MENCURIGAKAN

540 Words
" Sayang." Panggilan Ahmad seketika membuyarkan lamunanku. Aku yang sedari tadi melamun sendirian disebuah cafe, seketika tersentak melihatnya datang secara tiba-tiba. " Eh haiiii.. Kok disini ? Sama siapa ?" Tanyaku heran ketika melihatnya tiba2 ada disampingku. " Sama gendut. Sayang sama siapa disini ?" Tanyanya balik kepadaku. Gendut adalah sapaan untuk sahabat baiknya yang bernama asli Didit. Didit memiliki tubuh yang sedikit gemuk dari kecil. Itulah mengapa Ahmad memanggilnya dengan sebutan gendut. " Tadi aku janjian sama Widya sih. Dia katanya mau curhat. Tapi Mas tau kan Widya jam karet banget." Jawabku dengan wajah sedikit cemberut. " Aw.. Sakiiit." Ahmad mencubit pipiku begitu saja dan seketika aku berteriak. " Jangan cemberut begitu lah. Nanti cantiknya hilang loh." Godanya sambil meminum orange juice yang kupesan di cafe ini. Ahmad memang seperti itu. Baginya sudah sangat biasa meminum minumanku tanpa permisi. Dan akupun tidak pernah mempermasalahkan hal-hal kecil seperti itu. " Mana gendut ?" Tanyaku yang sedari tadi tidak bisa menemukan sosok sahabatnya. " Tadi kusuruh pulang duluan. Soalnya aku lihat kamu sendirian disini." Jawabnya tanpa melihatku sedikitpun. " Lah.. Kok gitu ? Harusnya ajak gabung sekalian biar ketemu Widya kan. Sapa tau jodoh. hehe" Candaku sambil tertawa tipis. Sebenarnya aku hanya berusaha menutupi keraguanku padanya dengan candaan-candaan garing. Kepercayaanku padanya mulai sedikit goyah. Aku juga berpikir bahwa tidak mungkin juga dia menyuruh sahabatnya pulang begitu saja. Aku menatap bola matanya yang sedang terfokus pada gadget yang dia mainkan. Laki-laki yang sangat aku cintai ini, benarkah dia menghianatiku ? Ah, rasanya sangat mustahil. Wajahnya begitu polos dan terlihat sangat tulus. Seketika Ahmad menoleh kepadaku karna merasa ada yang memperhatikan wajahnya. " Cup " Dia pun tiba2 mengecup pipiku begitu saja. "Eh, dilihat banyak orang juga." Seketika aku melotot dan menoleh ke pelanggan yang duduk disamping untuk memastikan tidak ada yang melihat apa yang barusan dilakukan Ahmad kepadaku. Ahmad pun hanya terkekeh melihat wajahku yang memerah. " Eh itu Widya kan. " Ahmad menunjuk ke pintu masuk cafe. " Neekkk.. " Aku menyapanya dari jauh sambil melambaikan tangan. Widya adalah gadis yang sangat lugu dan polos. Otaknya yang sangat lambat menangkap sesuatu dan pikunnya yang berlebihan membuat semua orang memanggilnya nenek. Widya yang menyadari keberadaan Ahmad mengernyitkan dahinya sambil berjalan mendekati kami dari jauh. " Kok ada dia ? " Tanyanya heran sambil melirik Ahmad yang sedari tadi senyum - senyum sendiri. " Tau nih anak orang tiba-tiba ikut aja." Candaku sambil tersenyum lepas. Ahmad memang sangat akrab dengan semua sahabat-sahabatku. Dia selalu mentraktir kami semua setiap ada acara yang melibatkannya. Dia pun begitu humble dengan semua orang. Itulah mengapa kedua orangtuaku sangat menyayanginya. Aku memesankan Widya makanan dan minuman favoritnya. Dia selalu pesan beef burger dan matcha latte setiap kami berdua datang kesini. " Oh ya, tadi diluar aku kayak ngelihat Agnez sih. Tapi waktu mau kusapa, dia kayak buru-buru pergi gitu. Itu loh Agnez adik kelas kita yang pernah berantem sama kamu." Widya mencoba menceritakan pertemuannya dengan Agnez. Agnez adalah adik kelas kami yang dulu pernah berusaha menggoda Ahmad. " Dia kayaknya juga barusan keluar dari cafe ini deh. Soalnya arahnya dari sini." " Oh ya, kok aku nggak ngelihat dia ya." Jawabku dengan sedikit menoleh kepada Ahmad. Wajah Ahmad pun seketika berubah. Seolah-olah ada sesuatu yang coba dia sembunyikan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD