Cupcake

2834 Words
Suasana kelas Bahasa Belanda yang ditinggal Bu Renjani berubah ramai. Teman-teman sekelas sibuk dengan kegiatan mereka—ngerumpi, bermain ponsel, menjahili yang lain—sedangkan aku menekuri halaman buku, mengerjakan tugas. Adeeva yang sebelumnya berkonsentrasi malah ikut ribut dengan Sabas di belakang. Berulang kali aku menyikutnya, tapi ia tak peduli. "Jadi ... Mama kamu dulu cerpenis dan kritikus sastra era 80-an?" "Benar. Makanya, aku pengen banget bisa kayak Mama." "Pasti Mama kamu cantik ya." "Kok bisa tahu?" "Anaknya aja cantik." Astaga! Aku menghela napas panjang dan memutar kepala, melemparkan tatapan tak main-main. "Eh, kalau mau gombalin anak orang mending di luar aja sana. Jangan di sini. Ganggu tahu, nggak?!" Ia tak mengindahkan, hanya melirik sebentar sebelum melanjutkan obrolannya dengan Adeeva. Kalau ia tak mau diam, aku saja yang pergi. Kubereskan buku dan alat tulis dan menyeret ransel, pindah ke kursi belakang di samping Prapto. Sampai detik itu pun mereka masih asyik mengobrol. Aku memandang bukuku yang sudah tercoret dengan gambar benang kusut. Buru-buru kututup buku itu dan mengempaskan pena. Saking kesalnya, aku memutuskan untuk kabur dari kelas, mengabaikan seruan Adeeva di belakang. Meski kuharap ia mengejarku dan mengikutiku, tak kulihat ia di koridor. Sepersekian detik aku menunggu, tapi wajah jelitanya tak kunjung terlihat. Ah, benar saja. Pasti ia kegenitan sama senior songong sok ganteng itu. Aku memutar badan hendak melanjutkan langkah, sampai seseorang menyenggol bahuku cukup keras. "Aduh! Nyantai aja kali!" teriakku jengkel. Menyadari siapa si penabrak, aku menyatukan alis. "Lastri? Kok kamu keluyuran di kelas, sih?" Ia tak menjawab, tidak pula memberikan senyum. Ia berjalan terburu-buru melewatiku, menuruni anak tangga di pintu selatan. Aku mengerutkan dahi skeptis. * Aku naik ke atas pohon di belakang perpustakaan, duduk membaca Carousel sembari menggigit cokelat. Tinggal beberapa halaman saja. Tak kupungkiri, novel ini sangat bagus! Aku jadi penasaran dengan sosok Mega Mentari. Sampai di halaman 175, aku berhenti. Waktu membunuhku lebih cepat. Jika diberi kesempatan, aku ingin memutar detik ke belakang untuk bertemu denganmu lagi. Kata maaf barangkali tak cukup untuk kusampaikan padamu, menghapus rasa bersalah yang makin mencekik. Selang beberapa detik usai membaca bagian itu, aku mendengar suara sayup-sayup dua orang yang berjalan mendekat. Di kejauhan, kulihat Ananta, bergandengan tangan dengan Kirana sembari bercanda tawa. Aku mengintip dari atas pohon tanpa suara. Keduanya berjalan menuju mobil Ananta yang diparkir di belakang perpustakaan, tidak jauh dari pohon tempatku bersembunyi. Mereka berhenti sebentar. "Aku nggak nyangka temen kamu bisa kayak gitu. Malu-maluin banget." Kirana cekikikan. "Eh ya, soal Angkara...." Mendengar namaku disebut, aku pasang telinga. "Kenapa dia?" tanya Ananta. Ya, ya! Kenapa dengan aku? Mencondongkan badan, aku memeluk pohon agar tak jatuh. "Kamu nggak ambil sikap, gitu? Dia annoying banget. Gara-gara tulisan dia, fakultas jadi nggak sebebas dulu. Sebel, tahu." Mulut kukerucutkan ke depan. Seandainya bisa, aku ingin melompat turun dan menarik rambut panjangnya. Berani-beraninya ia menyebutku 'annoying'. "Jangan gitu, Ran. Dia mungkin cuma pengen fakultas kita disiplin dan teratur, kayak yang lain." "Kamu belain dia terus, deh! Aku mau pulang sendiri aja." Kirana memutar badan berniat pergi, sedangkan Ananta dengan sigap menarik tangannya. "Bukan belain. Tapi dia bener. Harusnya malah BEM yang bertindak, bukan anak majalah. Kamu nggak malu, tugas yang harusnya dijalankan BEM malah dikerjakan orang lain?" "Oh ... gitu. Kamu nyalahin aku sekarang?" "Yang nyalahin kamu siapa, Ran?" "Aku kan anak BEM. Sama aja kamu nyalahin aku!" "Udah, deh. Kita masuk dulu, ya. Bicara di dalam aja. Nggak enak dilihatin anak-anak tuh." Kirana mengibas rambut ke belakang, menurut dengan masuk ke mobil tanpa kata, disusul Ananta. Aku menghela napas panjang. Padahal kukira mereka melanjutkan pertengkaran dan akhirnya putus. Alih-alih, mobil Ananta melaju pergi. Nggak boleh gitu, Anggi. Kena karma loh nanti, si malaikat seperti biasa, berusaha bijak. Aku mengatupkan tangan di depan d**a dan menghela napas panjang. "Ini gara-gara kamu, Iblis. Aku hampir aja sesat," kataku. Tugasku kan emang menyesatkan manusia, balas si iblis bangga. Baru saja aku ingin melanjutkan bacaan, segerombolan mahasiswa berjalan beriringan dari arah timur. Ah! Anak-anak teater rupanya. Tampaknya, mereka akan melakukan latihan rutin di lapangan. Aku melihat si ketua berjalan di barisan terdepan, mengobrol dengan Sabas. Malaikat di pundak berbisik memintaku turun dan pergi saja. Aku mengangguk setuju, malas berurusan dengan mereka. Aku turun dari pohon. Padahal sudah sangat hati-hati, sialnya kakiku tergelincir dari salah satu dahan. "Emak!" aku praktis berseru, jatuh dan mendarat di atas aspal dengan posisi menungging. Serentak, tawa meledak bersahut-sahutan. Buru-buru aku bangkit dan membersihkan celana. Aku mengernyit melihat barisan anak-anak teater itu terpingkal-pingkal. Padahal, aku berekspektasi ada yang menangkapku seperti di cerita-cerita romantis. Aku benci ekspektasi yang tak pernah berjalan sesuai realita. Aku mengumpat kesakitan dan berlari kabur dengan wajah memerah. * "Sakit, Div!" Aku menjerit tatkala Adeeva menyentuh telapak tanganku yang lecet. Sebelum rapat kepanitiaan dimulai, kami duduk berdua. Aku telah menceritakan insiden jatuh dari atas pohon, termasuk bagian ditertawakan anak-anak teater. Adeeva berusaha tak menyemburkan tawa mendengarnya. "Makanya, hati-hati. Kamu ngapain sih baca buku aja pakai manjat pohon?" "Lebih adem dan fokus," aku membela diri. Menggelengkan kepala, Adeeva tertawa cekikikan. Ia berpamitan pergi setelah dipanggil kepala seksinya di bangku lain untuk mengadakan rapat kecil sendiri. Aku duduk menunggu ketua umum malam keakraban, seraya mengibaskan telapak tangan. Bersamaan munculnya Elisa dan anggota inti, aku melihat Sabas nyelonong duduk di sampingku. Kutatap ia tak senang. "Ngapain duduk di sini? Masih ada banyak bangku kosong." Ia menoleh ke sekeliling. Barulah aku sadar bahwa anggota acara dan timdis duduk di dekat bangku ini. Kuhela napas pendek, menjatuhkan pandangan lurus ke depan. Sabas mengeluarkan sesuatu dari ranselnya dan mengangsurkan padaku. "Tadi aku temuin di bawah pohon tempat kamu jatuh," katanya. Aku melirik Carousel yang ada di tangannya. Kusambar buku tersebut dan memasukkannya ke dalam ransel. Tanpa kata. "Sama-sama," katanya hiperbolis, menuntut ucapan terima kasih. Ia menyeret kursi lebih merapat di sebelahku. Lalu merendahkan suara, seakan tak ingin terdengar panitia lain. "Kamu pernah keliling kota dan nyobain kudapan di hampir semua kafe Surabaya, kan? Kayaknya belum pernah nyobain salah satu kafe yang menyuguhkan kudapan paling enak." Aku menyeringai. "Lidah kamu sama lidahku beda selera. Enak menurut kamu belum tentu enak menurutku." Ia berdecak panjang. Sekilas, tatapannya berpindah menuju Elisa yang berdeham di depan whiteboard. Kami saling berdiaman selama beberapa saat. Begitu Elisa melanjutkan presentasi rundown acara, Sabas berbisik lagi. "Gini deh, kita taruhan." "Taruhan buat nyobain kudapan yang kata kamu paling enak?" Ia menjentikkan jari membenarkan. Dikeluarkannya secarik kartu alamat padaku. Aku mengamati dengan saksama. Hmm ... Mahadeva Café. Aku baru mendengarnya. Mengapa Adeeva tak memperkenalkan kafe itu padaku sebagai referensi ulasan terbaru? Mataku bertemu dengan Sabas. Sebelah alisnya terangkat menunggu jawabanku. "Kalau aku nggak tertarik sama kudapan mereka, aku mau berhenti gangguin Adeeva, apalagi aku. Jauh-jauh sana." Sudut-sudut bibirnya mencebik. "Kejam banget. Kalau kamu kepincut sama kudapan mereka, kamu harus mau jadi astradaku sampai hari pementasan." Asisten sutradara? Bahuku mengedik. "Oke." "Cuma mau kasih tahu aja sih, kafe itu udah terkenal loh. Cabangnya ada di mana-mana dan punya banyak piagam penghargaan." Ia menaikturunkan alis, berusaha menyurutkan keteguhanku. Aku menyengir kuda. "Cuma mau kasih tahu juga. Indera perasaku ini beda sama orang lain. Dari sekian banyak kudapan yang pernah mampir di lidah, cuma ada satu toko roti yang berhasil menaklukkannya." Toko roti keluargaku. Hanya kudapan dari resep Mama yang paling enak. Dan tak ada yang bisa mengalahkan rasanya. Kami saling berjabat tangan menyepakati taruhan. * Sesuai kartu alamat, Mahadeva Café terletak di Menanggal, Surabaya. Setelah mempelajari kafe tersebut dari Google, aku menyesuaikan bentuk bangunannya. Menurut ulasan yang ditulis pengunjung yang pernah singgah, kafe itu memang menyediakan kudapan terenak daripada kafe-kafe lain yang pernah mereka singgahi. Mahadeva Café memanfaatkan bangunan peninggalkan Belanda. Arsitekturnya masih khas, tak banyak berubah kecuali cat yang lebih baru. Kalau melihat dari bangunannya, sepertinya kafe ini bonafide dan mahal. Untung saja aku punya jatah dari koran. Uangku akan di-reimburse perusahaan setelah memberikan artikel ulasan (ini di luar gaji). Memasuki kafe, aku disambut suara Amy Winehouse dengan lagu You Know I'm Not Good. Kafe dalam keadaan cukup ramai di akhir pekan sore hari. Aku duduk di dekat jendela. Seorang pelayan laki-laki yang cukup rupawan langsung sigap mengantar buku menu padaku dan siap mencatat. Aku membuka dan memilah-milah menu. "Kami punya menu terbaru yang sangat istimewa loh, Kak. Mau coba?" tawar si pelayan. Aku meliriknya. Ia mengembangkan senyum begitu memesona. Haha, maaf, Mas. Aku bekerja secara profesional. Walaupun wajahmu setampan Ian Somerhalder dan Benedict Cumberbatch dijadikan satu, aku tak akan memberi bintang lima di ulasanku nanti kalau rasanya tak enak. "Menu terbaru yang mana?" tanyaku Ia menunjuk selebaran di bagian belakang buku menu. "Magma Cupcake. Isinya lelehan cokelat asli Indonesia. Menu ini yang paling populer dan disukai pengunjung minggu ini. Mau coba?" "Boleh. Sama teh chamomile satu ya." "Baik. Saya ulangi pesanannya ya, Kak. Teh chamomile dan Magma Cupcake satu." Ia menarik buku menu dan membawanya pergi. Menunggu pesanan datang, aku mengeluarkan Carousel dan membacanya. Selang beberapa menit, pesananku datang. Walau dalam keadaan ramai, pelayanan kafe ini tak begitu mengecewakan. Eh, aku harus mengakuinya loh. Memang kinerja pelayan di sini bagus sekali. Biasanya aku dibuat menunggu sangat lama, tapi di sini tidak. "Selamat menikmati." Aku menyunggingkan senyum berterima kasih. Kucoba lebih dulu teh Chamomile yang masih hangat itu. Untuk urusan minuman, aku tak banyak berkomentar. Bagiku, minuman di kafe mana pun rasanya sama saja. Mungkin karena aku hidup di lingkungan baker, aku lebih tertarik pada kudapan. Sekarang giliran cupcake-nya! Aku memulai dengan gigitan pertama. Deg. Aku berhenti sebentar, memandang cupcake yang baru secuil kumakan. Dari segi tekstur, penampakannya sangat indah. Kuamati selama beberapa detik, sebelum akhirnya mencomot dan memakannya lagi. Deg. Hingga tak terasa, kue itu lenyap. Aku m******t jari-jemari membersihkan sisa cokelat. Bahkan rasanya sama persis. Aku bergeming cukup lama seperti orang t***l. Sampai keberadaan seseorang membuyarkan lamunan dengan duduk di depanku dan menepuk meja. Aku mengerjap. "Bagaimana, Nona Angkara Devanagari?" Sabas tersenyum miring penuh kemenangan. "Kamu ngikutin aku ke sini?" tanyaku kaget. "Kenapa? Aku memastikan kalau kamu nggak curang. Nah, lihat tuh mukamu. Dari mukamu aku udah bisa mastiin siapa pemenang taruhan." Ia tertawa. Telunjuknya mengacung di depan bibirku. "Tuh, ada cokelat di sana. Jorok banget." Aku mengusap dengan punggung tangan. Ia berdecak, menarik tisu dan menyeka bibirku kasar. Kutepis tangannya sambil mengernyit. Setelah membuang napas panjang, kupandang ia dengan sinar mata penuh kekalahan. Sungguh memalukan. "Kamu yang menang." Ia mencondongkan badan. "Nggak denger." "Kamu yang menang!" Aku berteriak di telinganya. Hancur sudah harga diriku setelah ini. Tak bisa kubayangkan nasib sialku. Ugh! Aku ingin menjotos wajahnya. Sumpah. Sabas menertawakan kekalahanku. Aku mengerucutkan bibir ke samping, menelan bulat-bulat kedongkolan dan imajinasi mengerikan seminggu ke depan. Salah seorang pelayan lain datang berniat membereskan piring dan gelas. Sebelum menyentuh gelas, ia menoleh dan tersenyum sopan. "Mas Sabas di sini, toh. Tadi dicariin Bapak loh." Sontak, aku meliriknya penuh tanya. Ia mengangkat tangan dan tersenyum singkat. Berengsek. Rupanya dia pemilik kafe ini. * Kekalahanku dimulai sejak aku keluar dari kafe s****n yang rupanya milik keluarga Sabas. Seharusnya aku sudah tahu sejak awal. Apalagi dari namanya yang agak berkaitan dengan nama belakangnya. Tak henti-hentinya aku merapalkan sumpah serapah, mengutuk kebodohanku. "Kamu masukin jampi-jampi atau pelet ya?" tanyaku, membuatnya berhenti mendadak. "Ngaco." Ia menyentil poniku. "Udah deh. Kalau kalah nggak usah cari celah buat kabur." Aku masih nggak habis pikir! Sangat mustahil keluarganya memiliki resep yang sangat sama dengan keluargaku! Rasanya sangat mirip! Karakter yang aku katakan sebelumnya, ada dalam setiap cuilan cupcake tadi. Bahkan sampai detik ini, aku masih terbayang-bayang. "Jadi, kamu mau minta apa dari aku?" tanyaku seraya menyingkirkan poni ke samping. "Nonton yuk." Aku mengerjapkan mata. "Kalau mau niat modus mah bilang aja, nggak usah taruhan-taruhan begini." Ia menoyor kepalaku. "Nggak usah geer duluan, monyet. Aku mau nantangin kamu nonton film horor. Berani, nggak?" "Yailah. Kecil! Ayo!" Aku melangkah lebih dulu. Baru beberapa detik, aku berhenti dan menoleh ke belakang. "Tapi kamu yang bayarin ya." Ia memutar bola mata. Aku senang diberi gratisan, siapa pun yang mentraktir. Itu sudah naluri orang yang suka minta gratisan. Sesampainya di XXI, aku mengernyit melihat poster film yang dipajang. Genre suspense-horror, pasti banyak darah dari awal sampai akhir cerita. Bibirku mengerucut menimbang-nimbang. Sebenarnya aku tak begitu suka film seperti ini. Aku sempat ragu, tetapi tawa mengejek Sabas membuatku membulatkan tekad. "Nggak punya nyali, ya? Ngomong aja." "Bukan nggak punya nyali. Tapi lihat posternya udah geli. Pasti nggak ada serem-seremnya." Aku mengikutinya berjalan memasuki theater—filmnya baru saja dimulai. Kami duduk di kursi tengah, diapit oleh pasangan-pasangan yang saling berangkulan. Hidungku mengernyit. Aku mengempaskan p****t di kursi, menyilang kaki. "Nggak asyik banget sih banyak yang pacaran," gerutuku. Seolah menangkap gumaman yang sebetulnya kutujukan pada diriku sendiri, Sabas menoleh. "Makanya cari pacar, biar nggak nyinyirin orang pacaran." Aku memandangnya. Orang yang aku suka udah punya pacar, tahu. Aku tak akan mengeluarkan kalimat itu pada Sabas. Ia akan mengolok-olokku. Kuputuskan untuk tak lagi meladeninya, daripada kami berakhir ricuh di dalam bioskop dan membuat petugas menendang kami keluar secara tak terhormat. Waktu berjalan makin cepat. Aku menguap berkali-kali, sementara penonton di sekitarku berteriak seperti orang sinting. Tontonannya agak membosankan. Syukurlah aku tak kena sesak napas hanya karena menonton film tidak asyik seperti ini. Aku lebih takut film boneka yang jalan-jalan sendiri, apalagi kalau bawa pisau. "Ini film nggak jelas banget dah," kataku, sebelum menoleh ke samping. Kulihat Sabas menutup wajah dengan mata membelalak di sela-sela jemari. "Ciye... yang takut nonton film beginian." Sabas melirikku, sontak menjauhkan tangan dari wajah. "Siapa yang takut?" Ia berdeham. Diam-diam kuperhatikan gerak-gerik dan ekspresinya. Berulang kali ia duduk tak nyaman, mengerutkan dahi, berdeham, dan mengatupkan bibir rapat. Aku menahan diri tak tertawa. Sumpah, wajahnya pucat pasi. Saat film selesai, ia beranjak dari kursi lebih cepat daripada yang lain. Aku berlari mengejarnya. Di luar bioskop, tawaku meledak tak terbendung. "Yang ngajak nonton film horor siapa, yang takut siapa. Lain kali jangan ajak nonton film horor kalau takut. Cupu banget sih, Bas," kataku, mengimbangi langkahnya mencari lift. "Ekspektasiku kan kamu yang takut." Pintu lift terbuka. Tak ada siapa pun di dalam. Kami masuk bersamaan. "Aku lebih takut ATM kosong, sih." Aku mengedikkan bahu dan memasukkan kedua tangan ke saku jaket. "Filmnya biasa aja. Jump scare sama suaranya yang bikin kaget." "Alaaah. Alasan." Keadaan hening. Ia tak memandangku sama sekali. Mungkin khawatir aku bisa melihat ketakutan di wajahnya. Sungguh menggelikan. Masa mantan ketua HMD yang dikenal sangat galak takut dengan film horor kacangan seperti tadi? Iblis di atas pundakku berbisik memintaku menjahilinya. Aku menggigit bibir bawah menahan untuk tak mengembangkan senyum geli. Mendadak, kutepuk bahunya mengagetkan. "Dor!" Ia berjengit. "Anjing!!" Tawaku berderai melihat mukanya yang pucat. Aku membungkukkan badan, menahan perut yang kaku. Tak terima sudah kukagetkan, ia menyentil daun telingaku. Kami baru saja akan memulai pertikaian sampai akhirnya pintu lift terbuka. Ia menggeleng dan melangkah lebih dulu. Aku mempercepat langkah di sampingnya. Tiba-tiba, perutku keroncongan. "Aku lapar." Kutarik tangannya, membuatnya berhenti. "Bayarin makan dong." Matanya membeliak. "Eh, suer ya. Baru kali ini aku kenal orang nggak tahu malu kayak kamu." "Kamu harus tanggung jawab! Kalau kamu mau aku nurutin keinginan kamu, kamu juga harus kasih jaminan keselamatan. Misalnya, ngasih makan." Aku melipat tangan di depan d**a. Sabas menghela napas kesal. "Ya udah." Ditariknya kerah jaketku menuju salah satu tempat makan di dalam mall. Asyik ... lagi-lagi ditraktir. Sering-sering kayak gini aja ya, Bas. Sambil menunggu menu makan yang sudah kami pesan, kami duduk dalam kebisuan. Aku lebih senang mengutak-atik ponsel daripada membalas tatapannya. "Eh, monyet. Kalau jalan sama orang, jangan keseringan main hape. Di depan kamu ini orang loh, bukan tembok." Aku tersenyum hiperbolis dan meletakkan ponsel. Yang pertama kali datang di meja kami adalah minuman. Aku menyambar gelas dan menyedotnya. Sebetulnya, aku ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk bertanya soal resep makanannya di kafenya tadi. Bagaimana bisa semirip buatan Mama? Baru saja mulutku hendak terbuka, dari arah belakang terdengar sapaan seseorang. "Hai, Devana." Menoleh, aku mendapati Ananta dengan senyum memesonanya. Aku menyambut kedatangannya girang. Celingukan, aku mencoba mencari keberadaan Kirana. "Sendirian, Mas?" "Ah, enggak. Nganterin Mama belanja. Aku tinggal sebentar, soalnya nggak terlalu suka diajak belanja kayak gini." Untung saja ia datang bersama mantan-calon-mertuaku. Ananta menunjuk kursi di sebelah. Aku mengangguk memberinya izin. Di tempat duduknya, Sabas menyatukan alis, terlihat terganggu dengan keberadaan Ananta. Rasanya ingin kutepuk dahi mengumpat kebodohan. Mereka kan sedang bermusuhan. "Eh, ada apaan nih kalian jalan berdua?" Sebelum Sabas mempermalukanku dengan menceritakan soal taruhan itu, aku menyerobot. "Hm ... anu, kita berencana baikan." Kutampilkan cengiran kuda. Ananta melebarkan mata, tidak mempercayai bualanku. Ia mengamati Sabas, mencari jawaban jujur. Tidak suka diamati, Sabas balik menatap tajam. "Ngapain ngelihatin kayak gitu?" tanyanya ketus. Ponsel Ananta berdering. Ia mengangkat panggilan tersebut—mungkin dari Mamanya—dan menjawab singkat tanpa mengalihkan pandangan dari Sabas. Usai memutus sambungan, ia melanjutkan, "Aku harap kamu nggak menyulitkan dia lagi." Ia menambahkan dengan senyum yang melelehkan hatiku. Sebelum berpamitan, ditatapnya aku. "Hati-hati ya. Dah, Devana." Rambutku diacak-acak pelan. Ia melenggang pergi sambil melambaikan tangan. Ya ampun, aku terbawa perasaan lagi. Betapa manis ia mengucapkan selamat tinggal seperti itu, ditambah senyum yang membuatku kehilangan akal sehat. Aku seakan melupakan hatiku yang sudah dibuatnya berderak patah. "Kok kamu kasar sama Ananta, sih?" tanyaku setelah tak kulihat Ananta yang berbelok ke tikungan. "Biasa aja kok." Ia membuang muka. Bibirku mengerucut ke depan. Sejak pertemuannya dengan Ananta, ia tak banyak bicara seperti sebelumnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD