Bab 06. Remes-remes Gemes

1049 Words
“MAMA!” Tejo kaget dengan kedatangan Kanjeng Mami yang tiba-tiba ke rumahnya. Kapan ibunya ini sampai? Kenapa Tejo tidak diberi kabar oleh ibunya ini kalau ibunya mau datang ke sini. Duk! “Aw!” Tejo terpekik ketika tamparan yang begitu kuat menggunakan tas branded yang harganya ratusan juta di tangan ibunya mengenai lengan Tejo. “Kamu ini gimana toh! Mama udah bilang buat pulang ke rumah! Tapi opo?! Bukannya pulang kamu malah enak-enakan di sini. Teddy! Teddy! Teddy! Cuman kamu anak Mama. Mama rindu sama kamu loh. Pulang ke rumah dan ndak usah patah hati terus. Nanti Danira bakalan balik juga.” Danira yang di bawah mendengar apa yang dikatakan oleh mantan ibu mertuanya barusan. Keningnya langsung mengerut. Apa maksudnya? Danira tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh mantan ibu mertuanya itu. Mas Tejo patah hati? Sama siapa? Danira? “Ma! Teddy malas pulang ke rumah. Banyak kerjaan. Ini kenapa Mama ndak bilang-bilang dulu mau ke sini. Tejo ‘kan bisa jemput Mama.” Mama Tejo mencibir. “Mau jemput opo toh? Kamu itu ndak bisa dihubungi. Mama udah rindu sama anak Mama. Tapi seperti nggak punya anak aja.” Ucap Mama Tejo yang langsung membuat Tejo terdiam mendengar ucapan Kanjeng Mami barusan. “Bukan gitu Ma. Teddy nggak bisa pulang dulu, ini Mama mau nginap di sini?” Tanya Tejo, sekali-kali matanya melirik ke bawah. Melihat Danira yang masih di bawah sana bersembunyi dan tidak keluar. Tejo tidak mau ibunya tahu kalau Danira ada di sini dan bisa-bisa habis dirinya yang menyembunyikan Danira di sini. Ibunya memang menjunjung sekali yang namanya, tidak boleh lelaki dan perempuan di dalam rumah berdua saja tanpa ada ikatan yang sah. “Kamu lihat opo toh dibawah? Lihat uang jatuh?” Tanya Mama Tejo mengerutkan kening, melihat tingkah putranya, yang terus saja melihat ke bawah. Mama Tejo jadi penasaran. Wanita paruh baya itu berjalan mendekati meja dan akan menunduk. “Ndak ada Ma! Ayo! Kita ke ruang tengah aja, bawa makanannya ke sana.” Mama Tejo baru menyadari semua makanan yang ada di atas meja. Senjak kapan Tejo bisa masak? “Kamu bisa masak? Mama baru tahu.” “Bukan Tejo yang masak. Tadi Tejo pesan makanannya. Mama mau makan, ayo, kita makan aja. Mama ambil nasinya banyak-banyak.” Tejo menyendok nasi ke dalam piring yang ada di depan ibunya. Sekali-kali Tejo melihat ibunya yang mengaduk sup jagung di depannya. “Teddy, ini kok rasanya kayak masakan Danira ya. Persis ini kayak masakan Danira, ini juga. Perkedelnya sama persis rasanya kayak dibuat Danira. Ini beneran masakan Danira. Kamu nggak tanya sama yang punya restoran siapa yang masak ini? Mana tahu Danira yang masak.” EMANG DANIRA! Tejo ingin berteriak di depan ibunya mengatakan kalau memang Danira yang masak itu, tapi dia tidak berani untuk mengatakan itu.. “Hehehehe… Teddy mana berani tanya seperti itu Ma. Mungkin ini hanya mirip saja Ma.” Mama Tejo mengangguk, lalu mulai memakan makanannya. “Teddy, kalau Danira memang tidak balik lagi. Coba kamu cari wanita yang lain. Mama ini sudah pengen gendong cucu loh. Kamu sudah tidak tahun menjanda.” “Duda, Ma.” Ralat Tejo menyuapi makanannya. Tejo menghela napas, padahal kalau ibunya tidak datang. Tejo sudah bisa indehoy dan mantap-mantap enak-enak sama Dek Danira. Ibunya pakai datang segala! “Iya itu maksud Mama. Kamu bisa cari wanita lain untuk dinikahi. Kamu ndak tertarik sama Sri? Dia sering nanyain kamu loh.” Danira melotot mendengar nama musuh bebuyutannya! Apa-apaan mantan ibu mertuanya ini, mau menjodohkan Mas Tejo sama Sri si janda gatal yang suka Open BO itu. Sri itu suka main aplikasi hijau. Apem busuknya dijual murahan. Jangan mau Mas Tejo! Danira takut Mas Tejo nanti terkena penyakit menular dari Sri. “Ma! Jangan mengada-ngada toh. Teddy ndak mau sama Sri. Sri itu suka jahatin Dek Danira, waktu sekolah aja, Sri itu suka fitnah Dek Danira. Sampai-sampai Dek Danira dijauhin sama teman-temannya. Teddy ndak mau sama orang jahat.” Tolak Tejo. Tejo masih setia untuk membawa jandanya kembali ke atas pelaminan. Lalu buat kartu keluarga baru melampirkan nama Dek Danira di dalamnya. “Yo… kalau ndak sama Sri, kamu bisa cari yang lain toh. Kamu ini tampan dan mapan. Banyak yang mau sama kamu. Itu karyawan kamu di perusahan kamu, ndak ada yang janda atau perawan. Kamu jangan kejam-kejam jadi Boss. Lirik karyawan kamu yang betina. Dan ajak kenalan, habis itu ke pelaminan. Gitu aja ndak susah loh.” Ya ndak susah! Hati Tejo yang susah. Tejo cuman mau sama Dek Danira. Ini Tejo lagi pendekatan sama Dek Danira— karyawan sekaligus sekretarisnya. “Omong opo toh Ma! Ndak usah ngadi-ngadi. Mama habisin makanannya habis itu istirahat di dalam kamar. Ini semua biar Teddy aja yang beresin, kasihan Mama aku. Udah jauh-jauh dari kampung, masa sampai sini beresin rumah.” Tejo mau Kanjeng Mami segera masuk ke dalam kamar. Lalu Tejo tarik Dek Danira keluar dari bawah meja ke dalam kamar. Dek! Maafin Mas ya. Kamu terpaksa ngumpet dulu. Pasti sempit. “Kamu sewa pembantu tetap aja. Jangan suka beli makanan di luar. Ndak sehat, ya udah. Mama masuk ke dalam kamar dulu. Ingat apa yang Mama bilang tadi. Mama cuman mau kamu nikah.” Tejo mengangguk saja sembari memperhatikan ibunya yang sudah masuk ke dalam kamar. Tejo menunduk dan segera menarik tangan Danira. “Dek, kamu ndak apa-apakan?” Tanya Tejo memeriksa keadaan Danira. Danira menggeleng. “Aku nggak apa-apa Mas. Itu Mama, beneran mau kamu nikah sama Sri?” Nada Danira bertanya terlihat kesal. Wanita itu juga menghentak kaki. Tejo mengulum senyum. “Mama memang didekati sama Sri belakangan ini. Makanya Mama nyuruh Mas nikah sama Sri. Tapi Mas ndak mau. Mas maunya sama kamu!” Tejo mencolek dagu Danira. Danira malu-malu kucing mendengar apa yang dikatakan Mas Tejo. Melupakan kalau dia sudah punya pacar. “Kamu cantik dan montok gini, susah Mas lupain kamu Dek.” Kata Tejo meremas p****t Danira. “Auhh! Mas! Jangan diremes!” Danira memukul d**a bidang Tejo gemas. “Kan gemes Dek. Mau Mas remes-remes terus.” Tawa Tejo. “TEDDY! KAMU NGOMONG SAMA SIAPA?!” Tejo dan Danira terkejut mendengar teriakan dari ibunya. Tejo melihat Danira yang seksi di depannya, langsung menarik tangan Danira menuju kamar. Bermalam di kamar Mas Tejo dulu, ya, Dek. Besok Mas Tejo pulangkan ke rumah kalau Dek Danira udah hamil… EHHHH?!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD