Happy Reading.
*
Jimin terlihat sibuk dengan berbagai kertas yang berisikan data untuk proyek barunya di Jepang. Beberapa hari terakhir ini Jimin juga jarang pulang, Proyek ini benar-benar menyita waktu Jimin.
"Presdir apa anda akan lembur lagi?" Jimin tidak menoleh saat mendengar pertanyaan sekretaris-nya.
"Entahlah. Jika kau mau pulang, pulang saja. Lagi pula ini sudah waktunya pulang" ujar Jimin datar dan tetap sibuk dengan berkasnya.
"Saya mengerti Presdir tapi apa anda tidak memberi kabar pada Nyonya Park. Beliau pasti mengkhawatirkan anda" ucapan itu menghentikan kegiatan Jimin. Ngomong-ngomong tadi saat Jimin berangkat Aliya belum bangun dan saat Jimin pulang Aliya sudah tidur dan itu terus berlanjut selama beberapa hari ini. Apa Aliya khawatir padanya?
"Aku mengerti. Pulanglah" sekertaris Jimin mengangguk mengerti dan pamit undur diri.
"Apa yang dia lakukan saat ini?" Tanya Jimin sambil melirik ponselnya. Aliya juga tidak menelfon nya sama sekali dan Jimin juga tidak punya cukup waktu untuk mengabari Aliya.
*
Aliya bosan sendiri dirumah, hari ini Ahjumma Ah pergi kerumah saudaranya yang sedang sakit dan Aliya tidak punya teman lagi. Jimin tidak pulang untuk beberapa hari ini dan Aliya tau saja dari Ahjumma Ah. Memikirkan Jimin, Aliya jadi kesal sendiri. Kenapa pria itu tidak mengabarinya, setidaknya telfon 5 menit untuk mengatakan jika dirinya sibuk dan tidak bisa pulang.
Tapi Jimin justru tidak mengatakan apapun dan pergi begitu saja. Pamit saja tidak. Huh Aliya jadi jengkel sendiri.
"Aku bosan" cetus Aliya yang melemparkan remot yang ada ditangannya. TV belum bisa membuat bosannya hilang.
"Sebenarnya apa yang dilakukan dipendek itu?" Kesal Aliya yang membanting tubuhnya keranjang dan menarik selimutnya dengan kesal.
"Awas saja jika dia pulang besok. Ketendang keluar dari rumah ini" ancam Aliya dan mencoba menutup matanya tapi tidak bisa-bisa.
"Huh tidurlah Aliya" teriak Aliya frustasi pada dirinya sendiri.
"Hah sialan"
*
Jimin pulang ke rumah saat jam sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Jelas semuanya gelap, tidak ada yang bangun dijam seperti ini. Ini waktunya tidur dan Jimin baru pulang. Berjalan kearah kamarnya dan saat akan membuka knop pintunya Jimin terkejut saat pintunya dikunci.
"Ige Mwoya?" Tanya Jimin yang masih mencoba membuka pintunya.
"Sial bagaimana cara untuk masuk?" Kesal Jimin, tidak ada kunci cadangan karena hilang. Waktu itu Jimin dan Aliya bertengkar dan Aliya tidak sengaja melempar kunci pintu kebalkon dan hilang. Yang digunakan saat ini adalah kunci cadangan dan Jimin lupa membuat duplikatnya.
"Sia~~~" ucapan Jimin terhenti saat melihat pintu kamarnya yang terbuka begitu saja, menampilkan wajah Aliya yang acak-acakan.
Jimin menelan ludahnya gugup saat melihat Aliya yang hanya menggunakan kimono tipis dengan panjang diatas lutut. Warna putih yang transparan dan memperlihatkan celana dalam Aliya yang berwarna hitam, itupun Aliya tidak menggunakan bra.
"Apa yang kau lakukan disini?" Jimin menatap Aliya yang terlihat bingung. Mengusap matanya sendiri yang sepertinya masih mengantuk.
"Kufikir kau akan tidur dengan kertas-kertas sialan itu" cetus Aliya datar dan berjalan melewati Jimin begitu saja. Dan tanpa sengaja Aliya menabrak lengan Jimin.
"Hais minggir" Jimin merasakan hawa panas mulai menghampirinya. Apalagi Aliya yang memilih terus menabraknya dari pada memilih jalan lain.
"Ming~~~akhh" Jimin tidak bisa menahannya lagi. Bergerak cepat menarik Aliya kedalam kamar dan mengunci pintu kamarnya dengan cepat.
"Kau gila?" Teriak Aliya kesal dan hanya dibalas tatapan b*******h dari Jimin.
"Pulang-pulang malah mengajak bertengkar. Dasar sinting" Aliya masih saja mengumpat Jimin dan tidak sadar jika Jimin bukan mengajaknya bertengkar tapi bermain diatas ranjang.
"Mingg~~~akh" Aliya benar-benar membuka matanya dengan lebar saat Jimin mencium bibirnya. Ige Mwoya?
"Uh!" Aliya masih belum bisa mencerna semua yang Jimin lakukan tapi desahannya sudah lolos duluan.
Tangan Jimin bergerak cepat mengalungkan tangan Aliya kelehernya, mengaitkan kaki Aliya dipinggangnya dan membawa tubuh mereka keatas ranjang. Jimin menurunkan dengan pelan tubuh Aliya dan segera menindihnya.
Tanpa melepas cumbuanya Jimin mulai membuka kancing kimono Aliya, bergerak tidak sabar dan berakhir merobek kimono Aliya. Tubuh Jimin semakin panas saat melihat d**a sintal Aliya yang tidak tertutup apapun. Kencang dan padat, n****e-nya yang berwarna kecoklatan membuat Jimin tidak menyia-nyiakan waktu dan langsung meremasnya dengan gemas.
"Uh! Ah" Aliya mendesah dalam ciumannya dan Jimin jadi semakin bergerak lebih.
"Jim" Aliya melepaskan ciuman mereka dan menjauhkan wajah mereka.
"Mwo?" Tanya Jimin yang tetap meremas d**a Aliya.
"Hah! Ah! Geumanhaeehh" desah Aliya yang meminta berhenti.
"Wae?" Tanya Jimin yang tidak menghentikan kegiatannya.
"Ugh! Kauh baruhh pulanggh Ah" Aliya kembali mendesah saat Jimin justru bergerak kebawah.
"Aku tidak peduli" cetus Jimin dan benar-benar menelanjangi tubuh Aliya.
"Parkh Jhimin Ah"
*
"Bagaimana keadaannya?"
"Lebih baik dari sebelumnya"
"Pastikan dia sembuh"
"Saya mengerti Tuan"
*
"Apa yang kau tertawakan Tae?" Tanya Jin aneh pada Taehyung yang sedang tertawa sambil melihat buku album lama.
"Ani Hyung. Hanya melihat beberapa album lawas. Kau ingat ini?" Ujar Taehyung sambil menunjukkan foto pada Jin.
"Oh pria Jepang ini?" Tanya Jin yang mulai ingat.
"Hem. Aku ingat dulu dia dan Jimin Hyung sering bertengkar hanya karena rebutan robot" kata Taehyung yang masih tertawa.
"Itu masa lalu Tae. Tapi ngomong-ngomong dimana dia sekarang?" Tanya Jin.
"Entahlah yang kutahu dia jadi buronan Han Pearls karena menggelapkan banyak dana" jawab Taehyung yang sempat mendengar beberapa berita.
"Dia bekerja untuk Han Pearls?" Tanya Jin kaget.
"Hem. Wae Hyung?" Tanya Taehyung aneh.
"Aniya. Yang kudengar dia adalah anak dari salah satu kolongmerat di Jepang lalu kenapa dia harus bekerja di Han Pearls?" Ujar Jin yang bingung.
"Entahlah Hyung tapi yang pasti dia dan Jimin Hyung saling mengenal dan selebihnya aku tidak tau" ujar Taehyung acuh dan menutup album lawasnya.
"Aku akan mengunjungi Magnae. Kau ikut?" Tawar Taehyung.
*
"Berhentilah menunjukkan wajah jelek itu" kata Jimin jengah yang melihat wajah Aliya yang terus ditekuk.
"Aku bolos sekolah kau tau?" Kesal Aliya dan hanya dibalas tatapan datar dari Jimin.
"Lalu?" Aliya mendesis kesal dan menatap wajah Jimin.
"Aku akan ujian, bagaimana bisa aku absen terus?" Cetus Aliya yang tidak menyembunyikan kekesalannya.
"Kau pasti lulus" kata Jimin enteng.
"Tau lulus. Orang kau yang ada di balik kelulusan ku" ujar Aliya.
"Itu kau tau" kekeh Jimin santai dan bangkit dari posisinya.
"Hah melakukan morning s*x memang menyenangkan. Kau mau mengulanginya?" Aliya menatap jengkel kearah Jimin yang baru saja menawarkan morning s*x padanya.
Tubuh Aliya bahkan sudah penuh bekas Jimin dan sialnya pria itu minta lagi. Waras?. "Tidak. Kau sudah banyak membuat tanda ditubuhku dan aku tidak berniat menambahnya lagi" cetus Aliya yang menolak usulan Jimin.
"Wae bukankah tadi kau terus mendesah?" Tanya Jimin yang menggoda Aliya.
"Aish diamlah" ketus Aliya yang mencoba menghindari Jimin.
"Hei mengaku saja jika kau juga ketagihan?" Goda Jimin yang ingin melihat Aliya menyerah. Akan sangat lucu jika Aliya menyerah diperdebatan mereka saat ini. Biasanya Aliya selalu ngeyel dan tidak mau mengalah. Sekarang bolehkan Jimin yang ngeyel?
"Uh! Ah! Jhimn! Bukankah tadi kau terus mendesah?" Lanjut Jimin yang menirukan suara desahan Aliya.
"Yakh diam. Itu memalukan" teriak Aliya yang melompat kearah Jimin justru selimut yang menutupi tubuhnya lepas. Melihat itu Jimin justru memeluk tubuh Naked Aliya.
"Hei kau sedang menawariku ya?" Tanya Jimin yang tidak melepaskannya.
"Yakh lepasssss" teriak Aliya tapi tidak digubris Jimin.
"Kau tidak bisa lari lagi. Let's play now Mrs.Park" ujar Jimin sensual dan membanting tubuh Aliya untuk berada dibawahnya.
"Parkkk Jiminnnn" teriakan Aliya terhenti saat Jimin mencium tepat dibibirnya.
"Mag~~~Ya Tuhan kalian" Aliya mendorong tubuh Jimin yang menindihnya saat mendengar teriakan yang ia yakini adalah kakaknya.
"Hei ini sudah siang, kalian mau terus bertempur diatas ranjang?" Pertanyaan yang dilontarkan Taehyung membuat Aliya menunduk malu dan menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya, sementara Jimin yang melihat Taehyung yang ada diambang pintu kamarnya hanya mendengus kesal.
"Sialan kau. Kenapa kau kesini?" Tawa Taehyung pecah saat Jimin berteriak keras padanya. Jelas sekali Jimin tidak suka dengan kedatangannya. Iyalah orang Taehyung menganggu aktivitas Jimin.
"Hehe Mianhae Jim. Aku hanya ingin mengunjungi adikku tapi justru kau sedang memakainya" mendengar ucapan Taehyung, Aliya langsung membuka selimutnya.
"Memakai? Oppa fikir aku barang?" Teriak Aliya kesal dan hanya dibalas senyum kotak dari Taehyung.
"Mian Magnae. Oke aku pergi sekarang kalian bisa melanjutkan pekerjaan itu lagi" cetus Taehyung dan langsung berlalu.
"Lain kali tidak usah berkunjung sialan" teriak Jimin keras saat mendengar suara tawa Taehyung yang keras.
"Kakakmu itu sialan" Aliya mendesis kesal dan mencubit pipi Jimin.
"Kau juga sialan bodoh" maki Aliya kesal dan semakin mencubit keras pipi Jimin dan Jimin hanya bisa berteriak.
"Aliyaaaaaa sakiiiiittt"
Tbc