Bab 28

1417 Words

Pintu kamar rawat terbuka perlahan. Sinta yang masih setengah terpejam langsung membuka mata. Ia refleks menegakkan tubuhnya. Mila menoleh, sementara Rafa yang sedang menggambar di sudut ruangan ikut mengangkat kepala. Rama masuk. Masih dengan jas dokter yang rapi, langkahnya tenang seperti biasa. Namun ada sesuatu yang berbeda dari sorot matanya—lebih hati-hati, seolah ia menyadari bahwa ruang ini bukan hanya berisi pasien, tapi juga masa lalu yang belum benar-benar selesai. “Selamat sore,” sapanya profesional. Mila langsung berdiri. “Rama.” Nada suaranya hangat. Tidak canggung. Tidak seperti dulu. Sinta hanya menatap sekilas, lalu mengalihkan pandangan. Namun ia tetap diam di tempatnya. Rama mendekat ke ranjang, matanya bertemu dengan Damar. Beberapa detik tidak ada yang berbic

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD