ROOF STAIRS

1270 Words
Setelah menuntaskan aktivitas mengobrol dengan Reksa, Danur segera menjumpai Genta. Saat itu, pemuda tersebut sedang bercengkrama dengan para mahasiswa dari jurusan lain. “Ta?” Danur memanggil. Tanpa banyak tanya, Genta segera menghampiri sosok Danur. Menyahut sapaan, “Ada apa, Bro?” “Gue hendak meminjam kamera lo. Apa boleh?” “Tentu saja,” Genta menyahut. Menghampiri meja di dalam kamar. Mengambil alat perekam. Menyodorkan kepada Danur tanpa bertanya apa pun. Saat itu, Danur segera memastikan video rekaman terakhir di dalam kamera. Namun, tak ada video yang direkam pada waktu sekitaran ia pergi bersama Nayla. “Sebenarnya, lo sedang mencari video horor gue yang mana? Bukankah, lebih mudah jikalau lo melihat laman channel gue saja?” Genta mengeluarkan suara. Sesaat usai merasakan gurat curiga di wajah sang sahabat. Beralih meraih kamera yang semula berada dalam genggaman tangan Danur. Segera mematikan daya. “Ah, lo benar. Sebaiknya, gue memang melihat akun lo saja,” Danur mengiyakan. Padahal, ia memiliki maksud tersendiri. Yakni, untuk memastikan bahwa ucapan Reksa itu salah. Namun, ternyata benar. Genta tak pergi keluar untuk mencari bahan konten. Terbukti, dari tak adanya video rekaman terbaru pada malam itu. Jadi— Haish! Biarlah. Lagi pula, itu bukan urusan gue. Terserah pada Genta saja, dia ingin berkencan dengan mahasiswi yang mana usai ditolak oleh Nayla. “Nur? Mengapa lo melamun, sih? Dari pada melamun tak jelas di sini. Lebih baik, lo ikut bersama kami saja,” Genta kembali mengeluarkan suara. “Ke mana?” “Biasa, mencari bahan untuk konten gue,” Genta menyahut sumringah. Danur menatap jarum pada jam tangan. Malam itu, jarum jam menunjuk pada angka dua belas. Sebuah waktu yang kerap menjadi momen terbaik untuk merekam adegan horor. Dan, rutinitas itulah yang kerap dilakukan oleh sang sahabat. Sehingga, “Baiklah, kalau begitu gue hendak mengambil sweater dahulu,” Danur mengiyakan. Sedangkan, Genta dan para mahasiswa lain sudah bersiap lebih dahulu. Pemuda berjumlah empat orang itu sedang menunggu Danur. Sementara itu, Danur baru saja masuk ke dalam kamar. Namun, ketika ia hendak keluar dan menutup kembali daun pintu tersebut, sosok Reksa terlihat menghadang. Bertanya, “Lo hendak pergi bersama Genta?” “Yah. Seperti yang lo lihat. Kalau lo berkenan, lo juga bisa turut serta bersama kami.” “Tidak. Gue akan berada di rumah saja. Bahan untuk tugas KKN esok hari, harus ada yang mempersiapkan.” Mendengar penolakan dari Reksa, Danur tak heran. Sudah pasti, pria rajin itu lebih memilih untuk berkutat dengan tugas KKN. Tak seperti halnya, ia dan Genta. Mereka berdua cukup fleksibel dalam hal penggunaan waktu. ****** Setelah itu, Danur, Genta dan ketiga pemuda lain segera berjalan menuju sebuah arah. Sebenarnya, Genta menginginkan untuk pergi ke sebuah sumur tua yang sempat ia jumpai di siang hari. Namun, Danur bersikeras agar mereka pergi ke rumah tua yang terbengkalai itu lagi. “Lo yakin, Nur?” Genta memastikan. Danur memberi anggukan. Menyahut mantap. Meski, tak sama halnya dengan mahasiswa dari jurusan lain. Mereka terlihat bergidik ngeri saat membayangkan penampakan rumah terbengkalai tersebut. “Kalau begitu, kita balik saja, Nur-Ta,” Salah seorang dari mereka hampir menyerah. Namun, Genta berhasil meyakinkan jikalau mereka akan baik-baik saja. Berniat untuk tak terlalu memprovokasi para penghuni dunia lain dengan kamera miliknya. “Kalian tenang saja. Malam ini, gue takkan merekam secara terang-terangan,” Genta berujar. Sesaat usai menunjukkan kamera yang telah ia letakkan ke dalam sebuah tas selempang. Tas berwarna hitam itu sengaja diposisikan ke bagian depan tubuh. Tak menunggu lama, mereka berlima berjalan bersama-sama. Tentu, dengan formasi satu-dua-dua. Mengingat, jalanan menuju rumah tua tersebut hanya bisa dilewati dengan setapak dua tapak kaki saja. ****** Di dalam perjalanan. Danur yang memimpin arah, sama sekali tak mendapati bayangan melesat seperti yang dua kali ia alami bersama Nayla. Keadaan tersebut membuat Danur dapat melangkah dengan percaya diri. Sembari terus menyisir jalanan, Genta menyalakan mode perekam. Lalu, menyapa para penonton kesayangan secara offline. Kemudian, memperkenalkan satu per satu para kawan yang sedang ia ajak untuk membuat konten. Sebelum, “Oh ya, Ta. Sewaktu gue pergi keluar bersama Nayla, lo sedang berada di mana?” Danur melontarkan pertanyaan. “Gue? Tadi? Setelah makan malam?” “Iya.” “Di rumah wargalah. Mau ke mana lagi?” “Benarkah?” Danur menggurat sedikit tak percaya. “Tentu, Nur. Sebenarnya, apa yang sedang ingin lo dengar dari gue?” Ehm, “Tidak, hanya saja mengapa lo tiba paling akhir dibanding mahasiswa lain saat itu?” “Ah! Saat mendengar suara para warga berseru, gue sedang berada di dalam kamar mandi. Biasa, buang hajat. Maka dari itu, gue baru bisa menyusul ketika kalian sudah berpindah ke balai desa.” Danur masih menunjukkan gurat tak percaya di wajah. Sebelum, salah seorang mahasiswa dari jurusan lain mengiyakan sahutan dari Genta. Ia membenarkan keberadaan Genta yang tak pergi ke mana-mana usai makan malam karena perut pemuda tersebut tak henti mulas. Mendengar pengakuan dan pembenaran itu, Danur menarik alis ke arah atas. Ia membatin kesal. Jadi, Reksa benar-benar sengaja memfitnah Genta? Issh! Sejak kapan Reksa berperilaku demikian? ****** Tak terasa, langkah kaki kelima pemuda telah sampai di depan gerbang yang tinggi nan menjulang. Danur mewakili mereka untuk membuka gerbang. Sedangkan, Genta memastikan kamera di dalam tas miliknya terus merekam gambar. Malam itu, menjadi malam yang sama menyeramkan dengan malam pertama saat mereka menghampiri rumah tersebut di waktu petang. Pemandangan pada kiri dan kanan hunian tak lagi terlihat karena tak memiliki pencahayaan. Hanya ada desir angin yang berhasil membangkitkan gerakan semak belukar di sana. Tak menunggu lama, aura-aura menyeramkan segera menyelimuti para pemuda. Terutama, tiga orang baru yang belum terbiasa mengikuti kegiatan Genta dalam memburu hantu. “Nur? Sepertinya, pintu rumah ini terkunci,” Genta berujar. Sesaat usai menyentuh sisi pegangan pada pintu. “Lo benar. Tapi, kalian tak perlu khawatir,” Danur menghentikan ucapan. Beralih menunduk dan menggapai sisi bawah keset kaki. Benar saja, pada waktu itu Danur masih sempat mengembalikan kunci tersebut ke tempat semula. Ia sengaja. Dengan begitu, hal tersebut dapat memudahkan Danur untuk berkunjung pada kapan saja. ****** Kini, kelima pemuda tersebut telah berhasil masuk ke dalam rumah. Beberapa kelelawar berwarna hitam segera beterbangan. Mengeluarkan suara yang memekakkan gendang telinga. Dan, Genta segera mengerahkan kamera di dalam tas untuk merekam peristiwa tanpa setting-an itu. Sedangkan, Danur segera mencari cara untuk naik ke bagian atap rumah. Bangunan dengan satu lantai dan sisi atap setinggi sepuluh meter sudah pasti memiliki tangga tersembunyi di sana. Sehingga, Danur berusaha menyisir setiap sudut rumah. Memastikan bahwa mendiang Nawang benar-benar terjatuh dari atap bangunan. Di sela Danur melangkah lebar ke sana dan ke mari, Genta mengikuti dari arah belakang. Terus merekam gambar. Sebelum, sebuah pintu berhasil ditemukan. Pang! Pang! Danur berusaha mencari cara untuk membuka pintu berbahan besi yang cukup tebal. Namun, pintu itu tetap tak mau terbuka. Dan, “Nur?” Suara Genta terdengar. Ia berujar, “Tak ada gunanya lo merusak pegangan pintu. Sepertinya pintu itu tak mau terbuka bukan karena terkunci. Melainkan, daun pintu terlanjur berkarat sehingga menekan padat sisi ambang.” “Kalau begitu, sebaiknya lo bantu gue untuk mendorong pintu besi ini.” “Oke, para penonton setia Hideous Movie Channel, gue akan mencoba masuk ke dalam ruang rahasia ini,” Genta tak lupa menyertakan prakata dalam video yang sedang merekam gambaran pintu besi di hadapan. Lalu, ia segera membantu sang sahabat untuk mendorong pintu tersebut. Kri— Krieet— Suara pintu besi berderit keras. Membuat ketiga pemuda lain menghampiri posisi mereka berada. Kemudian, bergegas membantu Danur dan Genta yang sedang kesusahan. Dengan tambahan tenaga dari pemuda-pemuda lain di sana, pintu besi tersebut dapat terbuka hingga lebar. Dan, benar saja. Sebuah anak tangga yang berkelok tinggi segera terlihat. Tak menunggu lama, Danur bergegas menaiki anak tangga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD