Wihhhh!
Mas Tejo melihat Dek Danira mengibaskan rambutnya ke belakang dan menggoyangkan badannya mengeringkan rambut. Membuat Mas Tejo menelan ludahnya susah payah.
Aduh! Mas tergoda Dek! Tergoda sama melon Adek yang aduhai!
“Kamu lihatin apa Mas?” Danira bertanya sembari mengangkat sebelah alisnya, melihat Mas Tejo yang matanya terfokus ke–
Anjim! Mas Tejo lihatin teteknya ini?
“Kamu jantan tutupin Dek. Mas gemes lihat melon kamu ini. Pengen Mas remas kuat rasanya!” Tangan Tejo mengepal dan ekspresi wajahnya yang begitu ingin sekali meremas melon milik Danira.
Danira tetap menutupi melonnya dari pandangan mata Mas Tejo yang bakalan menerkam dirinya. Ihh! Danira nggak mau. Danira masih sadar untuk tidak melakukan sesuatu yang menuju ke–
“MAS! KAMU NGAPAIN?!” Pekik Danira terkejut dengan apa yang dilakukan Mas Tejo yang sudah berada di depan Danira.
Tangan Mas Tejo yang besar dan lebar sudah menangkup melon Dek Danira. Danira memerankan matanya, menggigit bibirnya merasakan tangan Mas Tejo yang meremas melon Danira yang tidak bisa ditampung sepenuhnya oleh tangan Mas Tejo.
Tejo merasakan kenyal-kenyal empuk melon Dek Danira. Bakalan jadi bagian favoritnya untuk melakukan ini. Melihat wajah Dek Danira yang merintih keenakan dan suara desahan yang terus keluar dari bibir seksi Dek Danira.
Waduh!
Tambah buat bagian bawah Mas Tejo berdiri mengacung menantang Dek Danira untuk dipuaskan oleh miliknya yang sudah perkasa bukan yang suka ngoyo lagi.
“Enak Dek?”
“Ehmm… enak Mashh…” Danira menjawab mendesah.
Bagian bawah Danira semakin becek, menikmati sentuhan tangan Mas Tejo yang terus remas manja melon Danira.
“Dek, Mas buka tanktop-nya ya?” Percuma Tejo bertanya.
Lelaki itu sudah membuka tanktop milik Danira. Mata Tejo melotot sempurna melihat bagian depan tubuh Dek Danira yang benar-benar menggoda iman.
“Hem… jangan diliatin gitu Mas. Danira jadi malu.” Danira berusaha menutupi melonnya yang dipelototi oleh Mas Tejo.
Tejo menggeleng menyingkirkan tangan Dek Danira. “Jangan ditutupi Dek. Sayang ini, indah sekali ciptaan Tuhan. Mas jadi pengen nenen sama kamu Dek.” Mas Tejo memanyunkan bibirnya lalu memperagakan nyesap menyesap yang dilakukan oleh Mas Tejo.
Danira merasa pipi bersemu merah mendengar apa yang dikatakan oleh Mas Tejo. “Jangan gitu ahh! Danira jadi malu dengarnya.” Danira malah memegang kepala Mas Tejo untuk mendekat ke melonnya.
Tejo tersenyum senang Dek Danira memberikan izin padanya untuk menyesap pucuk melon yang menggoda dirinya sekarang. Tejo memasukan puncak melon ke dalam mulutnya.
Menyesap dan matanya melihat pada wajah cantik Dek Danira yang memerah memegang kepala Tejo.
“Enak Dek.” Ucap Mas Tejo.
Danira tertawa kecil, memejamkan matanya dan semakin merapatkan pahanya. Mas Tejo sudah berubah. Dulu Mas Tejo tidak pernah mau inisiatif lebih dulu menyentuh Danira. Mas Tejo dulu takut-takut untuk menyentuh Danira.
Kini?
Malah Mas Tejo menggoda dirinya. Danira yang digoda oleh Mas Tejo tentu saja tergoda balik dan menerima sentuhan dari cinta pertamanya itu.
“Ouhh…” suara desahan keluar dari bibir Danira. Ketika tangan Mas Tejo merambat ke bawah, mengusap pahanya yang pelan dan perlahan masuk ke dalam bagian intim Danira.
“Apemnya basah Dek.” Mas Tejo mengusap apem Danira yang masih terbungkus celana dalam.
Pipi Danira semakin memerah mendengar apa yang dikatakan oleh Mas Tejo barusan. Danira menjadi malu loh Mas!
“Kamu terangsang Dek?” Tanya Mas Tejo menjulurkan lidahnya, memutar dan sekali-kali menyesap puncak melon yang merah muda dan menggoda Mas Tejo untuk melakukannya terus.
Danira mengangguk tanpa mau berbohong. Untuk apa dirinya berbohong. Lagian Danira memang terangsang sekarang dengan apa yang dilakukan oleh Mas Tejo.
“Uhmm… iya Mas…” jawab Danira memejamkan matanya dan setelahnya membuka mata. Menatap sayu pada Mas Tejo yang tersenyum pada dirinya.
“Kamu mau lakuin itu sama Mas ndak?” Tanya Tejo, memancing perlahan mulai memasukan satu jarinya.
Tubuh Danira tersentak dan mendorong Mas Tejo menjauh. Astaghfirullah! Danira nggak boleh kelepasan. Danira harus sadar. Mas Tejo bukan suaminya lagi.
“Mas! Ingat dosa. Kita bukan suami istri lagi, aku ndak mau lakuin itu.” Danira memakai tanktop-nya lagi. Lalu masuk ke dalam selimut.
Tejo menunduk merasa bersalah. Namun dia lebih merasa bersalah pada terong besarnya, yang sudah sembuh. Malah belum bisa untuk masuk ke apem Dek Danira.
Sabar tong!
Dek Danira-nya lagi ingat dosa. Nanti doain Dek Danira-nya khilaf, lalu kita ikeh-ikeh indehoy dan digrebek sama warga. Nikah dan kamu bisa masuk leluasa ke dalam apem Dek Danira yang merah muda dan becek-becek basah enyoy!
Tejo menatap pada jarinya yang mengusap milik Dek Danira tadi. Tejo mengarahkan jarinya ke hidungnya lalu mencium aroma Dek Danira yang begitu harum sekali.
“Dek! Mas minta maaf. Mas nyesel loh Dek.” Tapi kalau mau diulangi lagi, Mas nggak papa Dek. Mas terima dengan senang hati. Lanjut Tejo dalam hati.
Danira menurunkan selimut, lalu matanya melihat pada Mas Tejo. Danira menghela napasnya kasar. Sebenarnya ini bukan salah Mas Tejo juga. Tapi salah Danira juga, yang sudah mengizinkan Mas Tejo untuk menyentuh dirinya dan menyesap pucuk melon gedenya.
“Ndak salah kamu juga Mas. Salah Danira juga, udah. Jangan dibahas lagi. Mending Mas tidur sekarang.” Ucap Danira.
Tejo mendengar itu tersenyum manis. Membaringkan tubuhnya di samping Dek Danira. Lalu memeluk Dek Danira erat.
“Mas! Ngopo toh?! Danira sesak napas iki!” Ucap Danira mencoba melepaskan diri dari Mas Tejo.
Mas Tejo menggeleng, terus mencoba memeluk Dek Danira erat.
“Jangan dilepaskan Dek. Mas mau peluk kamu ini, Mas itu rindu sekali sama kamu. Kamu tahu ndak, Mas itu selalu berdoa sama Tuhan agar kamu kembali lagi, jangan pergi lagi. Mas mau lihat wajah kamu terus dan cium kamu kayak gini.”
MUAHHH!
Tejo mencium Dek Danira gemas. Danira merasa pipinya kebas karena ciuman dari Mas Tejo.
“Ihhh! Jangan cium-cium Mas. Danira ndak mau dicium.” Ucap Danira mengusap pipinya dan menggeleng.
Tejo cemberut. “Kenapa kamu ndak mau Mas cium Dek? Padahal Mas mau cium kamu terus loh.”
Danira merasa tidak tega melihat wajah Mas Tejo yang cemberut. “Yowes! Boleh cium. Tapi jangan kayak tadi ya Mas?”
Tejo mengangguk semangat. “Siap Adek cantik.” Tejo mencolek hidung Danira manja.
***
“Ini Tejo ngomong sama siapa toh? Kayak suara betina di dalam. Jangan-jangan— Astaghfirullah! Tejo! Ndak mungkin kamu kayak gitu!”