Venda mengitari tempat yang ia pijak, matanya berkelana memindai seluruh ruangan. Tempat ini tampak luas, bangunannya kuno tapi tetap berkelas, tepat kakinya ia menginjak kaca tebal yang dibawahnya terdapat danau dengan air biru jernih yang memanjakan mata. Ia merasa ngeri jika sewaktu-waktu dinding kaca transparan ini retak dan membuatnya jatuh ke dasar danau itu. Sedangkan Damar sudah berjalan di depan sana, Venda sengaja menjaga jarak untuk antisipasi jika pria jadi-jadian itu berbuat macam-macam dengannya. Damar menoleh kala tak mendapati Venda disisinya, ia menghela napas kasar melihat gadis itu tengah menatapnya dengan curiga. “Tunggu saja di sana, aku akan masuk.” Daripada memaksa Venda untuk ikut, lebih baik ia sendiri saja. Venda hanya mengedipkan matanya sebagai jawaban.

