KECEWA PADA SAHABATKU

531 Words
" Tingg " Sebuah pesan masuk ke HPku. " Dek, jangan pernah membenciku atas semua yang aku katakan. Kamu boleh tidak mempercayaiku. Tapi selidikilah sebelum terlambat. " Ternyata dari mas Edy. " Aku yakin Ahmad tidak seperti yang Mas katakan. " Jawabku singkat. Aku jadi susah tidur semenjak pertemuanku dengan Mas Edy hari itu. " Meskipun yang dikatakan Mas Edy tidak benar, tapi tidak ada salahnya mengikuti perkataan Mas Edy. Mungkin hatiku akan lebih tenang setelah menyelidikinya. " Gumamku pada diri sendiri sebelum terlelap. Jadi aku memutuskan untuk mengunjungi orangtua Ahmad besok sepulang dari kerja. ------ Sebelum pulang dari kerja aku mencoba mengirim pesan kepada Ahmad. " Lagi dimana Mas ?" " Barusan pulang kerja sayang. Mau istirahat sebentar soalnya capek banget. " Tidak lama Ahmad menjawabnya. " Oh aku juga mau pulang nih. Ya sudah selamat istirahat sayang. " Aku pun jadi punya ide untuk memberi kejutan kepada Ahmad. Aku sengaja membelikan sate kambing kesukaannya. Kebetulan ada toko kue juga disampingnya. Ibunya yang sudah seperti ibuku sangat menyukai kue dari toko ini. " Assalamualaikum buk." " Waalaikum salam. Eh, nduk cah ayu. Kok ndak ngomong ibuk dulu kalau mau kesini. Kan bisa tak masakin tadi. " Sapa ibu Ahmad yang begitu humble. " Ah ndak usah repot-repot buk. Katanya mas Ahmad gak enak badan. Jadi saya tadi pulang kerja langsung kesini. " Jawabku halus tidak lupa dengan senyum manis andalan. " Loh iya toh ndak enak badan. Ibuk ndak tau soalnya belom ngomong Ibuk. Ahmad juga belum pulang nduk dari kerja. " Jawab ibunya dengan nada medok khas jawa timuran. What ? Belum pulang. Jadi tadi Ahmad bohong dong. Trus sekarang dia dimana ? Hatiku bertanya-tanya. Tapi aku sengaja menyembunyikan kebohongan Ahmad dan berpura-pura tidak ada masalah apapun. Aku tidak ingin meninggalkan kesan buruk didepan orangtuanya. " Oh nggih mpun buk, kalau gitu Mulia langsung pamit ya buk. Titip ini ya buk buat Ahmad. Sama ini ada kue kesukaan Ibuk. " Kuberikan bungkusan yang sedari tadi kupegang dan akupun langsung memutuskan untuk pulang. " Makasih banyak ya nduk cah ayu. Nanti ibu sampaikan ke Ahmad." Jawab ibunya sangat halus. Aku jadi teringat dengan kata-kata mas Edy. Apa jangan-jangan semua yang mas Edy katakan benar. Kenapa Ahmad harus berbohong padaku. Untuk apa. Akupun pulang kerumah dengan hati yang sangat gundah. Sebelum sampai rumah HPku berdering. Ternyata dari adikku Ambar. " Halo Mbar, ada apa ?" " Mbak dimana kok belum pulang ? " Tanyanya lugu. " Masih dijalan nih. Tadi mampir kerumah mas Ahmad dulu. kenapa ?" Tanyaku heran. " Mau nitip Garni*r Facial Foam. Soalnya punyaku habis. Mau keluar males banget. Sekalian Micellar Waternya ya kakakku yang cantik." Rayunya agar aku mau membelikan pesanannya. " Hmmm... Baiklah." Jawabku dan langsung menutup telfon. Kebetulan ada minimarket didepanku. Jadi aku langsung memarkirkan sepedaku dan berniat berbelanja disana. Namun betapa kagetnya aku melihat Ahmad bersama Widya ada di foodcourt minimarket tersebut. Mereka berdua terlihat sedang makan bersama dan membicarakan hal yang serius.Aku yang kaget pun memutuskan untuk langsung pergi dari minimarket tersebut dan pulang begitu saja. Aku pun menangis sepanjang perjalanan pulang. Memikirkan betapa teganya mereka berdua menghianatiku. Tunanganku dan sahabat terbaikku. " Sudah berapa lama. hiiks " Isak tangisku pecah sepanjang jalan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD