Pukul dua belas lewat sepuluh menit.
Para mahasiswa telah kembali dari aktivitas masing-masing. Termasuk, mahasiswa dan mahasiswi dari jurusan lain. Namun, ada seorang pemuda di antara mereka yang belum tiba. Saat itu, sosok Genta tak terlihat pada kerumunan beberapa muda mudi di sana.
Danur bercelinguk ke sana dan ke mari. Kemudian, menghampiri salah seorang mahasiswa yang kemarin sore turut serta bersama Genta ke rumah tua.
“Bro?” Danur menyapa.
“Ada apa, Nur?”
“Seharian ini, lo ada jalan bareng sama Genta lagi, nggak?”
“Genta? Tidak. Sedari pagi, gue berada bersama anggota tim. Kebetulan, mahasiswa jurusan kami memiliki jadwal pengukuran dan penataan denah desa.”
Mendengar pernyataan itu, Danur semakin bertanya-tanya perihal arah pergi sang sahabat pria.
Pada saat bersamaan,
Mahasiswi dari jurusan lain menoleh pada sebuah arah. Membidik seseorang dari kejauhan. Danur mengikuti arah pandang mereka. Benar saja, tubuh tinggi tegap disertai paras tampan dan sempurna menjadi fokus utama para mahasiswi. Saat itu, Genta baru saja tiba dari melakukan perjalanan seorang diri.
Tanpa rasa bersalah, Genta menghampiri Danur. Berkata, “Gue mencari lo di rumah warga.”
“Anjaay lo, Bro. Laga lo kayak peduli saja sama rekan satu tim,” Danur berdecak.
Haha!
Genta terbahak. Menyahut, “Sorry, Bro. Sewaktu hendak memasuki rumah warga tadi, gue melihat pemandangan yang cukup bagus untuk dijadikan bahan konten. Asal lo tahu, di sela rumah warga yang berdampingan terdapat sebuah sumur yang berlumut. Itu merupakan pemandangan yang tak boleh gue lewatkan. Jadi, gue memutuskan untuk merekam gambar. Setelah itu, barulah gue akan berfokus untuk mengerjakan tugas KKN kita.”
Tanpa banyak sahutan, Danur segera merampas kamera milik sang sahabat. Melihat video rekaman terakhir di dalam sana. Benar, Genta tak sedang mengarang cerita. Terbukti dari gambaran video yang berhasil terekam.
Tetapi,
“Lain kali, lo jangan pergi begitu saja. Setidaknya, lo bisa berpamitan dahulu kepada gue. Dengan begitu, gue dapat menggantikan tugas lo dengan sukarela. Tak dengan terpaksa seperti tadi,” Danur berujar. Memprotes tindakan Genta yang seenaknya. Menghentak beberapa lembar kertas yang menjadi tanggung jawab sang sahabat pada sisi depan bagian tubuh Genta.
Pemuda eksis itu segera meraih sodoran kertas yang diberikan dengan kasar. Mencebik singkat. Sebelum memastikan seluruh lembaran form terisi dengan baik. Kemudian, barulah ia menghampiri Reksa untuk mengumpulkan bahan tugas.
******
Menu makan siang hari itu, berasal dari masakan Reksa.
Pemuda yang berhasil menuntaskan jobdesk dengan cepat tersebut segera kembali ke rumah warga. Sesaat usai berpamitan pada Nayla untuk memasakkan menu hidangan. Sungguh, sifat Reksa yang rajin, terampil dan cekatan selalu dapat diandalkan.
“Siang ini, menu makan kita kari ayam nih, Sa?” Genta bertanya. Bersiap mengambil piring dan hendak menyendokkan nasi.
“Seperti yang lo lihat.”
Di sela kedua sahabat sedang berbincang singkat, Danur teringat akan kari ayam yang sempat dikirimkan oleh Reksa pada Luna.
Dan, “Sa?”
“Iya, Nur?”
Saat itu, Danur dan Reksa sedang duduk berhadapan. Menyantap makanan bersama-sama. Sebuah momen yang dapat dijadikan oleh Danur sebagai kesempatan untuk bertanya dengan serius.
“Waktu itu, lo sempat mengirim sepanci kari ayam ke rumah gue, kan?”
Reksa menelengkan kepala. Lalu, “Lo benar. Waktu itu, hanya ada Luna di rumah kalian.”
“Kalau boleh gue bertanya, kari ayam yang lo kirim pada waktu itu, lo memasaknya kapan?”
Reksa berdehem. Menyahut, “Lo ingat sewaktu kalian menghampiri rumah gue semalam sebelumnya? Nah, kari ayam itu baru gue masak di malam itu. Memang, mengapa?”
“Kari ayam yang lo kirim sudah dipenuhi dengan belatung pada sore itu,” Danur menginformasikan. Mengucap kalimat sama persis dengan yang sempat Luna lontarkan kepada dia.
Sontak,
UHUK!
Reksa tersedak. Meraih sebotol air mineral. Meneguk minuman. Lalu berujar, “Benarkah? Apakah sudah sebasi itu kari ayam yang gue buat?”
Seingat Reksa, menu hidangan tersebut masih baik-baik saja saat ia mengantarkan sepanci makan itu ke rumah sang sahabat.
Sedangkan, Danur berujar demikian hanya untuk memastikan tanggapan yang Reksa berikan. Dan, benar saja. Tak ada gurat aneh di wajah sang lawan bicara. Hanya ada raut merasa bersalah yang Reksa tujukan.
“Sorry, Nur. Lain kali, gue takkan mengirim menu masakan satu hari sebelumnya lagi ke rumah lo.”
Hhh,
Danur menghembus napas panjang. Menepuk pundak sang sahabat. Berucap, “Tak apa, Bro. Gue hanya penasaran saja. Bukan berarti gue kesal akan niat baik lo itu.”
Detik itu juga, sosok Nawang kembali menampakkan diri. Bedanya, arwah wanita tersebut hanya melintas secepat kilat di hadapan Danur.
******
Malam ini. Tepatnya, pada pukul tujuh.
Danur berkeinginan untuk menghampiri rumah seorang kakek di sana. Tetapi, kebodohan akan unggah ungguh yang kurang saat berkenalan, membuat Danur melupakan hal terpenting. Yakni, untuk mengetahui nama si kakek tersebut.
“Maafkan saya, Pak. Saya kurang tahu.”
Seorang pemilik rumah segera menyipitkan mata. Kemudian, menyampaikan bahwa ia tak bisa memberi informasi jika Danur tak dapat menyebutkan nama seorang kakek yang sedang ia cari. Mengingat, cukup banyak pria lansia yang tinggal di Kampung Lelegean.
Dengan gurat berpasrah, Danur menuju sisi luar hunian. Mencoba menggunakan kompas di dalam layar telepon genggam. Seingat dia, hunian si kakek berada di wilayah barat daya desa. Namun, entah mengapa sewaktu ia berkendara teruntuk kali kedua ke desa tersebut, sang pemuda tak melintasi rumah yang sempat dijumpai sewaktu survey pada pekan lalu.
Kebetulan, pada saat Danur sedang menghentikan langkah di teras, sosok Nayla terlihat melambaikan tangan dari kejauhan. Tanpa banyak berpikir, Danur menghampiri wanita tersebut.
“Mengapa muka lo suntuk seperti itu, hah? Kalau begini ceritanya, batal sudah para mahasiswi untuk terpikat pada lo,” Nayla mengeluarkan suara. Berusaha memecah gurat frustasi di wajah si pria.
Saat itu, Danur menceritakan perihal keinginan untuk menjumpai seorang lansia. Termasuk, kebodohan dia perihal tak sempat menanyakan nama si kakek.
“Baiklah, kalau begitu mari kita berjalan-jalan saja. Selagi melihat-lihat rumah warga, gue akan membantu untuk menanyakan sosok si kakek pada warga.”
“Tapi, Nay?”
“Sudahlah. Tak apa. Tak perlu khawatir. Gue pasti akan baik-baik saja. Lagi pula, kan ada lo di samping gue.”
Kemudian, dua muda mudi itu berjalan berdampingan. Menyisir hunian pada arah barat kampung. Memperhatikan satu per satu rumah warga. Berusaha untuk tak melewatkan apa pun.
Sebelum, sebuah bayangan berwarna putih terlihat melesat cepat; seperti halnya yang sempat tertangkap retina Danur sewaktu makan siang. Hanya saja, bayangan tersebut terlihat memasuki raga Nayla. Dalam sekejap, bola mata mahasiswi berambut sebahu itu memerah begitu saja. Sebuah senyum terukir dengan garis bibir menyeramkan. Ia menoleh ke arah Danur untuk sengaja memperlihatkan seringai menakutkan.
Lalu,
Jiahaha—
Nayla tertawa. Sosok hantu wanita itu berhasil menguasai tubuh si mahasiswi. Berujar, “Kau itu terlalu lamban!”
BUG!
Lagi-lagi, suara pukulan terdengar. Entah mengapa, jemari lentik milik Nayla itu berhasil menjadi kepalan yang berat. Menyasar area belakang leher Danur teruntuk kali kedua. Dengan tatapan menyeramkan serta penggambaran tubuh yang kokoh dan kuat, Nayla terlihat menyeret tubuh Danur menuju sebuah arah.