Danira mengendap keluar dari dalam rumah Mas Tejo. Takut Kanjeng Mami melihat Danira yang dari kamar Mas Tejo lalu keluar dari dalam rumah Mas Tejo.
Semalam saja jantung Danira seperti akan terlepas dari tubuhnya. Danira tidak mau nama baiknya menjadi rusak di depan Kanjeng Mami yang begitu menyayangi dirinya.
“Teddy iki belum bangun juga. Ini sudah jam berapa, seharusnya dia bangun dan berangkat kerja. Bukannya malah nyantai seperti orang pengangguran.”
Danira langsung bersembunyi di sebalik pohon. Menatap pada Kanjeng Mami yang berjalan sambil menyanggul rambutnya dan memakai kacamata. Danira menelan saliva, ia menatap gerbang rumah Mas Tejo yang jaraknya masih lima belas langkah lagi.
Tuhan … tolong biarkan Danira bebas.
“Ini kenapa bunganya pada layu gini sih? Ndak disiram apa ya? Teddy ini pemalas. Heran aku! Padahal dia kalau di rumah itu rajin tapi di sini malasnya minta ampun.”
Danira menelan salivanya kasar ketika jaraknya dengan Kanjeng Mami hanya berjarak sekitar lima langkah saja. Aduh! Ini gimana Danira mau keluar dari dalam rumah Mas Tejo.
“TEDDY! TEDDY! BANGUN! PESANKAN MAMA MAKANAN!” teriakan Kanjeng Mami yang begitu melengking, dan tatapan wanita paruh baya itu yang ke atas melihat kamar Tejo.
Danira menunduk dan mencoba untuk merangkak perlahan jangan sampai ketahuan. Danira harus keluar dan pergi kerja sekarang.
Bruk!
Danira tanpa sengaja menyenggol vote bunga yang kosong membuat pot bunga tersebut jatuh dan pecah.
“SIAPA DI SANA?” Teriak Kanjeng Mami, dan melihat ke arah depan dan mencari orang yang memecahkan pot bunga yang sudah tidak bisa digunakan.
“Meow…. Meoww… meoww…”
Danira menirukan suara kucing, dibalik semak yang kebetulan belum dipotong oleh Mas Tejo. Berharap Kanjeng Mami percaya dengan suara kucing yang ditirukan oleh dirinya sekarang.
“Kucing? Teddy ndak melihara kucing. Teddy ndak terlalu suka sama kucing.”
Danira merutuki dirinya sendiri. Kenapa bisa lupa kalau Mas Tejo tidak suka dengan yang namanya kucing. Bisa-bisanya Danira menirukan suara kucing.
“Guk. Guk. Guk. Guk.”
Danira akhirnya menirukan suara anjing. Kali ini berharap Kanjeng Mami bakalan percaya kalau ada anjing di rumah ini.
“Walah! Ini semua hewan ada di rumah Teddy? Perasaan Teddy ndak pernah suka yang namanya hewan. Dia aja ndak mau elus anabul yang dipelihara sama anak sepupunya dia.”
Danira menelan saliva kasar. Mas Tejo! Kenapa kamu harus tidak suka sama hewan sih Mas? Padahal kamu suka makan ayam goreng sama ikan goreng loh! Itu termasuk hewan Mas!
“Ada apa Ma?”
Danira melirik Mas Tejo yang keluar rumah dengan mata melototnya. Bagaimana tidak? Mas Tejo keluar hanya mengenakan celana pendek tanpa atasan sama sekali. Danira menelan salivanya beberapa kali.
Lalu mengelus bagian bawahnya. Oh sialan! Danira memang mudah sekali terangsang. Roti sobek Mas Tejo memang mengundang untuk diraba dan dijilat. Danira telah salah mengatakan Mas Tejo m***m.
Danira lebih m***m malahan. Apa-apaan mata Danira menatap pada pucuk rambutan milik Mas Tejo yang coklat minta digigit dan hisap. Danira masih ingat, saat menikah dengan Mas Tejo dulu.
Danira suka sekali b*******h dan menjilat juga menggigit pucuk rambutan yang kecil itu. Apalagi kalau yang semak berbatang di bawah sana. Danira suka masukin ke dalam mulut. Sayangnya dulu Mas Tejo suka cepat keluarin santan kentalnya.
“Kamu pelihara kambing sama kucing?”
Kening Tejo mengerut. “Kambing? Kucing? Ma! Mana ada kambing di sini.”
“Eh! Salah. Maksudnya anjing. Ya. Kamu pelihara anjing dan kucing? Tadi Mama dengar suara anjing dan kucing. Mem-mbek sama guk. guk. guk.”
Ucapan ibunya semakin melantur. Membuat Tejo menatap ke depan, lalu dia melihat Dek Danira yang tersembunyi dibalik semak. Dek Danira yang buat ulah toh!
Tejo segera menghadapkan ibunya ke arahnya. Jangan berbalik ke depan lagi. Lalu Tejo mengkode Danira untuk segera pergi sekarang.
Danira yang mengerti dengan cepat berlari keluar rumah.
“Teddy, Mama tadi nemu sempak! Punya cewek.”
Langkah kaki Danira seakan dipaksa berhenti mendengar apa yang dikatakan Kanjeng Mami. Danira segera masuk ke dalam celananya dan mengusap bagian intimnya. Pakai sempak kok!
Danira memukul kening. Danira pakai baju dan pakaian dalam yang dibelikan Mas Tejo untuk dia. Sempak yang dimaksud itu sempak yang semalam dipakai oleh Danira.
Mati Danira!
Tejo tertawa sumbang. “Mama ada-ada aja nemunya. Itu sempak milik istri rekan kerja Tejo. Malam kemarin mereka nginap di sini dan ketinggalan sempaknya mungkin.”
Alasan bodoh!
Mata Kanjeng Mami melotot dan seolah melihat keakuratan apa yang dikatakan oleh putranya ini. Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh putranya.
“Yang benar kamu? Kamu jangan bohong sama Mama. Mama tadi cium sempaknya. Itu masih ada aroma anunya.” Ucap Ibu Tejo menatap penuh selidik pada putranya ini.
Tejo tertawa kecil mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya itu. Bau anu. Maksudnya bau aroma apemnya Dek Danira. Kenapa ibunya yang menemukan sempak Dek Danira. Seharusnya Tejo saja yang menemukan sempak Dek Danira, biar bisa hirup pas maju mundurkan tangannya dibawah sana.
“Ya. Teddy mana tahu Ma. Lagian Teddy ndak tahu kalau benda kayak gitu bakalan ketinggalan di sini. Mana sempak pula.” Tejo mengaruk pelipis yang tidak gatal. Lalu mengkode Dek Danira untuk segera keluar dari pekarangan rumahnya.
Kalau Dek Danira ndak mau keluar. Tejo tidak masalah. Tejo bakalan bilang sama Kanjeng Mami, kalau sempak itu punya Dek Danira. Lalu semalam Dek Danira tidur di sini sembari berpelukan sama Tejo dan hampir aja buatin ibunya itu cucu.
Ehem!
Kayaknya ide untuk hamilin Dek Danira bagus juga. Biar nanti Dek Danira mau menerima dirinya menjadi suami Dek Danira lagi. Nah! Kan DP dulu sebelum menuju pelaminan lagi.
Ndak masalah DP dulu. Lagian bakalan nikah juga. Lalu Dek Danira ndak jadi bersama si kurus itu. Siapa sih namanya…. Ahh! Tejo lupa. Soalnya ndak penting. Tejo bisa merebut Dek Danira lagi.
“Yowes! Mama percaya lagi. Awas aja kamu main wanita di rumah ini. Takut nanti kamu sembarang bayar perempuan lalu kena penyakit. Mama ndak mau kamu mati. Sebelum kasih Mama cucu. Setelah kasih Mama cucu, terserah kamu mau mati atau ndak.”
“Ya Allah! Mulutnya Ma. Jangan doain Teddy mati dong. Doain Teddy biar rujuk lagi sama Dek Danira.”
“Ihh! Ngarep kamu. Daniranya aja ndak balik-balik gimana mau rujuk. Mimpi!”
Tejo tertawa kecil. Mimpi Tejo bakalan terwujud Ma. Soalnya Dek Danira udah balik lagi. Bahkan semalam udah rasain nenen-nenen mantap sama melon Dek Danira yang besarnya enak diremas.