Mama Tejo yang ada di depan pintu kamar. Ia menatap pintu kamar dengan pandangan mata yang takut menerima kenyataan anaknya membawa perempuan ke dalam kamar.
Ya Gusti!
Anaknya sudah gila kah? Karena ditinggal oleh Danira selama ini, membuat anaknya main perempuan. Mama Tejo menggeleng tidak mau anaknya tersesat dengan melakukan hal tidak terpuji seperti itu.
Mama Tejo menarik napas perlahan lalu melepaskan secara perlahan. Baiklah. Mama Tejo harus membuka pintu kamar Tejo sekarang.
BRAK!
‘Kamu tega sakiti aku Mas! Kamu menduakan aku! Kamu selingkuh!’
‘Rana dengarkan aku dulu. Dengar! Aku tidak selingkuh. Aku berani sumpah sayang. Aku hanya mencintai kamu.’
‘Kamu bohong! Kamu selingkuh sama sekretaris kamu! Kamu tega!’
Mama Tejo terkejut melihat putranya yang dipenuhi oleh tissue dan menatap televisi yang menyala di depannya. Ia menatap ke seluruh arah. Lalu melihat kembali pada Tejo.
“Teddy! Kamu bawa betina ke dalam kamar? Mama dengar tadi ada suara betina di dalam kamar kamu. Cepat kamu tarik dia ke hadapan Mama sekarang! Mama nggak suka kamu yang main-main dengan wanita yang tidak baik.”
“Ngomong opo toh Ma? Teddy ndak ada bawa cewek ke dalam kamar. Dari tadi Teddy nonton tivi ini. Cinta terpentok sekretaris montok. Mama mau ikut nonton sama Teddy ndak? Seru filmnya. Ini istri pertamanya udah tahu kalau suaminya selingkuh sama sekretaris montoknya.” Ucap Teddy, dengan kurang ajarnya, tangan Teddy di bawah selimut meremas b****g Danira yang berusaha untuk menahan desahan dan suaranya.
Mama Tejo menatap penuh selidik pada anaknya. Ia menggeleng pelan. Tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Teddy. Tapi melihat hanya Teddy saja di dalam kamar. Kayaknya dia memang salah dengar.
“Kamu beneran nggak bawa perempuan masuk ke dalam kamar? Teddy, Mama tahu kalau kamu itu sudah lama menduda dan tidak berhubungan dengan wanita manapun kecuali Danira dari dulu sampai kamu cerai kemarin. Mama ndak mau kamu salah jalan, Nak. Kamu tidak boleh memuaskan diri kamu dengan wanita yang bukan istri kamu. Kalau memang kamu mau menikah dengan wanita lain bukan dengan Sri. Kamu bilang sama Mama, ya. Mama bakalan setuju dengan pilihan kamu.”
Tejo tertegun mendengar ucapan tulus ibunya. Padahal tangannya perlahan malah menari di atas punggung Danira. Merambat masuk ke dalam celana dalam Danira lalu mengusap p****t Danira yang begitu menggoda sekali.
Padahal ibunya sudah bilang jangan melakukan perbuatan dosa.
“Kamu beneran ndak pernah bawa wanita ke sini kan?” Tanya Mama Tejo penuh harap pada putranya.
Tejo menggeleng. “Yo ndak Ma. Ngapain Teddy bawa wanita masuk ke dalam rumah. Kecuali Bibi yang bersihin rumah. Tapi Bibinya udah tua. Udah punya cucu enam lagi. Ndak menggoda.” Ucap Tejo tertawa kecil berusaha menutupi dirinya yang sedang bersama Dek Danira dalam kamar berduaan saja.
Mana tangan Tejo sedari tadi terus saja mengusik p****t sintal Dek Danira.
“Kamu ingat apa yang Mama katakan. Jangan bawa perempuan ke dalam kamar, lalu jangan banyak nonton sinetron. Kamu udah kayak ibu-ibu.” Tegur Mama Tejo lalu keluar dari dalam kamar.
Tejo menatap pintu kamarnya yang sudah tertutup.
“Mama kok bisa buka pintu kamar? Dapat kuncinya dari mana yo? Padahal Mas udah kunci pintunya tadi Dek.” Tejo menunjuk pintu kamar.
Tejo turun dari atas ranjang. Mengunci kamarnya dengan kunci manual. Lalu berbalik melihat Dek Danira melirik kesal padanya.
“Ada apa Dek? Jangan nesu-nesu Dek. Ndak baik, ini suami kamu loh.”
“Mantan!” Ralat Danira menutup kembali badannya dengan selimut.
Tejo memegang dadanya lebay. “Ohh… udah mantan ya Dek. Mas ndak sadar kalau udah cerai sama kamu. Rujuk lagi, yuk, Dek. Mas masih cinta sama kamu Dek. Cinta Mas ndak pernah habis untuk kamu.” Tejo berusaha membujuk Danira.
Danira hanya diam tidak mau menjawab pertanyaan Mas Tejo. Danira sekarang sedang berusaha untuk membuat detak jantungnya menjadi normal dan jangan bertalu-talu bagaikan palu yang mengetuk hatinya dan membuat dia harus mengiyakan apa yang dikatakan oleh Mas Tejo.
“Dek… oy… Dek. Adek sayang. Adek manis. Adek cantik. Adek bahenol. Adek montok. Adek melonnya gede. Kamu mau ‘kan rujuk sama Mas mu yang tampan dan sudah perkasa ini? Mas janji ini, ndak bakalan ngoyo cepat keluar lagi. Kamu bisa buktikan sekarang kok Dek, kalau ndak percaya sama Mas. Goyang-goyang mantap kita malam ini, biar kamu percaya.”
Danira melotot mendengar apa yang dikatakan Mas Tejo. Enteng banget mulut Mas Tejo bilang kayak gitu. Goyang-goyang mantap katanya. Yang ada zina! Astaghfirullah. Sabarkan hamba Ya Allah. Menghadapi mantan suami yang sudah gila.
“Omonganmu Mas. Kalau didengar sama Mama, kamu habis. Aku mau lari ke dalam kamar Mama sekarang. Terus bilang apa yang kamu katakan barusan.”
“Yowes, kamu ke kamar Mama aja sekarang Dek. Bilang semuanya, Mas ndak bakalan cegah kamu. Malahan Mas dukung kamu. Kalau kamu ndak sembunyi di dalam selimut tadi, udah Mas bilang sama Mama. Kalau Mas bawa betina alias mantan istri Mas ke dalam kamar Mas. Biar kita dinikahkan sekarang. Mas malah seneng loh Dek.” Tejo bahkan menunjuk pada pintu kamarnya, mempersilahkan Danira untuk keluar dan ke kamar ibunya sekarang.
Danira tidak habis pikir. Danira memijat hidungnya, merasa pusing mendengar apa yang dikatakan oleh Mas Tejo barusan. Ya Tuhan, kenapa Mas Tejo otaknya jadi gila sekarang.
“Mas, kamu beneran udah gila kayaknya. Sudah! Kamu tidur di sofa!” Ucap Danira melempar bantal ke arah Mas Tejo. Dengan sigap Mas Tejo menangkap bantal yang dilempar oleh Dek Danira.
“Dek! Masa Mas tidur di sofa. Ndak mau. Pokoknya Mas mau tidur sama kamu! Peluk kamu! Dikelonin sama kamu!” Hentakan kaki Tejo membuat Danira semakin pusing.
Mas Tejo benar-benar berubah. Bukan seperti dulu dengan sifat pemalunya dan tidak ada m***m. Sekarang Mas Tejo seperti kebalikan di masa lalu.
Mas Tejo benar-benar m***m dan suka memancing hasrat Danira. Danira yang dulu mengharapkan Mas Tejo seperti ini, ternyata tidak pernah Mas Tejo seperti ini dulunya. Malah mudah keluar dan membuat Danira tidak puas.
Sekarang malah Danira kelimpungan menghadapi sifat Mas Tejo.
Mas Tejo. Mas Tejo. Mas Tejo. Kamu benar-benar berubah toh Mas!
Membuat Danira ketar ketir menghadapi sifat Mas Tejo yang sudah menggoda.