Seven

1441 Words
Happy Reading. * Aliya termenung saat perkataan Taehyung terus tergiang ditelinganya. Jelas Aliya mengerti apa yang dimaksud Taehyung. Apa mungkin Jimin mencintainya? Tapi kenapa Jimin tidak bilang jujur? Kenapa Jimin justru diam dan membiarkan dirinya melakukan apapun yang ia sukai. "Waeyo?" Aliya tersentak saat Jimin menepuk pundaknya dari belakang. "Ah aniya. Kau baru pulang?" Tanya Aliya yang sudah sadar dan fokus pada Jimin. "Hem!" Jawab Jimin singkat, lalu berjalan kearah lemari dan berlalu kekamar mandi. Tepat saat pintu tertutup Aliya mulai memikirkan sesuatu. "Aku harus menemukan bukti jika Jimin mencintaiku. Aliya kau pasti bisa" kata Aliya yakin pada dirinya sendiri. * Jimin terdiam menatap matahari yang mulai terbenam di ufuk barat. Wajah teduh Jimin terlihat sendu dan mata yang memancarkan kesedihan. "Kau didalam Jim?" Jimin menoleh dan menemukan Taehyung yang berjalan kearahnya. "Kau berkunjung? Wae Tae?" Tanya Jimin yang menghadap Taehyung. "Hanya ingin berkunjung dengan saudara ipar" Jimin diam mendengar ucapan Taehyung. "Bagaimana proyekmu?" Tanya Taehyung basa-basi. "Baik" jawab Jimin singkat. Keduanya larut dalam fikiran masing-masing dan seolah tenggelam dalam dunianya masing-masing. "Kenapa membuat perjanjian itu dengan Aliya?" Pertanyaan Taehyung membuat Jimin diam. "Kenapa harus menyetujui apa yang tidak kau kehendaki. Belajarlah mengatakan apa yang ada di hatimu. Itu bukan sebuah kesalahan Jim" Jimin mematung mendengar ucapan Taehyung yang begitu menusuk dirinya. Kenapa Jimin terlihat begitu lemah dan tidak bisa mengontrol apa yang ada dihatinya. Menyetujui semua permintaan yang diberikan orang lain padanya dan bersikap seperti orang bodoh yang tidak tau apapun. "Apa aku menyedihkan?" Tanya Jimin kosong. "Tidak. Justru kau hebat karena melakukan apa yang tidak kau sukai demi orang yang kau cintai tapi ingat kau tidak bisa terus mengalah. Kau juga berhak bahagia" Jimin memang dengan dan mengusap wajah gusar. Jimin benci pembicaraan seperti ini. Memijat keningnya pelan dan meraih kunci mobil yang ada dimeja nya dan berlalu dari ruangannya lalu meninggalkan Taehyung sendiri. "Kau hanya terlalu takut Jim" cetus Taehyung pelan dan memfokuskan perhatian pada kota Seoul yang sudah mulai gelap. * "Apa lagi ini Ten?" Tanya Aliya yang sudah benar-benar kehilangan kesabarannya menghadapi kegilaan Ten yang semakin tidak terkendali. "Bisakah kau mencintaiku?" Aliya mendesis muak dan menghempaskan tangan Ten yang menggenggam jemarinya. "Tidak. Dan jangan harapkan apapun dariku. Lebih baik kau cari wanita lain dan berhenti mendekati aku" cetus Aliya dingin. "Kenapa?" Tanya Ten setengah berteriak. "Karena aku sudah menikah" bentak Aliya keras dan membuat Ten membeku dan menggeleng tidak percaya. "Kau pasti bohong" kata Ten pelan. "Terserah padamu. Aku tidak peduli dengan fikiranmu dan kumohon jangan usik hidupku lagi" ujar Aliya dingin. "Mana mungkin kau sudah menikah" bantah Ten keras. "Jika kau tidak percaya tidak perlu bingung. Aku juga tidak memintamu untuk percaya atau apapun. Jadi lebih baik jauhi aku" desis Aliya dan berlalu meninggalkan Ten yang mematung. "Tidak mungkin" teriak Ten keras. * Aliya membanting tubuhnya kesal disamping Jimin yang tengah berbaring. Mengusik Jimin dan masuk kedalam pelukan hangat Jimin. "Wae?" Aliya hanya diam dan menelusup kan wajahnya keceruk leher Jimin. "Ada masalah?" Pertanyaan Jimin hanya mendapat kebisuan dari Aliya. "Katakan Aliya" tuntut Jimin dan meraih wajah Aliya. Mata Aliya memerah dan seperti akan menangis. "Wae?" Tanya Jimin khawatir. "Bisakah aku berhenti sekolah?" Tanya Aliya dengan suara serak yang sudah siap menangis. "Kenapa?" Tanya Jimin lembut. "Ten~~~" wajah khawatir Jimin berubah dingin saat mendengar Aliya menyebut nama Ten. "Hanya karena Laki-laki~~~" "Dia tau jika aku sudah menikah" sela Aliya keras dan membuat Jimin membeku. "Aku tidak sengaja membongkar semuanya didepan Ten. Dia membuat ku emosi hingga akhirnya mulutku berteriak padanya jika aku sudah menikah" lanjut Aliya dengan suara pelan. "Lalu?" "Dia pasti akan marah dan menyebar kan semua rahasia ku. Apa yang harus kulakukan?" Jimin diam mendengar pertanyaan Aliya. "Jika kau ingin berhenti sekolah berhentilah. Lagi pula aku punya rencana lain jika kau benar-benar melakukan itu" Aliya mendongak menatap Jimin. "Mworago?" Tanya Aliya pelan. "Menjadikanmu sebagai ibu dari anak-anakku" balas Jimin lembut dan memanggut bibir Aliya dengan lembut. Aliya hanya diam menerima ciuman Jimin. "Kau tidak akan menyesal mencintai Jimin" perkataan Taehyung kembali terngiang ditelinganya dan Aliya harus benar-benar mengerti semuanya. Menajamkan matanya dan menarik Jimin untuk lebih mendekat kearahnya. Mengikis jarak diantara mereka dan mulai melepaskan kancing kemeja kerja Jimin. "Biarkan aku menemukan jawaban dari ini semua" kata Aliya saat ciuman mereka terlepas. "Apa maksudmu?" Tanya Jimin lirih. "Bukan apa-apa" Aliya kembali mencium Jimin tapi kali ini lebih dalam dan b*******h. Menyesap kuat bibir bawah Jimin dan kembali melepaskan kancing kemeja kerja Jimin. Jimin sendiri hanya membiarkan Aliya menguasainya. Melihat apa yang Aliya lakukan pada tubuhnya. "Please~~~" Jimin mengambil alih kendali tubuh mereka dan mencumbui Aliya dengan ganas. Merobek kasar baju sekolah Aliya dan melemparkannya kelantai. Bergerak cepat dan menindih tubuh Aliya. "Euhg!" Lenguhan panjang Aliya membuat Jimin bergerak semakin liar. Mengecup seluruh wajah Aliya dan menuju leher. Menyesap kuat kulit leher Aliya dan banyak meninggalkan tanda disana. "Jhim~~" punggung Aliya melengkung keatas seolah meminta lebih dari itu. Tangan Jimin bergerak kebelakang dan melepaskan pengait bra Aliya. Membuangnya asal dan meremas kuat d**a Aliya hingga membuat Aliya memekik keras. Desahan Aliya semakin kuat saat Jimin memilin n****e-nya. Terus bergerak kebawah dan menyusu seperti bayi yang kehausan. Jimin menggigit kecil n****e Aliya dan memainkan yang satunya dengan jari. Semakin meringsut kebawah dan kembali merobek rok sekolahnya. Bergerak dengan liar hingga Aliya jatuh terkulai dengan penuh kenikmatan. "Jhimn! Uh" * "Ten apa yang kau lakukan?" Teriak Yuta keras saat Ten menghancurkan semua barang yang ada didepannya. "Argh" Yuta menutup mulutnya tidak percaya melihat Ten dengan bringas meninju kaca hingga pecah dan tangan Ten berdarah. "Aliya Kim" desisan Ten membuat Yuta membeku. Jika Ten sudah seperti ini itu artinya Aliya dalam bahaya karena Ten pasti akan melakukan hal yang nekad. "Aku harus mendapatkannya" Yuta berjalan menjauh dan keluar dari kamar Ten, ia tidak mau terlibat dalam rencana jahat Ten. Ten memang temannya tapi Yuta tidak mau terlibat didalamnya. Ia tidak mau jadi orang jahat. "Aliyaaaaaa Kimmmm" * Aliya mengusap pelan wajah Jimin, meneliti pahatan sempurna ciptaan Tuhan. "Wae?" Tanya Jimin yang menahan tangan Aliya, bukanya menjawab pertanyaan Jimin, Aliya justru mendekatkan bibirnya pada dahi Jimin dan menciumnya lembut. "Kau pernah jatuh cinta?" Tanya Aliya yang membuat Jimin diam. "Tidak bisa menjawab?" Tanya Aliya yang menatap mata Jimin. "Wae?" Aliya menggeleng dan mendekatkan wajahnya pada Jimin. "Hanya ingin tau masa lalumu saja" balas Aliya yang meringsut turun. "Apa yang kau inginkan sebenarnya?" Tanya Jimin dalam. "Yakin bisa menjawabnya?" Tantang Aliya dengan lembut. "Katakan saja" Aliya tersenyum dan mendekatkan wajah mereka lagi. "Apa kau begitu mencintaiku? Melihat apa yang kau lakukan selama ini membuat aku sadar jika kau memiliki perasaan padaku. Melakukan apapun untuk ku termasuk mengabulkan semua permintaan ku. Please Jim, katakan semuanya dengan jujur dan jangan buat aku menyakiti hati mu" Jimin mencermati semua kata-kata Aliya. Jelas Aliya tau sesuatu tenangnya. "Apa yang kau tau sebenarnya?" Aliya menunduk dan menatap mata Jimin dalam. "Perasaan mu padaku. Kenapa harus bersembunyi dan menutupi semuanya? Taehyung Oppa bilang jika kau selalu mengalah dengan orang yang kau cintai. Dan kurasa kau mencintaiku. Kenapa harus menutupi rasa cinta mu dengan sikap dingin ini? Sebenarnya apa yang ada dihati dan fikiran mu?" Jimin terdiam mendengar ucapan Aliya. Jelas Aliya tau semua apa yang ada dihatinya. Dan itu semua karena satu nama, Taehyung membongkar semuanya didepan Aliya. Meraih tangan Aliya dan membalik posisi Aliya hingga berada dibawahnya. "Karena aku takut kau akan pergi dan membenciku, sama seperti kau membenci Kang Daniel" Aliya membeku mendengar ucapan Jimin. "Daniel?" Tanya Aliya lirih. "Kau membencinya dan aku tidak mau itu terjadi padaku. Karena semua ini hanya untukmu, membuat mu nyaman dan melupakan masa lalu dengan Daniel. Semua pasti akan berubah seiring berjalannya waktu Aliya!" cetus Jimin dan kembali mencium bibir Aliya. Aliya masih saja diam, otaknya bekerja dengan lambat karena ucapan Jimin. 'Kenapa harus Daniel?' Air mata Aliya mulai jatuh dan Jimin semakin memperdalam ciumannya. Jimin benci pada Aliya yang seperti ini. Terlalu polos dan menganggap semua orang baik, diam saat disakiti dan hanya bisa menangis. "Aku mengabulkan semua keinginan mu bukan hanya karena cinta, tapi juga karena aku sama brengseknya dengan Daniel. Jadi kumohon maafkan aku" lirih Jimin dan semakin memperdalam ciumannya. Sementara Aliya tidak bisa mengerti apapun, melupakan kesedihannya sesaat dan membalas ciuman Jimin. "Jadikan aku ibu dari anak-anakmu" cetus Aliya dan mengaitkan kakinya dipinggang Jimin. Menikmati semuanya dengan nyata dan meluapkan emosi yang ada didalam hati. Jimin dan Aliya sama-sama memuaskan keinginannya untuk melupakan masa lalu mereka. Aliya melupakan Daniel dan Jimin melupakan kesalahannya dimasa lalu. Keduanya sama-sama berhubungan tapi Aliya belum tau itu. Ada rahasia besar yang disembunyikan Jimin dan Aliya belum mengerti. Jimin berharap jika Aliya tidak akan membenci dirinya saat semuanya terbongkar. "Jhimn!" * "Ada apa?" "Bukankah kau akan mengabulkan semua keinginan ku?" "Tentu. Katakan" "Aku ingin istri orang" "Mwo?" Tbc.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD