Ten

1584 Words
Happy Reading. * Wajah Jimin terlihat gugup melihat seseorang yang tidak pernah ingin ia lihat selama ini. Dua orang yang begitu Jimin hindari dan Jimin benci kehadirannya. "Merindukan ku Hyung?" Suara familiar yang begitu Jimin benci. Terdengar sangat memuakkan dan Jimin berani bersumpah untuk tidak mau mendengar itu disisa hidupnya. "Rupanya kau sudah bahagia dengan Aliya. Wah kau curang. Dia membenciku tapi tidak membencimu. Bahkan saat ini dia jadi istrimu. Kau benar-benar b******n sejati rupanya" Jimin hanya diam dan berusaha menghindari tatapan tajam dan cercaan suara Daniel. Ya Kang Daniel yang menghadangnya saat ini dan Jimin tidak punya prediksi jika Daniel akan menemuinya secara tiba-tiba. Waktu yang tidak Jimin perkiraan dan tidak Jimin duga. "Apa harus aku membongkar semua didepan Aliya?" Pertanyaan yang Daniel lontarkan membuat Jimin langsung mendongak menatapnya. Jelas Jimin tidak akan membiarkan Daniel melakukan itu. Jimin tidak akan membiarkan Daniel melakukan itu. "Apa yang kau inginkan?" Daniel tertawa mendengar suara Jimin. Lebih tepatnya tertawa mengejek. "Kau bertanya apa mauku? Baik kujawab. Mauku adalah istrimu. Aliya" * Aliya hanya diam menatap Taehyung yang tengah menundukkan kepalanya dalam. Mata Aliya terlihat berkaca-kaca dan siap untuk menangis. "Kenapa tidak ada yang memberitahuku sebelum ini?" Tanya Aliya dengan suara serak. Pandangan Aliya jatuh pada cincin pernikahannya dengan Jimin yang melingkar sempurna di jari manisnya. "Kenapa dia harus berkorban sejauh ini?" Tanya Aliya yang sudah menangis sedangkan Taehyung langsung mendongak menatap Aliya. Taehyung merasa bersalah membongkar semua didepan Aliya. "Dia mencintaimu" Aliya menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Isakannya semakin terdengar keras. "Dia ingin menebus semua kesalahannya dimasa lalu padamu" Aliya menggeleng kuat dan melepaskan tangannya. "Aku akan mengakhiri ini. Dia sudah cukup banyak mengalah dan aku tidak mau ini terus berlanjut. Cukup Oppa" Aliya berlari keluar dari kamar Taehyung. Semua harus selesai sekarang. Aliya tidak boleh terus diam dan membiarkan ini terjadi. "Maafkan aku Jim" Lirih Taehyung pelan. * Aliya berjalan sempoyongan dikoridor sekolah. Wajahnya terlihat begitu lelah dan jangan lupakan matanya yang membengkak. "Aliya~~~" tubuh Aliya jatuh saat menabrak tujuh seseorang. Aliya berjalan tanpa melihat jalan. Wajah Aliya mendongak menatap seseorang yang memanggilnya. Ekspresi sendu Aliya berubah kosong saat melihat orang itu. "Merindukan ku Hem?" Pertanyaan yang dilontarkan oleh laki-laki itu membuat Aliya tidak bisa berkutik. "Daniel Oppa" lirih Aliya yang seperti bisikan angin. Pelan dan ragu. "Senang kau kembali mengingat ku My Girl" ujar Daniel lembut dan menarik tangan Aliya untuk berdiri. Senyum manis Daniel tersemat di bibirnya saat melihat wajah Aliya. Akhirnya setelah beberapa tahun Daniel hanya bisa melihat Aliya dari jauh sekarang ia bisa melihat Aliya langsung. "Apa yang Oppa lakukan?" Daniel tersenyum dan mengusap sayang wajah Aliya. "Aku merindukan gadis kecilku" jawab Daniel yakin dan menarik Aliya untuk pergi bersamanya. Sementara Aliya masih saja diam dan mengikuti langkah kaki Daniel. Otaknya masih berjalan dengan lambat. "Eodi?" Lirih Aliya pelan. "Ketempat yang sudah seharusnya kita kunjungi 2 tahun lalu sayang" jawab Daniel yang dan terus me menarik tangan Aliya. * Jimin kebingungan saat tidak menemukan Aliya dirumah. Bahkan Jimin sudah mencari Aliya disekolah masih juga tidak bisa bertemu Aliya. "Apa ada telfon dari Aliya Ahjumma?" Tanya Jimin panik pada Ahjumma Ah. "Aniya tuan. Nona tidak menberi kabar apapun. Tadi pun saat pagi nona juga tidak sarapan dan langsung berangkat" Jimin semakin Panik mendengar jawaban Ahjumma Ah. Jika saja Daniel tidak muncul didepannya tadi Jimin tidak akan sepanik ini. Masalahnya Daniel yang tiba-tiba muncul dan Aliya hilang tanpa kabar. Jelas itu akan jadi berita buruk untuk Jimin. Ia tidak mau Daniel bertemu atau menemui Aliya. "Jika ada kabar tentang Aliya kumohon hubungi aku Ahjumma" Ahjumma Ah mengangguk pelan dan Jimin segera berlari keluar dari rumah. Ia harus menemukan Aliya secepatnya. Tepat saat Jimin akan masuk mobil suara dering ponselnya menghentikan langkah kakinya. Tanpa melihat ID sipemilik nomor Jimin langsung mengangkatnya. "Yeobseo~~~~brak!" Ponsel Jimin jatuh begitu saja. Dan saat ini fikiran Jimin dipenuhi hal yang buruk. "Aliya~~~~" * "Kau merindukan istrimu?" Jimin hanya diam melihat bagaimana Daniel merangkul Aliya dengan mesra. Wajah Jimin terlihat mengeras saat melihat Aliya yang hanya diam saja dirangkul Daniel. Jelas Jimin emosi, tapi ia mencoba menahan diri karena ada Aliya. Mata Jimin bisa melihat jelas jika ada banyak orang yang bersembunyi di gedung ini. Jimin harus berjaga-jaga agar Aliya selamat. "Aku sudah memberitahu Aliya semuanya. Dan kau mau tau apa reaksinya?" Daniel membawa Aliya untuk menatapnya dan mengusap wajah Aliya dengan lembut. "Katakan keputusan mu sayang. Dia ingin mendengar semua?" Aliya mendongak menatap Daniel dan melirik Jimin sebentar dan kembali ke Daniel. "Apa Oppa akan benar-benar meniduriku waktu itu?" Pertanyaan yang dilontarkan Aliya membuat Daniel maupun Jimin bingung. Apa maksudnya? "Taruhan itu? Kalian menaruhkan aku. Lebih tepatnya membuat aku mengangkangkan kakiku. Apa Oppa benar-benar akan meniduriku?" Daniel menatap Aliya dengan dalam. Ada yang salah disini. Aliya tidak marah itu berarti Aliya tidak marah pada Jimin. "Kau tidak marah?" Aliya tersenyum miris dan menatap mata Daniel. "Apa aku marah saat memergoki Oppa Yang bercinta dengan Park Soo Young? Apa aku juga marah saat dia membongkar semua didepan ku?" Wajah Daniel berubah dingin mendengar ucapan Aliya. Ia benci Aliya kata-kata itu sekarang. "Aku tidak marah berarti aku tidak memendam dendam pada Oppa. Oppa membongkar semuanya didepan ku. Menurut Oppa aku akan marah pada Jimin? Kenapa aku harus marah pada orang yang mengorbankan kebahagiaanya untukku? Membuat ku keluar dari rasa trauma dan membuat aku kembali menjadi diriku yang dulu? Tolong jawab pertanyaan ku. Aku terlalu bodoh untuk menjawabnya sekarang" tangan Daniel terkepal erat mendengar pertanyaan Aliya. Ia kalah lagi? "Sebelum Oppa membongkar semuanya aku lebih dulu tau dari Mark Oppa. Kalian pasti tau kan?" Keduanya mendongak menatap Aliya tidak percaya. Senyum sinis terukir dari bibir Aliya. Flashback. "Aniya. Hanya saja ingin berbicara sebentar dengan istri seorang Park Jimin" Aliya kaget mendengar ucapan Mark. Bagaimana Mark bisa tau. "Kau pasti kaget? Ah itu tidak seru lagi" Aliya menatap dalam Mark. "Apa ada yang salah Ten Hyung-nim?" Tanya Aliya pelan dan membuat Mark tersenyum tipis. "Aniya. Hanya saja kau menikah dengan orang yang salah" alis Aliya menyatu. Jelas Aliya bingung. "Apa maksudmu?" Mark tersenyum dan menatap mata Aliya. "Kenapa kau harus menikah dengan Orang yang menjadikanmu sebagai bahan taruhan? Kau salah orang" Aliya diam mendengar ucapan Mark yang begitu menusuk hatinya. "Jimin menjadikan mu sebagai bahan pertaruhan dengan Daniel" kata Mark akhirnya. "Mwo?" * Aliya menguap air matanya yang mengalir begitu saja saat ucapan Mark yang terus terngiang ditelinganya. Jadi ini alasan Jimin menikahi Aliya dalam waktu cepat. Ternyata Jimin menjadikannya sebagai bahan taruhan dengan Daniel. Pastas Jimin begitu tidak sabar dan terus memaksanya berkata iya untuk pernikahan Meraka. Menuruti semua permintaanya dan terus mengalah padanya. Ini semua hanya murni rasa bersalah dan bukan cinta. Taehyung juga bohong jika Jimin mencintainya. "Ahjumma dimana istriku?" Aliya tersentak saat mendengar suara Jimin yang terdengar panik. Mengusap wajahnya dengan cepat dan membenahi penampilannya. "Kau baru pulang?" Sapanya yang mencoba bersikap biasa. Melihat reaksi Jimin yang langsung memeriksa tubuhnya Aliya jadi bingung. "Waeyo?" Tanya Aliya aneh dengan Jimin langsung menatap nya. "Kau tidak papa kan?" Aliya mengerutkan keningnya bingung. Ini pasti karena Mark. Gumam Aliya dalam hati. "Apa ada? Aku baik-baik saja. Dan aku baru saja pulang sekolah. Memangnya kenapa kau bertanya itu padaku? Apa terjadi sesuatu?" Melihat wajah bingung Jimin, Aliya semakin yakin jika ini ada hubungannya dengan Mark. "Aniya. Hanya saja kudengar dari Mingyu kau jatuh makanya aku bertanya seperti itu" Mengangguk mengerti dan melepaskan tangan Jimin dari bahunya. "Aku lapar" Berlalu menuju dapur. Tapi pertanyaan Jimin menghentikan langkahnya. "Apa ada laki-laki asing yang menemuimu?" Berbalik dan menatap Jimin. Menyelidiki iris pekat Jimin yang sepertinya tengah mengkhawatirkan sesuatu. "Ada!" Diam saat Jimin menatap nya dengan dalam. "Nugu?" Tanya Jimin dengan suara rendah tapi penuh ketegasan. Dan jangan lupakan guratan wajah Jimin yang mengeras dan tangan Jimin yang mengepal erat. Aliya yakin Jimin marah dan khawatir. "Kakak Ten" * Brakk! Aliya menerjang kasar pintu kamar Taehyung dan saking kerasnya Taehyung sampai menjatuhkan ponsel yang ia pegang. "Ali~~~" "Taruhan dengan Daniel yang membuat Jimin menikahiku? Iyakan?" Taehyung membeku mendengar pertanyaan sinis Aliya. "Aliya~~~" "Iya atau tidak?" Sentak Aliya keras dan Taehyung hanya bisa diam. Menatap dalam mata sang adik. "Akan ku jelaskan semua. Dengarkan Sebentar saja. Jimin~~~~" Aliya terus mendengarkan ucapan Taehyung. Kebenaran tentang semua taruhan yang Jimin dan Daniel lakukan. Benar-benar kebenaran. "Bagaimana bisa dia berkorban untuk ku sebanyak itu?" Flashback end. * "Aku sudah tau semua dan Oppa tidak perlu membongkar semuanya lagi. Itu hanya masa lalu dan sudah saatnya dilupakan. Aku sudah menikah dan seharusnya Oppa tidak mengusik kami. Pergilah dan jangan temui aku lagi. Carilah wanita yang baik untuk menjadi istrimu" kata Aliya dingin dan melepaskan tangan Daniel. Berjalan kearah Jimin dan berdiri tepat didepannya. "Kau sudah mendengar jawaban ku kan? Jadi berhenti menahan diri mu" kata Aliya pelan dan menarik Jimin keluar dari sini. Meninggalkan Daniel yang mematung ditempatnya. "Bukankah sudah kukatakan ini tidak akan berhasil? Kau hanya terlalu bodoh" Daniel menoleh dan menemukan Mark yang berjalan kearahnya. "Berhenti jadi orang bodoh Kang Daniel. Mari kita lanjutkan ini" wajah Daniel berubah mengeras dan menatap geram Mark. "Jalankan rencanamu" Mark tersenyum tipis dan mengangguk. "Let's Play Now" desis Mark sinis. * "Cobalah jujur. Itu tidak akan merugikan dirimu" kata Aliya saat mereka hanya berdua saja dikamar. Sedangkan Jimin hanya diam dan menunduk. "Maaf~~~" Aliya mendecih kesal. "Sejak kapan Park Jimin si dingin dan arogan meminta maaf? Apa mutiara sudah tumbuh di lumpur?" Sindir Aliya sinis. "Maaf" Aliya mendesis kesal karena terus mendengar ucapan maaf Jimin. "Aku tidak butuh maaf mu Bodoh. Yang dibutuhkan adalah pertanggung jawabanmu sekarang" teriak Aliya kesal pada Jimin. "Apa maksudmu?" Mendecih pelan dan menatap tajam Jimin. "Aku hamil" "Mwo?" Tbc.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD