BATAL MENIKAH

684 Words
" Assalamualaikum." Ahmad datang kerumah dengan dua tenteng belanjaan ditangannya. Dia memang jagonya dalam hal mencari muka. Selalu tersenyum manis, ramah, dan membawa banyak keperluan rumah untuk mengambil hati ibuku. " Waalaikumsalam. Eh nak Ahmad, masuk nak. Ibuk panggilin Mulia dulu. " Sahut Ibuku sembari mempersilahkannya masuk kedalam rumah. Aku yang sudah mendengarnya dari dalam kamar segera berbaring dan menutupi wajahku dengan selimut. Satu menit kemudian ibuku masuk dan menyuruhku keluar dari kamar. " Nduk, ada Ahmad diluar. Bangun gih." " Aku gak enak badan, Buk. Suruh dia pulang ajha ya. " Jawabku lemas dari dalam selimut. " Yasudah kalau gitu, ibu bilangin dulu." Jawab ibuku sembari menutup pintu kamar. Ibu segera memberi tahu Ahmad dan tidak lama kemudian Ahmad pun pulang. Ibu yang curiga akhirnya menemuiku dikamar. " Ada apa sama Ahmad. Gak biasanya kamu menghindari dia kayak gini. Cerita sama ibuk. Berantem itu wajar, apalagi kalau orang mau nikah itu cobaannya banyak sekali. Kamu harus sabar dan kuat. " Tutur ibuku. Aku yang sudah menahan airmata sedari tadi tidak menjawab apapun. Akupun langsung berhamburan memeluk ibuku. Air mataku mengalir begitu saja dipundak ibu. " Kalian kan sudah dewasa, harusnya kalau ada masalah dibicarakan baik-baik, jangan malah menghindar seperti ini." Ibuku terus mengelus rambutku. " Buk, boleh nggak kalau pernikahannya dibatalin saja. Aku gabisa nikah sama dia. " Jawabku dengan mata sendu menatap ibu. " Loh, kenapa ? Ada masalah apa memangnya ?" Tanya ibuku beruntun. " Ahmad selingkuh, Buk. Dia selingkuh sama Widya. Sahabatku sendiri. Awalnya aku gapercaya waktu temenku bilang. Tapi kemarin aku melihatnya sendiri. Dia bohong kepadaku kalau dia tidur dan gaenak badan. Tapi aku justru ngelihat dia berduaan sama Widya. " Tangisku pun pecah sejadi-jadinya. Ibu tidak menjawab apapun kepadaku. Beliau hanya terus memeluk dan mengusap rambutku. " Aku gamau nikah sama penghianat, Buk. Rasanya sakit banget. " Imbuhku sembari terus menangis. " Yasudah, nanti coba ibu bicarakan sama bapakmu ya. Semoga bapakmu mengerti." Jawaban ibu sedikit menenangkan hatiku. Keesokan harinya bapak memanggilku untuk berbicara. Setelah mendengar semuanya dari ibuk. Sungguh diluar dugaanku, bapak tidak marah sama sekali. Beliau yang terlihat sedikit galak, ternyata hatinya begitu menyayangi putri sulungnya. Bapak tidak ingin ada seorangpun yang menyakitiku. Beliau menyuruhku untuk menyelesaikan hubungan kami berdua secara baik-baik. Tinggg.. " Bagaimana keputusanmu mengenai pernikahan kalian ?" Sebuah pesan dari Mas Edy. " Aku memutuskan untuk membatalkan pernikahan kami Mas." Akupun langsung membalasnya. " Kamu sudah berbicara dengannya ?" Tanyanya kepadaku. " Belum." Jawabku singkat. " Sebaiknya segera kalian selesaikan. Hidupmu masih panjang. Kamu cantik, kamu harus bahagia." Aku hanya membaca balasan dari Mas Edy tanpa membalasnya. Akupun berinisiatif untuk menemui Ahmad terlebih dahulu. Aku marah dan benci kepada sahabatku Widya. Tapi bagiku yang namanya tamu, tidak akan pernah bisa masuk rumah jika tuan rumah tidak membukakan pintu. " Aku perlu bicara. Kita ketemu sepulang dari kerja. " Ku kirim pesan singkat kepadanya. " Ya ampun sayang. Kamu kemana aja sih. Aku kangen banget. Panggilanku dan pesanku kamu abaikan semua. Aku khawatir tau. Aku kerumah tapi ibu bilang kalau kamu sakit. " Jawabannya sungguh manis. Semanis caranya menutupi kebohongannya. " Cafe Abu-Abu jam 4 sore." Akupun langsung to the point ke tujuanku untuk bertemu dengannya. " Baiklah sayang, nanti kita ketemu disana ya." Aku yang datang terlebih dahulu memesan cappucino untuknya dan avocado juice untukku. Dia pun akhirnya muncul sesaat setelah minuman kami datang. " Hai sayang, nunggu lama ya. Maaf ya. Macet." Katanya sambil duduk. Macet adalah alasan basi yang selalu dia ucapkan setiap kali kami bertemu. Aku yang sudah biasa mendengarnya hanya tersenyum getir tanpa menjawab sepatah katapun. " Kamu sudah baikan ?" Tanyanya kepadaku dengan menggenggam tanganku lembut. Akupun langsung melepaskan genggamannya. " Aku ngajak kamu ketemu disini, untuk membatalkan pernikahan kita." Aku langsung pada maksudku. " Nggak nggak. Kamu bercanda kan ? Ini prank kan ?" Dia terlihat kaget dan heran dengan keputusanku. " Aku serius." Jawabku singkat dengan terus menatap matanya. " Kenapa ? Salahku apa ?" Tanyanya polos seolah-olah tidak ada kesalahan yang dia lakukan. " Kamu pikir saja sendiri apa salahmu. Apa kebusukan yang selama ini kamu sembunyikan dariku. " Aku menjawabnya dan langsung berdiri meninggalkannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD