“Lantas, lo hendak pergi ke mana sekarang, Nur?” Genta bertanya.
“Gue hendak pergi ke rumah tua itu lagi. Ada hal yang harus gue kerjakan.”
“Memang, apa yang hendak lo kerjakan di sana? Rumah terbengkalai tak termasuk ke dalam tugas KKN kita, Nur,” Genta mengingatkan perihal tersebut.
Namun, bukan mengenai pengerjaan tugas KKN yang sedang dimaksudkan oleh Danur. Melainkan, pemuda tersebut hendak mengambil barang bukti yang sempat ia sembunyikan di balik tembok berlubang.
Sehingga,
Haha!
“Sudahlah. Lo jangan memikirkan arah pergi gue sekarang. Sebaiknya, lo segera menuju ke pemukiman. Jumpailah Nayla dan minta agar dia mengobati luka-luka di wajah lo itu,” Danur menasehati. Menepuk pundak sang sahabat laki-laki.
Kini, kedua pemuda tersebut baru saja berpisah.
Danur melanjutkan langkah yang semula menyisiri jalan setapak. Sedangkan, Genta sedang mengarah ke rumah para warga sembari memutar tangkapan video di dalam kamera.
******
Setiba di rumah terbengkalai dengan strukturisasi bangunan megah.
Danur berjalan cepat menuju sisi ambang pintu. Ia menunduk untuk mengambil batang kunci di bawah keset kaki. Hanya saja, kunci pintu utama tersebut tak lagi ada. Seseorang telah lebih dahulu mengambil kunci itu. Kemudian, Danur mencoba untuk mendorong pintu utama. Berharap agar pintu tersebut mau terbuka. Tetapi, nihil! Sang pemuda tak bisa masuk ke dalam hunian.
Dengan segenap keberanian, Danur berusaha mencari cara agar tetap bisa masuk ke dalam. Ia menyisir sekeliling bangunan dengan penampakan atap yang menjulang.
Setelah sampai pada sebuah sudut, Danur mendapati jendela yang tak lagi dapat dilihat secara tembus pandang. Jendela dengan tambahan kaca yang telah buram itu memiliki dua engsel berputar. Sang pemuda berharap, engsel itu dapat berputar ke arah dalam. Dengan begitu, akan memudahkan Danur untuk mendorong kaca tersebut dari arah luar.
Pang!
Pang!
Lagi-lagi, Danur memukul perabotan rumah yang ada. Bagaimana tidak, seluruh perabotan sudah berkarat. Menyusahkan pergerakan daun pintu mau pun jendela untuk terbuka.
Beberapa saat kemudian, Danur berhasil mematahkan pengait jendela pada bagian dalam. Jendela tersebut berhasil terdorong dari arah luar. Tak menunggu lama, Danur melompat menuju sisi dalam hunian.
Debu-debu bertebaran. Sesaat usai angin yang menerpa berhasil masuk ke dalam rumah. Tanpa banyak pikir, Danur segera menuju sisi sudut yang memiliki pintu besi. Pintu tersebut masih terbuka seperti kali terakhir ditinggalkan oleh para pemuda dari Jakarta. Setelah itu, Danur mencapai sisi tembok berlubang. Beruntung, sabuk yang terkena percikan darah masih berada di tempat yang sama.
Pemuda tersebut mencari plastik jinjing sebagai wadah untuk barang bukti yang hendak ia bawa. Namun, di saat Danur melangkah menuju sisi dapur untuk mencari benda berbentuk plastik itu, suara berisik kembali terdengar. Langkah kaki segera berpijak cepat. Seolah, seseorang bergegas berlari untuk menghindari sosok Danur.
Sebenarnya, pemuda bertubuh jakung itu hendak mengejar sumber suara. Hanya saja, ia harus membawa serta barang bukti sebelum orang lain menemukannya.
******
Di dalam dapur.
Danur mengobrak-abrik laci pada sisi kanan perabotan. Kantong plastik berwarna bening segera ia temukan.
Gue harus segera memasukkan sabuk itu ke dalam kantong ini. Danur membatin. Ia bergerak cepat untuk mengambil barang bukti. Setelah itu, dengan menggunakan cara yang sama, Danur menuju sisi luar rumah. Mengurungkan niat saat hendak mengejar seseorang yang kerap bersembunyi di dalam hunian. Mengingat, pada kali terakhir hal buruk sempat menimpa dirinya. Dan, kali ini Danur tak akan membiarkan satu orang pun mencelakai dirinya dan mengambil alih barang bukti yang sedang ia bawa.
Tanpa banyak berpikir, Danur segera melangkah lebar untuk meninggalkan hunian.
******
Sementara itu,
Selagi Danur masih berada di perjalanan, sosok Genta baru tuntas mendapatkan perawatan luka dari Nayla. Di sela mahasiswi tersebut merapikan perlengkapan P3K, Reksa terlihat sedang membasuh tangan pada keran yang mengalir. Entah mengapa, air yang mengalir pada sisi bawah dataran beraspal terlihat berwarna kemerahan. Menyaksikan hal tersebut, Nayla berinisiatif untuk menghampiri posisi Reksa.
Namun,
“Nay, jangan!” Genta berujar. Mencekal lengan si wanita.
“Mengapa? Sudah jelas, buku jemari tangan Reksa juga terluka. Dia telah menonjok dua orang pria pada satu waktu. Gue harus membantu mengobati luka dia juga.”
“Gue bilang jangan, Nay,” Genta bersikeras melarang. Berdalih bahwa Reksa tak cukup suka dengan Nayla. Lagi pula, hari itu Reksa terlihat aneh. Dia cukup membahayakan untuk didekati oleh siapa saja. Genta melarang Nayla menghampiri Reksa karena enggan melihat wanita tersebut menjadi pelampiasan kesal dari sang sahabat.
“Sudahlah. Lo tak perlu khawatir. Lagi pula, gue akan mengobati dia di tempat terbuka. Terlalu beresiko jika Reksa akan menyakiti gue di sana.”
Kali itu, kepergian Nayla hanya dibalas dengan tatapan berpasrah dari Genta.
******
Beberapa saat kemudian.
Danur baru saja tiba di pemukiman warga. Anggota tim KKN dari jurusan lain terlihat sedang bersibuk; tak sama halnya dengan tim si tiga sekawan.
Seperti biasa, Genta memilih berkutat dengan kamera dan layar laptop yang menyala. Sedangkan, Reksa sedang berada di dalam kamar sebuah hunian warga. Danur berinisiatif untuk menjumpai Nayla yang sedang bercengkrama dengan gadis-gadis desa.
Issh!
“Lo sedang apa ke mari? Tak berniat untuk tebar pesona pada mereka, kan?” Nayla menyeringai. Sesaat usai mengarahkan pandangan Danur pada subjek yang sedang ia maksud.
“Tentu saja, tidak. Gue ke mari karena ingin meminta bantuan lo,” Danur berujar. Memperlihatkan ikat pinggang di dalam kantong plastik bening secara sembunyi-sembunyi.
Sontak, Nayla memundurkan posisi tubuh. Terkejut saat mendapati sebuah sabuk yang dihiasi dengan percikan darah. Berbisik, “Apa yang lo lakukan selagi berada di rumah tua tadi, Nur? Lo tak melakukan hal mengerikan, bukan?”
“Tidak. Gue tak mungkin bertindak sebodoh yang sedang lo pikirkan.”
Setelah itu, Danur menjelaskan keberadaan ikat pinggang yang ia duga sebagai barang bukti atas kasus pembunuhan Nawang. Pemuda tersebut meminta secara terang-terangan agar Nayla menyampaikan dan memberikan ikat pinggang itu kepada sang ayah. Mengingat, Rendra Estiawan bekerja di bagian laboratorium forensik dan inafis kepolisian. Dengan begitu, Rendra dapat membantu untuk menemukan sidik jari mau pun DNA terkait jejak yang ditinggalkan oleh si tersangka.
Sebenarnya, Danur sempat merasa bingung saat hendak menyampaikan pesan lisan melalui Nayla. Bagaimana tidak, selama itu Danur tak pernah bercerita pada sang ayah perihal misi rahasia untuk memecahkan kasus terkait sang sahabat pria.
Sehingga,
“Apa yang harus gue katakan ketika Bokap lo bertanya, Nur?”
Danur berpikir sejenak. Lalu menjawab, “Katakan saja yang sejujurnya.”
Hah? Nayla tak percaya.
“Bokap gue sudah jelas akan terkejut. Tetapi, dia takkan menjadi panik atau pun berpikiran pendek sehingga bertindak dengan gegabah. Sudah pasti, dia akan membantu misi kita dengan baik. Yang jelas, tolong lo ceritakan dengan sedetail mungkin kepada Bokap gue. Dan, katakan pula agar dia tak menghubungi orang tua Reksa sebelum bukti yang terkumpul dapat menjerat pelaku sebenarnya.”