ABANDONED HOUSE

1046 Words
Pukul sebelas siang. Pelaksanaan penyuluhan baru saja selesai. Keempat mahasiswa dan mahasiswi dari kampus ternama, baru saja menuntaskan agenda berdiskusi singkat. Mereka beralih membantu para pegawai kantor desa dalam membereskan kursi-kursi beserta perlengkapan yang telah digunakan pada waktu itu. Kemudian, Kepala Desa mengarahkan Danur beserta kawan untuk menyantap menu hidangan makan siang yang sudah disiapkan. ****** Setengah jam kemudian. Sosok mahasiswa dan mahasiswi dari jurusan lain baru saja tiba. Mereka berasal dari Universitas yang sama. Hanya saja, jadwal keberangkatan mereka sempat tertunda karena masalah transportasi. Mereka tak menyiapkan kendaraan yang nyaman untuk digunakan bepergian lebih dahulu. Sehingga, mereka tak dapat tiba dengan tepat waktu. “Bagaimana sih lo, Bro?” Genta menyapa sok akrab. Salah seorang dari mahasiswa tersebut terkekeh. Mereka tak menyangka, jikalau berangkat menggunakan alat transportasi kereta akan menyusahkan. “Maklum, Ta. Diantara kita tak ada yang sanggup berkendara jauh seperti kalian.” Genta mengangguk paham. Lagi pula, ia tak bisa menawarkan tumpangan. Mengingat, sejak awal si tiga sekawan sudah bersepakat untuk berangkat dengan menggunakan satu kendaraan. “Kalau begitu, mari gue antar kalian ke rumah warga,” Danur menimpali. Lalu menambahkan, “Sebelum itu, sebaiknya kalian menyapa Pak Karim selaku kepala Desa.” Sesaat usai menyudahi aktivitas saling bertegur sapa diantara mereka. Danur mengarahkan rekan sejawat untuk menjumpai seorang pria berseragam. Menegur sosok Karim dengan penuh rasa sopan. ****** Kegiatan KKN pada hari itu telah benar-benar tuntas. Danur berpamitan untuk segera pergi pada Nayla. Selagi, Reksa sedang bersibuk dengan tugas-tugas. Genta tak henti bercengkrama dengan mahasiswi dari jurusan lain. Aktivitas tersebut memudahkan Danur untuk meninggalkan lokasi singgah. Sore itu. Tepat pada pukul tiga. Danur pergi dengan bermodalkan lentera. Tentu, media pencahayaan tersebut, ia bawa untuk berjaga-jaga ketika harus kembali di waktu petang. Selain itu, juga untuk meminimalisir ponsel yang kehabisan daya sehingga tak mampu memberi penerangan. Dengan percaya diri, Danur melangkah pada sebuah arah. Yakni, menuju hunian megah yang telah lama terbengkalai. Semenjak kali pertama menapakkan tungkai di rumah terbengkalai itu, Danur telah memastikan bahwa rumah tersebut merupakan tempat kejadian perkara di waktu seorang mahasiswi dikabarkan meninggal dunia. Pada mulanya, Danur tak menyangka jikalau rumah yang menjadi lokasi Reksa kerasukan merupakan letak Nawang sempat dibunuh pada satu tahun silam. Jadi, benar. Persetujuan yang Reksa berikan saat mengiyakan ajakan gue untuk melaksanakan KKN di desa ini, bukan tanpa alasan. Itu karena Reksa ingin memeriksa ada atau tidaknya jejak yang ia tinggalkan di tempat kejadian perkara. Usai bersimpul singkat, Danur mempercepat langkah. Berharap agar ia segera tiba di sana dan menemukan bukti terkait sosok tersangka. Pada jarak satu kilometer, rumah dengan gaya klasik kolonial yang menjulang telah tampak. Danur mendengkus sebelum pada akhirnya ia tiba di depan pintu gerbang berwarna hitam. Kriet— Suara pintu gerbang yang berderit tak tampak menyeramkan. Mengingat, sore itu jarum pada jam tangan masih menunjuk angka empat. Sembari melebarkan gerak tungkai, Danur memandang sekeliling hunian yang dipenuhi oleh semak belukar. Sejatinya, pekarangan rumah itu terlihat indah pada jamannya. Tak lain, masa ketika rumah tersebut masih dihuni oleh si pemilik pada puluhan tahun silam. Area bermain terlihat pada samping kiri hunian. Sedangkan, di sisi kanan rumah tersebut menampakkan kolam bekas yang tak lagi dipenuhi oleh air. Hanya memperlihatkan sedikit genangan air hujan yang telah berubah warna menjadi kuning. Benar-benar pemandangan yang tak bisa ia lihat ketika berkunjung di kala petang. Kali itu, ambang pintu utama yang besar dan lebar tak bisa terbuka. Pemuda tersebut mencoba mendorong daun pintu dengan sekuat tenaga. Dengan gerak mendobrak pintu, Danur tetap tak mendapat akses untuk masuk ke dalam rumah. Beruntung, di saat Danur mengedarkan pandangan pada sekeliling lantai berbahan dasar kayu jati yang kokoh, sebuah keset kaki terlihat. Ia mencoba melakukan hal yang sama; di kala sebuah rumah sedang ditinggalkan oleh si penghuni. Dan benar saja, Danur berhasil menemukan sebuah batang kunci di balik keset kaki. Tak menunggu lama, pemuda tersebut membuka kenop pintu dengan kunci berornamen unik. Suara klik terdengar. Tepat setelah Danur berhasil memutar batang kunci sebanyak dua kali. Daun pintu terbuka lebar. Seketika, Danur mengernyitkan dahi. Aroma bubur dan masakan lain segera tercium. Seolah ada seseorang yang tinggal di dalam rumah berukuran besar itu. “Assalamualaikum. Halo? Selamat sore. Apakah ada seseorang di dalam rumah ini?” Danur mengeluarkan suara. Namun, bukan sahutan yang ia dapati. Melainkan, suara langkah kaki yang terdengar berlari dengan terbirit-b***t. Danur segera menghampiri sumber suara. Yakni, pada ruang yang menjadi sumber aroma masakan. Dapur? Jadi, benar-benar ada seseorang di rumah ini? Danur bersimpul. Sesaat usai menjumpai ruang dapur. Menyaksikan beberapa perlengkapan masak tergeletak. Tentu, dengan bubur yang telah tersaji di dalam sebuah mangkuk. Pemuda tersebut menghembus napas. Berpindah arah. Melangkah pada sudut lain yang kemungkinan besar memiliki pintu penghubung menuju sisi belakang hunian. Beberapa kali langkah kaki berpijak, ia berhasil menemukan sisi pintu tunggal yang terbuka setengah. Cahaya senja berhasil menerobos masuk melalui sela terbuka. Brak! Belum sempat Danur menghampiri daun pintu tersebut, pintu tunggal berwarna cokelat itu tertutup. Rapat. Benar-benar tak bisa terbuka dari arah dalam. Seseorang yang sedang bersembunyi di sisi luar bangunan, berhasil mengunci pintu tersebut dari arah berlawanan. Dan, “HEI? Siapa pun kau yang sedang berada di belakang sana, bisakah kau memperkenalkan dirimu kepadaku?” Danur mengeluarkan suara. Menggedor-gedor pintu. Sudah dua kali pemuda tersebut mengulang pertanyaan yang sama. Namun, ia tetap tak mendapati jawaban. Pada akhirnya, Danur memutar tubuh. Berniat menghampiri ambang pintu utama dan berjalan mengitari penjuru bangunan dari sisi luar. Tetapi, BRAK! Suara daun pintu terdengar teruntuk kali kedua. Kali itu, ambang pintu utama tersebutlah yang tertutup dengan rapat. Issh. Sialan! Bagaimana cara gue keluar dari rumah ini? Danur bergumam. Sesaat usai berusaha menarik dan mendorong sisi daun pintu. Namun, kekuatan yang ia punya tak berhasil membawa Danur keluar dari dalam sana. Justru, BUG! Suara benda tumpul baru saja terdengar menghujam sisi belakang leher Danur. Pemuda itu sempat terperanjat. Menyentuh sisi tengkuk yang terkena pukulan. Tetesan darah mengucur keluar. Tak menunggu lama, Danur terjatuh pingsan. Sret— Sret— Seseorang terlihat menyeret si pemuda berparas tampan. Dengan tatapan lurus ke depan, dia terus berjalan sembari mencengkram erat sisi kerah Danur. Memindahkan pemuda tak bersalah itu ke dalam sebuah kamar. Meletakkan tubuh Danur dengan begitu saja. Keluar dari dalam ruang untuk mengambil sebuah lentera yang terjatuh di lantai. Lalu, berjalan kembali ke dalam kamar. Menyalakan lentera. Memberi penerangan pada seorang pemuda yang hendak ia tinggalkan seorang diri di dalam sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD