Happy Reading.
*
"Kau yakin dengan ini?"
"Tentu saja"
"Tapi ini terlalu beresiko"
"Apa kau sudah memulai membantah ucapanku?"
"Aniya. Hanya saja tidak mudah melakukan itu, apalagi ini tentang Putri Bungsu Kim'S Holding"
"Kim'S Holding?"
"Nde. Apa kau tidak tau jika Aliya putri bungsu Kim'S Holding?"
"Aniya"
"Bodoh. Aliya bukan orang sembarangan. Dia dilindungi penuh dan jangan lupakan jika Park Jimin JS Group adalah suaminya"
"Mworago?"
*
Dibalik selimut tebalnya Aliya hanya diam dan tidak berniat bangun. Jam sudah menunjukkan pukul 08.25 tapi Aliya masih begitu nyaman diranjang Queen Size-nya
Jimin yang baru keluar dari kamar mandi hanya menghela nafas melihat Aliya yang masih bermalas-malasan diranjang mereka. Jimin tau jika Aliya tidak mau sekolah. Tentu saja alasannya adalah Ten.
Berjalan menghampiri Aliya dan duduk disamping ranjang. Melihat itu Aliya langsung meringsut mendekati Jimin dan menggunakan paha Jimin sebagai bantalan kepalanya.
"Kenapa?" Aliya menatap Jimin dengan pandangan memelas.
"Aku tidak mau sekolah. Libur saja nde hari ini?" Mendengar ucapan Aliya, Jimin justru tertawa. Kenapa Aliya terlihat begitu lucu jika sedang ingin sesuatu.
Jimin menunduk dan mendekatkan wajah mereka, menggesek-gesekkan hidungnya dengan hidung Aliya. Mengecup bibir Aliya pelan dan melepaskannya. "Terserah padamu" kata Jimin dan mengangkat kepala Aliya yang ada dipahanya.
Meletakkannya di bantal dan ikut bergabung dengan Aliya untuk berbaring. Menarik selimut untuk menutupi tubuh Aliya yang setengah terbuka. Aliya masih telanjang.
"Aku ingin jalan-jalan. Mau ikut?" Aliya menggeleng, dan membuat Jimin menatapnya.
"Wae?" Aliya tidak menjawabnya, mendekatkan dirinya kepada Jimin dan memeluk erat tubuh Jimin.
"Aku mengantuk" kata Aliya pelan dan memejamkan matanya untuk tidur.
"Ini sudah pagi. Kau mau tidur lagi?" Aliya mengangguk dan menyamankan posisi tidurnya. Semakin memeluk erat Jimin, dan benar-benar tidur.
"Dasar" gumam Jimin dan mengusap punggung Aliya. Membalas pelukan Aliya dan ikut memejamkan matanya juga. Lagi pula Jimin juga tidak berniat kekantor pagi ini. Lebih nyaman tidur diranjang dengan memeluk Aliya.
*
Flashback.
"Aku ingin menikah dengan Aliya" perkataan Jimin membuat semua orang yang ada disana terkejut. Bahkan Taehyung yang memegang Ponsel juga sampai terjatuh.
"Ada apa denganmu Jim? Kenapa tiba-tiba ingin menikah dengan Aliya?" Mendengar pertanyaan Jungwoon, Jimin hanya menunduk dalam dan Taeyeon sadar jika anaknya sudah melakukan kesalahan.
Kebiasaan Jimin adalah menundukkan kepalanya saat ditanya dan sudah pasti ada kesalahan dibalik ini. Apa yang dilakukan Jimin dengan Aliya? Pernikahan bukan hal yang biasa. Itu adalah ikatan sakral.
"Eomma ingin dengar alasannya" Jimin mendongak menatap ibunya. Tatapan sendu Jimin tunjukan dan membuat Taeyeon semakin yakin jika ada kesalahan besar.
"Aku salah Eomma" kata Jimin pelan.
"Katakan Jim" desak Taehyung yang juga ikut penasaran. Jelas ini menyangkut adiknya dan Taehyung tidak bisa diam saja.
"Mianhae" lirih Jimin yang kembali menunduk.
"Maaf?" Tanya Jungwoon yang menatap tajam Jimin.
"Nde Ajuhshi. Aku salah dan aku akan mempertanggung jawabkan semua perbuatanku. Aku akan menikahi Aliya secepatnya dan kumohon berikan aku restu" Jawaban Jimin terlalu berbelit-belit dan itu membuat semua semakin penasaran.
"Yang jelas Jim" gertak Jin yang sepertinya sudah tersulut emosi. Kesalahan Jimin pasti besar hingga berani mengambil keputusan untuk menikahi adiknya.
"Hyung aku~~~ Daniel~~~Aliya. Aku~~~"
Flashback end.
*
"Kau mencari Aliya?" Ten menoleh dan menemukan Yuta yang berjalan kearahnya.
"Hem!" Jawab Ten yang seperti deheman dan Yuta hanya menghela nafas. Dasar sialan.
"Dia absen" kata Yuta memberitahu dan itu membuat Ten menyimpitkan matanya. Menatap curiga kearah Yuta.
"Aku tidak bohong" ketus Yuta yang memutar bola matanya kesal. Ten memang tidak akan percaya pada ucapannya jika belum melihat secara langsung.
"Aku tidak tanya" ketus Ten dan berlalu dan meninggalkan Yuta yang semakin kesal.
Fikiran Yuta kembali terngiang dengan kejadian semalam, dimana Ten yang kesetanan dan menghancurkan semua isi kamarnya dengan menyebut nama Aliya seperti ingin membunuhnya. Apa yang terjadi? Apa juga yang diketahui Ten tentang Aliya hingga sampai semarah itu? Apa Aliya membuat sesuatu yang aneh? Setau Yuta, Ten tidak akan marah hanya karena ditolak Aliya. Ten itu bebal tolakan dan akan dianggap angin jika ditolak Aliya. Lalu apa sebabnya?
"Apa aku harus bertanya pada Hyung?" Yuta memukul kepalanya dan menggeleng.
"Sama saja aku masuk kedalam Neraka. Huh tidak adik dan kakak sama saja. Mengerikan" gumam Yuta ngeri dan berlalu
*
Aliya terbangun dari tidurnya dan masih menemukan Jimin yang memeluknya. Melirik dinding dan melihat jika jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Huh Aliya lapar, dari tadi pagi ia tidak makan apapun. Mengusap perutnya pelan dan tiba-tiba merasa aneh. Sepertinya ada sesuatu yang ingin keluar dari mulutnya.
Aliya masih bingung sampai rasa mual itu datang dan Aliya tidak bisa menahannya lagi. Melepaskan kasar pelukan Jimin dan melilitkan selimut pada tubuhnya lalu berlari kearah kamar mandi, Jimin langsung terbangun dan membuka matanya dengan pelan. Menatap Aliya yang sudah masuk kedalam kamar mandi. Dan Jimin bisa mendengar suara Aliya yang mual.
Oh mual? Hei mual? Jimin langsung bangkit dari posisinya dan mengerang saat merasakan kepalanya pusing karena bangun secara tiba-tiba.
"s**t" Jimin berlari kearah kamar mandi dan menyusul Aliya. Menemukan Aliya yang masih mual dan Jimin segera menghampiri Aliya.
"Kenapa?" Jimin bertanya dengan khawatir dan mengusap tengkuk Aliya. Memperhatikan Aliya yang terus mual dan yang keluar hanya air liur saja. Jimin terus saja mengusap tengkuk Aliya dan tidak berapa lama mual Aliya terhenti.
"Wae?" Aliya menegakkan tubuhnya dan menyender pada wastafel, dapat Jimin lihat keringat dingin yang mengalir dari dahi Aliya. Mengusap wajah Aliya dengan pakan hingga Aliya menatapnya.
"Mual Jim" ucapan lirih membuat Jimin bergerak cepat. Meraih Aliya dalam gendongannya dan membawanya keluar.
"Kau makan apa?" Tanya Jimin khawatir dan Aliya hanya diam menyenderkan kepalanya di d**a Jimin.
Jimin membawa Aliya untuk berbaring di ranjang. Memposisikan tubuhnya Aliya dengan nyaman, dan menarik selimut yang menutupi Tubuh Aliya lalu mengantikan dengan selimut yang lebih tebal. "Kupanggilkan dokter?" Aliya menggeleng dan menarik Jimin untuk ikut berbaring di ranjang. Meringsut memeluk erat tubuh Jimin dan menghirup aroma tubuh Jimin dengan dalam. Rasanya begitu menenangkan dan nyaman. Ini seperti obat.
"Wae?" Aliya menggeleng dan menatap wajah Jimin dengan tangan yang menarik kaos putih Jimin keatas.
"Lepaskan kaosmu" Jimin menyeringit aneh mendengar ucapan Aliya.
"Untuk apa?" Pertanyaan Jimin membuat Aliya kesal.
"Buka saja. Aku ingin mencium bau tubuh mu. Apa susahnya sih? Cepat" Jimin bingung saat Aliya tiba-tiba marah. Kenapa?
"Cepat buka" Jimin akhirnya menurut dan membuka bajunya, memperlihatkan d**a Jimin yang keras dan mengkilat. Sexy dengan otot yang begitu keras.
Aliya semakin memeluknya dan menghirup dalam aroma tubuh Jimin. Menenangkan sangat menyenangkan. "Jangan gunakan baju jika didepan ku"
"Hah?" Mendengar ucapan Aliya, Jimin tentu saja kaget. Tidak pakai baju? Apa-apaan ini?
"Kau kenapa?"
*
"Young Brother" Ten menoleh saat mendengar panggilan yang begitu familiar ditelinganya.
"Wae?" Tanyanya datar.
"Kau ingin Aliya Kim?" Mendengar pertanyaan itu Ten sontak menatap kearah laki-laki itu dengan terkejut.
"Jangan kaget Young Brother. Kupastikan Aliya akan jadi milikmu. Itu janjiku padamu" mendengar ucapan itu sontak Ten tersenyum lebar. Tentu saja ia sangat senang.
"Hyung janji?" Laki-laki itu mengangguk dan tersenyum manis pada Ten. Menepuk pundak Ten pelan.
"Aku juga ingin membunuh musuh lama" Ten manatap aneh kakaknya. Musuh lama? Siapa?
"Nugu Hyung?" Laki-laki itu menyeringai lebar dan menatap mata Ten.
"Park Jimin, suami Aliya"
*
Jimin memasang wajah datar saat melihat kalahapan Aliya makan dengan disuapinya. Tadi saat Aliya bangun langsung merengek dan minta disuapi, Jimin yang masih bingung, tiba-tiba kena marah Aliya karena bertindak lambat. Huh mana ada orang baru bangun tidur langsung bertindak cepat. Jimin bukan robot.
"Lagi?" Tanya Jimin saat makanan Aliya yang ada dipiring habis. Sebenarnya ini hanya sindiran karena Aliya sudah makan banyak.
"Hem. Ambilkan lagi nde?" Jimin melongo mendengar jawaban Aliya. Lagi? Hei Aliya sudah makan satu piring porsi besar dan minta lagi? Masih muat perutnya?
"Palli. Aku lapar" Jimin langsung bergerak cepat, keluar dari kamar dan berjalan kearah dapur.
"Perut apa karung?" Tanya Jimin aneh dan kembali mengambil nasi untuk Aliya makan.
"Tuan Muda" Jimin menoleh dan menemukan Ahjumma Ah yang berada dibelakangnya.
"Ada apa Ahjumma?" Tanya Jimin menatap Ahjumma Ah.
"Tuan ingin makan lagi?" Jimin menggeleng cepat.
"Aliya yang minta inj. Dia masih lapar" jawab Jimin dan membuat Ahjumma Ah bingung. Tumben?
"Tidak biasanya Nona makan dijam selarut ini?" Jimin menggaruk kepalanya bingung. Ia juga tidak tau?
"Dia aneh dari tadi. Masa menyuruh ku tidak berpakaian jika didepannya. Dia juga bilang ingin mencium bau tubuhku. Mood-nya cepat berubah dan bilang juga tidak mau makan jika bukan aku yang menyuapi" Ahjumma Ah tertarik mendengar ucapan Jimin. Kenapa terlihat seperti Aliya sedang mengalami sesuatu yang terjadi pada wanita yang sedang hamil. Apa mungkin?
"Kapan terakhir Tuan menyentuh Nona?" Jimin salah tingkah mendengar pertanyaan Ahjumma Ah. Apa ini? Hei itu privasi.
"Ahjumma bicara apa? Kenapa bertanya seperti itu?" Tanya Jimin kikuk.
"Jawab saja Tuan. Saya hanya ingin memastikan satu hal" desak Ahjumma Ah yang antusias.
"Keun~~~"
"Jawab saja" Jimin menghela nafas dan menatap Ahjumma Ah kikuk.
"Semalam" Ahjumma Ah mengulum senyum dan menatap Jimin.
"Kapan tanggal Menstruasi Nona?" Tanya Ahjumma Ah yang membuat Jimin semakin ingin pergi dari sini.
"Sudahlah Ahjumma. Ini privasi. Aku malu membahas itu" kata Jimin yang ingin semua berhenti.
"Jawab saja tuan. Saya hanya ingin memastikan jika Nona hamil atau tidak" kata Ahjumma Ah antusias dan membuat Jimin kaget.
"Hamil? Andwaeyo" pekik Jimin tidak percaya.
"Bagaimana tidak? Tuan selalu menyentuh Nona dan apa tuan pernah menggunakan pengaman?" Tanya Ahjumma Ah menggoda dan Jimin jadi semakin malu.
"Aish Ahjumma Geumanhaeyo. Ini tidak perlu dibahas. Aku kembali kekamar dulu. Aliya bisa mengamuk nanti. Annyeong" Jimin berlari kekamarnya. Ia tidak ingin perbicangan ini berlanjut terus. Bisa mati gaya Jimin nanti.
"Berharap akan ada kabar baik. Semoga saja nona hamil" doa Ahjumma Ah tulus.
TBC.