinya sekolah. Tidak berguna. Jika iya kenapa? Mau marah.
Memutar bola matanya jengah dan menatap wajah Ten dengan kesal. "Jika iya kenapa? Ada masalah? Sebenarnya kau ini apa? Sudah kuberi tahu jika aku sudah menikah tapi kau masih saja mengejar ku? Dimana otakmu sebenarnya?" Tanya Aliya kesal sedangkan Ten mengepalkan tangannya kuat setelah mendengar ucapan Aliya.
"Kenapa kau masih bertahan dengan semua ini? Bukankah dia menjadikan mu sebagai bahan taruhan?" Aliya mendecih sinis dan membuang mukanya.
"Apa sesempurna itu dia? Atau kau dipaksa?" Aliya mendesis pelan mendengar pertanyaan Ten yang semakin tidak sopan.
"Dengarkan aku Ten. Aku benar-benar malas dan tidak mau mencari musuh atau bertengkar dengan mu. Jadi dengarkan aku baik-baik. Tidak peduli apapun yang kau katakan tentang suamiku yang jelas aku tidak akan meninggalkan dia. Dari pada kata-kata yang kau ucapkan tadi dia sudah banyak berkorban banyak untukku dan aku tidak akan emosi atau marah hanya karena provokasimu. Dan harus kau tau jika aku mencintai nya dan satu lagi saat ini aku sedang hamil anaknya jadi berhenti berkata apapun tentang dia. Atau aku akan benar-benar melupakan jika kita teman dan memukul wajahmu" ujar Aliya dingin dan berlalu meninggalkan Ten yang mematung.
Apa Aliya tidak salah ucap? Mencintai Jimin? Hamil? Tidak mungkinkan? Bagaimana bisa Aliya hamil?
"Seolma"
*
Jimin tidak berhenti mengumbar senyum manis saat disapa beberapa karyawan. Sesekali Jimin menepuk pundak bawahan yang akrab dengannya.
"Kau gila?" Jimin menoleh dan menemukan Taehyung yang sudah ada didepannya. Bukanya menjawab pertanyaan Taehyung, Jimin justru memeluk Taehyung erat dan Taehyung jadi berteriak dan minta dilepaskan, tapi pelukan Jimin terlalu erat.
"Sialan kau Jim. Lepaskan aku" teriak Taehyung keras. Masalahnya mereka masih ada dikoridor dan masih banyak juga karyawan yang berlalu lalang. Tentu saja Taehyung malu dipeluk Jimin seperti ini. Mereka bisa dikira Gay.
"Sialan kau. Lepas b******k. Ini didepan umum" umpat Taehyung keras dan Jimin segera melepaskan pelukannya. Menatap berbinar kearah Taehyung dan jangan lupakan senyum manis yang masih mengembang dibibir Jimin.
"Kau tau Tae~~~"
"Tidak!" Sela Taehyung ketus pada Jimin yang akan menyelesaikan ucapannya. Taehyung tentu saja masih kesal.
"Ish dengar kan dulu. Kau tau Aliya? Aliya semalam. Dia bilang jika dia~~~"
"Dia apa?" Sentak Taehyung yang mulai khawatir. Jimin terlalu bertele-tele.
"Aliya hamil anakku!" Mulut Taehyung jatuh terbuka mendengar ucapan Jimin. Hamil? Taehyung tidak salah dengar kan? Jimin baru saja bilang Aliya hamil?
"Kau akan jadi paman. Kau senang kan?" Tanya Jimin antusias pada Taehyung yang diam.
"Bodoh kau. Adikku masih sekolah" teriak Taehyung keras dan membuat Jimin melunturkan senyumnya.
"Lalu kenapa?" Tanya Jimin pelan. Taehyung mendesis pelan dan memukul kepala Jimin.
"Usia adikku bahkan belum genap 18 tahun dan kau sudah menghamilinya. Kau gila? Dia masih sekolah. Dimana otakmu? Kau mau dia tidak lulus sekolah?" Rentetan pertanyaan Taehyung membuat Jimin menyesali tindakannya memberi tahu Taehyung kabar kehamilan Aliya. Tau begini Jimin tidak akan bilang apapun tadi.
Bukanya dapat ucapan selamat atau doa, Taehyung justru terus mengomel dan menyumpahi dirinya. Mengumpat lagi, huh dasar Alien k*****t, Sialan lagi. "Sudahlah diam. Lagi pula adikku hamil dengan suaminya. Kenapa kau sehisteris ini? Aku tidak akan meninggalkan dia juga. Dan kau tidak perlu khawatir" kata Jimin kesal sedangkan Taehyung mendecih kesal mendengar ucapan Jimin yang begitu sialan.
"Jika kau berani meninggalkan dia akan ku kejar kau ke ujung Neraka sekalipun. Bukan masalah tanggung jawabnya tapi usia Aliya yang masih muda. Apa yang akan dikatakan orang jika dia hamil semuda ini?" Jimin mendecih sinis dan menatap sinis Taehyung.
"Apa masalah nya? Kami sudah sah dan untuk urusan usia itu bukan perkara sulit. Tinggal kutunjukkan buku nikah kami dan yang harus kau tau jika banyak gadis yang lebih muda dari Aliya yang hamil. Bahkan tanpa suami jadi jangan protes, atau ku pecat kau jadi iparku" ketus Jimin sebal dan menjauh dari Taehyung yang sudah kebakaran jenggot karena ucapan Jimin yang begitu sialan dan b******k.
"Bodoh kau Park Jimin" teriak Taehyung keras.
*
"Apa ini?" Tanya Aliya aneh saat Jimin membeli banyak belanjaan. Jimin pulang membawa dua tas kresek besar.
"Uhm Baju dan sepatu untuk anak kita" jawaban Jimin membuat Aliya kaget. Meraih cepat tas kresek besar Jimin dan melihat isinya. Wajah Aliya berubah shock saat melihat isinya. Penuh dengan keperluan bayi.
"Ya Tuhan Jim. Kau gila? Apa ini?" Teriak Aliya keras.
"Apa nya yang apa? Kenapa kalian sangat suka berteriak padaku? Tadi Taehyung sekarang kau. Huh kenapa adik kakak sangat sama" Aliya mendecih kesal dan menendang kaki Jimin hingga si empunya memekik kesal.
"Bayi ini bahkan belum genap 1 bulan dan kau sudah membeli banyak belanjaan seperti ini. Kau benar-benar tidak waras" ketus Aliya dan berlalu meninggalkan Jimin yang tengah menahan kekesalannya.
"Dasar tukang ngomel" ketus Jimin yang melemparkan tas kresek yang ia pegang kelantai. Moodnya hancur karena mendengar teriakkan dua orang berbeda dihari yang sama.
*
"Jadi kau masih mau mengejar Aliya?" Ten diam mendengar pertanyaan Yuta.
"Dengarkan aku Ten" Yuta membawa Ten untuk menatapnya. Bagaimana pun Yuta harus merubah pola pikir Ten. Yuta tidak bisa membiarkan Ten terus mencintai istri orang. Ya Yuta tau jika Aliya sudah menikah.
"Cintamu tidak salah. Tidak ada yang salah dalam cinta. Hanya saja perhatikan orangnya. Itu Aliya, jika dia belum menikah kau masih bisa memiliki nya. Tapi dia sudah menikah Ten dan lagi dia juga sedang hamil. Buka fikiranmu dan berfikir lah yang logis. Apa kau akan terus mengejar Aliya? Menghancurkan rumah tangganya? Atau yang lebih buruk kau menghancurkan masa depan anaknya? Kumohon jangan lakukan itu Ten. Kau pasti tau rasanya ditinggalkan oleh orang tua diusia dini? Apa kau juga ingin bayi itu mengalami hal yang sama?" Ten diam mendengar ucapan Yuta. Terasa memutus hatinya yang begitu dalam.
Ini adalah masa lalunya, ditinggalkan oleh orang tua dari kecil dan hidup hanya dengan kakaknya Mark. "Jika kau memang mencintai Aliya maka buktikan sekarang" Ten menatap Yuta. Jelas Ten tidak mengerti.
"Apa maksudmu?" Yuta menepuk pundak Ten pelan.
"Mark dan Daniel Hyung akan membunuh Aliya dan suaminya"
"Mwo?"
*
Aliya diam sambil menunggu jemputan Jimin. Memang setelah Aliya memberitahu Jimin jika dirinya hamil, Jimin tidak membiarkan Aliya pergi sendiri. Harus ada supir atau Jimin yang mengantarkan.
Katanya ini demi kebaikan mereka. Aliya dan janinnya maksudnya. "Dimana sipendek itu?" Kesal Aliya saat tidak melihat Jimin datang. Ia sudah menunggu disini selama 15 menit. Itu sudah sangat telat untuk Aliya.
"Das~~~emp" mulut Aliya terbekap dengan sapu tangan dan untuk beberapa saat kemudian Aliya jatuh tidak sadar.
"Bawa dia"
*
"b******k kau" tubuh Jimin jatuh terpental dengan disertai teriakan yang keras. Melihat bagaimana Daniel memeluk Aliya dengan mesra. Apalagi dengan kondisi Aliya yang linglung seperti orang yang tidak sadar.
Wajah Jimin sudah babak belur karena terjangan Mark. Tidak membalasnya sama sekali karena Jimin tau jika ia sedikit saja bergerak maka Aliya akan terluka. Jimin sangat tau bagaimana Mark. Bisa dikatakan jika Jimin sudah tidak punya tenaga untuk membalas Mark.
"Wah lihat kau Jim? Sebegitu cintanya kau pada dia? Wah dia benar-benar sial karena dicintai laki-laki seperti mu" Jimin mengusap kasar sudut bibir bawahnya yang terluka. Mendecih sinis mendengar ucapan Mark yang mencoba memprovokasi dirinya.
Jimin melihat semua, dimana Aliya yang dibawa masuk kedalam mobil dengan keadaan tidak sadar dan Jimin mengejar nya. Ternyata pelakunya adalah Mark dan Daniel. Dua b******n yang begitu ingin Jimin habisi.
"Kau lihat dia sayang? Dia menyedihkan" Aliya mencoba menenggakkan tubuhnya yang masih dipeluk Daniel. Obat bius Aliya masih bekerja dan Aliya belum sepenuhnya sadar.
"Jebal Oppa. Jangan sakiti dia. Kumohon" lirih Aliya yang memegang tangan Daniel yang ada di pipinya. Aliya tidak bisa melihat Jimin terluka.
"Kenapa kau masih membelanya?" Tanya Daniel keras dan membuat Aliya tersenyum manis.
"Karena aku mencintai nya" jawaban Aliya membuat Jimin dan Daniel membeku. Aliya baru saja bilang mencintai Jimin?
"Neo~~~" tersenyum tipis dan melepaskan pelukan Daniel. Berjalan sempoyongan kearah Jimin yang sudah tidak berdaya. Langkah Aliya begitu berat hingga jatuh beberapa kali. Terus bangkit dan sampai didepan Jimin.
"Aku memang mencintainya" lirih Aliya dan membantu Jimin duduk. Tersenyum tipis pada Jimin, mengarahkan pandangannya pada wajah Jimin yang sudah terluka. Mata Aliya terlihat berkaca-kaca dan siap menangis.
"Maaf" lirih Aliya pelan dan Jimin menggeleng cepat.
"Bukan salahmu" Aliya memeluk Jimin dengan erat dan mulai menangis.
"Uljima jebal" melihat bagaimana Aliya memeluk Jimin dengan erat Daniel mulai tersulut emosi.
"Habisi mereka Daniel" desis Mark dan membuat Daniel menatap iblis kearahnya.
"Jika aku tidak bisa memiliki Aliya maka kau pun tidak bisa Jim" desis Daniel sinis dan membuat Mark tersenyum.
"Bunuh mer~~~"
"Hyung~~~" ucapan Mark terhenti saat mendengar panggilan yang ia yakini dari Ten. Adiknya.
"Apa yang kau lakukan disini Ten?" Tanya Mark marah. Ten hanya tersenyum miris dan menatap kecewa kearah kakaknya. Kenapa kakaknya sekejam ini? Pandangan Ten jatuh pada Aliya yang masih memeluk Jimin dengan erat. Benar kata Yuta, Aliya harus bahagia dan itu berarti Daniel dan Mark harus dihentikan.
"Menghentikan kalian" teriak Taehyung dari luar dan masuk bersama beberapa polisi. Mark terkejut melihat polisi, tepat saat Mark akan lari tangannya lebih dulu dicekal oleh Ten.
"Kau harus bertanggung jawab atas semuanya. Perbuatan kalian harus diberi hukuman. Kau membunuh Park Soo Young dan kau Hyung mencelakai Jimin dan Aliya" kata Ten keras.
*
"Kau benar-benar mencintaiku?" Tanya Jimin dan membuat Aliya tersenyum. Sudah berpuluh-puluh kali Jimin menanyakan pertanyaan yang sama padanya dan Aliya hanya bisa mengangguk.
Jimin ada dirumah sakit dan Aliya menemaninya. Luka Jimin perlu diobati dan untuk sementara waktu Jimin akan dirawat dirumah sakit.
"Apa tadi kurang jelas?" Tanya Aliya yang memegang tangan Jimin. Dapat Aliya lihat pancaran kebahagiaan diwajah Jimin.
"Hem!"
"Bagaimana bisa aku tidak mencintai orang yang begitu banyak berkorban untukku? Melepaskan semua untukku? Terus mengalah dan membuat aku bahagia. Keluar dari trauma dan ketakutan pada laki-laki. Menuruti semua keinginanku dan mengenyampingkan keinginan nya hanya demi membuat aku tersenyum. Terima kasih karena sudah mencintai ku Jim" Jimin tersenyum dan mencium lembut tangan Aliya.
"Aku selalu ingin mengatakan ini dari dulu. Aku mencintaimu sangat mencintaimu" Aliya tersenyum dan mengangguk. Mengusap sayang wajah Jimin.
"Istirahat~~~"
"Bagaimana keadaanmu?" Ucapan Aliya tersela karena Ten yang masuk ke ruangan Jimin begitu saja.
"Ten?" Ten tersenyum tipis dan mendekati mereka.
"Aku tidak akan lama. Jadi kumohon dengarkan aku baik-baik. Maaf untuk semua. Sikap kurang ajar ku, kelancangan ku, dan rencana iblis Hyung-ku. Aku sungguh minta maaf dan kuharap kau mau memaafkan itu. Permisi" Ten berlalu begitu saja dan membuat Aliya diam.
"Kejar dia. Setidaknya berikan semangat untuknya. Dia pasti terguncang karena kejadian tadi" kata Jimin yang mengerti situasi dan Aliya sontak menatap Jimin.
"Pergilah. Kalian temankan?" Aliya tersenyum dan mengangguk. Berlari keluar mengejar Ten, sementara Jimin juga tersenyum dan memejamkan matanya. Ia mengantuk.
Tbc .