Nine

1604 Words
Happy Reading. * Flashback. "Kufikir adik Taehyung Hyung cantik" Jimin menoleh saat mendengar suara Daniel yang memuji Aliya. Mereka ada dirumah Kim untuk bermain dengan Taehyung dan kebetulan ada Aliya dirumah. Taehyung pergi ke dapur dan mereka ada ditaman rumah Kim. "Kau tertarik?" Daniel menatap Jimin sebentar dan kembali menatap Aliya. Tersenyum saat melihat Aliya yang tertawa. "Bagaimana jika kita buat permainan?" Daniel menatap Jimin dengan aneh. Apa maksudnya? "Aku tidak mengerti Hyung" Jimin menepuk jidatnya kesal dan menatap horor kearah Daniel. "Jadi begini kau~" Flashback end. * Aliya terlihat bingung saat melihat mobil Audi yang terparkir tepat didepannya. Tadi Aliya akan keluar dari sekolah dan menunggu jemputan tapi tiba-tiba mobil itu menghadangnya. Aliya masih diam dan tiba-tiba ada seorang laki-laki yang keluar dari saja. Gagah dan tampan, wajah putih bersih dengan hidung mancung. Dan jangan lupakan setelan pakaian mahal yang dikenakan oleh laki-laki itu. Berjalan menghampiri Aliya dan berdiri tepat didepannya. "Nuguseyo?" Pertanyaan yang Aliya lontarkan hanya dibalas senyum manis dari laki-laki itu. Aliya masih menatapnya bingung sampai suara laki-laki itu membuat wajah Aliya berubah datar. "Kakak Ten" mendengus dan berjalan menjauh tapi laki-laki itu justru menahan tangannya. Aliya menatap bengis laki-laki itu dan mencoba menyentakkan tanganya tapi cengkeraman itu terlalu kuat. "Aku baru saja mengenalkan diri kenapa anda langsung ingin pergi Nona Kim, ah Aniya Nona Park" ucapan manis laki-laki itu membuat Aliya bingung plus kesal. Sebenarnya apa mau laki-laki yang katanya kakak Ten itu? Aliya tidak merasa punya urusan dan kenapa harus ditahan? "Apa maksudmu? Dan lepaskan ini! Aku mau pulang" ketus Aliya yang sudah benar-benar kesal. Aliya masih saja berontak dan ucapan laki-laki itu membuatnya diam. Mematung dan menatap tidak percaya kearah laki-laki itu. "Aku hanya ingin berbicara dengan istri serong Park Jimin" * Jimin tersenyum simpul melihat paras Aliya dalam album yang ada ditangannya. Ini foto-foto lama Aliya dan Jimin sengaja menyimpannya. Aliya terlihat lucu saat kecil. Bulat dan menggemaskan, bahkan Jimin sampai tidak sadar jika itu Aliya sangking bulatnya. Pandangan Jimin beralih pada jendela ruangannya. Tersenyum lagi saat mengingat kembali jika Aliya mau menjadi Ibu dari anak-anaknya. Jelas Jimin bahagia, itu berarti Aliya siap membuka hati untuknya. "Sajangnim" Jimin menoleh kearah pintu dan menemukan sekertaris-nya yang berjalan masuk kedalam ruangannya. Menyimpan kembali album Aliya dan fokus pada sekertaris-nya yang semakin mendekat. "Ada apa?" Tanya Jimin datar. "Maaf Sajangnim tapi Orang suruhan Kita menemukan Dia menemui Nona Park" mata Jimin membulat mendengar informasi itu. Bagaimana bisa? Wajah Jimin berubah mengeras dan menatap bengis pada Sekertaris-nya. "Bukankah sudah kusuruh kau menghabisinya?" Teriak Jimin geram dan membuat laki-laki bernama Kim Mingyu itu takut. "Maaf kan saya Sajangnim. Ini kelalaian saya. Dia berhasil kabur dan kami tidak bisa menemukannya" Jimin melempar laptop didepannya kearah pintu dan membuat Kim Mingyu semakin takut. "Kau ingin istriku mati hah?" Kim Mingyu menunduk takut dan terus meminta maaf. "Cari tau dimana dia tinggal dan pastikan kau mendapatkan informasi tentang keluarganya. Apapun tentangnya laporkan padaku. Jika sampai kau gagal lagi kupastikan kepalamu akan terpisah dari tubuhmu dan jangan biarkan istriku sendiri mulai sekarang. Pastikan dia dalam pengawasan penuh dan kau akan benar-benar mati jika sampai istriku terluka" desis Jimin geram dan berjalan cepat keluar. Ia harus menemui Aliya dan memastikan jika kondisi Aliya baik-baik saja. "Ya Tuhan apa yang kulakukan? Nona Park pasti dalam bahaya" sesal Kim Mingyu dan berjalan keluar dari ruangan Jimin. Ia juga harus segera bertindak, jika tidak nyawa Aliya dalam bahaya karena orang itu dan nyawa Mingyu akan habis ditangan Jimin. * "Hyung yakin?" Tanya Ten pesimis. "Menurutmu?" Balas laki-laki itu ketus. "Tapi apa mungkin" laki-laki itu mendesis kesal pada Ten dan menatap jengah pada bocah itu. "Jika kau tidak suka lebih baik diam atau kupastikan wanita itu tidak akan jadi milikmu" Ten diam mendengar suara dingin laki-laki itu. Ia tidak mau kehilangan Aliya. "Aku mengerti" kata Ten pasrah dan mengikuti rencana laki-laki itu. "Anak pintar" kata laki-laki itu pelan dan menatap penuh arti pada Ten. "Bocah Bodoh" * "Kau baru pulang?" Mendengar sapaan Aliya, Jimin sontak berlari kearahnya. Menarik Aliya mendekat kearahnya dan memeriksa seluruh tubuh Aliya. "Waeyo?" Tanya Aliya aneh dan Jimin langsung menatap nya. "Kau tidak papa kan?" Aliya mengerutkan keningnya bingung. Apa yang Jimin katakan? Memangnya Aliya kenapa? "Apa ada? Aku baik-baik saja. Dan aku baru saja pulang sekolah. Memangnya kenapa kau bertanya itu padaku? Apa terjadi sesuatu?" Jimin jadi bingung mendengar pertanyaan Aliya. Bukan masalah jawabannya tapi masalah cara berbohong kepada Aliya. Tidak mungkin Jimin bilang jika nyawa Aliya dalam bahaya. "Aniya. Hanya saja kudengar dari Mingyu kau jatuh makanya aku bertanya seperti itu" Aliya mengangguk mengerti dan melepaskan tangan Jimin dari bahunya. "Aku lapar" kata Aliya dan berlalu menuju dapur. Tapi pertanyaan Jimin menghentikan langkahnya. "Apa ada laki-laki asing yang menemuimu?" Aliya berbalik dan menatap Jimin. Menyelidiki iris pekat Jimin yang sepertinya tengah mengkhawatirkan sesuatu. "Ada!" Jimin menatap mata Aliya dengan dalam. "Nugu?" Tanya Jimin dengan suara rendah tapi penuh ketegasan. Dan jangan lupakan guratan wajah Jimin yang mengeras dan tangan Jimin yang mengepal erat. "Kakak Ten" * Flashback. "Bug~~Bug~~~Bug" semuanya diam saat melihat Taehyung menghajar Jimin habis-habisan. Disana ada Semuanya dan mereka tidak berniat memisah Atau menghentikan keduanya. Jimin sendiri hanya diam menerima pukulan Taehyung. Tidak membalas Atau menghindarinya. "b******n" Taehyung terus mengumpat dan memukul Jimin. Bukan tangan Taehyung juga sampai terluka. "Geumanhaeyo Tae" Taehyung masih saja memukul Jimin padahal suara Jungwoon sudah terdengar. Wajah Taehyung masih saja mengeras. "Kau bisa membunuhnya Tae. Kau ingin adikmu terus mengalami trauma? Atau kau mau Jimin tidak bertanggung jawab atas semua perbuatannya?" Teriakkan Jin berhasil menghentikan kegiatan Taehyung. Menatap bengis Jimin yang sudah tidak berdaya. "Jika saja bukan karena adikku sudah pasti kalian akan mati ditangan ku" desis Taehyung geram dan berlalu meninggalkan Jimin begitu saja. "Kapan kau akan menikahi Putriku?" Tanya Jungwoon tanpa menolong Jimin. "Uhuk~~~saat usianya cukup dan matang" jawab Jimin dengan nafas terengah. "Cukup? Kau yakin? Appa akan atur pernikahan kalian secepatnya dan kau tinggal setuju" sela Jung Soo tegas dan menatap Chanyeol. "Bantu adikmu" Chanyeol mengangguk pelan dan menghampiri Jimin. Membantu Jimin yang masih terkapar. "Tidak ku sangka kau se b******n itu" Jimin hanya diam dan menunduk. "Mianhae Hyung" lirih Jimin dan membuat Chanyeol mendecih sinis. "Bukan padaku tapi Aliya" kata Chanyeol dan membuat Jimin diam seketika. "Ara~~~" pasrah Jimin. "Jangan hanya nikahi Aliya karena tanggung jawab dan rasa penyesalanmu. Kau harus bertanggung jawab juga atas hatinya dan kau harus berjanji akan membahagiakan Aliya dan mencintai nya juga" * Dibalik ruangan yang gelap Jimin hanya diam dengan pandangan menerawang jauh kedepan. Ingatan masa lalu yang terus menghantuinya, membuat Jimin terus merasakan penyesalan yang mendalam. Ini salahnya, perjanjian t***l yang ia ucapkan dan benar-benar dilakukan oleh Daniel dan berakhir bencana. Jimin sudah bilang untuk mengakhiri semuanya tapi Daniel masih kekeh ingin terus mengakhiri ini dan benar-benar mendapatkan apa yang mereka pertaruhkan. Berakhir dengan Daniel dan kesetanan dan menyakiti Aliya. Jimin heran bersumpah dirinya tidak bermaksud untuk melakukan itu. Niatnya hanya bergurau dan main-main tapi justru Aliya jadi korban. "Aliya adalah anak yang pemalu dan juga naif, jangan lupakan jika dia juga polos. Bagaimana kalau kita bertaruh?" Daniel mantap Jimin dengan aneh tapi iris pekat Daniel tidak menyembunyikan jika ia tertarik dengan ucapan Jimin. "Apa maksudmu Hyung?" Jimin tersenyum dan menatap Daniel. "Kudengar kau suka Joy? Aku akan membantumu mendapatkan Joy asal kau mau bertaruh dengan ku?" Tawaran Jimin sangat membuat Daniel tertarik. "Apa taruhan itu?" Jimin tersenyum dan kembali melihat Aliya. "Dari kita siapa yang bisa mendapatkan Aliya akan menang. Tapi satu syarat hanya cara bersih dan tidak ada main belakang. Dan ya siapa yang bisa membuat dia mengangkang kan kakinya untuk kita yang pertama kali adalah pemenangnya" Daniel sangat tertarik dengan ucapan Jimin. "Apa itu tidak masalah?" Jimin tersenyum dan menggeleng. "Kau mau?" Tidak banyak membuang waktu Daniel langsung menyetujui semua ucapan Jimin. "Aliya Kim! Tidak buruk" Mata Jimin terpejam erat saat ingatan itu kembali berputar diotaknya. Taruhan sialan yang ia lontarkan dan benar-benar terjadi. Itulah alasan Jimin untuk menikah dengan Aliya. Rasa trauma yang Aliya alami karena Daniel dan berasal dari mulutnya. Mereka benar-benar bertaruh dan Daniel yang paling gencar mendekati Aliya. Kang Daniel, pria tampan yang begitu mempesona bagaimana bisa Aliya tidak tertarik? Aliya jatuh kepesona Daniel dan itu yang Jimin sesali. Upaya pertaruhan yang ia ucapkan membuat Jimin benar-benar mencintai Aliya. Kepribadian Aliya yang berbeda dari gadis-gadis lain membuat Jimin jatuh kepesona Aliya begitu saja. Tapi sayang Aliya lebih mencintai Daniel dulu. Rasa cinta yang Jimin rasakan membuatnya ingin mengakhiri pertaruhan mereka. Tapi Daniel tidak mau berhenti, sampai akhirnya hari itu terjadi. Saat itu Aliya meminta dirinya untuk mengantarkannya ke apartment Daniel. Jimin menyanggupi permintaan Aliya dan saat Jimin ingin ikut masuk dilarang oleh Aliya. Niat Aliya yang ingin memberi kejutan untuk Daniel justru berakhir petaka. Saat itu Jimin begitu ingin tahu apa yang mereka lakukan tapi disana Jimin melihat Aliya berdiri dengan rapuh melihat Daniel dan Joy yang sedang bertarung diatas ranjang. Daniel berbaring diam diranjang dengan Joy yang mengumpat Aliya dengan kasar. Joy mengungkapkan semua kebenaran Daniel alasan mendekatinya, tapi hanya Daniel dan tidak dengan aib Jimin. Hanya Daniel yang Aliya tau dan Jimin tidak. Sejak saat itu Aliya menjadi trauma dan Jimin bisa melihatnya dengan jelas. Alasan Jimin tetap bungkam dan tidak mengungkap perasaannya adalah karena Jimin takut tolakan dan juga takut Aliya kembali tersakiti. Itulah kenapa Jimin sangat ketus dan menyebalkan Dimata Aliya. Jimin sengaja ingin Aliya menilainya sebagai pria datar dan dingin bukan sebagai pria manis dan romantis sama seperti Daniel. Membiarkan Aliya bersikap semaunya asal Aliya tidak merasa tertekan atau terkengkang. Jimin hanya ingin Aliya bahagia. Tapi Jimin takut saat Aliya tau kebenarannya Aliya akan meninggalkan dirinya dan membencinya. Jimin tidak mau dibenci Aliya. Jimin hanya ingin dicintai. "Aku mencintaimu" lirih Jimin sangat pelan. Tbc .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD