" Ada apa mbak ?" Ambar mengernyitkan dahinya ketika melihatku berlinang air mata. Dia pun segera membuntutiku masuk kedalam kamar.
" Berantem ya sama mas Ahmad ?" Tanyanya dengan muka sendu.
Aku yang sangat terpukul hanya bisa menenggelamkan wajahku pada bantal sembari terus sesenggukan menahan tangis.
Ambar yang mengerti keadaanku kemudian meninggalkanku sendiri. Dia tahu aku ingin menenangkan diri.
Tak terasa aku terhanyut dalam air mata hingga tertidur sampai menjelang maghrib.
" Kriiiiiiiingggg.." Dering HP membangunkanku.
Dengan mata sembab dan suara serak aku mengambil telfon yang masih berada di sling bag kecilku.
" Hai Mul, lama banget sih ngangkat telfonnya." Ternyata dari Widya.
" Iya, aku baru bangun tidur. Ada apa ?" Jawabku lemas.
" Suaramu kenapa ? Kamu sakit ?" Ujar Widya heran.
Iya, dulunya Widya memang sahabat terbaikku. Dia adalah orang yang akan selalu ada untukku saat aku sedih atau sedang berada dalam masalah. Tapi kenapa dia tega menjalin hubungan dengan tunangan sahabatnya sendiri ?
" Gak usah. Nanti aku mau cek ke dokter. Yasudah ya aku mandi dulu. Bye. " Segera kututup telfon dari Widya. Dan tak terasa air mataku jatuh lagi.
Dalam kucuran shower aku terus memikirkan apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Perselingkuhan adalah hal yang sangat tidak bisa aku toleransi. Aku ingin mengakhiri hubunganku dengan Ahmad secepatnya. Tapi bagaimana dengan orang tuaku. Bagaimana dengan ibunya yang sudah sangat baik kepadaku seperti ibuku sendiri. Lantas apakah aku harus melupakan semuanya dan melanjutkan pernikahan kami yang tinggal beberapa minggu. Ah, rasanya sangat tidak mungkin.
Mungkin ini memang jalan yang telah Allah tetapkan agar aku mengetahui keburukan calon suamiku sebelum kami berdua terlanjur berada dalam ikrar pernikahan.
___
Rasa bersalah kepada Mas Edy mulai muncul. Aku menyesal tidak mempercayainya dan justru bersikap dingin saat Dia mengutarakan kebenaran kepadaku.
Memang benar, meski pahit kebenaran harus tetap diungkapkan. Jadi aku memutuskan untuk menemui Mas Edy dan meminta maaf atas sikapku sebelumnya.
" Bisa ketemu nggak Mas ? Ada hal yang ingin aku bicarakan. " Kukirim pesan singkat kepadanya.
" Oke. Dimana ? " Tak menunggu lama untuk mendapatkan balasan darinya.
" Di Cafe Abu-Abu jam setengah 5 sore. " Aku memutuskan untuk bertemu di cafe seberang tempat kerjaku agar jauh dari perusahaan Mas Edy. Aku takut Ahmad melihat kami berdua dan akan muncul salah paham yang justru membuatku terlihat salah dimata semua orang.
Sepulang dari kerja, aku langsung menuju cafe Abu-Abu. Ternyata Mas Edy sudah sampai duluan.
" Ah, Dia sangat On Time. Jauh sekali dengan Ahmad yang selalu jam karet. " Gumamku sembari berjalan menuju meja dimana Mas Edy sudah menungguku.
" Nunggu lama ya Mas ?" Tanyaku sedikit canggung karna datang terlambat.
" Nggak kok, baru beberapa menit. Mau minum apa ? Biar kupesankan. " Segera dia menawariku minum ketika melihatku ngos-ngosan karna berjalan dengan terburu-buru.
" Ice Lemon Tea saja Mas. " Jawabku.
Mas Edy pun memesan dua Ice Lemon Tea untuk kami.
" Ohya mau ngomong apa ?" Tanya Mas Edy kepadaku.
" Emm... Aku mau minta maaf mas atas perlakuanku sebelumnya. Aku tidak mempercayai apa yang Mas katakan. " Jawabku pelan dengan sedikit menurunkan pandanganku. Aku malu, dan juga gemetar melihatnya. Dia sangat tampan dan berwibawa.
" Oh soal Ahmad. Aku maklum kok kalau kamu gak percaya. Soalnya kan kalian juga pacaran sangat lama. Dan aku dengar kalian akan menikah secepatnya. Aku menyampaikan semua itu tanpa maksud apapun. Aku hanya tidak ingin kamu menikah atas dasar kebohongan. Aku tau bagaimana sakitnya diselingkuhi. Jadi aku tidak ingin kamu merasakan hal yang sama." Jelasnya kepadaku.
" Aku sudah melihatnya sendiri Mas. Dia berbohong kepadaku hanya untuk berduaan dengan sahabatku sendiri." Jawabku dengan mata berkaca-kaca.
" Syukurlah kalau kamu sudah melihatnya sendiri. Jadi kamu bisa mempercayai ucapanku. Dan kamu bisa memikirkan untuk meneruskan atau menghentikan pernikahanmu yang tinggal menghitung hari. " Jawabnya dengan sangat santai.
Mas Edy sepertinya memang laki-laki yang sangat dewasa dan bijaksana. Dia menanggapi semua masalah dengan baik dan tenang.