Tok! Tok! Tok!
Tejo mendengkus melihat siapa yang mengganggu dirinya dengan mantan istrinya ini. Hengki! Benar-benar karyawannya ini, tidak bisa lihat Tejo senang sedikit kenapa?
Tejo cuman mau deket-deket lagi sama Dek Danira. Malah diganggu!
“Ada apa?!” Tanya Tejo sewot menurunkan kaca mobil.
Hengki melihat Danira yang salah tingkah, memperbaiki duduk dan menatap ke depan. Lalu Hengki kembali melihat Teddy yang bertampang kesal. Hengki cuman mau bilang-
“Ted, nanti malam jangan lupa pulang ke rumah. Kanjeng Mami katanya rindu sama kamu. Aku udah ditelepon berulang kali sama Kanjeng Mami, nyuruh kamu untuk pulang. Tapi kamu bukannya pulang-pulang malah enak terus di sini! Pulang kampung sana!”
Tejo memutar bola matanya. “Lebay Ibu aku itu. Padahal baru minggu kemarin aku pulang, masa disuruh pulang lagi. Udah! Kamu kalau nggak mau diganggu sama Ibu aku, lebih baik bilang aja sibuk banyak kerjaan.”
“Kamu ajarin aku bohong? Ndak bisa dong. Kualat nanti aku sama yang tua. Aku ndak mau bohong, kerjaan aku juga cuman dikit aja.”
“Jadi kerjaan kamu cuman dikit? Kamu temui Pak Burhan sana! Aku lagi pusing mikirin pengakuan banyak banget bulan ini, mana kerjaan karyawan aku katanya santai dan dikit aja.” Sindir Tejo membuat Hengki meringis.
Kenapa juga bilang kalau kerjaannya hanya sedikit. Hengki harusnya bisa pulang dan pergi nonton dangdutan sama gebetan. Malah nggak jadi.
“Duh! Teddy, jangan sekarang deh. Batalin aja janjiannya sama Pak Burhan. Kasihan loh, aku udah janjiin mau ketemu sama gebetanku dan nonton dangdutan, kamu malah kasih aku kerjaan. Nggak kasihan sama aku yang jomlo ngenes gini? Mau kawin aku loh!”
“Hush! Kawin! Kawin! Kawin! Kamu nikahin dulu anak orangnya baru kawin. Kasihan itu anak orang, udah dijaga sama orang tuanya malah mau kamu rusak.” Tegur Tejo.
Hengki nyengir. “Iya nikah dulu maksudnya. Batalin aja ya. Kamu juga mau pulang, ya, sama Danira. Danira hati-hati bawa mobilnya, ya, Dek. Nanti kalau kesasar, kamu turunin aja Teddy di tengah jalan terus kamu bawa mobil. Lumayan ini mobil mahal. Kalau dijual bisa beli sawah banyak di kampung.”
Danira tersenyum mendengar ucapan Hengki barusan. Tidak membalas perkataan lelaki itu. Sebab pikirannya masih berkelana beberapa waktu yang lalu, saat dirinya dan Mas Tejo yang wajahnya dekatan dan hampir saja ciuman. Danira menelan salivanya kasar.
Lalu menoleh ke samping, melihat wajah Tejo tambah tampan dan rahang yang tegas. Hidung bangir, mata kecoklatan, dan jangan lupakan itu… perut yang kotak? Enak dielus. EHH?!
“Udah, aku mau pulang dulu. Nanti kamu telepon aja Pak Burhan nya bilang kalau aku nggak jadi ke sana.” Tejo menaikan kembali kaca mobil.
Lalu melihat ke samping.
Deg. Deg. Deg.
Bunyi jantung Tejo yang bertalu begitu kencang. Wajah cah ayu Danira terlihat di matanya. Mata Tejo turun ke bawah, bibir Dek Danira yang tadi hampir dilumat olehnya malah tidak jadi. Membuat Tejo berkeinginan melakukan itu kembali.
“Hmm… Mas… kita pergi sekarang?” Danira memecah keheningan di antara dirinya dan Mas Tejo. Tidak mau terbuai kembali dalam suasana yang begitu romansa dan seakan lagu irama india terdengar lalu memperdekat jarak antara wajah keduanya.
Danira menggeleng. Ingat kalau dirinya sudah…
Yoweslah. Jangan bahas dulu.
“I-ya Dek. Kita pulang.” Tejo melihat ke depan, tidak mau melihat ke belahan yang tampak menggoda dirinya untuk menyentuh dan mengelusnya perlahan.
Astaghfirullah! Tahan Tejo! Jangan kebablasan. Ingat! Baru bertemu Dek Danira ini. Kamu harus mempertahankan yang namanya image kamu sebagai lelaki baik-baik dan bertanggung jawab.
“Rumahnya dimana Mas?” Tanya Danira tanpa menoleh ke samping.
“Hmm… dimana ya Dek? Mas ndak tahu.”
Danira tertawa kecil mendengar jawaban Mas Tejo yang begitu lucu sekali. Masa rumah sendiri nggak tahu.
“Mas! Kenapa sih? Masih sakit. Ini kita mau ke rumah sakit aja ndak? Danira takut Mas tambah sakit loh.”
Uhhh! Perhatian sekali Dek Danira ini. Mas Tejo-mu ini makin kesemsem dan pengen rujuk lagi loh Dek.
“Ndak usah Dek. Pulang aja langsung ke rumah, Mas cuman tidur saja sebentar, pasti nanti kepalanya udah nggak pusing lagi.” Tolak Tejo, tidak mau dibawa ke rumah sakit.
Nanti ketahuan Tejo cuman pura-pura sakit. Padahal Tejo tadi wajahnya memerah karena melihat… Ya Gusti! Jangan diingat lagi. Tejo tidak mau bagian bawah tubuhnya terbangun lagi.
“Ini benar masuk ke sini Mas?”
“Eh? Masuk?” Terasa ambigu sekali di telinga Tejo.
“Iya, masuk ke sini. Ini gang perumahan punya Mas ‘kan? Atau salah?” Danira menoleh sekilas pada Tejo yang wajah lelaki itu kembali memerah.
“Mas tambah sakit ya. Sabar, ya, Mas. Ini sampai sebentar lagi.”
Tejo mengangguk. “Itu belok kanan Dek. Nah! Nanti kalau ada pagar bentuk gapura itu rumah Mas.” Ucap Tejo menunjuk.
Danira mengangguk, membelokkan mobil menuju gang yang dimaksud oleh Mas Tejo. Mata Danira menemukan rumah yang dimaksud oleh Mas Tejo.
Masih sama aja ternyata. Lelaki itu masih suka sama rumah yang bentukannya memang kental sekali dengan darah Jawa.
“Mas, ayo turun, Danira bantuin.” Danira membuka pintu penumpang membantu Tejo untuk masuk ke dalam rumah.
Tejo menelan salivanya kasar. Melihat wajahnya tepat berada di depan melon besar Danira yang menggantung begitu menggoda di depannya. Minta dilepasin kancing kemeja Danira, lalu Tejo turunin penutup melonnya, dan setelah itu hisap-hisap manja.
“Mas! Wajah Mas semakin memerah. Danira makin takut Mas Tejo beneran sakit loh Mas. Kita ke rumah sakit aja, ya. Danira khawatir ninggalin Mas Tejo sendirian di rumah.”
Tejo menyeringai dalam hatinya. Kenapa harus ditinggalkan toh Dek! Adek Danira paling cantik ini. Bisa tinggal disini sama Mas Tejo, kita bisa merakit masa depan kembali berdua dan saling bergandengan tangan menuju pelaminan.
“Dek… kamu mau ndak temani Mas malam ini aja. Jangan pulang dulu ya Dek. Mas nggak bakalan kuat di rumah sendirian. Aduh!” Tejo pura-pura kesandung dan mau pingsan.
Seperti Mas Tejo harus melamar menjadi Mas Arya kedua di sinetron kesukaan Mamanya di rumah.
“Mas! Ya ampun. Danira bakalan nginap disini, Danira juga takut tinggalin Mas di rumah sendirian. Nggak ada siapa-siapa lagi.” Ucap Danira penuh rasa khawatir dan mau-maunya dijebak oleh duda— mantan lemah syahwat ini!