Danira membuatkan sup jagung, perkedel kentang, dan juga ayam goreng untuk Mas Tejo. Danira masih ingat makanan kesukaan mantan suaminya itu. Walau sudah lama berpisah namun semua kebiasaan lelaki itu masih teringat jelas di benak Danira.
Danira sudah lama menjalin hubungan dengan Mas Tejo dulu. Lalu menikah dan sayang sekali, hanya karena hasrat Danira yang menggebu. Malah Danira memilih untuk berpisah.
“Dek, wangi apa ini?”
Suara berat Mas Tejo membuat bulu kuduk Danira meremang. Bukan karena Danira beranggapan Mas Tejo hantu. Tapi suara berat itu, seolah membangunkan sisi di dalam dirinya. Yang di bawah sana perlahan basah-basah hmm… minta disentuh.
“Dek!”
“Ahh! I-ya Mas! Ini lagi masak sup jagung telur, perkedel kentang, sama ayam goreng.” Danira menjawab dengan gugup. Lalu melihatkan semua masakannya pada Mas Tejo.
Tejo melihat masakan Danira dengan perut berbunyi dan minta untuk diisi. Namun Tejo memiliki rencana yang lain, dibanding ia harus memakan makanannya sendiri.
“Aduh! Kepala Mas pusing lagi Dek.” Tejo memegang kepalanya dan duduk di kursi meja makan. Tejo semakin mendalami peran, melipat tangan di atas meja lalu menelungkupkan kepalanya.
Danira merasa tidak tega melihat keadaan Mas Tejo-nya. Ehh, maksudnya Mas Tejo aja. Nggak usah pakai nya. Danira berjalan mendekati lelaki tersebut.
“Mas, mau Danira suapi ndak? Setelah itu baru minum obatnya, ya, Mas.”
Tejo mengangkat kepala lalu menggeleng. “Ndak usah Dek. Takut ngerepotin kamu, ini aja Mas udah ngerepotin kamu loh Dek. Mas nggak mau jadi beban kamu. Mas bisa makan sendiri ini.” Tejo menarik piring mencoba memasukkan makanan ke dalam piringnya.
Prang!
Tejo menjatuhkan sendok. Uhh! Akting Tejo memang mantap. Ini Tejo sampai jatuhin sendok segala, dan lihatlah, Dek Danira langsung merebut piring Tejo dan mengisi dengan makanan.
“Kamu diam aja Mas. Biar Danira aja yang suapi Mas Tejo. Mas Tejo lagi sakit ini loh, Danira nggak tega lihat Mas sakit.”
Tejo mengulum senyum. Kalau nggak tega, tinggal rujuk kita Dek. Habis itu serumah dan sekamar lagi. Ndak usah nikah sama yang namanya Dimas-dimas itu. Lebih wow Mas Tejo kemana-mana iki!
“Dek, nanti ngerepotin kamu loh. Sini! Mas aja yang makan. Kamu harus makan juga.”
Danira menggeleng. “Nggak! Danira mau suapin Mas. Jangan ngeyel, ya, Mas. Nanti Danira cubit.”
Cubitnya di terong Mas nggak Dek?!
Aduh. Otak Mas Tejo ini memang rada gila. Padahal sekarang si cantik sedang mengaduk nasi di dalam piring. Danira yang mengaduk nasi. Malah hati Mas Tejo yang terasa diaduk-aduk oleh jandanya ini.
“Aaaa… makan Mas.” Ucap Danira mengarahkan sendok ke mulut Mas Tejo.
Tejo membuka mulut dan langsung melahap nasi yang disuapi oleh Danira. Aduh! Kalau seperti ini terus pasti Tejo tambah bahagia. Tejo menatap wajah cantik Danira, matanya turun ke bawah, Danira hanya pakai tank top saja dan belahan itu semakin terlihat di mata Tejo.
Dek… Mas semakin ndak tahan. Boleh ndak kita indehoy dalam kamar sekarang.
“Mas, ini ayamnya makan. Danira suapi pakai tangan ya. Susah kalau pakai sendok.”
Tejo mengangguk, membuka mulut dan tangan Danira terasa masuk ke dalam mulutnya. Danira yang akan mengeluarkan jarinya dari dalam mulut Tejo. Dengan cepat Tejo menggigit pelan tiga jari Danira. Mengulumnya perlahan dan matanya masih menatap pada wajah cantik Danira yang terkejut lalu berubah menjadi merah.
Danira merasakan tubuhnya yang semakin panas. Ketika jarinya yang dikulum oleh bibir Mas Tejo. Apalagi Danira yang melihat tatapan dalam dari mantan suaminya. Danira merapatkan pahanya, merasa bagian intimnya yang mulai basah.
Danira memejamkan mata.
“Ouhh…,” Danira kelepasan mendesah.
Tejo mendengar desahan mantan istrinya itu. Perlahan menjauhkan piring yang ada di depan mereka. Tejo mengangkat Danira dan mendudukan wanita itu ke atas meja makan.
Tejo meremas pinggang Danira. “Dek…” panggil Tejo berat.
“Yahh…” Danira menjawab tanpa membuka matanya. Merasakan elusan tangan Mas Tejo di pahanya yang terbuka. Tangan lelaki itu tambah kekar saja dan Danira yakin, kalau tangan itu pasti bisa membuat dirinya merasakan kepuasan yang selama ini dirindukan olehnya.
“Kamu cantik.” Puji Tejo.
Danira tersenyum mendengar kata pujian dari Mas Tejo. Ia membuka matanya perlahan. Mata Danira sudah berubah sayu dan tangan Danira tanpa sadar bergerak membuka beberapa kancing kemeja Tejo.
Danira menelan saliva. Benar-benar sudah berubah! Mas Tejo bukan Mas Tejonya yang dulu lagi. Mas Tejo yang dulu, tidak pernah ada kotak-kotak di perut. Lalu apa? Otot lengan Mas Tejo dan urat tangan yang menonjol.
Danira mengusap mengusap tangan Tejo perlahan dan matanya menelusuri seluruh tubuh Tejo yang benar-benar membuatnya tergoda untuk bersentuhan dengan Mas Tejo. Mendesahkan nama lelaki itu di bibir manisnya yang berbentuk hati ini.
“Mas, kamu nge-gym?” Tanya Danira. Mengusap perut kotak-kotak Mas Tejo.
Keras!
Ini baru perut sudah keras! Apalagi bagian bawah, lalu Danira pegang. Uhh! Pasti tambah keras dan Danira yakin, kalau bagian bawah Mas Tejo sudah berubah juga. Tidak seperti dulu tidak terlalu besar dan cepat ngoyo.
“Iya Dek. Mas nge-gym, Mas mau buat kamu lihat perubahan yang Mas lakukan. Agar kamu tidak pergi lagi. Mas juga sudah berobat dan melakukan terapi, membuat Mas tidak lemah syahwat lagi, dan bisa buat kamu puas sayang.” Tejo menyelipkan beberapa anak rambut Danira.
Danira semakin merasa basah dibawah sana, mendengar ucapan Tejo barusan. Danira tahu, kalau dirinya tidak pernah bisa melepaskan pesona Mas Tejo sekarang. Melihat semakin banyak perubahan dari lelaki itu.
“Berobat? Maksudnya Mas?” Tanya Danira, tanpa menjauhkan tangannya dari perut kotak Mas Tejo.
Tejo tersenyum. “Ternyata Mas mengalami lemah hasrat atau syahwat. Dan bisa mendekati impoten. Mas berobat ke Dokter paling mahal selama tiga tahun ini. Dokter selalu menyarankan Mas untuk memuaskan diri Mas sendiri, dan menonton film dewasa. Memancing hasrat Mas dengan-” Tejo ragu mengatakan ini.
Melihat kening Danira mengerut dan raut penasaran dari wanita itu. Seketika pipi Tejo memerah.
“Maaf sayang, pakaian dalam kamu yang tertinggal di rumah dulu, Mas jadikan membangkitkan gairah Mas. Membayangkan tubuh kamu, dan aroma yang masih tertinggal di pakaian dalam kamu. Mampu membuat Mas sembuh secara perlahan.”
Danira terkejut mendengar ungkapan mantan suaminya itu. Ia membayangkan bagaimana Tejo mencium pakaian dalamnya, dan bukan hanya itu. Ia membayangkan Mas Tejo yang—
“TEDDY!!”
Keduanya terkejut mendengar suara orang yang masuk ke dalam rumah. Keduanya dalam keadaan kacau. Danira segera turun dan bersembunyi dibawah meja makan.
Danira melihat siapa yang datang. Gawat! Yang datang adalah—