Six

1628 Words
Happy Reading. * Aliya semakin bingung menghadapi kegilaan Ten yang selalu mendekati dirinya. Bukanya Aliya suka justru Aliya semakin risih dan ingin menjauhi Ten. "Kenapa kau selalu menghindariku?" Tanya Ten yang menahan tangan Aliya yang akan pergi dari hadapannya. Jelas Ten tidak suka saat perempuan yang disukainya selalu menghindar. "Ten lepaskan tanganku. Bahaya jika para guru melihat kita. Aku tidak mau mendapatkan masalah karenamu" ujar Aliya berasalan dan mencoba melepaskan tangan Ten yang menahan tangannya. Aliya tidak suka dekat-dekat dengan Ten akhir-akhir ini. Pria berdarah Jepang ini benar-benar membuat Aliya kesal. "Masalah apa? Para guru tidak akan mempermasalahkan murid mereka yang berpegang tangan Aliya. Lagi pula ini abad 21, bukanya abad 12" Aliya mendengus mendengar alasan Ten. Bagaimana lagi Aliya menolak Ten? Pria ini akan semakin gila jika dibiarkan terus. Dan Aliya sudah kehabisan cara untuk menolaknya Dengan sedikit kesal Aliya menyentak tangan Ten dengan kasar dan berlari menghindari Ten. Tidak perlu Ten akan tersinggung yang Aliya inginkan hanya lepas dari Ten. "Aliya Kim" desis Ten emosi karena Aliya yang pergi begitu saja. Jelas Ten tidak akan membiarkan Aliya lolos begitu saja. Saat Ten menginginkan sesuatu ia harus mendapatkannya termasuk Aliya sekalipun. "Kupastikan kau akan menjadi milikku" * Aliya menghembuskan nafasnya lelah dan menyusuri jalanan Seoul dengan diam. Aliya pergi begitu saja dan meninggalkan mobilnya diparkiran sekolah. Karena insiden tadi Aliya benar-benar kehilangan moodnya. Berjalan tanpa arah dan menuruti keinginan kakinya. Aliya sendiri bingung bagaimana bisa kakinya diajak berjalan sejauh ini? Biasanya naik Taxi saja Aliya tidak mau dan sekarang kenapa bisa Aliya berjalan. Sepertinya Mood Aliya benar-benar hancur dan membuatnya menjadi aneh. Memperhatikan depan dan terus berjalan. Mencengkram tali tas dengan mereka Gucci dan tidak berniat berhenti. "Apa yang kau lakukan disini?" Aliya menoleh saat mendengar panggilan seseorang. Ternyata Jimin yang menghentikan ada didalam mobil itu. Aliya bukanya menjawab Jimin justru berjalan kearah pintu belakang dan masuk begitu saja. Jimin tentu saja terkejut dan menyuruh Aliya turun tapi Aliya tidak menjawab atau bereaksi atas teriakan Jimin. Masih saja diam membisu sama seperti saat berjalan tadi, hingga Jimin jadi kesal dan menyuruh Aliya untuk duduk didepan. Awalnya Aliya tetap diam tapi saat Jimin menarik tangannya, Aliya langsung melompat kearah depan tanpa lewat pintu. "Dimana mobilmu?" "Sekolah" "Kenapa berjalan kaki?" "Hanya ingin" Sialan! Dalam hati Jimin benar-benar mengumpat Aliya. Bagaimana bisa dari tadi ditanya selalu singkat jawabannya. Setidaknya berikan respon atau jawaban yang lain. Dari pada Jimin kembali bertanya dan berakhir kesal lebih baik Jimin menjalankan mobilnya dan pergi dari daerah sini. Kembali melanjutkan perjalanan untuk sampai ditujuanya. Mereka hanya diam, Aliya sibuk diam dan Jimin sibuk menyetir. Sampai Aliya yang mulai sedikit sadar dan ingin bertanya kemana mereka akan pergi. Ini bukan jalan pulang, jadi Jimin akan membawanya kemana. "Eodi?" Jimin menaikkan satu alisnya mendengar pertanyaan Aliya. Mendecih pelan dan tidak menjawabnya. Aliya kesal melihat kebisuan Jimin langsung mencubit lengan Jimin. "Sakit bodoh" ketus Jimin dan membuat Aliya menuntut jawaban Jimin. "Ilsan" Aliya membelalakkan matanya kaget mendengar Jawaban Jimin. Ilsan? Untuk apa Aliya ikut kesana? "Untuk apa?" Tanya Aliya. "Bisnis" "Antarkan aku pulang" "Shiroe" "Yakh jebal" "Shiroe" Aliya mendengus mendengar tolakan Jimin untuk kedua kalinya. Jika Jimin sudah menolak lebih dari satu kali itu artinya Jimin benar-benar tidak mau dan tidak bisa dibantah. "Lalu aku harus apa disana?" Tanya Aliya pelan dan membuat Jimin mendecih kesal. "Terserah padamu" jawab Jimin ketus dan kembali fokus pada jalan, perjalanan menuju Ilsan masih sangat panjang dan Jimin harus menghemat banyak tenaganya. Biar jadi urusan nanti Aliya mau apa disana yang penting Jimin sampai disana dulu. * Aliya merengek saat Jimin mau meninggalkan nya begitu saja dimobil dan Jimin pergi untuk meninjau lokasi yang akan dibangun pabrik. Aliya tidak mau ikut turun karena masih memakai baju sekolah. Bisa malu Aliya saat semua tau jika anak sekolah sudah menikah. Walaupun ini bukan Seoul tapi tetap saja Aliya harus hati-hati. "Lalu kau kau apa sekarang?" Tanya Jimin yang sudah benar-benar kesal pada Aliya. "Tinjau besok saja. Sekarang kita pergi beli baju. Aku tidak mau berkeliaran dengan baju sekolah. Ayolah Jim, kau mau aku malu karena ketahuan menikah saat masih SMA. Itu tidak lucu. Jeball nde? Kita beli baju" Jimin menatap jengkel kearah Aliya dan akhirnya menuruti permintaan Aliya. Menjalankan mobilnya menjauh dan menuju penginapannya. Aliya akan semakin berisik jika tidak dituruti dan Jimin benci keributan apalagi jika Aliya yang menyebabkannya. * "Ayolah Jim" rengek Aliya yang kesal karena Jimin mengabaikan nya. Jimin marah karena Aliya menggalakan rencana perjalanan bisnisnya. Aliya kan tidak sengaja, salah sendiri Jimin yang menghampirinya tadi. "Shut diamlah" ketus Jimin sebal dan menjauh dari Aliya. "Aku minta maaf oke. Dan lagi aku ingin bercerita banyak hal padamu. Jebal aku benar-benar buntu" ujar Aliya putus asa dan mulai membuat Jimin tertarik. Menatap Aliya dan memfokuskan perhatian pada Aliya. "Katakan" Aliya menghadap Jimin dan mulai bercerita tentang kegilaan Ten yang selalu mendekati nya. Aliya juga berkata jujur dan tidak menambahkan apapun didalamnya. Aliya memang terbiasa jujur lagi pula Jimin adalah suaminya dan Aliya tidak boleh menyembunyikan apapun dari suaminya kan? "Lalu kau akan terus mengabaikan dia?" Aliya menggeleng tidak tau dan membuat Jimin menghela nafas pasrah. Ia juga yang akan memecahkan masalah Aliya. Huh kenapa Aliya sebodoh itu? "Jangan terlalu mendekati atau menjauhi nya. Dia itu laki-laki dan jika kau terus terang menolaknya dia pasti akan semakin menjadi. Saat laki-laki punya keinginan yang kuat pasti dia akan melakukan apapun untuk mendapatkannya" Aliya mengangguk mengerti dan menatap mata Jimin. "Tumben kau bijak. Biasanya langsung kebakaran jenggot sendiri" Jimin mendecih kesal mendengar suara menyebalkan Aliya. Sudah dimintai solusi malah dihina. Bocah Sialan. "Jika sudah selesai aku mau tidur" ketus Jimin dan menuju ranjang dan diikuti Aliya dari belakang. "Besok kau berangkat pagi?" Tanya Aliya saat mereka berbaring di ranjang. "Tidak terlalu juga. Jika besok kau mau pulang biar kusuruh orang untuk mengantarmu. Aku akan disini selama 3 hari" Aliya mulai berfikir dan akhirnya menggeleng tidak mau. "Aku libur karena ada persiapan sebelum ujian. Jadi dari pada aku pulang lebih baik disini" jawab Aliya pelan dan membuat Jimin tersenyum simpul. "Yakin mu disini? Ini bukan Seoul dan fasilitas disini tidak selengkap Seoul bahkan bisa dibilang minim. Kau bisa bertahan?" Aliya tampak berfikir dan kembali mengangguk. Aliya tau jika ini desa kecil dan Aliya juga tau jika desa tidak punya fasilitas selengkap Seoul. Tapi tidak masalah, Aliya akan mencobanya. "Kan ada kau yang akan melengkapi apapun yang ku inginkan. Kau kan suamiku" Jimin tertawa mendengar jawaban Aliya. Yakin sekali jawabannya? "Terserah padamu. Aku mau tidur" kata Jimin dan membelakangi Aliya. Melihat itu Aliya jadi kesal dan menarik Jimin untuk menatapnya. "Mwo?" Tanya Jimin aneh. "Kenapa kau membelakangi ku?" "Lalu kau mau apa?" Aliya memicingkan matanya dan menatap Jimin dengan tajam. "Wae?" Aliya menggeleng dan memeluk tubuh Jimin, menyamankan tubuhnya diperlukan Jimin dan mulai memejamkan matanya. Jimin hanya diam saat merasakan pelukan erat Aliya dipinggangnya, ada rasa aneh yang menjalari seluruh tubuhnya. Rasanya sangat menyenangkan dan Jimin merasa sangat bahagia. "Sejak dimana Tae Oppa melihat kita waktu itu kau jadi jarang pulang dan sibuk dengan urusan kantor. Bahkan kau jarang menyapaku, bertengkar dan selalu pergi pagi. Itu membosankan kau tau?" Ucapan Aliya terdengar lembut ditelinga Jimin dan Jimin tidak diam begitu saja. Menarik wajah Aliya untuk menatapnya dan mendekatkan wajah mereka. Apalagi reaksi Aliya yang memejamkan matanya membuat Jimin senang karena itu artinya Aliya menyambut ciumannya. Bibir mereka menempel dan Jimin segera mengecup bibir atas Aliya. Melumatnya dengan lembut dan membuat Aliya membalas ciuman Jimin tidak kalah lembut. Tidak ada unsur gairah disana hanya ada ciuman lembut dan Jimin sendiri tidak tahu apa yang dilakukannya. Mengikuti nalurinya dan terus menciumi bibir Aliya dengan lembut. Bergerak pelan dan melepaskannya, dahi Jimin dan dahi Aliya saling menempel dengan deru nafas saling bersautan. "Kau keberatan?" Pertanyaan Jimin membuat Aliya menatapnya. "Sejak kapan kau meminta ijin?" Tanya Aliya yang terdengar erotis ditelinga Jimin. Terlihat jelas jika Jimin sedang menahan dirinya. "Hanya ingin memberi pilihan" Aliya tersenyum dan kembali menyatukan bibir mereka. Merasakan apa yang Aliya lakukan tentu saja Jimin tidak akan tinggal diam. Aliya mencuri start-nya duluan dan Jimin yang akan mengakhirinya. "Uh!" * "Kau baik-baik saja?" "Seperti yang kau lihat" "Segeralah sembuh" "Aku tau" "Bantu aku" "Sudah kukira kau akan melakukan ini Young Brother" "Bukankah itu tugas dari seorang Kakak?" "Baiklah apa lagi yang kau inginkan kali ini?" "Aku ingin~~~" * "Aku tidak tau jika kau akan menyusul kesini?" Tanya Taehyung karena melihat adiknya yang ada di Ilsan. "Bertemu Jimin dijalan jadi aku ikut" jawab Aliya enteng. "Jalan? Tumben?" Aliya hanya tersenyum dan kembali melihat Jimin. Sementara Taehyung mulai memperhatikan adiknya. "Kau mencintai Jimin?" Aliya tersentak mendengar pertanyaan Taehyung. Apa maksudnya? "Oppa tau jika kau tidak pernah main-main dengan yang namanya pernikahan. Oppa juga tahu jika kau tidak mau pernikahan ini berakhir. Tapi yang jadi masalah disini apa kau mencintai Jimin? Sekuat-kuatnya prinsipmu jika tidak ada pondasi cinta maka itu akan percuma. Kau baru berusia 17 tahun dan prinsipmu masih bisa goyah. Dan saat ini kau dalam masa-masa labil" Aliya termenung mendengar ucapan Taehyung. Dalam hati Aliya membenarkan apa yang kakaknya ucapkan. Umurnya masih terlalu muda untuk memutuskan sesuatu dan tidak mungkin Aliya akan memilih keputusan yang salah. "Jika saat ini kau belum bisa mencintai Jimin maka belajarlah. Satu hal yang perlu kau tau. Mencintai Jimin tidak akan membuatmu menyesal. Dan lagi jangan gunakan perjanjian diantara pernikahan kalian atau kau akan sakit hati. Jimin tidak akan menolaknya, melainkan menyetujuinya. Karena dia akan menyanggupi semua yang diinginkan wanitanya. Bukan wanita yang menjadi kekasih atau istri, tapi wanita yang menjadi pemilik hatinya. Ingat itu Aliya" kata-kata Taehyung mulai memancing ingatan Aliya. Apa maksud dari menuruti semua permintaan wanitanya? "Belajarlah jadi orang dewasa dan berhenti jadi gadis kecil. Lihat semua dengan hati dan bukan dengan mata. Karena kadang mata akan mengkhianati kita tapi tidak dengan hati. Jangan menilai semua dengan polos dan jadilah orang yang bijak. Ingat kata-kata Oppa dan mulai lihat Jimin" Tbc.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD